NovelToon NovelToon
Mafia'S Innocent Love

Mafia'S Innocent Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nanda wistia fitri

Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.

Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.

Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Jarum jam sudah menunjuk pukul satu dini hari.

Evans meneguk sisa wine di gelas kristal, cairan merah itu meninggalkan rasa pahit yang akrab di lidahnya. Asap rokok perlahan memenuhi udara kamar, tipis dan kelabu, sebelum menghilang di balik lampu redup.

Di ranjang besar, Xerra tertidur pulas di bawah selimut tebal. Napasnya teratur, wajahnya tenang terlalu damai untuk dunia yang sesungguhnya mengelilingi hidup Evans.

Ia menatap istrinya lama.

Gadis yang dulu ia temui secara tidak sengaja di sebuah rumah bordil dalam keadaan kacau, terdesak, dan penuh kewaspadaan,kini terbaring di kamarnya, mengenakan cincin pernikahan dengan namanya terukir di dalamnya.

Pertemuan singkat itu seharusnya berakhir di malam yang sama.

Namun justru dari sanalah segalanya berubah.

Evans mematikan rokok, lalu berdiri. Ia melirik jam dinding sekali lagi, seolah memastikan waktu tidak memberinya kesempatan untuk ragu. Dengan gerakan senyap, ia mengenakan mantel hitam tebal, sarung tangan kulit, dan sepatu gelap,pakaian yang sudah seperti identitas keduanya.

Ia mendekat ke ranjang, menarik selimut Xerra sedikit lebih tinggi, lalu mengusap punggung tangannya dengan ringan ke pipi istrinya.

“Tidurlah,” bisiknya hampir tanpa suara.

Xerra tidak terbangun.

Evans berbalik dan keluar dari kamar.

Di lantai satu, Gerry dan Ben sudah menunggu. Keduanya berdiri tenang, mengenakan pakaian serba hitam, ekspresi mereka serius bukan karena takut, melainkan karena terbiasa.

Saat Evans menuruni tangga, Gerry bertanya pelan,

“Kalau Nyonya bangun?”

Evans tidak menoleh.

“Dia tidak akan bangun.”

Nada suaranya santai, seolah ia sedang membicarakan cuaca, bukan istri yang baru saja hampir kehilangan nyawanya beberapa hari lalu.

Mereka keluar melalui pintu samping. Mobil hitam tanpa plat khusus melaju meninggalkan mansion, membelah jalanan London yang lengang dan basah oleh embun malam.

Keheningan menyelimuti kabin.

Hanya suara mesin yang bekerja stabil, dan lampu kota yang berkelebat cepat di balik kaca.

Mobil melaju semakin cepat ke arah pelabuhan.

“Ada transaksi berlian,” ujar Gerry akhirnya.

“Sumberku memastikan barang itu hasil curian dari sebuah lelang privat. Nilainya tidak kecil.”

Evans menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, matanya tajam menatap lurus ke depan.

“Siapa yang memegang barangnya?”

“Kelompok kecil. Bukan pemain lama,” jawab Ben.

“Tapi cukup berani membawa barang panas ke wilayah kita.”

Evans tersenyum tipis senyum yang tidak pernah berarti hal baik bagi siapa pun.

“Keberanian tanpa izin adalah kesalahan.”

Lampu pelabuhan mulai terlihat dari kejauhan. Kontainer-kontainer raksasa berdiri seperti bayangan hitam di bawah cahaya kuning kusam. Angin laut membawa aroma asin yang menusuk.

Mobil berhenti di area yang sepi.

Evans membuka pintu lebih dulu.

“Cepat dan bersih,” katanya.

“Kita pulang sebelum fajar.”

Ben mengangguk.

Gerry menarik napas panjang, bersiap.

Di mansion, jauh dari pelabuhan, Xerra bergerak kecil di atas ranjang. Alisnya berkerut, seolah merasakan sesuatu yang tidak beres, tapi matanya tetap terpejam.

Ia tidak tahu

Di saat ia tertidur dengan aman, suaminya kembali menapaki dunia gelap yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Dan malam itu, London kembali menjadi saksi

Evans Pattinson bukan hanya seorang suami yang penuh proteksi

ia adalah pria yang mengendalikan kegelapan agar tidak menyentuh wanita yang ia cintai.

Perlahan mereka mendekati pelabuhan,Ben menyadari sesuatu kalau transaksi di lakukan di tengah sungai

"Aku akan berenang kesana"ucap Evans

"Kalian bersiap-siap saja"

Evans menanggalkan mantel hitamnya tanpa suara. Udara malam menusuk kulit, air sungai memantulkan cahaya lampu pelabuhan yang bergetar pelan. Tanpa ragu, ia melompat.

Tubuhnya tenggelam sejenak sebelum kembali muncul ke permukaan. Evans berenang dengan ritme terkontrol, setiap gerakan diperhitungkan. Arus sungai cukup deras, tapi ia memanfaatkan nya membiarkan tubuhnya hanyut sedikit, menyatu dengan gelap, nyaris tak terlihat.

Dari kejauhan, samar-samar tampak cahaya di tengah sungai. Sebuah kapal kecil berlabuh diam, mesin mati. Di atasnya, beberapa bayangan bergerak orang-orang yang tengah sibuk membuka koper aluminium.

Sementara itu, Gerry dan Ben sudah berada di speedboat kecil, mesin dibiarkan mati agar tak menimbulkan suara mencurigakan. Mereka mengayuh perlahan menuju titik yang telah disepakati, tersembunyi di balik bayangan kontainer dan jembatan tua.

“Mereka sedang apa sekarang?” bisik Gerry, matanya tak lepas dari kapal di tengah sungai.

“Menghitung uang. Mengecek keaslian berlian,” jawab Ben pelan.

Ia mengangkat teropong kecil, mengamati lebih saksama. “Ada empat orang. Dua di kapal, dua di tepi sungai. Senjata ringan.”

Gerry menghela napas. “Kalau sampai salah langkah....”

“Evans tidak pernah salah,” potong Ben singkat, meski rahangnya mengeras.

“Pertanyaannya cuma satu. Sudah sejauh mana dia sekarang?”

Di bawah permukaan air, Evans mendekat perlahan ke lambung kapal. Tangannya menyentuh besi dingin, licin oleh air sungai. Ia berhenti, menempelkan tubuhnya, menahan napas.

Di atas kapal, suara samar terdengar.

“Jumlahnya cocok.”

“Pastikan tidak ada yang cacat.”

“Cepat. Aku tidak suka berlama-lama di sini.”

Evans mengangkat kepalanya sedikit, cukup untuk melihat pantulan wajah-wajah itu di permukaan air. Matanya menyipit menganalisis, menghitung jarak, membaca kebiasaan.

Satu kesalahan.

Satu kesempatan.

Ia meraih pisau tipis dari balik sabuk kaki, lalu menunggu detik yang tepat.

Di speedboat, Gerry menggenggam senjatanya lebih erat.

“Kalau dalam lima menit dia belum memberi sinyal...”

“Kita naik,” sambung Ben. “Tanpa suara. Tanpa ragu.”

Malam semakin sunyi. Angin berhenti berembus. Seolah sungai itu sendiri menahan napas.

Lalu

sebuah getaran kecil merambat di permukaan air.

Ben menegakkan tubuhnya. “Itu dia.”

Di sisi kapal, Evans bergerak.

Dan dalam hitungan detik, transaksi yang seharusnya berakhir dengan keuntungan… akan berubah menjadi malam terburuk dalam hidup mereka.

Evans naik ke kapal dalam satu gerakan senyap, tangannya mencengkeram tepi besi, tubuhnya terangkat tanpa cipratan berarti. Begitu kakinya menapak dek, ia bergerak cepat.

Pria pertama bahkan tak sempat berteriak. Evans menutup mulutnya dari belakang, menarik lehernya ke sudut yang sunyi,bunyi retakan kecil tenggelam oleh gemericik air. Tubuh itu ia rebahkan perlahan, nyaris tanpa suara.

“Siapa....”

Pria kedua berbalik, matanya membelalak. Evans sudah ada di depannya. Satu pukulan ke ulu hati, disusul hentakan siku ke rahang. Koper aluminium terjatuh, kemudian terbuka kilau berlian memantul liar sebelum darah menodai lantai dek.

Di tepi sungai, dua penjaga menyadari ada yang salah.

“Hei! Ada.....”

Suara tembakan teredam meletup.

Dari balik bayangan, Ben muncul lebih dulu. Tembakannya presisi satu peluru, satu jatuh. Gerry menyusul dari sisi lain, bergerak cepat, menutup jarak sebelum pria terakhir sempat kabur. Pukulan keras mendarat, diikuti borgol logam yang mengunci pergelangan tangan si penjaga.

Sunyi kembali menguasai sungai.

Evans berdiri di tengah dek, napasnya tenang, nyaris terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghabisi beberapa orang. Ia menutup koper berlian, menguncinya, lalu menoleh pada dua bawahannya.

“Bersih?” tanyanya singkat.

“Bersih,” jawab Ben. “Tidak ada saksi.”

Gerry melirik tubuh-tubuh yang tergeletak. “Barangnya lengkap.”

Evans mengangguk. “Bawa ke speedboat. Kita pergi sekarang.”

Mereka bergerak cepat. Mesin dinyalakan setelah jarak aman tercapai, speedboat melesat memecah permukaan sungai. Cahaya pelabuhan menjauh, digantikan gelap yang lebih aman.

Di perjalanan pulang, Gerry akhirnya bicara, suaranya rendah.

“Boss… sejak menikah, kau makin nekat.”

Evans menatap lurus ke depan. “Tidak.”

Ben meliriknya lewat kaca spion. “Lalu apa?”

“Aku jadi punya sesuatu yang harus kupastikan aman,” jawab Evans datar. “Itu saja.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Sementara itu, jauh dari sungai dan bau mesiu, Xerra menggeliat di bawah selimut tebal. Jam di meja samping ranjang menunjukkan pukul tiga lewat sedikit. Ia membuka mata, setengah sadar tangan nya meraba sisi ranjang yang dingin.

“Om…?” panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban.

Xerra duduk perlahan. Ruangan sunyi. Tirai sedikit terbuka, memperlihatkan cahaya kota yang jauh. Dadanya terasa aneh bukan panik, lebih seperti firasat.

Ia menarik selimut lebih erat ke tubuhnya, mencoba meyakinkan diri.

Evans selalu kembali.

Namun entah kenapa, malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!