Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28# Rasa Khawatir Maya
"kau ini, anak dari keluarga Gunawan yang tidak diinginkan itu ya?" tanya Maya tersenyum, namun senyuman itu terdengar menyindir keras tentang kehidupan Ayla.
"Ya, sejauh itu kah mama sudah memeriksa biodata ku? Aku sangat bangga karena ternyata mama peduli padaku, papa beruntung punya istri seperti mama yang sangat peduli bahkan kepada menantu yang baru saja bertemu," jawab Ayla. Dia terlihat tetap tenang meskipun Maya menatap nya dengan tatapan tidak suka.
"Dia bisa setenag dan sebijak itu menghadapi Maya, luar biasa," batin Valen.
"Anak sialan ini, bisa-bisa nya dia selalu menjawab pertanyaan ku dengan tenang, seharusnya dia marah, menurut dari informasi yang ku dapat dia bilang anak kandung keluarga Gunawan ini sangat lemah dan mudah di tindas, kenapa malah sepertinya dia berbeda?" batin mama Maya merasa di bohongi oleh orang yang dia suruh untuk menyelidiki Ayla.
"Ayla, Valen, kalian dari mana?" tanya papa Hans yang hendak mengalihkan pembicaraan serta momen canggung antara Maya dan Ayla.
"Dari rumah sakit," jawab Valen singkat sambil menatap sang papa sekilas.
"Oh ya, kau melakukan pemeriksaan untuk kaki mu?" tanya papa Hans lagi.
"Hm," jawab Valen mengangguk.
Ayla yang mendengar itu menoleh ke arah sang suami yang sedang berbohong, padahal hari ini dia lah yang sedang di periksa.
"Apa? Bukan kah kau sudah menyerah dengan kaki mu? Dokter bilang kaki mu sudah tidak bisa berjalan lagi, untuk apa kau memeriksa nya?" tanya Maya kaget dari raut wajahnya terpancar rasa khawatir yang luar biasa.
"Mama, kamu kelihatan sangat menghawatirkan suamiku, aku pikir karena dia anak tirimu dia tidak akan seberuntung itu menerima rasa khawatir darimu ternyata aku salah," ucap Ayla menatap Maya dengan tatapan penuh arti.
Ayla bisa membaca raut wajah Maya, itu bukan rasa khawatir seorang ibu untuk anak tentang kenapa dan kapan dia akan sembuh dari penyakitnya, tapi itu adalah rasa khawatir seseorang yang takut kalau lawan nya sembuh sehingga itu bisa jadi ancaman kembali untuk kehidupan nya.
"Bu-bukan begitu," jawab Maya mati kutu seketika di hadapan Ayla.
"Istri ku benar, aku baru pertama kalinya mendengar mama khawatir kepada ku, tapi kenapa mama tidak memberikan support dan malah mengatakan kalau aku tidak akan bisa berjalan lagi?" ungkap Valen.
Dua orang yang selama ini berada di kehidupan yang berbeda namun memiliki nasip yang sama kini berhadapan dan terasa melindungi satu sama lain.
Valen tidak takut lagi bicara karena merasa ada Ayla di samping nya yang cukup menciptakan rasa aman dan nyaman untuk dirinya, begitu juga dengan Ayla, di pertemuan pertama dia sudah tau kalau Maya bukan orang baik-baik dia tidak takut melawan karena sang suami adalah orang yang paling di segani di rumah tersebut.
"B-bukan aku, bukan aku yang mengatakan nya, tapi dokter," lajut Maya serba salah karena terlalu menampakkan rasa khawatir nya akan kesembuhan Valen.
"Maya kau ini kepada? Akhir-akhir ini kau tampak aneh, seharusnya kau bahagia selalu Valen sudah memiliki istri yang merawat nya , Ayla bahkan bisa menguatkan Valen sehingga akhirnya Valen mau ke rumah sakit lagi untuk memeriksa kondisi kakinya," ucap papa Hans yang terlihat sangat senang. Orang tua itu juga terlalu polos dan baik hati sehingga dia tidak mampu menyadari kalau di sisinya ada istri yang berwujud manusia namun berhati iblis.
"Aku sudah mengganti dokter, Leo menemukan dokter yang cocok dan juga memiliki keahlian luar biasa untuk merawat ku," ucap Valen kepada semua orang.
"Benar kah?" tanya papa Hans terlihat sangat bahagia.
"Tentu saja pa, dokter juga bilang kalau menjalankan terapi rutin kaki Valen akan sembuh," ucap Ayla seolah-olah kata-kata mereka sudah di sambung dan di atur sempurna.
Maya yang mendengar itu seketika terduduk, wajahnya terlihat tegang, hal ini membuat Valen dan Ayla kembali menatap nya dan menyadari sesuatu yang mencurigakan.
"Papa sangat senang mendengar itu, dan kelihatannya kalian berdua sudah semakin dekat, kesempatan punya cucu lebih awal sepertinya akan sangat mudah," ucap papa Hans sambil tersenyum menggoda.
Ayla seketika memalingkan wajahnya bersamaan dengan Valen yang menatap Ayla yang terlihat sangat malu serta canggung.
"Orang tua ini, kenapa di saat seperti ini dia malah bahas soal anak," batin Ayla berkecamuk.
"Baiklah, pa aku lelah, permisi," ucap Valen yang kemudian memberikan kode ke Ayla agar segera membawanya kembali ke kamar.
"Baiklah istirahat yang cukup," ucap sang papa lagi.
"Permisi pa," ucap Ayla yang kemudian mendorong kursi roda Valen dan mereka segera meninggalkan ruang tengah.
"Tunggu dulu," ucap mama Maya yang membuat Ayla menghentikan langkahnya.
"Besok malam aku akan mengadakan pesta ulang tahun Gavin, Ayla, karena kau adalah menantu ku, bisakah kau membantuku menghandle urusan pesta kali ini?" tanya Maya entah apa yang sedang dia rencanakan sampai-sampai meminta Ayla untuk mengambil alih urusan pesta ulang tahun Gavin kali ini, biasanya dia tidak pernah melakukan hal tersebut karena menurut nya ulang tahun Gavin adalah hal istimewa dan selalu dia manfaatkan untuk berkumpul dan berkenalan dengan para-para sosialita kaya raya untuk memperkuat koneksinya.
"Kau bukan mama ku, jadi Ayla bukan menantumu," ucap Valen dengan tatapan dingin nan tajam.
"Valen, jangan bicara seperti itu pada mama mu," ucap papa Hans sedikit terkejut mendengar penuturan Valen.
"Dia tidak se ..."
Ucapan Valen terhenti saat Ayla membekap mulut sang suami dengan tangan nya.
"Bisa, aku bisa, mama tenang saja, untuk Gavin akan ku siapkan pesta terbaik, kalau begitu kami permisi," jawab Ayla yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Berani sekali dia menerima permintaan ku, apa dia tidak tau kalau tawaran ku adalah sebuah tantangan untuk nya, bagaimana bisa seorang anak yang tidak diinginkan di keluarga Gunawan bisa menyiapkan pesta mewah tampa cacat sedikitpun, kita lihat saja nanti, jika pesta nya kacau aku akan menggunakan Gavin untuk membuat mu tidak betah di rumah ini," batin Maya yang selalu punya udang di balik batu.
Sementara itu ...
"Kenapa kau menutup mulutku? Dan kenapa kau menerima tawaran nya?" tanya Valen yang tampa sadar citra laki-laki dingin dan irit bicara nya kini sudah bobol di hadapan Ayla, dia malah terlihat lumayan cerewet.
"Kenapa aku harus menolaknya? Bukan kah ini kesempatan bagus untuk mu, kau ingin tau kan apa yang akan dia lakukan dengan menyerahkan tugas ini padaku," ungkap Ayla kepada sang suami.
Valen terdiam, dia tidak menyangka sang istri yang masih begitu muda darinya itu bisa berfikir secerdas itu.
"Tidak hanya itu, apakah kau juga menyadari kalau wajahnya terlihat sangat cemas ketika dia tau kalau kakimu akan bisa di sembuhkan?" lanjut Ayla lagi.
Valen pikir sang istri tidak mengerti banyak tentang karakter orang, namun ternyata dia salah, sepertinya pertempuran baru saja akan di mulai, Ayla Valen melawan nenek sihir.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya