Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 4 - KEMBALI (2)
Suasana perjalanan kembali terasa jauh lebih berat daripada saat mereka datang. Tidak ada lagi percakapan ringan tentang dongeng kuno atau harapan menemukan harta karun. Langkah kaki mereka beradu dengan lantai batu labirin dalam keheningan yang mencekam.
Arta berjalan di tengah barisan dengan pandangan kebawah, sementara Elian terus menjaganya di sisi samping, waspada tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Di beberapa koridor labirin, sisa-sisa golem obsidian dan laba-laba batu raksasa masih bermunculan dari kegelapan atas. Namun, kali ini tim tidak berniat untuk bertarung sampai habis.
"Jangan tertahan! Terus bergerak maju!" teriak Elian memberi komando.
Saat seekor laba-laba batu menjulurkan kaki pilarnya untuk memutus jalur mereka, Reldia dengan sigap menghantamkan perisainya, menahan serangan itu hanya agar Lilia punya waktu untuk melepaskan panah cahaya ke arah sendi monster tersebut. Begitu kaki monster itu lumpuh dan menciptakan celah, mereka semua langsung berlari melewatinya tanpa menoleh ke belakang.
Di tempat selanjutnya, Grom sesekali mengayunkan palunya untuk menghancurkan golem serangga yang menghalangi jalan utama, memastikan rute pelarian mereka tetap terbuka. Mereka hanya bertarung untuk bertahan hidup dan mengamankan jalan kembali menuju permukaan.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dan menguras fisik, mereka akhirnya berhasil keluar dari mulut gua bawah tanah. Udara luar yang dingin langsung menyambut kulit mereka, namun rasa lega itu tidak bertahan lama. Begitu mereka tiba di dermaga tempat kapal terbang bersandar, atmosfer di sana terasa sangat kacau.
Para kru kapal berlarian dengan wajah pucat pasi. Kepanikan massal terlihat jelas dari bagaimana mereka mempersiapkan kapal untuk segera lepas landas tanpa memedulikan keteraturan.
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa semua orang panik?!" Elian langsung menghampiri sang kapten kapal yang sedang berteriak memberikan perintah kepada anak buahnya.
Kapten kapal itu menoleh, wajahnya kuyu dan tangannya gemetar hebat saat memegang kemudi.
"Kalian akhirnya kembali... Demi Dewa, dunia ini sepertinya sudah kiamat! Beberapa jam yang lalu, aku mendapatkan pesan dari kristal komunikasi, dan itu..."
"Bicara yang jelas, Kapten!" desak Reldia dengan nada tinggi.
Kapten itu menunjuk ke arah langit dengan pandangan ngeri. "Para musuh dari bulan, merela kembali meluncurkan serangan besar-besaran dari langit!, mereka hanya menjatuhkan pilar-pilar cahaya penghancur dari atas! Dalam hitungan hari, hampir seluruh kerajaan besar dan kecil di benua ini telah hancur, dan pesan baru saja di kirim saat keadaan mereka sudah aman."
Mendengar hal itu, jantung Arta rasanya seperti berhenti berdetak sesaat. Pengakuan kapten kapal itu berputar-putar di kepalanya bagai kutukan. Beberapa hari yang lalu... Itu adalah waktu yang persis sama ketika ia sibuk memecahkan segel sihir di ruang takhta, waktu yang sama ketika kesatria golem obsidian itu terlepas karena kecerobohannya.
Rasa bersalah yang sebelumnya sudah membakar jiwa Arta kini mendadak menjadi ribuan kali lipat lebih menyakitkan. Napasnya memburu, dadanya terasa sangat sesak hingga ia harus mencengkeram jubahnya sendiri agar tidak terjatuh. Dunia di sekitarnya seakan berputar.
Serangan besar-besaran ini terjadi karena kesalahannya. Dialah yang telah melepaskan belenggu monster itu, dialah yang mengundang kehancuran ini ke dunia mereka.
"Arta, tenanglah. Ini bukan sepenuhnya salahmu," bisik Elian pelan, mencoba menahan tubuh Arta yang mulai limbung.
Namun, Arta tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Kepalanya dipenuhi oleh jeritan-jeritan tak terdengar dari jutaan korban yang kerajaannya hancur akibat serangan dari bulan. Ia merasa begitu tidak berguna.
Dengan segala ilmu sihir dan kecerdasan yang ia miliki, ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan pilar cahaya yang turun dari langit. Ia terpuruk dalam ketidakberdayaan yang mutlak.
Tim mereka akhirnya naik ke atas kapal dalam keheningan.
kapal mereka segera lepas landas, membelah awan dengan kecepatan penuh, meninggalkan kuil kuno bawah tanah yang telah merenggut kedamaian mereka.
Sepanjang perjalanan pulang menuju ibu kota Kekaisaran, tidak ada satu pun dari mereka yang berani melihat ke luar jendela.
Tidak hanya membiarkan musuh dari bulan menghancurkan Kekaisaran, bahkan aku juga melepas makhluk raksasa yang juga sangat mengerikan ke atas permukaan. pikir Arta dalam keheningan.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat