Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Sementara itu, Amane yang mendengar penjelasan Kai soal bagaimana ia bisa menggunakan Rein Force justru semakin tidak mengerti. Keningnya berkerut, dan matanya menunjukkan kebingungan yang semakin dalam.
" A-apa apaan itu... "
" Logika macam apa itu... "
Beberapa saat kemudian, Amane tersenyum.
Namun kali ini, senyumnya sangat lembut.
" Jadi orang yang paling lengah di sini... "
" ternyata adalah saya sendiri. "
Nada suaranya pelan, seakan ia sedang mengakui sesuatu pada dirinya sendiri.
Dan tepat pada saat itu, tanpa ia sadari, baju bagian depannya perlahan terbelah menjadi dua.
Robekannya lurus dari bagian depan, membuat bagian tubuh depannya hampir terlihat.
Nia masih mempertahankan posisinya, kedua tangannya bertaut santai di belakang leher. Tatapannya tajam, lurus ke depan, memperhatikan keadaan Amane dengan penuh fokus. Sudut bibirnya sedikit terangkat, seolah menahan komentar yang sudah siap meluncur.
“Benar sekali… kamu itu terlalu lengah sih,” ucapnya ringan, namun jelas menyiratkan kemenangan.
Di sisi lain, Cecil yang sedari tadi memperhatikan, tiba-tiba berteriak dengan mata membesar dan mulut terbuka lebar. “Amane-san, pengait di dadamu—!”
“Eh?” Amane refleks menundukkan kepalanya, mengikuti arah pandang Cecil. Dalam sekejap, wajahnya berubah merah padam saat menyadari apa yang terjadi. Dengan panik, ia segera merapatkan sisa pakaiannya, berusaha menutupi bagian yang terbuka.
Napasnya sedikit tersengal, campuran antara kaget dan malu. Namun, emosi itu dengan cepat berubah menjadi amarah. Ia mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arah Kai.
“Beraninya kau memberiku perlakuan memalukan seperti ini.”
Kai yang sama sekali tidak menduga situasi akan berakhir seperti itu langsung panik. Ia berteriak sambil memalingkan wajahnya cepat-cepat. “A-ampun! Tunggu—aku juga korban di sini! Tapi… bukan itu masalahnya sekarang!”
Wajah Amane semakin memerah, entah karena malu atau kesal. Suaranya bergetar tipis, namun penuh tekanan. “Nah… akan kuberikan pelajaran untukmu.”
Kai mengangkat satu tangan, mencoba menenangkan keadaan. Ekspresinya kembali datar, meskipun situasinya jelas kacau. “Sebelum itu… bajumu…” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rasional, “Lagipula, pedang kayumu juga sudah patah. Jadi pertarungan ini seharusnya sudah—”
“Ha ha, tenang saja,” potong Amane cepat, senyumnya tipis namun terasa berbahaya. “Aku masih punya satu lagi.”
Kai langsung menegang. “Tunggu… tunggu dulu. Itu… itu niat membunuh yang sesungguhnya, kan?”
Di tengah ketegangan itu, Marina yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara dengan nada datar seperti biasa, seolah membicarakan hal sepele. “Jadi Kai ternyata lebih suka wanita berdada besar, ya.”
“Woi!” Kai langsung menoleh dengan ekspresi campur aduk antara panik dan kesal. “Jangan bahas topik itu di saat seperti ini!”
Keadaan perlahan kembali tenang, meskipun sisa-sisa kejadian tadi masih terasa di udara. Kai terlihat berdiri sedikit menjauh dari yang lain, satu tangannya menyentuh pipinya yang masih ada tato telapak dan jari tangan yang masih kemerahan.
Ia menghela napas pelan, mencoba mengembalikan fokusnya. Pandangannya beralih ke arah rekan-rekannya yang kini sedang mengobrol santai.
“...Apa mereka sudah mulai terbiasa dengan perjalanan bersama ini,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Kai kemudian menoleh ke arah langit. Cahaya matahari mulai meredup, digantikan gradasi jingga keunguan yang menandakan senja telah tiba.
Ia kembali melihat ke arah kelompoknya. “Hari juga sudah mulai gelap,” katanya, kali ini dengan suara yang cukup jelas untuk didengar semua orang. “Bagaimana kalau kita berkemah di sekitar sini untuk hari pertama?”
Belum sempat yang lain menanggapi dengan serius, Nia langsung tertawa ringan, tombak di tangannya diputar santai sebelum ditopangkan di bahunya. “Asyik! Kalau begitu ayo kita pesta!”
Beberapa dari yang lain saling berpandangan, lalu mengangkat bahu.
“Benar juga… mungkin sekali-sekali tidak apa,” salah satu dari mereka menambahkan dengan nada setengah setuju.
Nia melirik ke arah mereka dengan senyum jahil yang khas. “Seperti biasa… gampang sekali terpengaruh, ya.”
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin