Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH RENCANA
Seminggu berlalu, tak ada pesan lagi dari Iqbal. Motornya juga tidak lagi mengelilingi perumahan elit itu. Rani sedikit lega, walau masih terasa was-was.
"Apa benar, Mas Iqbal nggak ganggu aku setelah aku kasih uang kemarin?" tanyanya ragu dalam hati.
"Masa cuma karena uang dua juta setengah, Mas Iqbal merasa cukup?" lagi-lagi, Rani tak yakin.
"Aku harus hati-hati. Nggak boleh lengah!" Rani pun bertekad agar tidak lagi melayani Iqbal.
"Bagaimana kalau aku urus surat cerainya?" gumamnya kembali.
"Sepertinya bisa. Aku urus surat cerai sahnya. Tapi tanggalnya tinggal minta diubah," pikiran Rani melayang entah kemana.
Lalu penyesalan datang, andai dulu ia mengaku jika belum bercerai dan minta tolong pada Farhan.
"Tapi apa Mas Farhan bakal mau nolong aku untuk bercerai dengan Mas Iqbal?" Rani menggeleng, ia yakin Farhan pasti langsung menjauhinya ketika tau dia masih bersuami.
Rani termenung di depan meja riasnya, menatap pantulan wajahnya yang tampak sempurna berkat sapuan kosmetik mahal, namun matanya tidak bisa berbohong—ada badai ketakutan di sana.
Logika Rani mulai berperang. Menyuap Iqbal dengan uang recehan hanya menunda ledakan, bukan memadamkan sumbu bomnya.
"Dua setengah juta itu cuma umpan, Ran. Bukan uang tutup mulut," gumamnya lirih sambil meremas jemarinya sendiri.
Pikiran untuk mengurus surat cerai "susulan" dengan tanggal yang dimundurkan mulai merasuki otaknya. Ia membayangkan bisa menyewa pengacara nakal yang bisa "bermain" dengan dokumen negara.
Namun, ia segera tersadar; Farhan bukan pria bodoh. Farhan memiliki akses ke sistem informasi yang jauh lebih canggih daripada sekadar kertas fotokopi.
"Kalau aku jujur sekarang... Mas Farhan pasti menganggapku wanita penipu. Dia akan mengambil Claudia dan Rafna, lalu membuangku ke jalanan," Rani bergidik ngeri membayangkan kehilangan kehidupan bak ratu ini.
Rani gegas berdiri dan memantaskan diri. Ia akan menggugat cerai suaminya Iqbal.
Lalu ia menarik koper tua yang ia sembunyikan di tumpukan baju-baju lamanya. Farhan sudah lama menyuruhnya untuk membuangnya. Tapi ia selalu beralasan, pakaian itu masih suka ia pakai karena bahannya adem. Walau sampai sekarang, Rani tak pernah lagi memakainya dan Farhan tidak lagi mengungkit masalah baju-baju lamanya itu.
Dengan perlahan, ia membuka resleting koper dan membukanya. Sebuah buku nikah dan akta lahir Claudia. Satu lagi fakta yang ia sembunyikan dari Farhan. Akta lahir Claudia yang ada nama ayahnya. Farhan tau akta Claudia tidak ada nama ayahnya. Rani berkata jika ayah Claudia tak mau namanya ada di sana.
"Astaga ... Mas ... Aku banyak bohong sama kamu ... Hiks ... hiks!" tangis Rani pun pecah.
Hatinya begitu merasa bersalah melihat betapa banyaknya kebohongan yang ia berikan.
"Padahal kamu baik, kamu mencintaiku ... tapi aku ...?" Rani menggeleng, betapa buruknya ia terhadap Farhan.
Rani mengingat kembali ketika bertemu Farhan. Pria yang menolongnya dari kejaran rentenir, ia yakin Farhan menolongnya karena mendengar jeritan Claudia yang ketakutan saat itu.
Lalu perhatian-perhatian pria itu. Rani tak pernah tau, kenapa Farhan bercerai dengan istrinya. Jika menuntut suami sempurna. Farhan adalah potret laki-laki sejati.
"Mas ... Apa aku bakalan seperti mantan istrimu dulu. Atau justru lebih parah karena menipumu?"
"Kenapa aku sejauh ini…?" bisiknya lirih.
Ia menutup buku itu cepat, seolah takut kenyataan ikut menatap balik ke arahnya.
"Aku harus bergerak cepat. Daftar cerai dan selanjutnya, biar aku urus!" Rani gegas menghapus airmatanya.
Ia menyimpan buku itu ke dalam tas. Mengambil dompet dan ponsel dan memasukkannya ke dalam tas yang sama.
Rani menatap dirinya di cermin. Setelah merias diri, ia merasa puas dengan penampilannya yang selalu sempurna.
Rani mengambil salah satu sepatu bertumit pendek. Lalu ia pergi melangkah ke luar.
Ketika turun bersamaan dengan datangnya Claudia dari sekolah. Gadis kecil itu memandanginya dengan dahi berkerut.
"Mama mau kemana?" tanyanya.
"Mama pergi dulu ya," Rani pamit.
Claudia mengangguk, ia mencium punggung tangan Rani.
"Ya udah, aku ganti baju ya Ma. Kalau Mama mau pergi, pergi aja!" sahut Claudia sedikit acuh pada ibunya.
"Sayang!" Rani merasa Claudia tak suka jika dirinya pergi.
"Mama cuma sebentar!" teriaknya abai dengan perasaan sang putri.
Kendaraan Rani keluar dari pagar. Claudia menatapnya dari jendela kamarnya. Matanya berair, tadi ayahnya datang ke sekolah. Iqbal menunggunya sebelum supir datang.
"Claudia, kalau ikut Papa mau?" ajak pria itu.
"Ikut Papa?"
"Iya Nak. Kita akan pergi jauh dan bahagia lagi seperti dulu!" jawab Iqbal dengan mata berseri-seri.
"Terus sekolahku?" tanya Claudia.
"Itu gampang. Papa yang urus. Kamu pasti sekolah!" jawab Iqbal meyakinkan.
"Aku tanya Mama dulu ya, Pa!" sahut Claudia.
"Mama udah setuju. Malah Mana kamu yang minta untuk bujukin kamu!" sahut Iqbal.
"Claudia ... Supirmu datang!" seru seorang teman Claudia.
Iqbal langsung lari dari sana, Claudia menatap pria itu penuh tanda tanya.
Sepanjang perjalanan tadi, ia merasa gamang. Ia yakin jika ibunya tidak mungkin mau pergi bersama ayahnya.
"Papa ... Papa lupa dulu suka pukulin Mama. Aku lihat loh Pa," gumamnya pelan.
"Non!" bunyi ketukan pintu terdengar.
Claudia gegas menghapus jejak basahnya. Ia menghirup udara dan mengembuskannya kuat-kuat.
"Iya, Bi. Sebentar!" teriaknya lalu berjalan dan membuka pintu.
"Non?" Asih menatapnya.
"Ayo, Bi, kita turun. Aku lapar!" Claudia mengamit tangan Asih dan membawa wanita itu turun.
Sementara di tempat lain, kendaraan Rani sampai pada sebuah gedung. Ia berhenti di lahan parkir.
Rani masuk dengan langkah tegap. Keputusannya bulat, ia akan mengajukan cerai pada Iqbal.
"Selamat siang. Saya mau ajukan cerai pada suami saya ...."
"Oh, mari Bu. Ikut saya!" sahut seorang perempuan lalu membawa Rani ke sebuah ruangan.
Sedangkan di tempat lain, Iqbal menatap hunian mewah di mana Rani dan putrinya tinggal.
"Kenapa sih Nak, kamu nggak jawab mau?" tanyanya gusar.
"Apa kamu sudah tidak sayang Papa lagi?" Iqbal meremas stang motor kuat-kuat.
Di ruangan pengadilan agama yang dingin, Rani duduk gelisah. Petugas di depannya sedang memeriksa berkas-berkas yang ia bawa.
"Ibu Rani, ini dokumennya kami terima dulu untuk verifikasi. Namun, karena alamat suami Ibu masih di daerah yang sama, proses pemanggilan akan segera kami kirimkan," ujar petugas tersebut tenang.
Rani menelan ludah.
"Berapa lama, Pak, sampai dia tahu kalau saya menggugat?"
"Biasanya dalam satu atau dua minggu surat panggilan sidang pertama akan sampai ke alamat tergugat," jawab petugas.
Rani membeku. Satu atau dua minggu? Itu artinya Iqbal akan menerima "bom atom" di tangannya tepat saat ia sedang kalap butuh uang.
Rani keluar dari gedung itu dengan lutut lemas. Ia pikir dengan mendaftar cerai, beban di pundaknya hilang, padahal ia baru saja memicu perang terbuka.
Tanpa Rani sadari, jika rumah itu sudah lama terjual oleh Iqbal, tapi tidak lagi dihuni.
bersambung.
Wah ... Enak dong Rani?
Next?