Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Setelah memberikan satu kotak buah semangka kepada Andra, Novita kembali ke mejanya dan mulai bekerja seperti biasa. Namun belum lama ia membuka berkas di komputer, Yanti dan Risa sudah menarik kursi mereka mendekat.
"Nov, sini bentar," kata Yanti sambil membuka kotak semangka miliknya.
Risa juga ikut membuka kotaknya. "Kita makan bareng aja. Kamu juga harus ikut."
Novita tersenyum kecil. "Kalian kan sudah punya jatah masing-masing."
"Iya, tapi tetap saja lebih enak kalau dimakan bareng," jawab Risa santai.
Tanpa menunggu persetujuan lebih lama, Yanti sudah menusuk potongan semangka dengan tusuk gigi dan menyodorkannya ke arah Novita.
"Nih, coba lagi. Manis banget sumpah," katanya antusias.
Novita akhirnya ikut makan bersama mereka. Dua kotak semangka itu perlahan habis dimakan bertiga sambil tetap sesekali melirik pekerjaan mereka di layar komputer.
Yanti menggeleng kagum setelah memakan potongan berikutnya.
"Serius deh, Nov. Ini semangkanya manis banget. Kamu belinya di mana sih?"
"Di pasar dekat kost," jawab Novita sambil tersenyum.
"Tapi ini beneran enak. Aku sering beli semangka, tapi kadang zonk. Kelihatannya merah tapi hambar," kata Risa ikut menimpali.
Novita tertawa kecil mendengar itu.
"Dulu nenekku yang ngajarin cara milih buah," katanya.
"Serius?" Yanti langsung penasaran.
"Iya. Katanya kalau mau pilih semangka harus lihat beberapa hal. Bentuknya, warnanya, bahkan bunyinya waktu diketuk," jelas Novita.
"Lah, diketuk segala?" Risa mengangkat alis.
"Iya. Kalau bunyinya agak padat biasanya lebih manis. Terus nenek juga ngajarin cara nawar biar dapat harga murah," lanjut Novita sambil mengingat masa kecilnya.
Yanti langsung tertawa.
"Wah lengkap sekali ilmunya. Dari memilih sampai menawar."
"Pantas saja kamu bisa dapat yang manis begini," kata Risa sambil mengambil potongan terakhir.
Novita hanya tersenyum tipis. Ia sebenarnya senang teman-temannya menyukai buah yang ia bawa.
Namun suasana santai itu tiba-tiba terhenti ketika suara dari ruangan kaca terdengar.
"Novita!"
Ketiganya menoleh bersamaan.
Andra berdiri di depan pintu ruangannya.
"Ke sini sebentar," katanya singkat.
Novita langsung menegang.
Perasaan tidak enak muncul begitu saja di dalam dadanya.
Bayangan kejadian sebelumnya kembali terlintas di pikirannya. Saat Andra merendahkannya dengan memberikan uang dan menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak pantas.
Tangannya tanpa sadar menggenggam ujung meja.
Yanti memperhatikan wajah sahabatnya itu.
"Nov... kamu nggak apa-apa?" bisiknya pelan.
Novita menarik napas dalam-dalam lalu berdiri.
"Nggak apa-apa," jawabnya berusaha tenang.
Di dalam hatinya ia mencoba meyakinkan diri sendiri.
Andra memang atasannya. Ia tidak mungkin menolak panggilan itu. Lagi pula jika sesuatu yang tidak pantas terjadi lagi, ia sudah bertekad akan meminta bantuan Bu Rika. Wanita itu pasti akan menegur anak sahabatnya tersebut.
Dengan langkah yang berusaha terlihat biasa, Novita berjalan menuju ruangan Andra.
Ia mengetuk pintu pelan.
"Masuk," suara Andra terdengar dari dalam.
Novita membuka pintu dan melangkah masuk.
Ia melihat Andra duduk di kursinya dengan mata tertuju pada layar komputer. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, seolah sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting.
Bahkan ketika Novita masuk, pria itu tidak langsung menoleh.
"Pak... Anda memanggil saya?" tanya Novita hati-hati.
"Hmm," jawab Andra singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbicara lagi.
"Aku lagi sangat sibuk," katanya.
Novita hanya berdiri menunggu.
Andra akhirnya melirik kotak semangka yang dibawa Novita tadi dan sekarang diletakkan di meja samping.
"Buah yang kamu bawa tadi," katanya.
"Iya, Pak," jawab Novita.
"Aku belum sempat makan," lanjut Andra.
Novita mengangguk kecil.
Namun kalimat berikutnya membuatnya membeku.
"Suapin aku," kata Andra santai.
"..."
Novita menatap atasannya dengan wajah terkejut.
"Pa‑Pak?" katanya gugup.
Andra masih mengetik tanpa terlihat merasa aneh dengan permintaannya.
"Aku lagi kerja. Tanganku nggak bisa berhenti dari keyboard," katanya datar.
Novita semakin bingung.
Dalam pikirannya ia bertanya-tanya.
Memangnya tidak bisa berhenti sebentar saja?
Namun ia juga tahu itu adalah perintah atasannya.
Dengan ragu-ragu ia membuka kotak semangka tersebut.
Di dalamnya sudah ada beberapa potongan semangka merah segar dan tusuk gigi kecil untuk memakannya.
Novita mengambil satu tusuk gigi dan menusuk sepotong semangka.
Tangannya sedikit gemetar ketika mengarahkannya ke arah Andra.
Beberapa detik kemudian Andra menoleh.
Ia membuka mulutnya tanpa berkata apa-apa.
Novita perlahan menyodorkan potongan semangka itu.
Andra memakannya.
Ia mengunyah sebentar lalu mengangguk kecil.
"Enak," katanya.
Novita tidak menjawab.
Andra kembali mengetik beberapa saat sebelum berbicara lagi.
"Semangkanya manis," katanya.
"Iya, Pak," jawab Novita pelan.
Andra kemudian meliriknya lagi.
"Kamu sudah makan?" tanyanya.
Novita sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
"Sudah," jawabnya.
"Yang ini jatah saya sebenarnya," lanjutnya sambil menunjuk kotak itu.
"Tapi tadi saya makan bersama teman-teman."
"Yanti dan Risa sudah dapat jatah juga, tapi mereka tetap berbagi," tambahnya.
Andra mengangguk pelan seolah memahami.
Beberapa detik kemudian ia berkata lagi.
"Kalau begitu sekarang kita makan bersama saja," katanya.
Novita mengerutkan kening.
"Pak?"
"Kamu satu potong, aku satu potong. Bergantian," jelas Andra.
Novita langsung menggeleng.
"Maaf, Pak... itu tidak bisa," katanya cepat.
Andra berhenti mengetik.
Ia menoleh sepenuhnya ke arah Novita.
"Kenapa?"
Novita mengangkat tusuk gigi yang ia pegang.
"Tusuk giginya cuma satu," katanya canggung.
"Tidak mungkin dipakai bergantian dengan Bapak."
Andra menatap tusuk gigi itu sebentar.
Kemudian kembali menatap Novita.
Ekspresinya tetap tenang.
"Aku tidak keberatan," katanya santai.
Novita terdiam.
"Kalau kamu tidak keberatan," lanjut Andra.
"Apa kamu keberatan memakai tusuk gigi yang sama denganku?"
Novita semakin bingung. Ia menoleh ke arah pintu sejenak, lalu kembali melihat tusuk gigi di tangannya.
"Kalau begitu saya ambil tusuk gigi yang lain saja, Pak," katanya cepat.
Ia sudah hendak berbalik menuju pintu.
"Tunggu."
Suara Andra menghentikannya.
"Tidak perlu," katanya tenang.
Novita kembali menatapnya.
"Pak... tadi saya makan dengan Yanti dan Risa. Mungkin masih ada tusuk gigi bekas di meja saya. Saya bisa ambil yang itu saja," jelasnya hati‑hati.
Andra mengangkat alis sedikit.
"Lebih baik pakai yang itu saja," katanya sambil menunjuk tusuk gigi di tangan Novita.
Novita semakin canggung.
"Tapi, Pak—"
"Aku rajin sikat gigi," potong Andra tiba‑tiba.
Nada suaranya terdengar santai, bahkan sedikit seperti bercanda.
"Jadi tidak mungkin jorok kalau dipakai bergantian," lanjutnya.
Novita langsung menggeleng cepat.
"Bukan begitu maksud saya, Pak."
"Lalu?"
Novita menggigit bibir bawahnya sebentar.
Ia tampak ragu untuk menjelaskan.
"Saya hanya merasa..." ia berhenti sebentar.
Andra menatapnya menunggu.
"Menggunakan sesuatu yang sudah menyentuh mulut orang lain itu... agak aneh," lanjut Novita pelan.
"Seperti apa?" tanya Andra.
Novita menunduk sedikit.
"Seperti..." ia ragu lagi.
"Seperti ciuman tidak langsung," akhirnya ia mengucapkannya dengan suara sangat pelan.
Ruangan itu tiba‑tiba terasa sunyi.
Beberapa detik kemudian Andra justru tersenyum tipis.
Senyum yang membuat Novita semakin salah tingkah.
"Oh begitu," katanya pelan.
Novita langsung buru‑buru menggelengkan kepala.
"Bukan begitu maksud saya, Pak!" katanya cepat.
"Saya tidak berpikir yang aneh‑aneh. Saya hanya—"
Andra memotongnya lagi.
"Apa kamu sedang berpikir yang tidak‑tidak dari permintaanku?" tanyanya dengan nada ringan.
"Tidak!" jawab Novita cepat.
Ia bahkan menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Saya tidak berpikir seperti itu," tambahnya gugup.
Andra menatapnya beberapa detik lagi sebelum kembali bersandar di kursinya.
"Kalau begitu tidak masalah," katanya santai.
Ia kembali mengarah ke layar komputer.
"Sekarang lanjutkan saja. Aku satu potong, kamu satu potong."