Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinisnya Celesta
Leo asik dengan kegiatannya sendiri, yaitu bermain rubik, puzzle, dan beberapa mainan lain yang menurutnya menarik di sebuah sekolah khusus inklusi.
Hari ini giliran dirinya untuk bisa memainkan semua hal menarik di dalam sana bersama dengan beberapa temannya yang memiliki kondisi yang berbeda.
Salah satunya dari mereka juga ada yang sedang berlatih menyebut nama benda dengan bantuan guru pendampingnya.
"Tak... Tak... Tak..."
Tiba-tiba suara langkah high heels terdengar lantang dan keras, membuat para pendamping menoleh pada arah suara langkah itu dengan mengerutkan keningnya, heran.
Dan ternyata itu Celesta dengan rambut yang di-curly dengan mengulung indah hingga tersemat di bahunya. Celesta mengibaskan rambutnya beserta senyum sombongnya yang terlihat dari bibirnya yang terangkat sedikit.
Gaun midi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya sedikit berayun ketika dia mendekat ke arah Leo.
Sedangkan pendamping lain memandang sinis pada Celesta. Mata mereka bertukar pandang, seolah ingin mengatakan kata-kata hina atau bahkan cemoohan dengan kedatangan wanita itu.
Sebab salah satu orang yang memiliki kekuasaan tinggi di sekolah ini ditempatkan oleh Celesta, begitupun dengan pendamping Leo saat ini.
Perempuan itu biasanya akan terus menjilat di hadapan Celesta. Setelah melihat Celesta, perempuan itu langsung membungkukkan tubuhnya.
"Oh... Ya ampun, apakah itu Anda, Nyonya Celesta?" sapa pendamping itu yang dipandang sinis oleh sesama pendamping lainnya.
Celesta mengangkat dagunya sedikit, kemudian tertawa dengan suara yang terdengar canggung—seolah dia sedang berusaha tampak ramah seperti para wanita kaya lainnya.
"Hehe... tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin melihat keadaan Leo saja," katanya sambil mengarahkan pandangannya pada anak yang masih asik bermain rubik tanpa menyadari kedatangannya.
Namun, dia ingin memastikan setelah mendapatkan kabar bahwa terapis yang dikirim Celesta telah mendapatkan hukuman yang serius karena Leo bisa berbicara tentang kekerasan yang dilakukan Roseana.
Padahal selama ini Leo tidak bisa berbicara dengan lantang seperti itu, membuat Celesta penasaran dan memicingkan matanya.
"Sial kau! Kenapa bisa memberitahu masalah ini pada Dominic, lebih baik kau diam selamanya agar aku bisa melahirkan anak untuk Dominic dan mencaplok kau kapan saja?" gerutu Celesta menatap sinis pada Leo, yang tidak perduli dengan dunia sekitarnya.
"Rebecca, aku ingin kamu membawa Leo ke kantor," titah Celesta seolah tidak boleh dibantah oleh pendamping Leo.
Salah satu pendamping lain khawatir dan mengerutkan keningnya melihat Leo akan dibawa pergi.
"Jangan!"
Kata-kata itu tiba-tiba saja keluar tanpa aba-aba, dan dia merentangkan tangannya seolah melarang Celesta membawa Leo.
Celesta menatap pendamping itu dengan sinis, seolah mengatakan 'tunggu lah hukuman nanti dan yang paling parah adalah pemecatan dengan tidak terhormat.'
Pendamping itu terlihat mengerutkan keningnya, merasa khawatir kini dengan masa depannya sembari mengenggam tangan anak yang diasuh dengan erat.
Salah satu temannya memegang bahunya, seolah menasehati bahwa dia tidak boleh meneruskan tindakannya jika ingin terus mengasuh dan mengajar muridnya itu.
Tapi, pendamping itu mulai bingung. Dia tahu Celesta bukanlah orang yang baik. Wanita itu pasti akan menyakiti Leo tanpa diketahui oleh siapapun, jika pun ada yang tahu mereka akan dipaksa bungkam.
"Sudah bawa saja Leo sekarang," ujar Celesta kesal dan ingin menunjukkan sikap aslinya sebab ulah pendamping padahal dia sudah mencoba terlihat baik.
Rebecca tanpa basa-basi menyeret Leo untuk mengikuti langkah Celesta yang berpura-pura anggun dengan tas tangan yang tersemat di antara siku nya.
Sedangkan Leo memberontak ingin dilepaskan sebab dia masih ingin berada di sana lebih lama. Dia tidak dapat berteriak dan mengatakan semua yang dia tidak suka.
Hanya bisa memukul-mukul tangan Rebecca. "Kamu ini ya tidak bisa diatur, Nyonya Celesta sudah memanggilmu," ujar Rebecca mencubit punggung Leo.
Celesta yang berbalik dan melirik perlakuan Rebecca senang sebab perempuan itu sangat cocok dengan keingiannya.
"Kasian sekali Leo," ujar pendamping yang bernama Eva sembari memeluk anak yang diasuhnya.
"Apa tidak ada nomor telepon orang tuanya, kita adukan saja Nyonya itu," sahut Alena.
"Aku punya nomornya, tapi aku takut Nyonya itu akan memberi perhitungan pada kita. Kamu tahu kan salah satu orang yayasan adalah bagian darinya," jelas Eva.
"Biar aku saja, mungkin aku akan dipecat juga karena sudah menegur tadi. Aku tidak apa-apa, yang penting Leo tidak disakiti lagi," ucap Alena.
Para pendamping menganggukkan kepala serantak. Selama dua tahun lebih ini mereka terus menyaksikan hal tak menyenangkan itu.
Alih-alih terbiasa, justru mereka makin merasa bersalah dengan keadaan Leo. Namun, mereka tidak bisa berbuat apapun.
Celesta memasuki ruangan itu dengan langkah anggunnya, kemudian duduk di sofa panjang di dalam ruangan sang pemilik yayasan.
Sedangkan Rebecca masih menyeret Leo yang berpegang pada gagang pintu dengan linangan air mata, hingga akhirnya terlepas akibat paksaan Rebecca.
"Kau tunggu di luar!" titah Celesta, membuat Rebecca membungkukkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu.
Leo menoleh ke arah Rebecca yang menutup pintu, tangan berpaut dan gemetaran seolah ada monster yang akan menyakitinya.
Karena ada beberapa monster di penglihatannya, dan raja monsternya adalah orang yang berada di hadapan, yaitu Nyonya Celesta.
"Leo," ujar Celesta dengan suara rendahnya sembari meletakkan tasnya di atas meja tepat di depannya.
Celesta kemudian berdiri dan berjalan mengelilingi Leo, dia kini bagaikan seorang singa yang sedang ingin melahap mangsanya. Celesta tersenyum sinis melihat Leo ketakutan.
"Kau tahu kan apa hukuman kalau membuatku marah?" geram Celesta.
Leo mempautkan kedua tangannya dengan lebih erat. Dia tahu betul apa yang terjadi setiap kali Celesta datang ke sini dengan wajah yang sinis itu.
Celesta akan memberikan hukuman yang menyakitkan yang bahkan ayahnya yang dingin itu pun tidak pernah melakukannya. Ya, dia ingat sama seperti Roseana.
"Terapis yang kukirim kemarin hilang entah kemana, kamu tahu kan apa yang terjadi, kamu seorang pembunuh," geretak Celesta mencoba menakut-nakuti Leo, bahwa alasan Roseana tidak lagi menjadi terapis adalah ulah Leo.
Leo mengelengkan kepalanya kencang. Dia ingin membela dirinya, namun tak satu katapun keluar dari mulutnya. Dan lagi pula jika Leo bisa berbicara tidak akan ada gunanya, Celesta tetap akan menyakitinya.
Celesta kemudian dengan kasar mencengkeram rahang Leo. "Mana suaramu?! Bukankah kemarin kau pandai sekali membeo di hadapan Dominic, hingga semua rencanaku gagal total,"
Leo menggeliat kesakitan seolah meminta dilepaskan oleh Celesta. Alih-alih melepaskannya, justru cengkraman Celesta semakin kencang saja.
"Kau berani memberontak?!"
"Kau sudah merusak segalanya! Aku sudah hampir berhasil membuat kau menjadi tidak berguna. Andai saja ibumu yang menjijikkan itu tidak memberitahukan keberadaanmu, aku mungkin sudah menikah dengan Dominic,"