NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fred Tucker, Target S

Spanyol menyambut Rick dengan matahari yang terlalu ramah untuk pekerjaan yang kotor.

Ia tiba dengan tas ringan, jas yang tidak terlalu mahal, dan wajah yang sudah terlatih untuk tampak “biasa” meski pikirannya terus menghitung jarak dan pintu. Sebelum observasi dimulai, Mercer memberi satu instruksi yang terdengar aneh:

“Pergi ke tempat ini dulu.”

Alamatnya mengarah ke sebuah toko service jam. Rick menemukan etalase kecil dengan jam dinding tua, jam tangan klasik, dan lampu kuning redup. Tempat itu tampak seperti toko milik lelaki tua yang hidupnya hanya tentang pegas dan roda gigi.

Tapi justru karena itu, Rick yakin ada sesuatu.

Ia masuk. Lonceng kecil berdenting. Petugas jam, pria paruh baya, memandang Rick tanpa senyum, tatapannya tajam seperti pisau yang belum keluar dari sarung.

“Bisa saya bantu?” suaranya normal.

Rick tidak menjawab dengan kata. Ia mengeluarkan koin uang lama Spanyol yang Mercer berikan dan meletakkannya di meja, pelan, seperti menaruh tiket masuk.

Pria itu tidak langsung mengambil. Ia menatap koin itu lama, lalu mengangkat mata menatap Rick. Ada perubahan kecil di wajahnya, bukan ramah, tapi mengerti.

“Silakan ikut,” katanya.

Rick dibawa ke pintu belakang. Di balik rak suku cadang, sebuah panel bergeser, membuka pintu rahasia.

Di dalam ruangan rahasia itu, Rick melihat dinding penuh senjata dan perlengkapan: pistol, peredam, magazen, pisau, alat pembuka kunci, perangkat kecil yang tidak terlihat berbahaya sampai kamu tahu fungsinya.

Petugas jam hanya berkata satu kalimat:

“Pilih. Bayar belakangan. Atas nama Mercer.”

Rick paham.

Koin itu bukan uang. Itu kode. Tanda tangan Mercer. Titik singgah. Jaringan.

Rick memilih tanpa ragu, apa yang ia butuhkan untuk sepuluh hari dan untuk situasi yang tidak bisa diprediksi. Petugas tidak bertanya nama. Tidak bertanya tujuan.

Hanya mengingatkan sekali lagi:

“Jangan bawa masalah ke sini.”

Rick mengangguk. “Tidak.”

Langkah berikutnya: apartemen.

Rick bertemu broker, memilih kamar yang tidak mencolok tapi punya satu syarat: jendela yang bisa jadi jalan keluar. Ia mendapatkan satu kamar dengan akses cukup baik, dan Rick langsung memetakan dua rute kabur di kepalanya, karena Mercer selalu bilang, “keluar lebih penting daripada masuk.”

Keesokan harinya, observasi dimulai.

Celeste Café tampak cantik, nama elegan, aroma kopi, kursi rapi, orang-orang tertawa. Tapi mata Rick tidak melihat kopi.

Mata Rick melihat kamera.

CCTV di setiap sudut, sama seperti Mercer Café—bahkan lebih rapat. Untuk kafe biasa, ini paranoia. Untuk titik jaringan, ini protokol.

Tepat jam 17:00, Martina Celeste keluar.

Wanita awal 30-an, wajah tegas, cantik keras, langkah percaya diri. Rick mengawasi dari jauh, mencatat pola. Ia tidak mengikuti terlalu dekat. Ia hanya menyimpan kebiasaan Martina sebagai data.

Esoknya, Martina kembali jam 10:00 pagi. Rick mencatat lagi. Ia pulang, istirahat, lalu kembali jam 16:00.

Martina keluar jam 17:00 lagi.

Pola itu mengunci. Dan malam itu, Rick bergerak.

Jam 00:00, Celeste Café terkunci.

Rick membuka pintu tanpa merusaknya, gerakan halus, metode yang mengingatkan pada gaya Maëlle. Ia masuk, menutup pintu pelan, tidak mengunci kembali sepenuhnya.

Beberapa langkah ke dalam, seorang pegawai keluar dari ruang belakang, mungkin penjaga malam. Pria itu bergerak cepat, tapi Rick lebih cepat.

Satu gerakan karate singkat, presisi, bukan brutal, pegawai itu pingsan sebelum sempat bersuara. Rick menyeret tubuhnya ke sudut dan masuk lebih dalam, berharap menemukan “si gendut” versi Mercer Café—orang perantara yang bisa diancam.

Yang ia temukan… lebih buruk.

Di ruang dalam, seorang pria bersetelan jas duduk di meja, seperti mafia yang sedang menunggu laporan. Ia memakai topi bulat hitam. Di atas meja: dokumen dan foto-foto.

Salah satunya membuat darah Rick langsung turun dingin. Foto yang sangat ia kenal, sangat kenal.

Fred Tucker. Mahasiswa kedokteran.

Dan di bawahnya tertulis:

RANK: S

Rick seperti disengat listrik. Badannya bergetar. Rank S? Foto itu bukan “Paper.” Bukan “Rick Nolan.” Itu Fred Tucker yang lama, wajah yang seharusnya sudah mati.

Pria bertopi bulat bergerak, hendak mengeluarkan pistol.

Rick tidak memberi waktu.

Pistol peredamnya meletus tanpa suara, hanya getaran kecil di tangan, dan tubuh pria itu tersentak jatuh dari kursi. Pria itu belum mati. Napasnya berat, mata membelalak.

Rick menutup jarak, menahan pria itu agar tidak meraih senjata kedua.

“Martina,” Rick berbisik tajam. “Siapa dia?”

Pria itu batuk, menahan sakit, lalu tersenyum tipis, senyum orang yang masih merasa punya kartu.

“Assassin,” katanya serak. “Kelas… S.”

Rick menelan ludah. Jadi benar: Martina bukan target biasa. Rick meraih cepat foto Fred Tucker dan data lain di meja yang berhubungan dengan dirinya, menariknya seperti mencabut paku. Ia menyelipkan semua ke dalam jaket.

Ia tahu CCTV memantau. Waktu tidak lama.

Ia berbalik menuju ruang utama kafe.

Dan di sana… Martina sudah menunggu. Seolah sudah tahu akan kedatangan tamu tak di undang.

Martina berdiri tenang, pistol di tangan. Di sampingnya seorang pria tinggi, wajah kosong, bahu lebar, memegang pisau seperti memegang kebiasaan. Matanya tidak bergerak banyak.

Martina menatap map dan foto yang terlihat di tangan Rick.

“Kau mau mencuri targetku?” tanya Martina, suara tenang tapi tajam.

Rick menahan napas. Ia tidak bergerak cepat. Ia tidak ingin terlihat panik.

Martina menunjuk pria tinggi itu sedikit, tanpa menoleh.

“Dia Broom,” katanya.

Broom melangkah maju setengah langkah. Pisau berkilat pelan.

Martina melanjutkan, “Jika kau bisa mengalahkan Broom dengan pisau, kita bisa bicara sebagai kurir profesional.”

Martina mengangkat bahu kecil, seolah menawarkan dua menu.

“Atau kau mau cara jalan yang sulit.”

Rick berpikir cepat.

Martina kelas S. Ada Broom, ahli pisau. Jika Rick menembak salah satu, yang lain akan menutup jarak. Dalam ruangan dengan CCTV, tembak-menembak berarti bunuh diri. Satu-satunya jalan: etika kurir.

Di antara kurir ada etika: duel. Yang kalah menyerahkan segalanya, termasuk informasi.

Rick mengangkat tangan, lalu meletakkan pistolnya di atas meja. Membuka jasnya dan menaruh di kursi dengan rapih. Perlahan, jelas terlihat.

Kemudian ia mengeluarkan pisau.

Martina memandang, tidak tersenyum, tapi mengangguk kecil, pengakuan bahwa Rick memilih jalur “benar” dalam dunia kotor mereka.

Broom maju.

Duel dimulai.

Cepat.

Tidak ada gerakan besar. Tidak ada gaya. Pisau bukan tinju, pisau adalah keputusan. Mercer pernah bilang: “pistol dan pisau harus kejam—membunuh atau dibunuh.”

Rick tidak mau kembali jadi peti mati.

Gerakan Broom tidak seperti amatir. Ia cepat, presisi, seolah setiap langkah sudah dihitung. Rick menangkis, mundur setengah, masuk lagi, memotong sudut.

Dari semua hal yang di latih Mercer, bermain pisau adalah kesukaannya. Rick mencoba mengimbangi kecepatan Broom.

Robekan pertama datang cepat, dada Rick tergores. Panas menyengat. Darah muncul tipis.

Ini pertama kalinya Rick melawan lawan sungguhan dengan pisau. Tidak seperti saat berlatih dengan Mercer. Setiap serangan memiliki banyak variabel dan sasaran. Ketika di sangka menyerang kepala, tidak tahunya hanya menggores dada.

Rick menahan napas. Fokusnya mengeras. Dunia menyempit menjadi tangan, pergelangan, jarak, dan ujung logam. Rick tidak lagi menganggap ruangan cafe yang besar, tapi  dianggap sebagai ruangan 2 X 1 M.

Ronde berikutnya dimulai lagi.

Tidak ada robekan kedua. Beberapa kali terdengar benturan besi. keduanya cepat. gerakan sangat sulit di ikuti dengan mata. Konsentrasi tinggi.

Dalam gerakan cepat, hanya satu sayatan cepat, tepat di leher Broom.

Broom tersentak, mata membesar, tangan mencoba menahan luka, tapi darah keluar terlalu cepat. Ia jatuh berlutut, lalu ambruk tanpa suara besar.

Hening.

Rick mengikuti gerakan Broom sebelumnya, hanya kali ini agak berbeda, gerakannya seolah hendak merobek dada namun kenyataannya sasaranya adalah leher.

Rick berdiri, napasnya berat, darah masih hangat di dadanya. Tangannya tidak gemetar. Tapi di dalam kepalanya, ada bagian yang ingin muntah. Ini pertama kali membunuh dengan pisau dalam duel.

Ia menatap Martina.

“Maaf,” kata Rick pelan. “Kalau aku tidak membunuh… aku yang mati.”

Martina menatap mayat Broom sebentar, lalu kembali menatap Rick.

“Jangan merasa bersalah,” kata Martina datar. “Itu bagian dari tugas.”

Martina duduk di kursi, memberi isyarat: sekarang kita bicara.

Rick menghampiri dan duduk di hadapannya, menjaga jarak aman.

Martina berkata tenang, “Kalau aku tidak melihat dengan jelas… aku tidak tahu kalau kau Fred Tucker. Targetku, Rank S". Kata 'Rank S' di tekan begitu jelas. Seolah ingin mengatakan Fred Tucker, Rank S.

Martina melanjutkan, " Kalau tidak melihat permainan pisaumu maka mungkin aku tidak tahu siapa kau.”

Rick mengerutkan kening.

Martina berkata lagi, “Mungkin orang biasa tidak menduga wajahmu berubah jadi tampan. Tapi profesional… pasti bisa lihat. Kau targetku yang menghilang dan muncul menjadi Assassin.”

Rick menahan napas. “Kau targetku. Rank C.”

"Rank C". Martina berkedip, untuk pertama kalinya ada retak kecil di wajahnya.

“Aku… C?” katanya, seperti tak percaya.

Rick mengangguk.

Martina tertawa pendek tanpa humor. “Lucu. Kamu dapat aku sebagai C. Tapi kamu sendiri… disimpan sebagai S.”

Rick menelan ludah.

Martina menambahkan, “Aku dari Docem.”

Kata itu jatuh seperti palu. Docem, diskotik Milan, salah satu titik jaringan. Rick menatap Martina tajam.

“Aku Mercer,” jawab Rick.

Martina mengangkat alis. “Mercer…”

Lalu Martina menatap Rick dengan serius. “Apa yang kau inginkan? Atau kau mau beradu senjata?”, Mungkin ini adalah kehendak martina untuk mengejar kembali Target yang menghilang, namun Martina sadar bahwa dia kalah dalam duel jadi menganggap Fred Tucker yang menentukan tindakan selanjutnya.

Rick tahu etika: Martina kalah ketika Broom mati. Martina harus memberi informasi. Tapi Martina juga bukan korban, dia assassin S. Kalau Rick memaksa terlalu jauh, Martina bisa memilih membunuhnya di tempat.

Sebelum Rick sempat bicara, Martina mengangkat tangan sedikit.

“Jangan tanya siapa yang ingin membunuhmu,” kata Martina. “Aku juga tidak tahu. Sama seperti kau tidak tahu siapa yang ingin membunuhku.”

Rick memutar bayangan cepat di kepala, kalau ia menantang, Martina bisa mengangkat pistol dan semuanya selesai.

Rick memilih hidup.

Ia menarik napas pelan, lalu berkata, “Kita anggap saja malam ini… gagal dalam tugas.”

Martina menatapnya. target yang baru didapatnya sekarang, akan menghilang lagi.

Rick melanjutkan, “Dan kita… saling tukar nomor.”

Martina menyipitkan mata, seperti menilai apakah Rick sedang menipu atau sedang membuat perjanjian.

Akhirnya Martina mengeluarkan kertas kecil dan menulis nomor. Rick menulis nomor burner miliknya.

Mereka bertukar.

Martina berkata pelan, “Secara etika aku kalah duel karena Broom mati.”

Rick mengangguk.

“Tapi kalau kita bertemu lagi,” Martina melanjutkan, suaranya dingin, “aku akan memastikan kematianmu.”

Rick menatapnya dan menjawab jujur, “Aku percaya.”

Itu bukan ancaman. Itu pengakuan profesional.

Rick berdiri, mengambil pistolnya kembali dari meja, tetapi tidak mengarahkannya. Ia mundur selangkah, tidak membelakangi Martina sepenuhnya, lalu berjalan keluar Celeste Café.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!