NovelToon NovelToon
Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Ku Mohon Berikan Aku Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:973
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.

Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.

Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.

Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.

Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Rahasia di Balik Sampul Beludru dan Misi Panti Asuhan

Sisa aroma bakwan jagung masih tertinggal tipis di udara ketika seorang kurir ekspedisi mengetuk pintu butik yang sudah hampir tutup. Ia menyerahkan sebuah paket berbentuk kotak kayu kecil yang dibungkus kertas cokelat kusam tanpa nama pengirim, hanya tertulis: "Untuk Arunika, dari masa yang tertidur."

Nika membukanya di bawah temaram lampu meja pola, ditemani Devan yang masih setia menemaninya lembur. Di dalam kotak itu, tergeletak sebuah buku harian bersampul beludru merah marun yang sudah memudar warnanya, serta sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap malaikat yang patah di satu sisinya.

"Ini... milik Ibu," bisik Nika, jemarinya gemetar saat membuka lembar demi lembar kertas yang sudah menguning.

Mata Nika terpaku pada sebuah entri bertanggal dua puluh lima tahun yang lalu.

> "Hari ini hatiku hancur berkeping-keping. Mereka bilang ia sudah tiada, namun aku mendengar tangisnya di mimpiku. Satu sayap di pelukanku (Arunika), dan satu sayap lagi dibawa pergi ke tempat yang tak terjangkau. Maafkan Ibu, Anika..."

>

"Anika?" Nika mendongak menatap Devan dengan mata berkaca-kaca. "Mas, selama ini Papa bilang aku anak tunggal. Tapi di sini... Ibu menulis tentang Anika. Sayap yang patah. Mas, apakah aku punya saudara kembar?"

Devan mengambil buku harian itu, membacanya dengan teliti. Sebagai pria yang terbiasa dengan data dan fakta, ia melihat sebuah pola. "Pak Batubara selalu menutup rapat informasi tentang kematian ibumu. Jika benar ada saudara kembar, dan dia dikatakan meninggal padahal tidak, ini adalah konspirasi keluarga yang sangat gelap, Ni."

Pencarian pun dimulai. Menggunakan jaringan informan rahasia yang dimiliki Devan, mereka menemukan sebuah petunjuk kecil: sebuah panti asuhan tua di pinggiran kota Bogor bernama "Kasih Abadi" yang menerima donasi besar secara rutin dari rekening rahasia Pak Batubara selama dua puluh tahun terakhir.

"Kita tidak bisa datang ke sana sebagai CEO dan desainer ternama, Ni. Itu akan memancing kecurigaan jika pihak panti memang dibayar untuk tutup mulut," ucap Devan saat mereka bersiap di dalam mobil.

"Aku sudah punya rencana!" seru Nika. Ia menarik sebuah tas besar dari kursi belakang. "Kita akan menyamar menjadi pasangan relawan 'pemuja kebahagiaan' yang ingin menghibur anak-anak panti!"

Setengah jam kemudian, Devan Adiguna—pria yang biasanya mengenakan jam tangan seharga apartemen—kini harus pasrah memakai kaos kuning terang bergambar matahari tersenyum dan celana kargo yang menurutnya sangat "tidak estetis". Sementara Nika mengenakan bando telinga kelinci yang besar dan membawa sebuah gitar kecil berwarna merah jambu.

"Ni, apakah kaos ini benar-benar perlu? Aku merasa seperti pisang raksasa," gerutu Devan sambil mencoba menarik kaosnya agar tidak terlalu ketat di bagian dada.

"Mas, relawan itu harus terlihat ceria! Sekarang, panggil aku 'Kak Nika Ceria' dan kamu adalah 'Kak Devan Bahagia'. Jangan sampai tertukar!" perintah Nika sambil mengoleskan sedikit bedak tabur agar wajah mereka terlihat lebih "merakyat".

Di panti asuhan "Kasih Abadi", suasana terasa sangat sunyi dan sedikit suram. Nika segera beraksi, bernyanyi dengan gitar kecilnya di depan anak-anak panti dengan suara sumbangnya yang khas, sementara Devan bertugas membagikan balon.

"Ayo Kak Devan Bahagia! Mana senyum mataharinya?" teriak Nika di tengah nyanyiannya.

Devan mencoba tersenyum, namun yang muncul justru seringai kaku yang membuat seorang anak kecil malah menangis ketakutan. Devan panik. Ia berjongkok dan mencoba membuat bentuk anjing dari balon panjang, namun balon itu justru meletus tepat di depan wajahnya.

Duar!

"Maaf... itu tadi adalah simulasi ledakan kegembiraan!" ucap Devan cepat, mencoba menutupi rasa malunya.

Sambil Devan sibuk dengan balon-balonnya, Nika secara perlahan mendekati Kepala Panti, seorang wanita tua bernama Ibu Sarah. Nika mulai menggunakan kemampuan aktingnya yang sudah terlatih saat menghadapi para paman jahat.

"Ibu Sarah, panti ini sangat indah. Saya dengar dulu di sini pernah ada seorang anak yang sangat spesial, namanya Anika? Saya sepupunya yang sudah lama mencari..." ucap Nika dengan nada sedih yang dibuat-buat.

Wajah Ibu Sarah mendadak kaku. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum berbisik, "Anak itu... dia sudah lama dibawa pergi. Seorang pria kaya mengambilnya saat dia masih bayi. Kami dilarang mencatat namanya di buku besar panti."

"Dibawa pergi ke mana, Bu?" desak Nika.

"Ke luar negeri. Kalau tidak salah, ke sebuah keluarga di London. Namanya diganti menjadi... Isabelle."

Nika membeku. Gitar kecil di tangannya hampir terjatuh. Isabelle? Kritikus mode yang kemarin menghina desainnya? Wanita yang memiliki mata biru yang sama persis dengannya di balik kacamata hitam itu?

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gerbang panti. Isabelle turun dari mobil, kali ini tanpa kacamata hitamnya. Ia tampak pucat dan terguncang, memegang sebuah surat yang sama kusamnya dengan buku harian Nika.

Mata mereka bertemu di tengah halaman panti yang berdebu.

"Kamu..." suara Isabelle bergetar. "Kenapa kamu ada di sini dengan pakaian matahari konyol itu?"

Nika melepas bando kelincinya, berjalan mendekat. Ia mengeluarkan kalung sayap malaikat dari sakunya. "Isabelle... atau Anika? Apakah kamu punya bagian sayap yang satunya lagi?"

Isabelle terdiam, lalu perlahan ia merogoh kerah bajunya, menarik sebuah liontin yang selama ini ia sembunyikan. Itu adalah potongan sayap malaikat yang sempurna menyatu dengan milik Nika.

"Papa berbohong pada kita berdua," bisik Isabelle, air mata mulai merusak riasan wajahnya yang sempurna. "Dia bilang aku anak pungut yang dibuang, sementara kamu adalah putri mahkota yang dicintai. Dia memisahkan kita agar kita tidak bisa menguasai warisan Ibu sepenuhnya."

Devan mendekat, berdiri di samping Nika dengan protektif meskipun ia masih memakai kaos kuning mataharinya. "Jadi itu sebabnya kamu sangat membenci desain Nika? Karena kamu iri melihat dia memiliki kehidupan yang seharusnya menjadi milikmu juga?"

Isabelle menunduk. "Aku datang ke Jakarta untuk menghancurkannya, tapi saat aku melihat bakwan jagung itu... rasanya seperti rasa yang pernah aku kenal dalam mimpi-mimpiku. Rasa rumah."

Nika tidak marah. Ia justru maju dan memeluk saudara kembarnya yang kaku itu. "Isabelle, desainku mungkin 'sampah' menurutmu, tapi keluarga kita bukan sampah. Mari kita hancurkan kebohongan Papa bersama-sama."

Di tengah halaman panti asuhan yang sepi, dua saudara yang terpisah selama puluhan tahun itu akhirnya bersatu. Devan hanya bisa berdiri di sana, mengusap air mata yang hampir jatuh (dia akan menyangkal ini selamanya), sambil tetap memegang sisa balon yang sudah kempes.

Namun, momen haru itu terputus saat ponsel Devan bergetar hebat. Pesan dari Siska muncul di layar utama: "Pak! Brankas rahasia Pak Batubara di Swiss baru saja diakses oleh pihak ketiga! Seseorang sedang mencoba menghapus semua jejak aset atas nama Ibu Nika!"

Nika melepaskan pelukannya, menatap Devan dan Isabelle bergantian. "Sepertinya 'Kak Devan Bahagia' dan 'Kak Nika Ceria' harus berubah jadi 'Tim Penghancur Brankas' sekarang juga."

Isabelle mengusap air matanya, kembali ke mode kritikusnya yang tajam. "Aku punya kode akses bank Swiss itu. Papa pikir aku hanya kritikus mode, dia lupa aku juga belajar manajemen aset di London. Ayo, kita berangkat."

Perang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, Devan dan Nika punya anggota tim baru yang memiliki lidah sepedas cabai dan otak secerdas kalkulator.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!