"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bukan Pelakor
Sisil langsung mendekati meja, kemudian mengambil lembaran foto di sana. Dilihat dari pakaian yang dikenakan dan lokasi, gadis itu langsung ingat kalau foto diambil saat dirinya sedang menemani Alvin menemui klien.
“Terangkan, apa yang terjadi!” titah Dion sambil membentak.
Belum sempat Sisil menjawab, Kirana langsung mengambil foto di tangan Sisil. Wanita itu juga terkejut, tapi tidak se-emosional Dion. Dia percaya kalau Sisil tidak mungkin melakukan hal yang akan merusak nama dirinya dan keluarga.
“Mas tenang dulu. kita dengarkan penjelasan Sisil,” Kirana mencoba menenangkan Dion. Dia mengajak suaminya duduk di sofa. Wanita itu kemudian memberikan isyarat pada Sisil untuk ikut duduk.
“Sisil … coba terangkan, ini foto apa?” tanya Kirana dengan suara lemah lembut.
Sebelum menjawab, Sisil menarik nafas panjang lebih dulu. Gadis itu yakin seratus persen kalau ada peran Anyelir dibalik foto-foto tersebut.
“Ini benar aku dan Om Alvin, tapi … kejadiannya ngga seperti yang terlihat di foto.”
Akhirnya keluar juga penjelasan dari mulut Sisil. Baik Dion maupun Kirana masih belum bereaksi. Keduanya masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari gadis itu.
“Saat itu, aku lagi menemani Om Alvin bertemu dengan kliennya. Foto ini diambil di café yang letaknya nggak terlalu jauh dari rumah. Dan kita nggak berdua aja, tapi ada yang lain. Kalau Papa nggak percaya, ini aku ada buktinya.”
Sisil mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan foto dirinya bersama orang-orang yang diajak Alvin untuk mengisi makanan di mini marketnya. Gadis itu berinisiatif mengambil foto untuk dijadikan lampiran di tugas akhirnya nanti.
Bukan hanya foto bersama, tapi ada juga foto orang yang bersangkutan membawa produk yang akan dijual di AlMart.
“Terus foto di depan hotel ini, aku juga lagi menemani Om Alvin ketemu klien lain. Adegan ini benar, tapi bukan sengaja. Jadi ada motor yang ngebut dan hampir nabrak aku. Untung Om Alvin cepat narik aku. Ini nggak sengaja, Pa. Dan aku juga punya bukti kalau di hotel ini kita cuma ketemu klien.”
Kembali Sisil memperlihatkan foto di mana Alvin dan rekan bisnisnya bersalaman. Menandakan sepakat atas perjanjian kerja sama mereka. Ada juga foto bersama Sisil.
Kirana nampak lega. Sisil bukan hanya menerangkan semua kejadian dengan baik, dia juga menyertakan bukti yang menguatkan jawabannya.
“Papa masa nggak percaya sama anak sendiri,” cicit Sisil dengan suara sedikit merajuk.
“Bukannya Papa tidak percaya, Papa ingin mengkonfirmasi. Papa nggak mau anak Papa dicap sebagai perusak rumah tangga orang.”
“Tanpa aku rusak, rumah tangga Om Alvin memang sudah berantakan kok.”
“Itu urusan mereka. Kamu nggak usah ikut campur. Biar mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri. Kamu sendiri … apa sudah selesai dengan UP kamu?”
“Udah, Pa. Besok aku mau bimbingan sama dosen pembimbing. Selesai seminar UP, aku bakal ke Jakarta lagi untuk survey dan observasi lagi.”
“Nggak usah! Kirim saja data survey-mu ke Alvin.”
“Papa—“
“Apa kamu pikir Papa nggak tahu kalau Anye yang sudah menyuruh orang mengambil foto-foto ini? Lebih baik kamu diam di sini, tidak usah ke Jakarta lagi!”
“Nggak mau! Aku mau kembali ke sana. Aku udah janji ke Om Alvin. Kasihan Om Alvin, Pa. Dia sama sekali nggak diurus sama Tante Anye.”
“Alvin sudah dewasa, dia bisa mengurus dirinya sendiri. Papa nggak mau kamu dicap sebagai pelakor!”
“Ak—“
Ucapan Sisil terhenti begitu saja ketika melihat gelengan kepala sang Mama. Gadis itu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa seraya melipat kedua tangannya. Wajahnya nampak kusut.
Setelah Rian menusuknya dari belakang, sekarang sang Papa juga menentangnya kembali ke Jakarta.
“Papa nggak tahu aja gimana sikap Tante Anye. Jangankan ngurus Om Alvin, ngurus rumah juga nggak.”
“Itu urusan mereka.”
“Tante Anye juga selingkuh di belakang Om Alvin!”
“Apa?” tanya Kirana. Wanita itu nampak terkejut. Dion pun sama terkejutnya mendengar informasi dari anaknya barusan.
“Selingkuh itu tuduhan serius. Kamu nggak boleh bilang kaya gitu kalau nggak ada bukti, jadinya fitnah.”
“Aku nggak bohong, Papa. Aku sebenarnya punya bukti. Tante Anye itu selingkuh sama teman kerjanya.”
“Mana buktinya?” tantang Dion.
“Buktinya udah dihapus sama Rian,” cicit Sisil.
“Kok bisa?” tanya Kirana.
“Rian kan penelitian di Blue Mart, pas di divisi keuangan tempat Tante Anye kerja. Aku minta Rian mata-matain Tante Anye.
Eh nggak tahunya beneran dia selingkuh sama teman kerjanya. Rian rekam kebersamaan mereka, tapi diam-diam dia hapus video itu di hape aku. Dasar Rian pengkhianat!”
Kesal Sisil sambil menghentakkan kaki. Gadis itu masih belum bisa melupakan pengkhianatan yang dilakukan sahabatnya.
Padahal video itu bisa dijadikan bukti oleh Alvin untuk menggugat cerai Anyelir.
“Siapa rekan kerjanya? Biar nanti Mama minta Om Dika selidiki.”
“Nggak tahu, Ma. Aku belum sempat tanya sama Rian.”
“Kalau gitu biar Mama yang tanya sama Rian.”
“Nggak usah, percuma. Sekarang Rian udah jadi antek-anteknya Tante Anye. Dia hapus video itu dari hapeku pasti suruhan nenek sihir itu.”
Mata Dion langsung melotot. Sisil sontak membungkam mulutnya lagi. Wajahnya terlihat semakin cemberut saja.
Kening Kirana langsung mengernyit. Dia tahu kalau Rian adalah anak yang baik. Rasanya aneh saja kalau pemuda itu tiba-tiba menjadi antek-antek Anyelir, menyembunyikan perselingkuhan wanita itu.
Mendengar kalau Anyelir berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri, membuat Kirana geram. Bagaimanapun juga Alvin sudah dianggap adiknya sendiri. Mendengar sang adik dikhianati oleh sang istri, tentu saja wanita itu tidak terima.
“Sisil akan turuti kemauan Papa. Sisil nggak akan balik ke Jakarta. Tapi Sisil punya permintaan.”
Tahu kalau sang ayah tidak akan mengubah keputusannya, Sisil pun langsung mengubah rencana. Dia akan menuruti kemauan Dion, tapi tentu saja tidak cuma-cuma. Ada harga juga yang harus dibayar pria itu.
“Apa?” tanya Dion cepat.
“Aku mau menikah dengan Om Alvin.”
“APA?” kompak Kirana dan Dion bertanya. Mata keduanya pun kompak membeliak.
Rahang Dion langsung mengeras. Foto-foto yang dikirimkan Anyelir ternyata masih belum cukup membuat kepalanya pusing. Sekarang sang putri melontarkan keinginan yang di matanya terlihat mustahil saat ini.
“Kamu jangan main-main, Sisil!”
“Aku serius, Pa. Aku mau nikah sama Om Alvin.”
“Papa tidak setuju!”
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya yang ingin menikahi pria yang berjarak 13 tahun darinya.
“Aku nggak mau nikah, kalau bukan dengan Om Alvin!” Sisil bersikeras.
“Tidak bisa! Tegas Dion sambil berdiri. “Kamu itu masih muda, cantik dan pintar. Jangan rendahkan dirimu dengan menjadi pelakor!”
“Aku bukan pelakor! Pernikahan mereka memang sudah bermasalah, Papa tahu. Dan Om Alvin juga sedang mengurus perceraian dengan Tante Anye.”
Suasana di dalam ruang kerja Dion seketika menjadi tegang. Untuk pertama kalinya ayah dan anak itu bertengkar hebat.
***
Hadeuh🤦🏻♂️
Nah lho nye mu alasan apa tuh 🤣
Aduh calon duda manggil’y udah sayang2n aja nih 🫣