Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Arga hanya menyeringai tipis. Jemarinya yang hangat bergerak pelan, mengusap bibir Ayu yang masih tampak sedikit bengkak,jejak dari gairah yang meledak di antara mereka semalam. Tatapannya terkunci pada manik mata Ayu yang gemetar.
"Maaf mungkin ini terlalu memaksa,tapi aku tida punya cara lain agar kamu tetap disisiku Ayu.Aku sudah mengucapkan akad nikah denganmu." ucap Arga. Suaranya rendah, namun bergema di kamar itu.
Ayu tertegun, napasnya seolah terhenti di kerongkongan. "Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa... bahkan aku sendiri tidak tahu?" balas Ayu lirih, suaranya nyaris hilang ditelan ketidakpercayaan.
Arga kembali menyeringai, kali ini lebih tajam. Ia mencondongkan tubuh, merapatkan jarak hingga Ayu bisa merasakan detak jantung pria itu yang tenang namun menuntut.
"Sebelum kita bertemu di cafe,aku langsung menemui Ardan. Dan dia setuju dengan ideku."bisik Arga tepat di telinga Ayu, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. "Abangmu sendiri yang menikahkanku denganmu, di hadapan ulama dan para saksi yang sah secara agama. Jadi, berhentilah bersikap seolah kau adalah orang asing di hidupku, Ayunita."
Ayu merasa seluruh persendiannya melolos. Ia ingin mundur, namun pelukan Arga yang posesif menguncinya di tempat.
Arga kemudian mengambil ponselnya dan menunjukan sebuah video.Dimana pria itu tengah menjabat tangan Ardan yang di dampingi seorang ulama, dan beberapa saksi.Suara Arga sangat lantang dan tegas saat mengucapkan akad nikah itu.
"Ardan tahu apa yang terbaik untuk adiknya. Dia sadar bahwa hanya aku yang mampu menjagamu dan menjaga Geo." lanjut Arga sembari menyelipkan helaian rambut Ayu ke belakang telinga dengan gerakan yang protektif.
"Kau adalah istriku, Ayu. Milikku yang sah. Jadi, buang jauh-jauh pikiran untuk melarikan diri lagi, karena ke mana pun kau pergi, kau akan selalu kembali ke pelukanku."
Arga menarik napas dalam, menghirup aroma tubuh Ayu yang kini sepenuhnya menjadi hak miliknya.
"Jangan marah pada abangmu," bisik Arga lagi, suaranya rendah dan posesif. "Marahlah padaku karena aku yang benar-benar tidak mau melepaskanmu."
Arga menarik tubuh Ayu ke dalam pelukannya. Bukan pelukan biasa, melainkan pelukan yang mengunci,seolah ingin menyatukan kembali kepingan jiwa yang sempat hilang. Ayu hanya bisa menyandarkan keningnya di bahu Arga, membiarkan air matanya jatuh membasahi kemeja mahal pria itu.
"Geo... dia anakku, kan?" tanya Arga, nadanya bukan lagi sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan kemenangan yang mutlak.
Ayu terisak, bahunya bergetar hebat. Ia tidak bisa lagi mengelak. Aroma maskulin Arga yang memabukkan dan rasa aman yang tiba-tiba menyergapnya membuat benteng terakhirnya hancur. Ia pasrah, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi pria yang dulu ia potret dari kejauhan dengan penuh rasa bersalah.
"Dia sangat mirip denganmu, Arga... Matanya, sifat keras kepalanya... semuanya milikmu," bisik Ayu di sela tangisnya.
Arga memejamkan mata kuat-kuat, mengeratkan pelukannya hingga Ayu merasa sesak, namun anehnya, itulah rasa sesak yang paling ia rindukan. "Terima kasih telah menjaganya untukku. Tapi mulai detik ini, tugasmu hanyalah menjadi istriku. Biar aku yang menanggung seluruh dunia untukmu dan Geo."
Arga menatap lekat sepasang mata Ayu, tangannya perlahan turun merengkuh pinggang wanita itu, menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka.
"Sekarang adalah kesempatan kita untuk memperbaiki segalanya. Kita mulai dari awal, kamu mau, kan?" tanya Arga, suaranya rendah dan sarat akan permohonan yang tulus.
Ayu terdiam sejenak, dadanya bergemuruh. "Apa... kamu tidak benci padaku? Setelah semua ini,bahkan kematian Yura..."
Arga tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang terlihat begitu menawan namun sarat akan rahasia. "Bagaimana mungkin aku bisa membenci penguntit manis sepertimu, Ayunita?"
Mata Ayu seketika membelalak. Jantungnya serasa berhenti berdetak. "Apa maksudmu... penguntit?"
"Lho, memang benar, kan?" Arga terkekeh pelan, wajahnya maju beberapa senti hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "Coba ingat-ingat lagi, siapa gadis nakal yang secara diam-diam memotretku dan menyimpannya dalam folder khusus berjudul 'My Heart'?"
Wajah Ayu seketika memerah padam, panasnya menjalar hingga ke telinga. "Kau?! Bagaimana bisa kau tahu?!"
Tawa Arga pecah, suara beratnya terdengar begitu seksi di indra pendengaran Ayu. "Makanya, jangan ceroboh dan meninggalkan kameramu begitu saja setelah 'meniduriku'. Dasar gadis tidak tahu terima kasih. Sudah merenggut perjakaku, lalu main kabur saja tanpa pamit."
"Ih! Kamu kalau bicara tidak disaring banget, sih!" balas Ayu histeris, mencoba menutupi rasa malunya dengan mendorong dada bidang Arga, namun pria itu justru semakin erat memeluknya.
"Lha, memang kenyataannya begitu. Aku ini masih perjaka ting ting kalau kamu ingin tahu waktu itu," goda Arga lagi, matanya berkilat nakal, menikmati rona merah di wajah istrinya yang semakin menggemaskan.
Ayu mendengus, mencoba memalingkan wajah meski jantungnya berpacu gila. "Perjaka? Perjaka kok sudah selihai itu?"
Arga menyeringai, ia berbisik tepat di depan bibir Ayu yang terbuka kecil karena terkejut. "Itu namanya insting, Sayang. Atau... kamu mau aku membuktikan 'kelihainku' lagi sekarang supaya kamu tidak ragu?"
"Jangan bercanda lagi! Aku... aku mau mandi, badanku lengket," seru Ayu dengan nada panik. Wajahnya yang memerah padam membuat Arga tak bisa menahan tawa.
Saking gugupnya karena godaan Arga, Ayu bergegas bangkit tanpa menyadari bahwa ia tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Pemandangan itu membuat tawa Arga semakin pecah, namun ia membiarkan wanita itu berlalu ke kamar mandi. Arga ingin memberikan Ayu waktu untuk relaksasi,sebuah ketenangan singkat sebelum ia kembali "menghukum" istrinya itu dengan cara yang jauh lebih manis nanti malam.
Namun, begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemericik air terdengar, wajah Arga yang tadinya ceria berubah seketika. Binar jenaka di matanya lenyap, digantikan oleh sorot mata yang dingin dan setajam silet.
Ia segera meraih ponselnya di atas nakas dan menekan sebuah nomor yang sudah terenkripsi.
"Halo," suara Arga merendah, sarat akan otoritas yang membekukan. "Jaga ketat Geo. Jangan biarkan dia lepas dari pengawasanmu walau sedetik pun. Lengah sedikit saja, nyawamu taruhannya."
Arga terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke arah jendela kamar yang memperlihatkan langit Amsterdam yang semakin siang. Ada firasat buruk yang merayapi tengkuknya.
"Siapkan jet pribadi untuk kami bertiga pulang ke Indonesia secepatnya. Aku tidak ingin membiarkan anak dan istriku terlalu lama di sini," Arga menjeda kalimatnya, rahangnya mengeras. "Tempat ini sudah tidak aman lagi. Mereka sudah mencium keberadaan Ayu."
Arga mematikan ponselnya dengan kasar. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi, tempat di mana wanita yang sangat ia cintai sedang bersenandung kecil tanpa tahu bahwa di luar sana, Dendam dari masa lalu sedang mengincar Ayu.Dan Arga yang sudah menyadari tak akan tinggal diam dan berjanji akan melindungi keluarga kecilnya.
BERSAMBUNG...
gak langsung ada ya Thor Bab nya jd penasaran aq /Smug//Smug/
Kapan nikah nya?
Lagian emang boleh readers di abaikan???
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???