Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Kecewa
Pandangan Leonel jatuh pada album foto yang terbuka lebar, lalu beralih pada Aira yang berdiri mematung dengan tatapan yang telah berubah total. Gadis itu sama sekali tidak menyahut. Leonel mulai melangkah mendekat, namun Aira justru mundur selangkah demi selangkah, berusaha menjaga jarak.
"Leonel... kamu... kamu penguntit?" Suara Aira terdengar sangat pelan, nyaris pecah. Ia menatap Leonel dengan raut waspada yang kentara.
Saat tubuh Aira terus terdesak ke belakang, Leonel semakin memangkas jarak. Tangan Aira bergerak meraba di balik punggungnya, mencari gagang pintu untuk segera keluar dari sana. Namun, sebelum jemarinya sempat menggapai, Leonel sudah lebih dulu mengunci pergerakannya.
Pria itu menempelkan tubuh Aira ke pintu. Dengan gerakan cepat, ia mencabut kunci kamar setelah memutarnya, lalu mengangkat dagu Aira agar gadis itu terpaksa menatap langsung ke arahnya.
"Kenapa memangnya? Kamu tidak suka setelah melihat semuanya, Aira? Foto-foto di sana, dan semua yang ada di kamar ini... kamu tidak suka?" tanya Leonel dengan suara rendah yang menuntut jawaban pasti.
Aira menatap wajah pria itu. Wajah tampan yang tampak segar, wajah yang selama ini selalu ingin ia lihat. Namun, saat ini tatapannya berbeda. Bukan lagi penuh puja seperti biasanya, melainkan tatapan kekecewaan yang mendalam.
Air mata Aira lolos begitu saja di sudut matanya. "Menurutmu bagaimana, Leonel? Aku harus suka, iya?"
Tangan Leonel yang satunya bergerak sangat pelan, mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu. "Iya. Kamu seharusnya suka. Kamu pasti paham kenapa aku sampai menyimpan banyak foto kamu, kan?" tanyanya lembut namun tajam.
"Karena aku ingin. Aku ingin melihatmu setiap saat. Aku ingin mengabadikan kamu setiap waktu. Aku ingin meski di sekolah aku terlihat begitu jauh, aku tetap ada di sekitarmu, Aira," bisik Leonel berat. Ia menundukkan wajahnya, menyejajarkan tingginya dengan Aira yang hanya setinggi bahunya.
Aira tertawa, sebuah tawa getir yang sama sekali tidak sampai ke matanya. Pengakuan Leonel barusan bukankah sama saja dengan mengatakan bahwa pria itu mencintainya? Harusnya iya. Tapi, kenyataan yang ia terima selama ini justru berbanding terbalik.
"Lantas apa alasannya?" tanya Aira dengan suara bergetar.
"Kenapa? Kenapa kamu di sekolah benar-benar menjaga jarak dariku? Kenapa kamu di sekolah tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun selain wajah datar? Kenapa kamu di sekolah memperlakukanku seolah-olah aku gadis murahan yang terus merendahkan harga diri demi mengejarmu, padahal kamu bahkan tak pernah membalas sekecil ujung kuku pun untuk perjuanganku yang besar?"
Aira menatap tajam netra Leonel, menuntut jawaban atas segala luka yang ia simpan. "Lalu fakta ini? Kamu bersikap seolah-olah sudah mengenalku, mencintaiku, dan menginginkanku. Kenapa harus berbeda, Leonel? Yang mana yang harus aku percaya? Apa perasaanmu yang sebenarnya? Sosok cowok kaku yang selalu menganggapku gadis gila dan murahan, atau bagaimana, hah?"
Air mata Aira kini mengalir lebih deras. Rasa sesak di dadanya seolah meledak. Ia merasa dipermainkan. Di satu sisi Leonel memujanya dalam diam melalui foto-foto itu, namun di sisi lain, Leonel justru menghancurkan harga dirinya di depan publik sekolah.
Leonel terdiam. Rahangnya mengeras, namun tatapannya tak beralih dari wajah Aira yang kini memerah karena tangis. Napasnya terasa berat, seolah kata-kata Aira adalah hantaman telak yang tepat mengenai ulu hatinya.
...****************...
Pria itu menarik tubuh Aira, lalu memeluknya erat dari belakang. Kulit Leonel yang semula terasa dingin karena sisa air mandi mendadak menghangat saat bersentuhan dengan tubuh Aira. Meski Aira memberontak sekuat tenaga, Leonel tetap tidak melepaskannya.
"Maaf... Maaf... Aku tidak bermaksud—"
"Tidak bermaksud, tapi kamu melakukannya dengan sengaja, Leonel! Bukan hanya sekali, bahkan sampai sembilan puluh sembilan kali aku tak pernah lelah mengejarmu. Aku hanya butuh jawaban, tapi kamu? Kamu senang melihatku ditertawakan seluruh siswa di sekolah? Kamu bangga mendapat gelar cowok yang susah ditaklukkan, sementara aku terus dimaki karena menjadi gadis yang tidak tahu malu? Kamu senang setiap kali aku mendapatkan rasa malu, iya?" Suara Aira yang semula menuntut perlahan melemah, berubah menjadi bisikan pilu.
"Aku punya alasan, Ra. Aku melakukan itu karena sebuah alasan yang mengharuskan aku memilih. Aku berada di pilihan yang sulit, Sayang. Maafkan aku..."
Aira menolehkan kepalanya, menatap wajah Leonel yang masih bersandar di ceruk lehernya. Tatapan pria itu telah berubah, matanya tampak berkaca-kaca menahan tangis yang mendalam.
"Alasan apa?" tanya Aira menuntut.
Leonel terdiam. Dan keheningan itu justru membuat Aira semakin yakin bahwa pria di hadapannya ini hanya sedang bersandiwara.
"Lepas!" ujar gadis itu tegas. Tangannya bergerak kasar, berusaha melepaskan lilitan tangan kekar Leonel yang masih mendekapnya erat.
"Tidak mau! Kamu harus tahu kalau aku juga sayang padamu, Ra. Sayangku jauh lebih besar, bahkan ada jauh lebih dulu daripada perasaanmu yang baru muncul saat kita SMA!" seru Leonel, suaranya naik satu nada.
Aira tidak peduli lagi. Rasa kecewanya sudah meluap, menyayangkan dirinya sendiri yang begitu bodoh mengejar pria yang nyatanya terus mempermalukannya di depan publik.
"Lepas, Leonel!" Kali ini suaranya jauh lebih tajam, seirama dengan tenaga ekstranya yang berhasil menyentak pelukan itu hingga terlepas.
Tanpa memberi kesempatan bagi Leonel untuk bereaksi, Aira menyambar kunci kamar dari tangan pria itu dengan gerakan kilat. Ia segera membuka pintu dan berlari keluar. "Aku pulang sendiri!" teriaknya sembari melangkah turun menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Sementara itu, Leonel baru saja hendak mengejar, namun ia mendadak sadar bahwa dirinya hanya mengenakan selembar handuk. Ia terpaksa berbalik arah menuju lemari, menyambar pakaian dengan gerakan kalut dan segera berganti secepat yang ia bisa.
.
.
"Mami, Aira pulang dulu, ya," ujar Aira saat ia kembali ke ruang tengah. Mami Aulia dan adik-adik Leonel masih di sana, suasana hangat yang tadi ia nikmati kini terasa begitu asing baginya.
"Loh, sudah pulang saja, Sayang? Mana Leonel-nya?" tanya Mami Aulia sembari menerima uluran tangan Aira yang hendak berpamitan.
"Dia masih mandi, Mami. Aku pulang sendiri saja, takut orang di rumah mencari karena tadi belum sempat memberi kabar," alibi Aira. Ia berusaha sekuat tenaga mengulas senyum di wajahnya, meski matanya yang sedikit memerah sulit untuk disembunyikan sepenuhnya.
"Ah, begitu. Terus kalau tidak menunggu Leonel, kamu pulang dengan siapa?" tanya Mami Aulia lagi, raut wajahnya tampak khawatir.
Aira terdiam sejenak. Ia baru tersadar sepenuhnya bahwa ia datang ke sini tanpa membawa mobil sendiri. "Itu... aku..."
"Ya sudah, kalau begitu Mami minta bantuan sopir saja, ya? Menunggu Leonel mandi sepertinya memang bakal lama," potong Mami Aulia cepat setelah menyadari wajah bingung Aira.
Aira hanya bisa mengangguk setuju. Ia segera berpamitan satu per satu kepada Arel dan Althea dengan suara yang sebisa mungkin dijaga agar tetap stabil. Sementara itu, Celia masih tertidur pulas di sofa, tidak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi.
Mami Aulia kemudian memanggil sopir rumah dan memintanya untuk mengantarkan Aira pulang dengan selamat. Mereka berdua berjalan menuju halaman depan.
"Pulang dulu ya, Mi!" seru Aira sesaat setelah ia masuk ke dalam mobil.
Tepat ketika mobil itu mulai melaju perlahan meninggalkan gerbang, sosok Leonel muncul di ambang pintu depan dengan napas memburu. Ia sudah berpakaian lengkap, namun terlambat sedetik saja untuk menahan kepergian gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...