"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Suasana di dalam Nikolas Max Longue semakin terasa berat. Cahaya lampu neon yang berpendar merah dan ungu memantul di lantai marmer yang mengkilap, menciptakan suasana yang intim sekaligus berbahaya. Darrel melangkah mundur satu tindak, memberikan ruang bagiku untuk bernapas, namun tatapannya tetap mengunci setiap gerak-gerikku.
Ia menyunggingkan senyum miring yang terlihat mematikan di bawah cahaya remang.
"Baiklah, Nona Emily... atau Lily..." Darrel menjeda kalimatnya sejenak, lalu ia mencondongkan tubuh, membisikkan kata-kata itu tepat di depan bibirku, "...Nyonya Grisham."
Tubuhku gemetar hebat. Sebutan itu terdengar seperti vonis penjara seumur hidup. Dengan suara yang terbata-bata, aku mencoba memungut sisa-sisa keberanianku. "Panggil... panggil saja Lily. Aku masih Lily yang dulu,"
Darrel tampak tertegun sejenak, lalu tawa rendahnya menggema di aula sepi itu. Gurat ketegangan di wajahnya sedikit mengendur, digantikan oleh sorot mata yang lebih dalam, sesuatu yang hampir menyerupai kasih sayang—namun tetap terasa posesif.
"Kau memang Lily," ucapnya, jemarinya mengusap pipiku yang dingin. "Selamanya Lily-ku. Tidak akan ada yang bisa mengubah itu."
Pengakuan itu membuat jantungku berdegup tidak karuan. Ada rasa hangat yang aneh menyusup di antara ketakutanku. Aku tahu, di balik dinding es yang ia bangun, Darrel mulai mencintaiku. Namun, cinta seorang mafia adalah pedang bermata dua; ia melindungiku, sekaligus merantaiku di sisinya. Aku harus tetap fokus pada misi Erlan dan pencarianku terhadap Evelyn.
Darrel kemudian menarik tanganku, membuatku berdiri tegak. "Dengar, Lily. Jika kau sudah memutuskan untuk masuk ke dunia ini bersamaku, maka satu hal yang harus kau ingat: Angkat kepalamu. Jangan pernah menunduk pada siapa pun, bahkan pada bayanganmu sendiri. Di sini, rasa takut adalah undangan bagi musuh untuk menyerang."
Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan kakiku yang masih lemas. Aku mengangkat daguku, menatap lurus ke matanya yang kelam. "Aku mengerti."
"Bagus," jawabnya singkat.
Ia membimbingku berjalan melewati barisan meja judi menuju sebuah pintu kayu ek besar di sisi samping kasino. Begitu pintu terbuka, kebisingan kasino mendadak hilang, digantikan oleh kesunyian ruang kerja yang mewah dan berbau cerutu mahal. Di balik meja kerja yang dipenuhi monitor CCTV, seorang pria dengan rambut pirang pucat dan tatapan setajam elang sedang menyesap wiski.
"Kael," panggil Darrel.
Pria itu menoleh. Senyum tipis muncul di wajahnya yang penuh bekas luka tipis di rahang. Ia berdiri dan membungkuk hormat, namun matanya menatapku dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Jadi ini Nyonya Grisham yang menghebohkan itu?" suara Kael terdengar serak. "Dante pasti akan tertawa jika melihat adiknya akhirnya bertekuk lutut pada seorang wanita."
Darrel tidak membalas candaan itu. "Lily, ini Kael. Sahabat mendiang Dante dan orang yang paling kupercaya untuk mengatur 'bisnis kotor' di gedung ini. Jika aku tidak ada, kata-katanya adalah kata-kataku."
Kael melangkah mendekat, mengulurkan tangannya yang kasar. "Senang bertemu denganmu, Emily... ah, maaf, maksudku Lily. Dante banyak bercerita tentang... potensi keluarga Livingston."
Aku tersentak mendengar nama keluargaku disebut. Kael tahu. Dia sahabat Dante, artinya dia juga mengenal Evelyn.
"Kau mengenal kakakku?" tanyaku spontan, mengabaikan tatapan peringatan dari Darrel.
Kael melirik Darrel sejenak sebelum kembali menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Evelyn Livingston bukan orang yang mudah dilupakan, Lily. Dia adalah badai yang menghancurkan tempat ini tepat saat kami sedang berada di puncak. Tapi kita tidak bicara tentang masa lalu hari ini, bukan?"
Darrel segera merangkul pinggangku, menarikku lebih dekat padanya seolah ingin mengakhiri pembicaraan tentang Evelyn. "Cukup basa-basinya, Kael. Siapkan laporan distribusi untuk bulan depan. Erlan menekan untuk segera melakukan transisi kepemimpinan. Aku ingin semua lini dalam kondisi bersih."
"Tentu saja, Bos," jawab Kael santai, namun matanya tetap tertuju padaku dengan makna yang tersembunyi.
Saat kami keluar dari ruangan itu, aku merasa jantungku berpacu. Kael adalah kuncinya. Dia tahu sesuatu tentang Evelyn yang tidak ingin dikatakan Darrel padaku. Di dalam neraka Grisham ini, aku baru saja menemukan satu celah cahaya. Aku harus mendekati Kael, tanpa sepengetahuan Darrel, jika aku ingin menemukan kakakku dan keluar dari sini hidup-hidup.
**
Setelah pintu tertutup dan hanya menyisakan kami berdua di antara monitor-monitor yang berkedip, suasana berubah menjadi sangat mencekam. Darrel tidak lagi menatapku dengan sisi lembut yang baru saja ia tunjukkan di lift. Matanya berkilat gelap, penuh dengan kecurigaan yang tajam.
"Ternyata kau sangat cepat beradaptasi, Lily," desisnya sambil melangkah mendekat. Langkah kakinya terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur kehancuranku.
Aku mundur hingga punggungku membentur meja kerja kayu ek yang besar. "Apa maksudmu, Darrel?"
Ia berhenti tepat di depanku, mengurungku dengan kedua lengannya yang kekar. Wajahnya begitu dekat hingga aku bisa merasakan deru napasnya yang panas dan beraroma wiski yang tajam. Sorot matanya mengingatkanku pada malam pesta itu—malam saat Marthin Winston mencoba menyentuhku dan memicu sisi monster dalam diri Darrel.
"Jangan pikir aku tidak melihat cara kau menatap Kael," suaranya merendah, parau karena amarah yang tertahan. "Senyum tertahan itu... apa kau juga tertarik padanya? Apa menurutmu dia lebih menarik karena dia mengenal kakakmu?"
"Tidak, Darrel! Aku hanya bertanya—"
"Tanya?!" potongnya kasar. "Kau datang ke sini bersamaku, kau mendesakku menjadi pemimpin, dan sekarang kau mencari celah pada orang-orangku?"
Darrel mencengkeram rahangku dengan kuat, memaksaku menatap matanya yang sudah sepenuhnya gelap mata. "Kau milikku, Lily. Setiap inci dari dirimu adalah hak milik Grisham. Dan jika kau ingin aku menjadi pemimpin klan, maka kau harus siap menerima bagaimana seorang pemimpin memperlakukan miliknya."
Tanpa peringatan, ia menyambar bibirku. Ciumannya tidak lagi memiliki rasa sayang seperti sebelumnya. Itu adalah serangan—kasar, menuntut, dan penuh dengan hasrat posesif yang menghancurkan. Aku mencoba mendorong dadanya, memukul bahunya sekuat tenaga, namun ia seperti dinding batu yang tak tergoyahkan.
"Lepaskan... Darrel, kumohon..." rintihku di sela ciumannya.
Rontaanku justru membuat gairah gelapnya semakin berkobar. Darrel menarik napas panjang dan dengan satu gerakan beringas, ia merobek bagian depan gaun krem yang baru kupakai. Bunyi kain yang koyak terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.
"Darrel, jangan! Di luar banyak orang! Kael bisa kembali kapan saja!" teriakku histeris, mencoba menutupi tubuhku dengan tangan yang gemetar.
"Biarkan mereka mendengar! Biarkan mereka tahu siapa pemilikmu!" geramnya.
Ia melucuti sisa pakaianku dengan kasar, tidak mempedulikan tangisanku yang mulai pecah. Tangannya yang besar menjamah kulitku tanpa kelembutan sedikit pun, seolah ia sedang menandai wilayah kekuasaannya. Darrel menyapu bersih tumpukan dokumen dan botol wiski di atas meja kerja itu hingga jatuh berantakan ke lantai, menciptakan ruang kosong yang dingin.
Ia mengangkat tubuhku dan mendudukkanku di atas meja kayu itu. Aku bisa merasakan permukaan meja yang keras menusuk kulitku. Dengan gerakan cepat, ia membuka gesper ikat pinggangnya, suaranya terdengar seperti vonis hukuman di telingaku.
"Kau menginginkan pewaris, bukan? Kau ingin aku naik takhta untuk menebus dosa Livingston-mu?" desisnya di depan wajahku. "Maka ini yang akan kau dapatkan."
Tanpa pemanasan, tanpa kata-kata manis, ia menghujamkan dirinya masuk.
"AAAKHH!"
Aku memekik pelan, rasa sakit yang tajam merobek kesadaranku. Tidak ada kelembutan yang tersisa. Setiap gerakannya terasa kasar dan penuh amarah, seolah ia sedang menghukumku atas pengkhianatan yang bahkan belum kulakukan. Air mataku mengalir deras, membasahi permukaan meja saat kepalaku tertengadah ke belakang.
Suara napas kami bersahutan di ruangan itu, beradu dengan suara gesekan kulit yang memuakkan di telingaku. Bagi Darrel, ini bukan tentang cinta. Ini adalah kepuasan—kepuasan mutlak untuk menunjukkan bahwa aku adalah tawanan dari gairah dan kekuasaannya.
"Kau... adalah istri... mafia..." erangnya dengan suara parau setiap kali ia menghujamkan dirinya lebih dalam. "Ini duniaku... dan kau dengan mudah memberikan apa yang Erlan mau..."
Aku hanya bisa terisak, mencengkeram pinggiran meja hingga kuku-kukuku memutih. Rasa sakit fisik ini tidak sebanding dengan hancurnya harga diriku. Di dalam gedung mewah yang dibangun oleh darah dan air mata ini, aku menyadari bahwa aku benar-benar telah membangunkan sang monster. Darrel tidak lagi melihatku sebagai Lily yang malang; ia melihatku sebagai satu-satunya cara untuk mengukuhkan kekuasaannya, sekaligus satu-satunya pelampiasan bagi obsesinya yang gila.
Saat ia mencapai puncaknya dengan erangan yang panjang dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, aku menatap kosong ke langit-langit ruangan. Misiku untuk mencari Evelyn dan keluar dari neraka ini baru saja menjadi jauh lebih berbahaya. Aku tidak hanya berhadapan dengan Erlan, tapi aku sedang terjebak dalam pelukan seorang pria yang siap menghancurkanku hanya agar aku tetap berada di sampingnya.
***
Bersambung...