Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.29
Harlan terpaku di ambang pintu. Tangannya masih berada di gagang pintu, sementara tatapannya benar-benar berhenti pada sosok Alisa yang berdiri di depan cermin.
Ruangan mendadak terasa sunyi. Tubuh Alisa benar-benar membeku total. Bahkan, Alisa sudah tidak bisa lagi menyembunyikan warna merah di wajahnya karena malu.
Lingerie merah marun itu membungkus tubuhnya dengan sangat pas. Modelnya yang terbuka memperlihatkan bahu nya yang putih, lehernya yang jenjang, hingga kaki ramping yang sejak tadi membuat nafas Harlan terasa tercekat di tenggorokan.
Dan untuk pertama kalinya… Harlan benar-benar kehilangan kata-kata. Tubuh pria itu bahkan membeku di tempat.
“Ma_Mas…” ucap Alisa dengan suara yang bergetar karena gugup.
Seketika, suara lembut Alisa membangunkan Harlan dari lamunannya. Menyadari keadaan istrinya saat ini seperti apa, Harlan pun langsung menutup pintu dengan sedikit membantingnya hingga menimbulkan suara yang agak keras.
BRAK.
Klik.
Lalu… terdengar suara pintu yang di kunci. Bukannya mendekat, Harlan malah memalingkan wajah dan mundur satu langkah dari pintu.
Sikap itu justru membuat dada Alisa terasa aneh. Karena bahkan dalam situasi seperti ini… Harlan bereaksi, seolah-olah tidak tertarik dengannya.
Menyadari kekeliruan itu. Refleks, Alisa langsung berlari ke arah ranjang, mengambil selimut di atas ranjang lalu membungkus tubuhnya rapat-rapat.
“A-Aku bisa jelasin, Mas!” katanya terburu-buru.
“Maaf… sepertinya aku masuk terlalu cepat.” jawab Harlan dengan nada rendah.
Harlan masih diam di tempatnya, beberapa detik. Pria itu memejamkan mata pelan, lalu menghembuskan nafas panjang seolah sedang menenangkan dirinya sendiri.
“Ma_Mas Harlan…” panggil Alisa pelan.
Harlan menelan ludah sebelum akhirnya berbalik, lalu menatap Alisa lagi. Tatapan pria itu jauh lebih dalam dari biasanya.
Tapi terlalu intens sampai membuat jantung Alisa berdebar tidak karuan.
“Aku akan keluar dulu dan kembali setelah kamu selesai ganti baju.” ucap Harlan lirih.
DEG.
Kalimat itu membuat Alisa menggigit bibir bawah gugup.
Padahal sejak tadi ia sudah mati-matian panik. Namun entah kenapa, mendengar Harlan ingin pergi malah membuatnya refleks melangkah maju satu langkah.
“Tunggu…”
Suara Alisa sangat pelan. Namun cukup membuat Harlan menghentikan langkahnya. Alisa menunduk malu. Jemarinya meremas selimut erat-erat.
“Apa… kenapa keluar, Mas?”
Deg.
Harlan tersentak, ia tidak mungkin menjelaskan. Rasanya, terlalu malu jika harus dijabarkan secara detail.
Sehingga, ia hanya bisa terdiam dengan tatapan lurus ke arah Alisa yang kini berdiri di samping ranjang.
“M-Mas jangan lihat aku terus…” lirih Alisa malu.
Harlan terdiam sebentar. Lalu perlahan, ia mulai melangkah maju. Mendekati Alisa. Dengan suara rendah yang membuat jantung Alisa hampir copot, ia berkata…
“Kamu tahu? Aku ini laki-laki normal, Alisa.”
DEG.
Kalimat itu langsung mengingatkan Alisa pada ucapan Tante Hani siang tadi. Seketika wajahnya kembali memanas. Sementara Harlan mengusap wajahnya, frustasi.
Harlan kemudian Kembali melangkah, kian mengikis jarak diantara keduanya. Hingga kini jarak mereka hanya tinggal beberapa senti.
Alisa mengangkat wajah perlahan. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah… ia melihat dengan jelas bagaimana Harlan menatapnya sebagai seorang wanita dan sebagai seorang istrinya.
“Kamu tahu, betapa sulitnya aku menahan diri selama ini?” tanyanya dengan suara yang berat dan sedikit bergetar.
“Maaf… aku… tidak bermaksud… seperti itu,” bisik Alisa, pikirannya benar-benar dibuat kalut oleh perbuatannya sendiri. Hingga ia tak bisa berkata-kata karena menahan rasa malu.
Tatapan Harlan langsung berubah semakin dalam. Pria itu mengangkat tangan perlahan, lalu berhenti beberapa senti dari pipi Alisa. Seolah masih memberi kesempatan untuk wanita itu untuk mundur.
Namun Alisa tidak melakukan itu ataupun menghindar. Hingga akhirnya, jemari Harlan menyentuh pipinya.
Harlan mengusap lembut pipi Alisa dengan ibu jarinya. Sentuhan sederhana itu justru membuat nafas Alisa terasa semakin tercekat.
“Kenapa tiba-tiba seperti ini?” tanyanya lirih.
Alisa menelan ludahnya, genggamannya pada selimut semakin erat. Ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan semuanya kepada Harlan. Tentang apa yang ia lakukan saat ini.
“Ta_Tante Hani bilang…” suara Alisa tercekat di tenggorokan, hingga butuh waktu beberapa detik untuk kembali melanjutkan ucapannya.
“Aku harus memakai ini. Ma_maaf… kalau aku buat Mas Harlan tidak nyaman,” lanjutnya. Pasrah, tidak tahu lagi harus berkata apa.
“Justru sebaliknya. Aku suka… sangat suka kamu seperti ini. Kamu terlihat sangat cantik sekali.” jawab Harlan, berbisik tepat di depan wajah Alisa.
DEG.
Alisa langsung menunduk karena malu, sementara Harlan tersenyum kecil melihat reaksi istrinya itu.
Dan malam itu… Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai, jarak di antara keduanya perlahan mulai menghilang.
Harlan masih menatap lekat Alisa, seolah enggan mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sosok sang istri.
Sementara Alisa sendiri sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jantungnya berdebar sangat cepat, membuat dadanya sedikit terasa sesak.
“Jangan menatapku seperti itu…” lirih Alisa malu.
Harlan tersenyum tipis. Jemarinya yang sejak tadi berada di pipi Alisa perlahan bergerak menyelipkan rambut wanita itu ke belakang telinga.
“Kalau istriku secantik ini, mana bisa aku tidak melihatnya?” bisiknya pelan.
DEG.
Alisa menggigit bibir bawahnya gugup. Kalimat sederhana itu justru membuat wajahnya semakin panas. Belum sempat ia mengatakan apapun, Harlan kembali mendekat perlahan.
Begitu pelan… seolah takut membuat Alisa merasa tidak nyaman.
“Alisa…” panggilnya lirih.
“I_iya…”
“Aku boleh?”
Pertanyaan itu membuat Alisa mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka pun kembali bertemu. Namun kali ini, begitu dekat hingga Alisa bisa merasakan nafas Harlan yang hangat di wajahnya.
Dan saat wanita itu mengangguk kecil dengan pipi yang merah, Harlan akhirnya menangkup wajahnya lembut lalu mengecup keningnya terlebih dahulu.
Satu kecupan singkat membuat hati Alisa bergetar hebat. Kemudian, Harlan menurunkan tatapannya ke arah bibir Alisa. Memberi waktu beberapa detik, memastikan jika istrinya tidak akan mundur.
Namun Alisa tetap diam di tempat. Hingga akhirnya… Harlan pun berhasil menyatukan bibir mereka pelan.
Sangat pelan dan lembut. Seolah sedang menjaga sesuatu yang paling berharga di dunia.
Nafas Alisa langsung tercekat. Jemarinya refleks mencengkeram kemeja Harlan ketika pria itu memperdalam kecupan mereka perlahan.
Membuat selimut yang menutupi tubuh Alisa terlepas dan jatuh ke lantai. Kini, tubuh seksi itu sudah tidak tertutupi selimut lagi.
Alisa tersadar, lalu sedikit mendorong tubuh Harlan agar pria itu menghentikan ciumannya dan memberinya ruang untuk mengambil nafas.
“Mas…” bisiknya lirih di sela nafas yang mulai berantakan.
Harlan menempelkan dahinya di dahi Alisa sambil tersenyum kecil.
“Maaf… aku kehilangan kendaliku. Aku sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak melakukan ini.” bisiknya jujur. Di sela nafas yang masih memburu
Alisa menunduk malu mendengar pengakuan itu. Namun kali ini, ia tidak lagi berusaha menjauh. Justru perlahan, wanita itu membalas pelukkan Harlan.
Dengan gugup, Alisa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Harlan. Membelit tubuh kekar pria itu.
Pelukan sederhana itu membuat tatapan Harlan semakin dalam.
Pria itu mengusap punggung Alisa perlahan, mencoba menenangkan rasa gugup istrinya. Tidak ada tergesa-gesa di antara mereka malam itu. Hanya ada kehangatan yang sejak lama tertahan.
“Kalau kamu takut atau tidak nyaman. Kita bisa berhenti disini.” ucap Harlan pelan.
Alisa menggeleng kecil. Mungkin, ini adalah waktu yang tepat untuknya melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Alisa sudah bertekad dan tidak akan pernah mundur lagi.
“Tidak Mas. Sudah seharusnya aku melakukan kewajibanku sebagai seorang istri.” jawabnya penuh dengan keyakinan.
Kalimat itu membuat Harlan memejamkan mata sesaat, seolah menahan luapan perasaan di dadanya. Ia kemudian mencium kening Alisa sekali lagi sebelum memeluk wanita itu lebih erat.
ayolah Harlan, Alisa saling ngobrol,saling pandang mata siapa tahu udah ada cinta