Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.
Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Tak Kembali
Malam itu tidak direncanakan. Tidak ada koper besar yang diseret keluar, daftar barang yang dicoret satu per satu, dan tentu saja, tidak ada izin.
Hanya ada satu keputusan yang datang terlalu cepat untuk dipikirkan ulang, namun sudah matang dalam diam selama berbulan-bulan.
Sebelum hujan turun deras dan membasahi jalanan kota, ada sebuah ruang tamu yang heningnya mencekik, dengan lampu kristal menyala terlalu terang, seolah menghakimi setiap napas yang diambil Meisyah
Mamanya di sofa utama, punggung tegak, tangan terlipat rapi di atas pangkuan sedangkan Papanya berdiri di dekat jendela, membelakangi menatap kegelapan taman di luar. Di sisi lain, Fero duduk dengan santai, senyum tipis terpatri di wajahnya—yakin sudah menang sebelum pertandingan dimulai.
“Meisyah,” suara ibunya memecah keheningan, dingin dan datar. “Fero sudah menyiapkan tanggal diakhir bulan depan. Undangan akan mulai dicetak minggu ini.”
Gadis itu berdiri di tengah ruangan. Jantungnya berdegup kencang, tapi kakinya menapak kuat di lantai marmer menatap ibunya, lalu beralih ke ayahnya yang masih membelakangi.“Mei tidak mau,” katanya pelan, tapi jelas.
Ibunya mengernyit, seolah baru saja mendengar lelucon yang tidak lucu. “Apa katamu?”
"Mei tidak mau menikah dengan Fero.”
Fero tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Meisyah sayang, kamu pasti sedang stres. Dokter bilang kamu butuh ketenangan dan pernikahan ini justru akan memberimu stabilitas.”
" Aku tidak sakit, mengapa kamu hubungi Dokter ? Ia menatap tajam, matanya menyala dengan amarah tertahan. “Stabilitas menurut mu? Tapi itu kontrol? Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku tidak sadar bahwa setiap langkahku diawasi, setiap napas ku diatur?”
Ayahnya berbalik, wajahnya merah padam, rahangnya mengeras. “Jangan bicara seperti itu pada Fero! Dia calon suamimu. Dia laki-laki baik, dari keluarga baik- baik. Apa lagi yang kurang buat kamu, Meisyah? Harta? Nama? Masa depan?”
“Cinta!” serunya pecah. “Aku tidak cinta dengan orang yang mengatur hidupku, mengekang diriku sendiri!”
“Cinta itu omong kosong, Meisyah," sahut ibunya, yang nyata adalah tanggung jawab. Kamu sudah dewasa, Meisyah, hentikan dramamu, hentikan khayalanmu tentang pria miskin itu, Fero lah jawabannya."
Mei menatap mamanya lekat perempuan bukan sebagai sosok ibu yang harus dihormati, melainkan penjara terbesar dalam hidupnya.“Mei ingat,” bisiknya pelan
Ruangan hening seketika.
“Mei ingat semuanya,” Air matanya mulai menggenang, "mengapa mei pergi dulu dan memilih lari. Karena di sini… di rumah ini…mei bisa mati perlahan.”
“Kamu tidak akan pergi ke mana-mana,” kata ayahnya tegas, melangkah mendekat. “Mobil sudah disiapkan. Fero akan mengantarmu kembali ke kamar, esok kita bahas ini lagi saat kepalamu sudah dingin.”
Ia mundur selangkah dengan getaran ketakutan di ujung jarinya, tapi dorongan untuk bebas jauh terasa lebih kuat.
“Mei sudah memutuskan."Ia meraih tas kecil yang sudah ia sembunyikan di balik sofa sejak sore tadi. Tas itu ringan, hanya berisi beberapa lembar pakaian dan domot. “Mei tidak akan menikah dengan Fero. Dan Mei tidak akan tinggal di sini lagi.”
“Meisyah!” Ibunya menjerit, suaranya kehilangan kendali “jika kamu keluar dari pintu itu, jangan harap bisa kembali! Kami akan mencoret namamu! Kamu tidak akan punya apa-apa lagi.!”
Mei berhenti di ambang pintu menatap wajah-wajah yang seharusnya ia cintai, tapi kini terasa asing. " Mei lebih baik tidak punya apa-apa, daripada memiliki segalanya tapi kehilangan diri.”
Pintu terbuka. Angin malam menerobos masuk, membawa aroma tanah basah. Ia melangkah keluar, meninggalkan kemewahan, meninggalkan nama besar, meninggalkan hidup yang sudah ditentukan orang lain.
Dan pintupun di banting keras seperti palu hakim menjatuhkan vonis. Tapi baginya itu adalah suara pembebasan.
Hujan turun deras. Jalanan basah. Lampu-lampu kota pecah di aspal seperti kaca retak, memantulkan cahaya kuning suram.
Meisyah berdiri di bawah kanopi halte bus yang sepi. Gaun mahalnya—gaun yang dipakai untuk acara makan malam keluarga—kini terlihat kontras dengan kekacauan malam itu. Kain sutra menempel di kulit basah, sepatu hak tingginya tergenang air kotor, dan rambutnya jatuh tidak teratur menutupi sebagian wajahnya.
Di tangannya, hanya ada satu tas kecil.
Dan ponsel di saku gaunnya terus bergetar. Layarnya menyala-nyala dalam kegelapan.
Mama.
Papa.
Fero.
Nama-nama itu menyala bergantian, peringatan, ancaman, rantai mencoba menariknya kembali. Namun ia tidak bergeming menatap layar itu sebentar. Detak jantungnya masih tinggi. Rasa bersalah mencoba merayap naik, membisikkan bahwa ia anak durhaka, bodoh, tanpa penyesalan.
Tapi kemudian, ia teringat tatapan dingin ibunya. Teringat senyum puas Fero, rasa sesak yang ia rasakan setiap pagi di kamar mewahnya.
Dengan jari yang gemetar, Mei menekan tombol power.
Layar itu mati.
Sunyi.
Hanya suara hujan menghantam atap seng halte. Dan napas berat, berusaha menyesuaikan diri dengan udara bebas dingin dan basah.
Beberapa menit berlalu. Atau mungkin hanya beberapa detik. Waktu terasa berbeda ketika seseorang sedang menunggu takdir.
Suara mesin motor terdengar mendekat, melawan deru hujan. Sebuah motor tua berhenti tepat di depannya. Ban depannya menyemburkan air ke arah kaki
Pengendara itu menurunkan standar. Helm masih menutupi kepalanya. Napasnya terlihat mengembun di balik visor, sedikit terengah-engah, seolah ia telah berkendara sangat cepat, sangat nekat, menembus badai hanya untuk sampai ke titik ini.
Ia membuka helmnya, rambutnya basah kuyup, menempel di dahi. Mata biasanya tenang, kini lebar dan waspada mencari wajah di balik tirai hujan.
Dan ketika pandangannya bertemu dunia seolah berhenti berputar.
“Mei,” panggilnya hanya satu kata, parau, terbawa angin.
Tapi itu cukup.
Gadis itu mendekat. Kakinya sakit karena sepatu hak tinggi, tapi ia tidak peduli berjalan melewati genangan air, mendekati pria yang kini menjadi satu-satunya alasannya bernapas.
Tanpa banyak kata. Tanpa basa-basi. Tanpa penjelasan panjang lebar tentang apa yang baru saja terjadi di rumah besarnya.
Mei menatapnya dalam. Air hujan bercampur dengan air mata di pipinya.“Ayo nikah, Mas,”
Hening.
Hujan tetap turun deras, mengguyur tubuh tanpa ampun. Tapi di antara mereka, keheningan itu terasa lebih keras daripada guntur yang menghantam.
Andra diam tidak tertawa, tidak terlihat kaget berlebihan, meski matanya menyipit menahan perih akibat air hujan, memproses kalimat baru saja didengarnya, kalimat gila dan mustahil baginya.
“…Mei serius?”
Gadis cantik itu mengangguk. Matanya tidak ragu. Tidak goyah, tahu persis apa yang ia inginkan.
“Sekarang,”
Bukan besok. Bukan nanti setelah keadaan reda. Bukan setelah mendapat restu.
Sekarang.
Andra menelan ludah menoleh ke belakang, memandang jalan raya yang sepi dan gelap. Memandang hujan tak kunjung berhenti. Memandang dunia tidak pernah benar-benar memberi mereka ruang untuk bahagia dengan mudah.
Gadis itu, gaun mahal yang rusak, tas kecil di tangannya, sebuah keberanian terbakar di mata mantan tunangan orang lain
“Kalau kita lakukan ini Mei, kamu gak bisa balik lagi, tidak ada jalan kembali kepada keluargamu dan dunia akan menghakimi mu.”
Mei tersenyum kecil, tipis, lelah, namun paling tulus yang pernah Andra lihat.“Mei udah gak mau balik." Jawaban paling jujur pernah keluar dari mulutnya.
Andra menarik napas panjang, seolah menghimpun seluruh sisa nyawanya untuk membuat keputusan ini. Lalu, mengangguk satu kali dan tegas.
“Naik,” katanya singkat.
Tidak ada janji besar. Tidak ada kata-kata manis tentang masa depan cerah, jaminan kekayaan atau kebahagiaan abadi.
Hanya satu pilihan—pilihan untuk saling memiliki di tengah reruntuhan hidup mereka masing-masing.
Mei naik boncengan motor, memeluk pinggangnya erat, seolah takut pria itu akan menghilang jika genggamannya longgar sedetik saja, menempelkan dahinya pada punggung Andra yang basah.
Ia tidak melihat ke belakang, tanpa menoleh ke arah rumah besar yang kini hanya berupa bayangan samar di kejauhan.
Motor melaju membelah hujan, meninggalkan rumah besar, nama besar dan meninggalkan hidup yang sudah ditentukan orang lain.