NovelToon NovelToon
Dari Pecundang Jadi Legenda

Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:36.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan di Balik Kabut

Kabut pagi turun lebih tebal dari biasanya di lereng timur Sekte Awan Giok.

Wilayah itu jarang digunakan untuk latihan resmi. Jalurnya sempit, batu-batunya licin oleh embun, dan pepohonan tinggi menahan cahaya matahari hingga siang hampir tiba.

Namun justru karena itulah Qiu Liong memilih tempat itu.

Ia berdiri diam di tengah kabut, napasnya terlihat samar di udara dingin.

Di kejauhan, suara lonceng pagi sekte terdengar redup, seolah berasal dari dunia lain.

Di tempat ini, ia bisa berlatih tanpa tatapan.

Tanpa bisik-bisik.

Tanpa bayangan reputasi.

Ia memejamkan mata.

Inti Kekosongan berputar pelan di ruang batinnya.

Tenang.

Terkendali.

Namun ia tahu ketenangan itu rapuh.

Jika ia lengah, arusnya bisa kembali meninggalkan jejak.

Ia menarik pedangnya perlahan.

Bilahnya menangkap sedikit cahaya yang berhasil menembus kabut.

Getaran halus terasa di telapak tangannya.

“Bukan hanya kuat,” gumamnya pelan. “Aku harus bersih.”

Ia mulai bergerak.

Langkahnya ringan di atas batu basah.

Setiap ayunan pedang diiringi aliran qi yang ia jaga ketat agar tidak menyebar liar.

Ia membayangkan kabut sebagai ujian.

Jika energinya terlalu kasar, kabut itu akan terbelah.

Jika terlalu liar, batu-batu di sekitarnya akan retak.

Namun jika ia benar-benar menguasainya

kabut itu tidak akan terusik.

Satu tebasan.

Dua langkah.

Putaran pergelangan tangan.

Qi gelap tipis menyelimuti bilah pedang, namun tidak meledak keluar.

Kabut di depannya hanya beriak halus.

Qiu Liong mengatur napasnya.

Ia merasakan tekanan di dalam dada.

Menahan arus sebesar itu bukan hal mudah.

Keringat mulai mengalir di pelipisnya meski udara dingin.

Di tengah gerakan, bayangan masa lalu muncul tanpa diundang.

Tangga batu yang berlumur darah.

Tawa di Aula Luar.

Tatapan curiga para tetua.

Ia merasakan emosinya mulai bergejolak.

Dan seketika

qi di pedangnya bergetar lebih keras.

Kabut di depannya terbelah tajam.

Batu di sampingnya retak tipis.

Ia berhenti.

Napasnya memburu.

“Masih belum cukup,” bisiknya.

Ia menyadari sesuatu yang pahit.

Mengendalikan kekuatan bukan hanya soal teknik.

Namun soal hati.

Selama emosinya masih goyah, arus itu akan ikut goyah.

Ia menancapkan pedangnya ke tanah dan duduk bersila di atas batu.

Kabut perlahan kembali menyelimuti sekelilingnya.

Ia menutup mata.

Tidak untuk melatih qi.

Namun untuk menghadapi dirinya sendiri.

Ia membiarkan ingatan itu datang.

Rasa malu.

Rasa sakit.

Rasa ingin membalas.

Namun kali ini, ia tidak melawannya.

Ia mengamatinya.

Seperti kabut yang hanya lewat jika tidak digenggam.

Perlahan, napasnya stabil kembali.

Di dalam ruang batinnya, Inti Kekosongan berputar tanpa gejolak.

Ia membuka mata.

Kabut masih tebal.

Namun hatinya lebih jernih.

Ia berdiri lagi.

Mengangkat pedang.

Kali ini, saat ia mengayunkan bilahnya

tidak ada ledakan.

Tidak ada retakan.

Hanya aliran yang halus.

Pedang bergerak seperti bayangan di dalam kabut.

Tidak meninggalkan jejak.

Tidak memaksa ruang untuk mengakuinya.

Beberapa saat kemudian, suara langkah terdengar samar.

Seseorang berdiri di balik kabut.

“Latihan yang menarik.”

Suara itu tenang.

Liang Zhen muncul perlahan, wajahnya setengah tersembunyi kabut.

Qiu Liong tidak terkejut.

“Apa kau mengikutiku?”

Liang Zhen tersenyum tipis. “Kabut ini tidak hanya milikmu.”

Tatapan mereka bertemu.

Di antara putihnya udara pagi, dua murid berdiri dengan ketenangan berbeda.

“Apa yang kau latih?” tanya Liang Zhen.

Qiu Liong menatap pedangnya.

“Menghilangkan jejak.”

Liang Zhen mengangkat alis tipis.

“Itu lebih sulit daripada meninggalkan bekas.”

Qiu Liong mengangguk.

“Karena dunia lebih mudah melihat bekas daripada memahami ketenangan.”

Kabut perlahan mulai menipis saat matahari naik.

Namun sesuatu telah menguat di dalam dirinya.

Latihan hari ini bukan tentang menjadi lebih kuat.

Melainkan menjadi lebih dalam.

Dan di balik kabut yang menyembunyikan segalanya

Qiu Liong mulai memahami satu hal.

Jika ia ingin melangkah lebih jauh dari sekadar kemenangan,

ia harus menjadi seperti kabut itu sendiri.

Ada.

Namun tak mudah ditangkap.

Dan ketika waktunya tiba

muncul tanpa peringatan.

1
Mbah Haryo
novel ini sperti cerita du dunia sekuler..dg sgala pertarungan moralitasnya...
bukan sperti cerita fantasi dunia persilatan...hhhh
Mbah Haryo
moralitas & idealisme buta....
yg tidak melihat simana dunia dia hidup..
hanya membuat orang menjadi bodoh..

didunia anjing makan anjing...
maka siapapun hrs siap mnjadi anjing...haaakak...
Mbah Haryo
narasinya masih sama sj dr awal sampai capter ini...hhhh
Mbah Haryo
masih sj dg narasi yg sama...bukan ini bukan itu tapi anu...
terus sj bgitu..wekekkekek.
jd boring dah ach...
Mbah Haryo
jagoanya mumet terlalu banyak masalah yg gak perlu...hhh
Mbah Haryo
baru kali ini ada pendekar yg banyak pikiran..bwakkakakk
Mbah Haryo
dapat inti kekosongan..tp malah tiada guna..hadeuewh...
Mbah Haryo
terooss aj..bukan ini tapi itu..bukan anu tapi panu...
gitu terus diakhir cpt..
Mbah Haryo
asyuuuddahlah....
Mbah Haryo
cerita yg awalnya bagus...jadi membosankenlah..
karakter yg m3mbingungken...hhh
Mbah Haryo
speeti bukan cerita silat..tp monolog cerita silet
Mbah Haryo
sdh sjauh ini..blas gal ada uraian ttg kultivasi...lalu dr mana kmampuan teknik jagoan ne...?
krn kekosongan tak adacm tekniknya...hhh😄
Mbah Haryo
penjelasan yg berulang..dr dpan sampe blakang..beih .wekekkeksk...
Mbah Haryo
smangkin jaoh dbaca...
kita malah kayak jd wong pekok....hhhh
Mbah Haryo
dwuleeg njiaaraann..cerita bagus tp malah berkutat di monolog" yg berulang...boring geess
Mbah Haryo
kalo gak berkembang...anu..caoo..
Mbah Haryo
mbooouuullleeeetttss ae....
gak berkembang bliaass ceritane...
Mbah Haryo
ya sudah..skarang mulai ptualangan kultivasinya dong...
pencerahan trous..kapan ngewenya..???🤣
Mbah Haryo
oke..sampai dsini masih bagus
Mbah Haryo
yah...cukup bagoes diawal cerita...jika konsisten dg bagoesnya...maka nganu..
ini jlas bagoes...hhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!