NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persekutuan para Pendosa

Matahari siang itu bertengger tepat di atas kepala, memancarkan panas yang menyengat dan membuat udara di dalam rumah bambu Eko terasa pengap. Bau obat-obatan antiseptik beradu dengan aroma lembap dari tanah yang baru saja tersiram air bekas cucian. Di atas amben, Eko berbaring diam, menatap langit-langit yang dipenuhi sarang laba-laba. Pikirannya kosong, namun dadanya terasa sesak oleh amarah yang tak punya saluran.

Terdengar suara langkah kaki yang mantap di halaman depan, disusul suara ketukan pintu yang sopan namun berwibawa.

"Kulanuwun... Mas Darsono? Eko?" suara Pak RT Hardo memecah kesunyian.

Darsono yang sedang mencuci gelas di dapur segera mengelap tangannya dan berlari ke depan. Ia mendapati Pak RT berdiri di ambang pintu dengan wajah yang dipaksakan tersenyum, meski kantung matanya yang hitam tak bisa menyembunyikan kelelahan. Di tangannya, ia menjinjing tas plastik berisi beberapa bungkus biskuit, kacang kulit, dan rentengan kopi sachet.

"Eh, Pak RT. Mari, mari masuk. Silakan duduk," sambut Darsono dengan ramah.

Hardo meletakkan bawaannya di atas meja kayu yang sudah kusam. "Ini ada sedikit cemilan buat teman ngobrol, Mas Dar. Sama kopi buat nanti sore."

"Waduh, repot-repot sekali Pak RT. Terima kasih banyak. Kebetulan Eko baru saja bangun, mungkin dia butuh teman bicara selain saya," ucap Darsono. Ia segera mengambil tiga bungkus kopi sachet, membawanya ke dapur untuk diseduh dengan air panas yang baru saja mendidih.

Tak lama kemudian, Darsono kembali dengan tiga gelas kopi hitam yang masih mengepulkan uap. Setelah meletakkan gelas-gelas itu, Darsono menangkap tatapan mata Pak RT yang terus melirik ke arah Eko. Sorot mata itu bukan sorot mata orang yang ingin menjenguk orang sakit, melainkan sorot mata orang yang sedang ketakutan dan mencari sekutu.

Darsono, yang sudah sangat lelah dengan drama adiknya semalam, paham bahwa Pak RT ingin bicara empat mata dengan Eko. Ia merasa ini adalah kesempatannya untuk menghirup udara segar sejenak.

"Pak RT, silakan dinikmati kopinya. Saya ijin ke teras depan dulu ya, mau sambil mengisap rokok dan menikmati suguhan ini. Di dalam sumpek sekali kalau bertiga," ujar Darsono sambil membawa segelas kopinya dan sebungkus biskuit ke teras.

Begitu punggung Darsono menghilang di balik pintu depan, suasana di dalam ruangan langsung berubah. Pak RT Hardo menggeser kursinya hingga tepat berada di samping amben Eko. Ia menatap sosok adiknya Bayu itu dengan pandangan ngeri. Kaki-kaki yang hilang dan lengan yang buntung benar-benar menjadi peringatan nyata baginya.

Eko menoleh perlahan. "Tumben Pak RT ke sini siang-siang. Mau memastikan aku sudah mati atau belum?" sindir Eko dengan suara parau.

Hardo tidak marah. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya mengecil hingga nyaris berbisik. "Eko, aku ke sini bukan untuk urusan basa-basi RT. Aku mau tanya... selama kamu di sini, apakah kamu merasa ada yang aneh? Apa kamu diganggu sesuatu, entah dalam mimpi atau saat kamu terjaga?"

Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Eko yang tadinya beringas langsung berubah pucat. Bayangan kejadian semalam kembali melintas; aroma melati, geraman Suanggi, dan penampakan Ratri di ambang pintu.

"Semalam, Pak RT... rumah ini seperti neraka," bisik Eko, matanya bergetar hebat. "Bau melati itu... sangat tajam. Dan ada suara bayi, tapi suaranya mirip anjing yang sedang sakit. Aku melihat Ratri berdiri di sana, menertawakanku. Dia bilang ini baru permulaan."

Hardo menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ternyata dugaannya benar. Teror yang ia alami di rumahnya sendiri—suara ketukan pintu tanpa orang dan bayangan merah di cermin—bukanlah khayalannya semata.

"Pak RT, saranku... mumpung Pak RT masih punya badan yang utuh, datangi Ratri ke Sukomaju. Minta maaf padanya, sujud di kakinya! Mungkin dia mau mengampunimu," ucap Eko dengan nada putus asa.

Hardo mendengus hambar. "Minta maaf? Kamu pikir wanita yang sudah bersekutu dengan iblis seperti dia akan memberikan maaf dengan cuma-cuma? Tidak, Eko. Aku sudah mencoba mencari jalan lain. Kemarin malam aku mendatangi Mbah Garit di ujung hutan."

Eko sedikit terperanjat. Nama Mbah Garit cukup dikenal sebagai dukun sakti yang berurusan dengan ilmu-ilmu hitam yang berat. "Mbah Garit? Dukun sakti itu?"

"Iya," lanjut Hardo, suaranya semakin berat. "Dia memberiku jimat penolak bala. Tapi itu hanya tameng sementara. Dia bilang, jika kita ingin benar-benar bebas dari kejaran setan milik Ratri, kita harus membalasnya. Kita harus menghancurkan sukmanya sebelum dia menghancurkan raga kita."

Eko sejenak merasakan angin segar di tengah penderitaannya. Ada harapan untuk membalas dendam atas kakinya yang hilang. "Bagaimana caranya, Pak RT? Aku mau! Aku mau wanita itu merasakan apa yang aku rasakan!"

Hardo terdiam sejenak, menatap Eko dengan pandangan gelap. "Syaratnya berat, Eko. Mbah Garit minta tumbal untuk mengunci nyawa kita. Dia minta jantung perawan yang harus diambil sendiri dalam keadaan segar."

Mendengar itu, Eko terdiam. Di tengah kegilaannya, ia masih bisa merasakan ngeri mendengar syarat itu. Namun, ia kembali menatap pundaknya yang kosong dan kain sarungnya yang rata. Rasa benci kepada Ratri telah melampaui rasa takutnya akan dosa baru.

"Kalau itu bisa membuat Ratri mati dan badanku tidak sakit lagi, lakukanlah Pak RT!" seru Eko dengan nekat. "Tapi lihat aku... aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya rongsokan yang tergeletak di kasur. Bagaimana aku bisa membantumu?"

Hardo mengangguk, ia sudah memikirkan hal itu. "Aku tahu kondisimu, Eko. Itulah sebabnya aku butuh dukunganmu, setidaknya untuk meyakinkanku bahwa aku tidak gila sendirian. Biar aku yang urus syarat itu. Aku akan mencari 'bahan' yang diminta Mbah Garit di desa ini atau desa tetangga. Banyak perawan yang bisa kita ambil, orang-orang tidak akan curiga padaku sebagai RT."

Hardo mengepalkan tangannya di atas lutut. "Setelah aku mendapatkan apa yang diminta, aku akan kembali ke sini. Kita akan melakukan ritual bersama-sama di bawah arahan Mbah Garit. Kita akan bakar sukma Ratri hingga dia tidak bisa lagi mengganggu kita."

Eko mengangguk mantap, sebuah senyum jahat tersungging di bibirnya yang pecah. "Lakukan, Pak RT. Cepat lakukan sebelum dia kembali lagi malam ini."

"Tenanglah, Eko. Jaga dirimu baik-baik. Jangan biarkan Darsono curiga," ucap Hardo sambil berdiri.

Pak RT Hardo melangkah keluar menuju teras, menyalami Darsono yang sedang asyik merokok. "Terima kasih kopinya, Mas Dar. Saya permisi dulu, masih ada urusan di kantor desa."

"Oh, nggih Pak RT. Terima kasih sudah menjenguk Eko," jawab Darsono polos.

Hardo berjalan meninggalkan halaman rumah Eko dengan pikiran yang berkecamuk. Ia kini bukan lagi seorang pemimpin desa yang mengayomi warga, melainkan seorang predator yang mulai mengincar mangsa di antara warganya sendiri. Di kepalanya, ia mulai memilah-milah nama gadis perawan di desanya yang paling mudah diculik tanpa meninggalkan jejak.

Sementara itu, di dalam rumah, Eko kembali berbaring. Namun kali ini, matanya tidak lagi kosong. Ada binar kegelapan yang menyala. Ia merasa telah menemukan sekutu untuk melawan kutukan Ratri. Ia tidak menyadari bahwa dengan menyetujui syarat Mbah Garit, ia sebenarnya sedang menyerahkan sisa nyawanya kepada kegelapan yang jauh lebih dalam daripada yang dibawa oleh Ratri.

Langit siang itu tiba-tiba tertutup mendung hitam, dan suara burung gagak terdengar bersahut-sahutan di pohon kamboja depan rumah Eko. Persekutuan para pendosa telah dimulai, dan darah suci akan segera tumpah untuk membayar hutang-hutang haram di masa lalu.

1
Zainuri Zaira
rt gila bukanx mrngayomi masyarakat tp mlh buat orng sensara
Sita Ning Nong
ceritanya mudah di pahami, runtut, menarik...
Halwah 4g: terimakasih kka
total 1 replies
Lis Lis
huuu uuuuu uuuu perasaan Q ko pendek bngt yaaaa😭😭😭😭
Sulas Lis
lajuuuuutttt kaaaaa
Mersy Loni
lanjut thor
FiaNasa
bukannya jadi panutan yg baik malah bobrok RT nya
Lis Lis
masih nyebut di detik detik terakhir
FiaNasa
habiskan sja orang² yg sudah memperkosamu Ratri
FiaNasa
hiiiiiiii....sampai separah itu si Karno akibat perbuatannya dulu
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!