Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Nathan berdiri dengan tenang.
“Sudah selesai,” ucapnya singkat.
Liora mengangguk pelan. Meski pikirannya masih dipenuhi pertanyaan, ia tetap mengikuti langkah Nathan keluar dari ruang VIP.
Marcus berjalan beberapa langkah di depan.
Area parkir VIP.
Udara malam terasa dingin. Lampu-lampu redup memantulkan bayangan mobil-mobil mewah.
Langkah mereka tetap santai.
Namun...
Nathan sedikit memperlambat langkahnya.
Cukup untuk membuat Marcus langsung waspada.
“Tuan…” ucap Marcus pelan.
Nathan tidak menjawab.
Tatapannya bergerak sekilas ke sekitar.
Dan dalam hitungan detik...
Beberapa sosok muncul.
Dari balik pilar.
Dari sela mobil.
Dari sudut gelap parkiran.
Satu… dua… lima… belasan orang.
Mengelilingi mereka tanpa suara.
Liora langsung merasakan sesuatu yang tidak beres. Langkahnya tanpa sadar berhenti.
Nathan tetap berdiri tenang.
Seolah ini bukan pertama kalinya ia berada dalam situasi seperti ini.
“Sepertinya… kita tidak diizinkan pergi dengan santai malam ini,” ujarnya datar.
Salah satu pria melangkah maju.
“Bos kami hanya ingin memastikan Anda memahami situasinya,” katanya.
Nathan menatapnya sekilas.
“Kalau dia ingin memastikan sesuatu,” jawabnya dingin, “dia seharusnya datang sendiri.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Sayangnya… dia tidak punya waktu untuk hal kecil seperti ini.”
“Marcus, lindungi Liora. Kalian pergi dulu,” perintah Nathan.
Marcus langsung menegang.
“Tuan, saya tidak akan pergi meninggalkan Anda.”
Nathan tidak menoleh.
“Aku tidak suka mengulangi kata-kataku.”
Nada suaranya rendah… tapi mutlak.
Marcus terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, jelas tidak rela.
Namun akhirnya ia mengangguk.
“Baik… Tuan.”
Ia berbalik ke arah Liora.
“Nona, mari kita pergi.”
Liora langsung menggeleng.
“Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan—”
“Nona,” potong Marcus tegas,“percayalah pada Tuan.”
Kalimat itu membuat Liora terdiam.
Sementara itu...
Para pria di sekitar mereka mulai bergerak, perlahan mempersempit jarak.
Nathan tetap berdiri di tempat.
Tenang.
Seolah jumlah mereka tidak berarti apa-apa.
Marcus membuka pintu mobil, menuntun Liora masuk. Kemudian mobil langsung melaju keluar dari parkiran.
Kini...
Nathan sendirian.
Dikelilingi belasan pria.
Langkah mereka berhenti, membentuk lingkaran.
Salah satu dari mereka maju.
Nathan berdiri di tengah, tatapannya menyapu sekeliling.
Lalu...
Gerakan kecil dari salah satu pria.
Isyarat.
Detik berikutnya...
Mereka bergerak bersamaan.
Cepat. Terlatih.
Dua dari depan memancing perhatian.
Dua dari samping mencoba mengapit.
Sisanya menyebar, menutup ruang gerak.
Nathan tidak menunggu.
Ia melangkah maju satu langkah—memotong ritme mereka.
Serangan pertama datang.
Pukulan lurus ke arah wajah.
Nathan memiringkan kepala, menghindar tipis, tangannya langsung menangkap pergelangan lawan.
Brak!
Tubuh pria itu ditarik dan didorong ke arah rekannya.
Dua orang langsung kehilangan keseimbangan.
Namun yang lain sudah masuk.
Satu dari kiri—tendangan rendah.
Nathan menggeser kaki, menahan dengan tulang kering, lalu membalas dengan dorongan bahu.
Pria itu mundur setengah langkah.
Belum sempat stabil...
Satu lagi masuk dari belakang.
Serangan cepat.
Nathan berputar, siku menghantam dada lawan.
Udara keluar dari paru-paru pria itu.
Namun...
Jumlah mereka mulai terasa.
Serangan datang beruntun.
Tidak memberi jeda.
Nathan dipaksa mundur satu langkah.
Lalu satu lagi.
Pukulan dari kanan...
Ia menahan, tapi benturannya keras.
Napasnya mulai berat.
Bukan karena jumlah mereka..
Tapi karena luka di perutnya yang sesekali berdenyut.
Ia mengabaikannya.
Tatapannya tetap tenang.
Serangan berikutnya datang.
Cepat.
Dua dari depan.
Nathan tidak mundur.
Ia justru melangkah masuk.
Gerakan pendek...
Mengganggu ritme mereka.
Pukulan pertama dihindari tipis,
tangannya langsung menepis serangan kedua.
Brak!
Ia mendorong salah satu dari mereka hingga menabrak rekannya.
Celah kecil tercipta.
Cukup.
Nathan bergerak keluar dari kepungan setengah lingkaran.
Tidak melawan semua...
Ia memecah posisi mereka.
Para pria itu langsung berbalik.
Menyusun ulang.
“Dia sudah terluka,” gumam salah satu dari mereka.
Nathan berdiri tegak.
Satu tangan sempat menyentuh perutnya... lalu kembali turun.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kalau hanya ini…” ucapnya datar, “kalian membuang waktu.”
Mereka tidak terpancing.
Kali ini... mereka menyerang lebih rapi.
Tiga orang bersamaan.
Nathan menghindar setengah langkah. Memutar tubuh seminimal mungkin.
Setiap gerakan… hemat.
Tidak ada yang berlebihan.
Ia menahan satu pukulan, menggeser arah pukulan lain, lalu membalas dengan dorongan keras ke dada lawan.
Pria itu mundur.
Yang lain langsung mengisi celah.
Namun Nathan sudah bergeser lagi.
Ia tidak diam di satu titik.
Terus bergerak.
Mengurangi tekanan.
Menghindari kepungan penuh.
Serangan demi serangan...
mulai kehilangan efektivitas.
Mereka tidak bisa menjatuhkannya.
Namun juga tidak bisa mendekat dengan mudah.
Beberapa detik berlalu.
Situasi berubah.
Bukan lagi mereka menekan... tapi saling membaca.
Salah satu pria memberi isyarat.
Kilatan logam muncul.
Beberapa dari mereka mengeluarkan senjata tajam—pisau pendek yang berkilau di bawah cahaya lampu redup.
Nathan berdiri di tengah. Ia menarik simpul dasinya.
Longgar.
Lalu dilepas.
Serangan datang lagi.
Cepat.
Satu tusukan lurus ke arah tubuhnya.
Nathan menggeser tubuh tipis...
Pria di depannya belum sempat bereaksi—
Nathan sudah melangkah masuk. Dasi itu melilit pergelangan tangan lawan.
Tarik.
Keras.
Arah serangan langsung berubah.
Pisau melenceng.
Brak!
Tubuh pria itu ditarik mendekat, kehilangan keseimbangan.
Nathan memutar dasi itu sekali, mengunci tangan lawan sesaat, cukup untuk membuat pisaunya terlepas.
Namun yang lain tidak diam.
Dua pria menyerang dari samping.
Nathan melepaskan lilitan mundur setengah langkah dasi masih di tangannya.
Ia tidak menggunakannya untuk menyerang tapi mengontrol jarak.
Satu serangan datang.
Nathan mengayunkan dasi, melilit cepat di pergelangan tangan lawan menariknya keluar dari ritme.
Satu detik.
Ia mendorong lawan itu ke arah rekannya.
Benturan kecil terjadi.
Lingkaran mereka sedikit kacau.
Napas Nathan semakin berat.
Keringat kini jelas membasahi wajahnya. Namun gerakannya tetap presisi.
Salah satu pria menyeringai.
“Mainan yang menarik.”
Nathan menatapnya dingin.
“Lebih dari cukup untuk kalian.”
Serangan berikutnya datang.
Lebih cepat.
Pisau menyambar dari samping.
Cepat.
Nathan tidak mundur.
Tangannya menangkap pergelangan lawan—
tekan.
Keras.
“Ah—!”
Pisau terlepas.
Belum sempat jatuh dasi di tangannya langsung terangkat.
Sekali.
Mengunci leher.
Tarik.
Tubuh pria itu langsung kehilangan keseimbangan.
Nathan memutar sedikit menjatuhkan.
Brak!
Tubuh itu menghantam lantai.
Napasnya terputus.
Tidak bangkit.
Nathan sudah beralih ke arah lain.
Tanpa ragu.
Napasnya berat.
Keringat menetes di wajahnya.
Satu tangan sempat menekan perutnya, lalu turun lagi.
Di sisi lain, mobil melaju membelah jalan malam.
Lampu kota berpendar di kaca jendela.
Suasana di dalam mobil tegang… sunyi.
Liora duduk gelisah, tangannya saling menggenggam.
“Marcus… lebih baik kita kembali saja,” ucapnya akhirnya, suaranya tidak tenang.
“Luka Tuan Han belum sembuh.”
Marcus yang sejak tadi fokus menyetir langsung mengangkat pandangan ke kaca spion.
Tatapannya berubah.
Tanpa banyak bicara—
Ia memutar setir.
Ban mobil berdecit tajam.
Mobil berbalik arah dengan cepat.
Gas diinjak dalam.
Mesin meraung.
Kecepatan meningkat drastis.
Tubuh Liora sedikit terdorong ke belakang.
“Pegang erat,” kata Marcus singkat.
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???