NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter. 29 Akibat kurang peka

Happy Reading

Alderza langsung mendorong Bintang penuh emosi. "Berani lo ngatur-ngatur dia, lo harus berhadapan sama gue!"

Aily terlihat enggan untuk meladeni perkelahian mereka. Bukannya melerai, Aily malah pergi meninggalkan keduanya.

Mereka berdua memang bersahabat, tetapi entahlah, selalu saja ada yang diperdebatkan di antara mereka.

"Alderza, maaf."

Aily menundukkan kepalanya lalu berlalu melewati mereka. Alderza yang semulanya mencengkram kerah baju Bintang dengan kuat kini melonggarkan cengkramannya.

"Urusan kita belum beres, Tang!"

"Gue cuma peringatin lo. Terlalu banyak yang lo gak tahu tentang Aily!" Bintang melanjutkan ucapannya.

"Gue tahu semuanya, jadi lo gak usah ikut campur!"

Bintang mengangkat sebelah alisnya, menekankan jika ia tidak percaya dengan Alderza.

"Terus, lo tahu gak gimana perjuangan gue selama ini buat ngelindungin dia dari Sinta dan Riska?"

Alderza berpikir sejenak. Ya, pada kenyataannya dia tidak mengetahui apa pun. Dia kira Bintang sama sepertinya dahulu, sama-sama tidak menyukai Aily.

"Sejak kapan lo kenal Aily?"

"Sejak kita masih bayi!"

Alderza melepaskan cengkramannya. Dia mulai menatap Bintang dengan tatapan serius, begitu pun sebaliknya.

"Lo cinta pertama Aily, kan?"

Mendengar pertanyaan itu, Bintang langsung tertawa kencang, bahkan sampai membuat telinga Alderza panas.

"Lo bilang lo tahu semuanya, tapi cinta pertamanya aja lo gak tahu. Ganteng-ganteng bego!" Balas Bintang sembari tertawa sinis.

Bintang sudah bosan dengan suasana mencekam ini, dia hanya bermaksud memperingatkan saja. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya untuk merebut Aily.

Saat Bintang mau meninggalkannya, Alderza kembali mencengkram kerah bajunya lebih kencang. Punggung Bintang sampai membentur pohon dengan kuat.

Ya, Bintang dapat melihat aura cemburu di wajahnya.

Menyedihkan!

"Lo suka sama dia?" Tanya Alderza dengan tegas. Tatapan matanya setajam elang yang ingin memburu mangsanya.

Bintang berdecak kesal, kali ini dia tidak tertawa melainkan menatap Alderza dengan tatapan meremehkan.

"Gue bukan cinta pertamanya dia! Gue sepupunya Aily! Paham, Nyet?" Ucap Bintang dengan nada tinggi.

***

Puncak acara yang pertama dimulai, berfoto dengan teman satu kelas di tempat yang alami dengan udara sejuk dan dipenuhi kabut tebal yang menusuk pori-pori.

Alderza menghampiri Aily dengan kamera di tangannya. Wajahnya sangat semringah mengetahui bahwa Bintang bukan cinta pertama Aily.

Setidaknya, masih ada kesempatan untuknya agar bisa menggeser cowok bajingan yang selalu Aily puja selama tujuh tahun.

Karena mungkin cinta pertamanya tidak ada di sekolah ini, bisa saja berada di kota yang berbeda.

Akhirnya.

"Ngapain lo senyum-senyum sendiri?" Tanya Wulan.

Alderza langsung tersadar. Dengan semangat, dia mengangkat kameranya.

"Coba kalian berdua foto bareng." Pinta Alderza kepada Aily dan Wulan.

Aily tersenyum, meskipun pendiam, tidak ada yang tahu bahwa dia menyimpan dibuat foto selfie di ponselnya.

"Eh, lo gak papa?" Tanya Wulan takut Aily keberatan.

"Gak papa kok, aku suka di foto."

Aily dan Wulan terlihat dekat sekali. Alderza yang berhasil mengambil gambar tersebut langsung tersenyum manis.

Tentu saja karena Aily sangat cantik. Dia memang selalu cantik kapan pun dan di mana pun.

Saat Alderza ingin modus dan meminta Wulan mengambil fotonya dengan Aily berdua, hal yang tak terduga terjadi.

"Anak IPS 4, kumpul! Kita foto kelas sekarang!"

Alderza berdecak kesal. "Kampret!"

"Gue tau kok lo mau ngapain, pake alesan fotoin gue sama Aily segala!" Ucap Wulan sembari tertawa kecil.

Alderza hanya bisa berdecak kesal. Setelah itu, Bintang menghampiri Alderza dan merangkul pundaknya.

"Lagi seneng, ya?" Tanya Bintang yang dapat melihat ekspresi Alderza.

Cowok itu hanya tersenyum sembari menatap kameranya, di sana ada foto Aily.

"Kalo lo suka sama dia... gue sih gak apa-apa. Cuma sebelum itu, suruh dia buat janji." Ucap Bintang, Alderza langsung menatapnya penuh tanda tanya.

"Janji apa?"

"Janji jangan ada rahasia di antara kita." Ucap Bintang sambil memainkan kedua alisnya.

"Najis, alay banget lo!"

"Kalo lo gak ngomong gitu. Gue pastiin lo bakalan nyesel!"

Bintang menepuk-nepuk pundak Alderza, dia sangat menyayangi Aily dan juga Alderza. Mereka adalah saudaranya. Alderza sudah Bintang anggap sebagai saudaranya sendiri.

Dia ingin membuat mereka berdua bahagia.

"Kayaknya lo doang di sini yang happy. Mata gue perih liat semua cewek pake baju tebel. Kenapa kita gak ambil foto di pantai kek, kolam renang kek." Ucap Bintang mulai berkeluh kesah seperti biasa.

"Tapi gak papa, kan bentar lagi bakalan ada pemadam, mungkin aja bakalan pada pake baju tipis tuh cewek-cewek di sini."

"Otak lo harus di laundry, Tang." Alderza menggelengkan kepalanya kesal.

Setelah itu, mereka langsung memulai sesi foto kelas. Semua orang tersenyum ruang, kecuali Sinta.

Dia terlihat murung dan tidak semangat. Tapi, Aily berusaha tidak peduli. Dia harus memikirkan dirinya terlebih dahulu sebelum orang lain.

Sesudah sesi berfoto selesai, mereka semua bergegas turun karena acara puncak keduanya tidak diperbolehkan di atas gunung.

"Acara paling utamanya cuman foto doang ya?" Tanya Aily pada Wulan dengan muka kecewa.

"Bukan, acara utamanya itu pas Sinta ditolak Alderza." Wulan langsung tertawa kencang.

"Yah, kan masih ada pemadam."

"Tapi kan, aku-"

"Lo gak boleh ikut, lo baru aja sembuh!" Potong Alderza yang tiba-tiba saja datang.

"Nah itu!" Aily menunjukkan wajah kecewa.

Mereka pun turun ke sebuah tempat yang telah disediakan untuk acara pemadam. Di sana, terdapat sebuah semacam lapangan luas yang akan menjadi tempat berkumpulnya para siswa.

Sementara itu, Aily hanya bisa melihatnya dari samping saat acara pemadam tersebut sudah dimulai.

Sejujurnya, Aily juga ingin bergabung. Tapi, sayangnya dia baru saja sembuh dari sakit.

"Udah, gak usah murung gitu. Cuma main basah-basahan doang." Ucap Alderza tiba-tiba sembari duduk di samping Aily.

"Eh, kamu gak ikut?"

"Ngapain? Kek anak kecil aja main gituan!"

Sebenarnya, alasan terbesar Alderza tidak ikut adalah ia ingin menemani Aily. Dia sama sekali tidak peduli dengan pemadam, dia hanya ingin menatap wajah Aily saja.

Sayangnya, situasi di antara mereka mendadak canggung, dan mereka sama sekali tidak bicara apa-apa selama acara pemadam berlangsung.

Setelah satu jam berlalu, acara tersebut akhirnya selesai. Para siswa dan siswi yang saat itu sudah basah pun pergi untuk mengganti pakaiannya sebelum bersiap untuk pulang.

Karena besok, sekolah masih tetap masuk dan berjalan seperti biasa.

"Aily, lo pulang bareng gue ya." Ucap Alderza tiba-tiba.

Bintang dan Wulan hanya saling bertatap bingung. Jadi, mereka ditinggal begitu saja?

"Boleh."

Aily tidak menolak, dan itu membuat Alderza tersenyum senang. Di sepanjang perjalanan pulang, Aily berdua bersama Alderza menuju bus. Wulan dan Bintang hanya bisa menatap mereka berdua.

"Padahal awalnya gue yang bareng Aily."

"Dan awalnya gue yang bareng Alderza."

Mereka berdua hanya melihat Aily dan Alderza yang terus mengobrol tanpa henti. Bintang pun ingin begitu, mana mungkin di sepanjang jalan mereka diam membisu seperti ini.

"Lo setuju kalo mereka pacaran?" Tanya Bintang sembari memandang punggung Aily.

"Asal sahabat gue bahagia." Wulan tersenyum tulus sambil mengangguk senang dan Bintang dapat merasakan itu.

"Lo tau kan, Alderza cinta pertama dia?" Tanya Wulan.

"Iya, dulu waktu kecil dia cerita."

"Terus, apa Alderza tahu yang sebenernya?"

Bintang menggelengkan kepalanya, karena Alderza sangat keras kepala dan sok tahu, padahal kenyataannya dia tidak tahu apa-apa.

"Nggak. Cuma muka doang yang cake, tapi kadar kepekaannya nggak banget. Kalo gue sih, pasti langsung peka."

Wulan menatap Bintang. "Jadi, maksud lo... lo itu tipe cowok yang peka, gitu?"

"Ya, seperti itulah kira-kira."

***

Beberapa jam kemudian, mereka sampai di sekolah. Alderza langsung mengambil mobilnya di tempat parkir. Dia menitipkan mobilnya kepada satpam sekolah agar tidak perlu pulang naik bus.

"Kita langsung pulang, kan?" Tanya Aily.

"Iya. Nanti malem gue ketok jendela kayak biasa. Jadi, jangan dikunci."

"Oke."

Alderza melajukan mobilnya dengan cepat agar Aily bisa lebih banyak istirahat.

Di sepanjang perjalanan pulang, Aily hanya tertidur pulas. Alderza menyukai wajahnya yang polos dan tentu saja cantik.

Ingin membangunkannya saja Alderza tidak tega. Tak terasa Alderza sudah satu jam menunggu Aily bangun dari tidurnya.

Tapi yang terjadi, Aily tidur semakin lelap. Dia pun terbesit untuk melakukan rencananya saat ini juga.

Saat Alderza hampir saja menghajar Bintang karena ingin merebut Aily darinya. Dia merasa malu karena sudah menuduh Bintang yang tidak-tidak.

Benarkah? Selama ini, dia cemburu kepada orang yang salah.

"Lo penasaran siapa cinta pertamanya dia?" Ucap Bintang.

Alderza mengangguk penuh harap.

"Lo baca aja diary ungu dia!"

Alderza menatap Aily dan melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahnya.

Aily masih tidak menunjukkan pergerakan apa pun. Dia takut Aily pura-pura tidur seperti waktu itu.

Kali ini, Alderza memiliki cara yang ampuh untuk mengetahui Aily pura-pura tidur atau tidak.

Wajahnya mendekati Aily yang sedang tertidur pulas hingga jarak antara wajah mereka sangat dekat. Alderza dapat merasakan embusan napas Aily uang teratur.

Aily masih juga diam tak berkutik. Alderza yakin Aily tertidur pulas. Jika Aily pura-pura tidur, mungkin Aily sudah mengobrak-abrik wajahnya saat dia mendekat.

Alderza menatap bibir Aily yang indah. Ingin rasanya dia mencium Aily lagi, tetapi Alderza tidak memiliki nyali yang kuat.

"Tidur yang nyenyak, malaikat kecil."

Alderza langsung membuka tas yang berada di jok belakang. Diary ungu itu berada di bagian tas luar, itu sangat memudahkan Alderza untuk mendapatkannya.

Perlahan, Alderza membuka diary tersebut. Dia membacanya dengan tentu, bahkan tak ada satu pun huruf yang terlewat olehnya.

Pipinya mulai memerah padam, seluruh tubuhnya terasa lemas. Dia hanya bisa menganga dengan mata yang melotot tak percaya.

"Jadi... selama ini gue menghina diri sendiri di depan cewek yang gue suka? Bagus Alderza, kembangkan!"

Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, tolong dikoreksi ya. Love you all guys.

1
Ros🍂
semangat thor💪 ijin mampir
Kamado Tanjirou: makasih
total 1 replies
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!