NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Tidur di ranjang yang sama

Laura terdiam di dalam kamar yang tidak asing baginya. Tentu saja, kamar suaminya. Kamar yang ia hindari dan tidak berani ia masuki sesuka hati.

Walaupun hubungan keduanya sudah jauh lebih baik, namun untuk hal ini, ia masih memberikan batasan. Laura harus ingat jika tujuan yang selama sebulan ini ia lakukan, hanya semata-mata agar ia dapat terbebas dari keluarga konglomerat itu.

Semua barang-barangnya sudah di pindahkan. Bahkan, ruang kosong yang dulunya di gunakan Gaharu sebagai ruang kerjanya, kini di rombak menjadi tempat belajar dan tempat lukis untuk Laura. Gadis itu juga meminta sebuah kasur kecil untuk ia tertidur di sana.

Tentu saja dengan alasan jika ia merasa penat saat mengerjakan tugas kuliah, ia bisa langsung tertidur di sana. Padahal kenyataannya, ia tidak ingin terlalu dekat dengan pria datar itu. Yang ada ia tidak dapat tidur dengan tenang.

Laura berkata tidak ingin terlalu dekat? Sepertinya gadis itu sudah melupakan momen di mana ia dengan berani melayangkan 2 kecupan ringan pada pipi pria datar itu. Otaknya sudah bermasalah sepertinya.

Laura masuk ke dalam ruangan yang sudah di rombak menjadi tempat belajarnya. Ia mengambil langkah untuk duduk di sofa yang tersedia di sana. Matanya meliar memperhatikan setiap sudut ruangan tanpa sadar jika Gaharu sudah berada di balik pintu ruangan tersebut.

Pintu ruangan terbuka dengan bunyi klik yang halus, membuyarkan semua lamunan Laura. Ia menatap ke arah pintu dan mendapati Gaharu baru saja masuk, menggerakkan kursi rodanya dengan tenang.

Pria itu menghentikan kursi rodanya tepat di ambang batas ruang kerjanya dulu, yang kini telah berubah wujud menjadi wilayah kekuasaan Laura. Gaharu mengedarkan pandangan, menatap meja belajar, deretan kanvas, dan terakhir, matanya tertuju pada sebuah kasur berukuran single yang sudah terpasang rapi di sudut ruangan.

Satu alis Gaharu terangkat. Tatapan datarnya beralih menatap Laura yang sedang sibuk mengindari tatapannya.

“Jadi, kamu berencana tidur di sana?” tanya Gaharu, suara beratnya memecah keheningan kamar.

Laura berdeham pelan, mencoba menetralkan rasa canggung yang tiba-tiba menyergap. “I-iya. Aku sengaja meminta kasur kecil itu ditaruh di sana. Agar sewaktu-waktu aku merasa lelah karena tugas kuliah, aku bisa langsung tidur. Lebih praktis.”

Gaharu mendengus tipis, jenis dengusan yang membuat Laura tahu kalau pria itu sama sekali tidak termakan oleh alasan logisnya. Gaharu menggerakkan kembali kursi rodanya mendekat, berhenti tepat di hadapan Laura.

“Praktis, atau kamu sedang mencoba membuat batasan?” ucap Gaharu telak.

Laura sedikit tersentak, namun buru-buru mengubah ekspresi wajahnya. “Batasan apa? Ini murni karena efisiensi waktu, Suami.”

Gaharu menatap gadis di depannya dengan tatapan mengintimidasi yang khas. “Efisiensi waktu? Menarik sekali. Padahal beberapa Minggu yang lalu, ada seseorang yang dengan berani melayangkan dua kecupan di pipiku tanpa izin. Dan sekarang, orang yang sama mendadak bertingkah seolah-olah kami adalah orang asing yang tidak sengaja berbagi kamar.”

Deg!

'Sial! Dia masih mengingatnya? Astaga, Laura. Kamu benar-benar bodoh karena berani melakukan hal itu.'

'Apa yang aku pikirkan saat itu sampai berani mengecup pipi pria datar itu.'

'Aihh.. rasanya aku ingin hilang saat ini juga.'

Laura mematung, meratapi kebodohan yang ia lakukan saat itu. Dan kini bayangan tersebut diputar kembali di dalam otaknya. Wajahnya yang semula berusaha dipasang setenang mungkin, kini perlahan-lahan mulai memanas hingga ke ujung telinga.

“I-itu...” Laura tergagap, tangannya refleks meremas ujung bajunya sendiri. Ia memalingkan wajah ke samping, menolak mentah-mentah bertatapan langsung dengan sepasang mata elang Gaharu yang seolah-olah sedang menelanjanginya hidup-hidup.

“Itu 'kan... itu cuma refleks! Kamu tidak mungkin menganggap hal itu serius, 'kan?”

Gaharu memajukan sedikit tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di atas sandaran tangan kursi roda. Jarak di antara mereka mengikis, cukup dekat untuk membuat Laura dapat mencium aroma parfum khas suaminya yang maskulin dan menenangkan, namun entah kenapa terasa begitu mencekik saat ini.

“Refleks?” ulang Gaharu dengan nada rendah, kata itu seolah-olah lelucon paling hambar yang pernah ia dengar. “Refleks itu terjadi sekali, Laura. Dua kali di pipi yang sama, dalam kesadaran penuh, itu namanya kesengajaan yang direncanakan.”

Laura menelan ludahnya dengan susah payah. Semburat merah di pipinya kini sudah menjalar sampai ke leher. Ia semakin menyudutkan tubuhnya ke sandaran sofa, berharap sofa tersebut dapat menelannya bulat-bulat secara utuh.

“Dan menganggapnya serius atau tidak...” Gaharu menjeda kalimatnya, matanya menyipit, mengunci pergerakan Laura yang tampak seperti kelinci yang terpojok. “...itu hakku. Kamu yang memulai permainan ini, tapi sekarang kamu yang ketakutan dan bersembunyi di balik kasur kecil itu?”

“A-aku tidak bersembunyi!” potong Laura cepat, mencoba mencari sisa-sisa keberaniannya. Ia menoleh, menantang tatapan Gaharu meskipun matanya bergetar panik. “Ah! Lupakan saja. Kenapa jadi membahas hal itu. Topik percakapannya bukan soal kecupan!”

Gaharu tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat amat tipis. Melihat bagaimana Laura mati-matian mengalihkan pembicaraan dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus. Reaksi panik gadis itu entah kenapa memberikan sedikit hiburan di tengah kepalanya yang penat.

Pria itu menegakkan kembali punggungnya, bersandar pada kursi roda dengan santai, namun auranya tetap mengintimidasi.

“Benar, topiknya bukan soal kecupan,” sahut Gaharu dengan nada tenang yang justru membuat Laura makin salah tingkah. “Topiknya adalah tentang kamu yang mendadak membangun benteng pertahanan di dalam kamarku. Kamar kita.”

Gaharu mengarahkan pandangannya kembali ke arah kasur single di sudut ruangan, lalu beralih pada deretan kanvas kosong yang berdiri rapi.

“Aku tidak keberatan ruang kerjaku berubah menjadi studio lukismu. Aku juga tidak masalah kamu menghabiskan malam di sana untuk belajar,” ucap Gaharu, suaranya merendah, terdengar berat dan penuh penekanan di setiap kalimatnya. “Tapi, Laura... kasur itu terlalu berlebihan.”

Laura menggigit bibir bawahnya, merasa terpojok namun egonya menolak untuk kalah begitu saja. “Apa salahnya? Aku hanya ingin kenyamanan. Lagipula, bukankah sejak awal kita sepakat untuk menjalani pernikahan ini dengan... batasan yang jelas?”

“Batasan?” Gaharu mengulang kata itu dengan dengusan pelan. Ia menggerakkan kursi rodanya lebih dekat pada sofa di mana Laura duduk, membuat gadis itu otomatis menahan napas.

“Jika begitu, biarkan aku memperjelas batasan itu, Istriku,” ucap Gaharu, sengaja menggunakan panggilan yang jarang ia ucapkan, membuat bulu kuduk Laura meremang seketika.

“Kamu bebas mengecat ruangan ini dengan warna apa saja, kamu bebas mengotorinya dengan cat lukismu, dan kamu bebas terjaga sampai pagi untuk tugas kuliahmu.” Gaharu menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata Laura yang bergetar.

“Tapi, aturan di kamar ini tetap milikku. Dan di dalam kamarku, tidak ada tempat untuk dua ranjang yang terpisah. Jadi, sebelum aku menyuruh pelayan untuk membuang kasur kecil itu keluar...” Gaharu menunjuk kasur single tersebut dengan dagunya, lalu kembali menatap Laura dengan tatapan menuntut yang mutlak. “...pikirkan baik-baik di mana kamu akan memejamkan mata malam ini.”

.

.

.

Malam semakin larut sepertinya. Laura terbaring di atas kasur tempatnya sakit beberapa hari yang lalu. Di sampingnya Gaharu sudah memejamkan mata dengan nafas yang teratur. Sementara dirinya masih terjaga dengan banyaknya pikiran yang melayang ke mana-mana.

Ia tidak ada pilihan lain selain menuruti perkataan Gaharu. Ia tidur di ruangan yang sama, di atas ranjang yang sama, berbagi kasur bahkan selimut yang sama. Namun, ia tidak bisa tidur dengan tenang.

Ini merupakan hal baru baginya. Ia terbiasa tidur sendirian tanpa di temani oleh objek hidup seperti pria di sampingnya kini.

Walaupun di antara mereka ada sebuah guling yang memisahkan, namun Laura terbaring cukup jauh. Bergerak sedikit saja sepertinya ia akan terjatuh dan membentur lantai. Karena posisinya saat ini berada di ujung kasur.

Laura menghela napas sekecil mungkin, takut suara hembusan angin dari mulutnya akan mengusik pria di sampingnya. Matanya menatap langit-langit kamar yang temaram, hanya diterangi oleh lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya keemasan.

Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, indra pendengarannya justru mendadak menjadi dua kali lipat lebih sensitif. Suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman, dan deru napas teratur Gaharu terdengar begitu dekat, mengacaukan ritme jantungnya sendiri.

Kriettt

Laura sedikit bergeser ke kanan untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Namun, sial. Ujung sikunya justru melayang di udara kosong. Ia benar-benar sudah berada di titik paling ujung dari ranjang berukuran king size ini.

'Satu sentimeter lagi, aku pasti sukses mencium lantai,' rutuk Laura dalam hati. Ia menoleh sedikit, melirik benteng pertahanan berupa guling di tengah-tengah kasur.

Karena merasa pegal terus-menerus miring ke arah kanan, Laura memutuskan untuk membalikkan tubuhnya menghadap ke kiri. Ia menarik selimut tebal mereka hingga sebatas dada, mencoba mencari kehangatan karena pendingin ruangan yang mulai terasa menusuk kulit.

Baru saja Laura memosisikan kepalanya dengan nyaman di atas bantal, tiba-tiba terdengar suara serak dan berat yang memecah kesunyian malam.

“Tidur, Laura.”

Gadis itu tersentak. Jantungnya serasa melompat ke luar. Kedua matanya membelalak lebar, menatap Gaharu yang ternyata... masih memejamkan mata. Namun, sudut bibir pria itu tampak berkedut tipis.

“K-kamu belum tidur?” bisik Laura.

Gaharu perlahan membuka kedua kelopak matanya. Manik mata elang yang gelap itu langsung mengunci pandangan Laura di balik remang cahaya lampu tidur. Ia menolehkan kepalanya ke samping, menatap Laura yang tampak kaku seperti manekin.

“Bagaimana aku bisa tidur kalau orang di sampingku terus-menerus gelisah seolah-olah sedang berbagi ranjang dengan seekor beruang?” sahut Gaharu datar, suara khas bangun tidurnya terdengar lebih berat dan serak.

Wajah Laura kembali memanas. “Aku tidak gelisah! Aku hanya... belum terbiasa. Lagipula, aku sengaja tidur di pinggir agar tidak mengganggu ruang gerakmu.”

Gaharu tidak membalas argumen itu dengan kata-kata. Pria itu justru menggeser tubuhnya mendekat ke arah guling pembatas. Tangan kanannya bergerak, meraih guling yang memisahkan mereka, lalu dengan santai melempar benda empuk itu ke ujung kaki ranjang dan terjatuh menyentuh lantai.

“Eh? Kenapa dibuang!” protes Laura tertahan, matanya membulat panik saat benteng pertahanannya lenyap begitu saja.

“Guling itu tidak berguna,” ucap Gaharu tenang. Tanpa diduga, tangan panjang Gaharu terjulur melewati batas yang tak kasatmata di antara mereka. Ia meraih pinggang Laura, lalu dengan satu tarikan yang lembut namun bertenaga, ia menarik tubuh gadis itu ke tengah kasur.

Dalam keadaan kakinya yang lumpuh pun, tangan pria itu menariknya dengan kuat. Laura memekik pelan saat tubuhnya terseret dengan mudah. Kini, jarak di antara mereka terkikis habis. Begitu dekat hingga Laura bisa merasakan hembusan napas hangat Gaharu di puncak kepalanya.

“Suami...” cicit Laura, suaranya bergetar hebat. Tangannya refleks bertumpu pada dada bidang Gaharu, menahan agar tubuh mereka tidak benar-benar menempel. Jantungnya berdegup begitu kencang, ia takut Gaharu dapat mendengarnya.

Gaharu menatap wajah panik Laura. Alih-alih melepaskannya, pria itu justru menarik selimut mereka lebih tinggi, membungkus tubuh Laura dengan rapat.

“Tidurlah,” perintah Gaharu, nadanya mutlak namun tidak ada lagi nada dingin di sana.

'TIDUR? Bagaimana aku bisa tidur dalam posisi seperti ini?'

“Tapi—”

“Tutup matamu, Laura. Atau kamu mau aku menggunakan cara lain agar kamu bisa diam?” ancam Gaharu pelan, matanya turun melirik sekilas ke arah bibir Laura, mengingatkan gadis itu pada topik 'kecupan' yang sempat mereka perdebatkan beberapa jam yang lalu.

Laura langsung membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia segera memejamkan matanya dengan erat, tidak berani berkutik lagi di dalam kungkungan lengan Gaharu yang entah sejak kapan sudah melingkar protektif di pinggangnya.

Di balik matanya yang terpejam, Laura merutuki dirinya sendiri yang sama sekali tidak bisa menolak. Sementara Gaharu, menatap puncak kepala gadis di pelukannya dengan senyum tipis yang akhirnya berkembang bebas di kegelapan malam, sebelum ia sendiri ikut memejamkan mata menyusul Laura ke alam mimpi.

Hm.. apakah Gaharu mulai dapat membuka hatinya untuk Laura dan melupakan tentang wanita masa lalunya yang sempat menjadi perdebatan antara ibunya? Atau pria itu memiliki rencana lain di dalam otaknya?

***

Senin, 18 Mei 2026

Published : Senin, 18 Mei 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!