NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:793
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: LEMBAH BAYANGAN

Lembah Bayangan bukan sekadar tempat.

Ia adalah makhluk hidup—bernapas, bergerak, berpikir. Kabut hitam yang menyelimutinya bukan kabut biasa, tapi daging dan darah dari entitas yang telah ada sejak sebelum dunia diciptakan. Setiap langkah yang mereka ambil di atas tanah kering yang retak terasa seperti berjalan di atas sesuatu yang hangat, sesuatu yang berdenyut.

Aldric memimpin di depan, Soulrender terhunus. Pedang itu bersinar terang—cahaya putih bersih yang kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Setiap kali ia mengayunkannya, kabut menjauh, seperti takut tersentuh cahaya itu.

Elara berjalan di sampingnya, tangan mereka hampir bersentuhan. Di belakang, Sera menggendong Ren yang tiba-tiba terdiam—tidak menangis, tidak bicara, hanya menatap lurus ke depan dengan mata sayu.

"Ren?" bisik Sera cemas. "Nak, kau kenapa?"

Anak itu tidak menjawab. Mulutnya bergerak, tapi suara yang keluar bukan suaranya.

"Dia di sini," suara Varyn dari mulut Ren. "Abaddon. Ia sudah tahu kita datang."

Dari dalam kabut, suara itu bergema—dalam, berat, berlapis-lapis seperti ribuan orang bicara bersamaan.

"Aldric Veynheart... akhirnya kau datang."

Aldric berhenti, Soulrender teracung. "Tunjukkan dirimu, Abaddon! Aku tidak punya waktu untuk permainan!"

Tawa bergema—tawa yang membuat tanah berguncang, membuat kabut bergetar, membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.

"Permainan? Ini bukan permainan, anak manusia. Ini adalah... ujian."

Kabut di depan mereka mulai berputar, membentuk pusaran besar. Dari pusaran itu, sesosok bayangan mulai terbentuk—tidak seperti Kael yang raksasa atau Malak yang mengerikan. Sosok ini... manusia. Pria tua dengan janggut putih panjang, mata biru lembut, dan senyum hangat.

Raja Aldous Veynheart.

Ayah Aldric.

Aldric tersentak, mundur selangkah. Soulrender di tangannya bergetar—bukan marah, tapi ragu.

"Ayah..."

"Tidak!" Elara meraih tangannya. "Aldric, itu bukan ayahmu! Ingat Labirin Echo!"

Tapi bayangan itu—pria tua itu—tersenyum lembut. "Aldric, Nak... Ayah kangen padamu..."

Suara yang sama. Senyum yang sama. Bahkan aroma yang sama—aroma kayu dan buku tua yang selalu melekat pada ayahnya.

"Aku tahu ini palsu," bisik Aldric, suaranya bergetar. "Tapi... kenapa rasanya begitu nyata?"

Bayangan itu melangkah maju. "Apa yang nyata dan tidak nyata, Nak? Bukankah kenangan juga nyata? Bukankah perasaan juga nyata?"

"Aldric!" Elara menariknya mundur. "Jangan!"

Tapi Aldric tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada bayangan ayahnya.

Bayangan itu mengulurkan tangan. "Ayam tahu kau lelah, Nak. Ayah tahu kau sudah berjuang terlalu keras. Tapi sekarang, Ayah di sini. Kau bisa beristirahat."

Tangan itu—tangan yang sama yang pernah menggendongnya saat kecil, yang pernah mengajarinya menulis, yang pernah memeluknya erat sebelum tidur—begitu dekat. Hanya sejengkal dari wajahnya.

"Kenapa..." suara Aldric serak. "Kenapa kau lakukan ini, Abaddon? Kenapa kau gunakan wajah ayahku?"

Bayangan itu berubah. Senyum hangatnya melengkung—menjadi senyum lain, senyum jahat, senyum yang tidak pernah dimiliki ayahnya.

"Karena itu yang paling menyakitkan, Nak. Karena kau tidak akan pernah bisa melupakan mereka. Dan selama kau tidak bisa melupakan, aku bisa menggunakan mereka."

Wajah ayahnya mulai berubah—membusuk, daging bergelantungan, mata menghitam. Tapi suaranya tetap sama, tetap lembut, tetap membunuh perlahan.

"Kau pikir kau sudah melewati ujian leluhur? Itu hanya pemanasan, Nak. Ujian sebenarnya adalah di sini. Di hadapan orang-orang yang kau cintai, yang kau tinggalkan, yang kau biarkan mati."

Aldric menggertakkan gigi. Air mata mengalir di pipinya—bukan sedih, tapi marah. Marah pada dirinya sendiri karena masih lemah, karena masih terpengaruh, karena masih mencintai.

"Kau benar," katanya pelan. "Aku tidak bisa melupakan mereka. Dan aku tidak mau melupakan mereka."

Ia mengangkat Soulrender.

"Tapi kau—kau bukan ayahku. Kau hanya bayangan busuk yang memakai wajahnya."

Ia menebas.

Bayangan itu menghilang dalam sekejap, berubah menjadi kabut hitam yang berputar-putar. Tawa Abaddon bergema lagi, lebih keras, lebih mengejek.

"Bagus, Nak! Kau lulus ujian pertama! Tapi masih ada dua lagi!"

Kabut bergerak.

Dari dalamnya, bayangan kedua mulai terbentuk. Kali ini lebih kecil—tubuh mungil dengan rambut ikal pirang, gaun putih kusut, dan boneka kelinci di tangan.

Liana.

Aldric membeku. Soulrender di tangannya hampir terjatuh.

"Kakak..." suara kecil itu memanggil. "Kakak... kenapa Kakak tinggalin Liana?"

"Tidak..." Aldric mundur. "Kau bukan Liana. Kau bukan—"

"Kakak janji jagain Liana," bayangan itu melangkah mendekat, langkah kecil yang dulu selalu membuat Aldric tersenyum. "Kakak janji. Tapi Kakak pergi. Kakak biarin Liana mati."

Aldric jatuh berlutut. Air mata mengalir deras.

"Aku... aku minta maaf..."

"Maaf tidak cukup, Kak." Liana kecil itu berdiri di depannya, menatapnya dengan mata besar—mata yang sama, tapi kosong, gelap, tanpa kehidupan. "Kakak harus ganti. Liana mau main sama Kakak. Di sini. Selamanya."

Ia mengulurkan tangannya—tangan kecil yang dulu selalu digenggam Aldric saat menyeberang jalan.

Elara berteriak dari belakang, "Aldric! JANGAN!"

Tapi Aldric sudah tidak mendengar. Yang ada hanya Liana. Hanya adik kecilnya yang mati karena kegagalannya melindungi.

Tangannya terulang.

Dan di saat jari-jari mereka hampir bersentuhan—

"Om!"

Suara Ren memecah segalanya.

Bukan suara biasa—tapi suara yang mengandung kekuatan Varyn. Suara yang membuat kabut bergetar, membuat bayangan Liana terpental, membuat Aldric tersadar.

Ia menggeleng, mengusir lamunan. Bayangan Liana sudah tidak ada. Yang ada hanya kabut hitam yang berputar marah.

"ANAK ITU!" raung Abaddon. "AKU TIDAK MENYANGKA—"

Ren berdiri di depan Aldric, tubuh kecilnya gemetar tapi matanya merah menyala—Varyn ada di dalamnya.

"Abaddon!" suara Varyn dari mulut Ren. "Kau lupa satu hal! Anak ini adalah saluranku! Ia bisa melihat kebohonganmu!"

"VARYN! KAU—"

"AKU TIDAK AKAN BIARKAN KAU HANCURKAN MURIDKU!"

Ren mengangkat kedua tangannya. Dari tubuh kecilnya, cahaya merah menyala—sangat terang, sangat panas. Kabut hitam di sekeliling mereka mulai menguap, menjauh, ketakutan.

Tapi itu menguras Ren. Anak itu pucat, tubuhnya lemas.

Sera berlari, menangkapnya sebelum jatuh. "Ren! Ren!"

"Cepat, Aldric!" teriak Varyn sebelum menghilang dari mata Ren. "Abaddon melemah! Bunuh dia sekarang!"

Aldric bangkit, Soulrender di tangan. Matanya masih basah, tapi tekadnya kembali.

Ia berlari menembus kabut, menuju pusaran di tengah lembah. Di sana, di atas batu hitam raksasa, berdiri Abaddon—dalam wujud aslinya.

Iblis itu mengerikan. Tubuhnya seperti kumpulan mayat yang menyatu—lengan di sini, kaki di sana, wajah-wajah menjerit di setiap permukaan. Matanya—ratusan mata—tersebar di seluruh tubuhnya, semuanya menatap Aldric dengan kebencian.

"KAU TIDAK BISA MEMBUNUHKU!" raungnya. "AKU ABADDON! AKU YANG MENODAI SEGALA YANG SUCI! AKU YANG—"

Aldric tidak memberinya kesempatan bicara.

Ia melompat, Soulrender teracung, dan menusuk tepat di jantung iblis itu—di mana sekumpulan wajah menjerit paling keras.

"AAAAAAAAA—"

Soulrender bersinar putih. Cahaya itu menyebar ke seluruh tubuh Abaddon, membakar setiap wajah, setiap mata, setiap bagian dari iblis itu.

Abaddon bergetar, berkedut, lalu meledak dalam ledakan cahaya putih yang membutakan.

Saat Aldric membuka mata, kabut hitam sudah hilang.

Lembah Bayangan tidak lagi gelap. Langit biru terbentang di atas, matahari bersinar hangat, dan di tanah, rumput-rumput mulai tumbuh—seolah selama ini menunggu untuk hidup.

Ia terhuyung, hampir jatuh. Elara berlari menopangnya.

"Kau melakukannya," bisiknya. "Kau membunuhnya."

Aldric menggeleng. "Kita melakukannya. Tanpa Ren, aku sudah terjebak."

Ia menatap ke arah Sera yang memangku Ren. Anak itu pucat, napasnya lemah, tapi ia tersenyum—senyum lelah, tapi bahagia.

"Om menang," bisiknya.

Aldric berjalan mendekat, mengusap rambut Ren. "Kita menang, Nak. Berkatmu."

Sera menangis—tangis bahagia, tangis lega. "Dia... dia tidak apa-apa?"

Dari kejauhan, Varyn—yang asli—melangkah mendekat. Tubuhnya masih besar, tapi sekarang tidak menakutkan. Ia tersenyum.

"Ren hanya lelah. Ia sudah menggunakan terlalu banyak kekuatanku. Tapi ia akan pulih." Ia menatap Aldric. "Kau hebat, Nak. Melewati ujian Abaddon bukan hal mudah."

Aldric menghela napas. "Aku hampir gagal. Dua kali."

"Tapi tidak gagal. Itu yang penting." Varyn menepuk bahunya—tepukan ringan yang hampir membuat Aldric jatuh. "Sekarang, satu iblis tersisa."

Aldric mengerutkan dahi. "Lilith."

"Ya. Dan ia di Dusun Willow. Avatarku sudah mengirim kabar—ia masih bertahan, tapi tidak lama."

Aldric bangkit. "Kita harus ke sana. Sekarang."

"Kau lelah, Nak. Tubuhmu—"

"Aku tidak peduli." Aldric menatap Varyn. "Aku sudah kehilangan cukup banyak orang. Aku tidak akan biarkan Nenek Greta dan penduduk Dusun Willow mati karena aku."

Varyn terdiam. Lalu tersenyum.

"Manusia," gumamnya. "Selalu berjuang untuk orang lain. Tidak seperti iblis."

Ia mengecilkan tubuhnya, menjadi seukuran manusia. "Ayo. Aku bawa kalian terbang. Cepat."

Mereka naik ke punggung Varyn—Aldric, Elara, Sera, dan Ren yang tertidur lelap. Varyn mengepakkan sayapnya, dan mereka melesat ke barat, meninggalkan Lembah Bayangan yang mulai pulih.

Di bawah mereka, daratan terbentang luas—hutan, sungai, pegunungan, semuanya tampak kecil dari ketinggian. Aldric memeluk Elara erat, merasakan hangat tubuhnya.

"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Elara.

Aldric memikirkan pertanyaan itu. Selama ini ia hanya fokus pada dendam—membunuh Darius, menghancurkan Shadow Council, membalas kematian keluarganya. Tapi sekarang Darius sudah mati, Kael dan Malak dan Abaddon sudah tumbang, hanya Lilith yang tersisa.

Setelah Lilith... apa?

"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Mungkin... kembali ke dunia bawah. Bantu Varyn membangun kembali. Atau tinggal di atas, di desa yang tenang. Bersama..." Ia menatap Elara. "...bersamamu."

Elara tersenyum. "Aku mau di mana pun kau mau."

Mereka berpelukan di atas punggung Varyn, di bawah langit yang mulai cerah.

Ren terbangun sebentar, mengucek mata. "Om, kita ke mana?"

"Ke Dusun Willow, Nak. Ada yang harus kita selamatkan."

"Oh." Ren mengangguk, lalu tidur lagi.

Varyn terbang lebih cepat, sayapnya mengepak kuat. Di kejauhan, asap mulai terlihat—bukan asap biasa, tapi asap hitam pekat.

Dusun Willow.

Lilith menanti.

Dari ketinggian, Dusun Willow tampak porak-poranda. Rumah-rumah terbakar, ladang-ladang hancur, dan di tengah desa, bayangan Lilith berdiri di atas tumpukan mayat.

Avatar Varyn yang dikirim sebelumnya sudah hampir habis, tubuhnya memudar, tidak mampu lagi bertahan. Nenek Greta dan penduduk yang tersisa berlindung di balik sisa-sisa pagar kayu, ketakutan.

Lilith tersenyum melihat kedatangan mereka.

"Akhirnya," bisiknya. "Aku sudah bosan menunggu."

Varyn mendarat dengan gemuruh, debu beterbangan. Aldric turun, Soulrender di tangan. Elara dan Sera mengikuti dengan Ren di gendongan.

"Lilith!" teriak Aldric. "Ini antara aku dan kau!"

Lilith tertawa—tawa merdu yang menggetarkan hati. "Kau pikir aku akan bertarung denganmu, Pangeran kecil? Aku tidak sebodoh saudara-saudaraku."

Ia melambaikan tangan. Di belakangnya, bayangan-bayangan mulai terbentuk—puluhan, ratusan. Bukan iblis, tapi manusia. Penduduk Dusun Willow yang sudah mati, bangkit kembali dengan mata kosong, tubuh membusuk, hanya menuruti perintah Lilith.

"Kau ingin menyelamatkan mereka? Bunuh mereka dulu."

Pertempuran terakhir dimulai

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!