sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIBALIK TANGISAN
Lampu koridor rumah sakit berpendar pucat, memantul di lantai granit yang dingin. Arlan mondar-mandir di depan pintu ruang persalinan, langkahnya ritmis seperti detak jam dinding yang seolah melambat. Kemeja batiknya sudah kusut, lengannya digulung hingga siku, dan peluh membasahi keningnya meski AC sentral berembus kencang.
"Lan, duduk. Kamu sudah putar-putar di situ tiga puluh menit. Lantainya bisa retak kalau kamu injak terus pakai sepatu pantofel itu," tegur Bu Rahmi yang duduk tenang di kursi tunggu, meski jemarinya tak berhenti memutar tasbih.
"Ibu... Kira di dalam sudah dua jam. Kenapa lama sekali? Tadi dia teriak panggil namaku, tapi suster bilang aku harus tunggu sebentar karena dokter sedang observasi pembukaan terakhir," Arlan berhenti melangkah, menatap ibunya dengan mata yang merah karena cemas.
Ibu Lastri, yang duduk di samping Bu Rahmi, tersenyum lembut. "Sabar, Arlan. Melahirkan itu bukan bangun fondasi yang bisa pakai alat berat. Ini proses alami. Kira itu kuat, dia sudah sebelas tahun hadapi sikap keras kepalamu, apalagi cuma hadapi kontraksi."
Tiba-tiba, pintu ruang persalinan terbuka. Seorang perawat keluar dengan terburu-buru. "Bapak Arlan Dirgantara? Silakan masuk. Ibu Kira sudah pembukaan lengkap."
Arlan hampir tersandung kakinya sendiri saat berlari masuk. Di dalam, suasana terasa begitu intens. Bau obat-obatan bercampur dengan aroma keringat. Kira terbaring di sana, rambutnya basah kuyup, wajahnya memerah karena menahan beban yang luar biasa.
"Lan..." bisik Kira, suaranya hampir hilang.
Arlan langsung menyambar tangan Kira, menggenggamnya sangat erat. "Aku di sini, Ra. Aku nggak akan kemana-mana. Maaf tadi aku agak lama masuknya."
"Sakit... Lan... sakit banget..." Kira merintih, cengkeraman tangannya di lengan Arlan begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.
"Ayo Ibu Kira, satu tarikan napas panjang lagi. Ikuti instruksi saya. Satu... dua... dorong!" seru Dokter kandungan dengan nada yang memberi semangat.
"Ayo, Sayang! Kamu bisa! Ingat gedung kementerian yang revisinya sepuluh kali saja kamu bisa selesaiin, apalagi ini!" Arlan berteriak memberi semangat, meski wajahnya sendiri tampak ingin menangis karena tidak tega melihat istrinya kesakitan.
Kira berteriak, sebuah teriakan yang seolah mengeluarkan seluruh beban sebelas tahun mereka. Arlan merasakan tulang tangannya seperti akan remuk, tapi ia tidak peduli. Ia terus membisikkan doa dan kata-kata cinta di telinga Kira.
Lalu, dalam satu detik yang terasa seperti keabadian, suara itu pecah.
OEKKKK! OEKKKK!
Tangisan bayi yang melengking tinggi memenuhi ruangan, membelah ketegangan yang sejak tadi menggantung. Dokter mengangkat seorang bayi laki-laki yang kemerahan, tubuhnya kecil namun suaranya begitu bertenaga.
Arlan terpaku. Air matanya jatuh tanpa permisi. Ia menatap bayi itu, lalu menatap Kira yang terkulai lemas namun tersenyum dengan sisa tenaganya.
"Selamat, Pak, Bu. Jagoannya lahir dengan sehat. Beratnya 3,2 kilogram," ucap Dokter sambil meletakkan bayi itu di dada Kira untuk inisiasi menyusui dini.
Kira menangis tersedu-sedu saat merasakan kulit hangat bayinya menyentuh dadanya. "Lan... lihat... dia mirip kamu..."
Arlan mencium kening Kira lama sekali, air matanya membasahi pipi istrinya. "Makasih, Ra. Makasih banyak. Kamu arsitek yang hebat... kamu baru saja bangun kehidupan yang paling sempurna buat kita."
Satu Tahun Kemudian: Perayaan di Lentera Sebelas
Sinar matahari sore yang keemasan menyapu halaman luas "Lentera Sebelas". Suasananya sangat hidup. Puluhan anak-anak berseragam rapi berlarian di antara selasar bata ekspos, sementara beberapa lainnya sedang asyik menggambar di meja-meja panjang yang didesain khusus oleh Kira.
Di tengah taman melati yang kini sudah rimbun dan harum, sebuah panggung kecil didirikan. Hari ini adalah ulang tahun pertama sekolah itu, sekaligus ulang tahun pertama putra mereka, Arsa Dirgantara.
"Arsa! Jangan dimakan krayonnya, Nak! Itu bukan biskuit!" teriak Kira, yang kini tampil lebih segar dengan rambut dipotong sebahu. Ia berlari kecil mengejar Arsa yang merangkak sangat cepat di atas rumput.
Arlan muncul dari balik pilar aula, membawa sebuah tumpeng kecil. Ia tertawa melihat istrinya yang kewalahan. "Tuh kan, Ra. Sudah aku bilang, strukturnya Arsa itu dinamis banget. Nggak bisa diam."
"Dinamis sih dinamis, Lan. Tapi ini krayon mahal dari Maura! Sayang kalau hancur dimakan," balas Kira sambil menggendong Arsa yang tertawa riang, memamerkan dua gigi depannya yang baru tumbuh.
Maura muncul dari arah kantor administrasi, mengenakan pakaian kerja yang elegan namun santai. Ia membawa kado besar berbungkus kertas biru. "Selamat ulang tahun, Arsa! Keponakan Tante yang paling ganteng!"
Maura mencium pipi Arsa, lalu menatap Arlan dan Kira. "Gimana laporan bulanannya? Ayah pasti bangga banget kalau lihat perpustakaannya sekarang penuh buku dan anak-anak."
"Lancar, Mau. Donasi dari Anastasia Group benar-benar membantu kita buka kelas baru untuk seni pahat," jawab Arlan. "Oh ya, kondisi Pak Gunawan di rumah gimana?"
Maura tersenyum tipis. "Ayah stabil. Meskipun beliau pakai kursi roda, beliau sering minta diantar ke teras buat lihat foto-foto sekolah ini. Beliau bilang, 'Lentera Sebelas' adalah obat terbaik buat jantungnya."
Kira merangkul Maura. "Makasih ya, Mau. Kalau bukan karena kamu yang gigih urus legalitasnya dulu, mungkin kita masih pusing sama surat tanah."
"Sama-sama, Ra. Aku juga belajar banyak di sini. Ternyata lihat anak-anak ini tersenyum jauh lebih memuaskan daripada lihat grafik profit di kantor," aku Maura jujur.
Saat acara puncak dimulai, Arlan berdiri di depan podium. Ia melihat ke arah kerumunan anak-anak, para guru, orang tuanya, dan istrinya yang sedang menggendong anak mereka.
"Sebelas tahun yang lalu," Arlan memulai bicaranya dengan suara yang mantap namun penuh haru. "Saya dan istri saya, Kira, hanyalah dua orang mahasiswa yang sering berdebat soal arah jendela dan warna cat. Kami tidak pernah menyangka bahwa perdebatan itu akan membawa kami membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar gedung. Kami membangun harapan."
Ia menatap Kira, yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Sekolah ini dinamakan 'Lentera Sebelas' bukan tanpa alasan. Angka sebelas adalah saksi bisu perjalanan kami. Dari sahabat menjadi keluarga. Dan hari ini, di ulang tahun pertama Arsa dan sekolah ini, saya hanya ingin berterima kasih kepada kalian semua yang sudah menjadi bagian dari struktur hidup kami."
Tepuk tangan meriah membahana. Arsa ikut bertepuk tangan dengan cara bayinya yang menggemaskan, membuat semua orang tertawa.
Setelah acara selesai, Arlan dan Kira duduk berdua di kursi kayu panjang di bawah pohon besar, menatap bangunan sekolah saat lampu-lampu taman mulai menyala otomatis. Arsa sudah tertidur pulas di kereta bayinya.
"Lan," panggil Kira pelan.
"Ya, Sayang?"
"Kalau diingat-ingat... seru ya drama kita? Dari Maura yang hampir hancurin kita, sampai kita harus LDR-an Jakarta-Singapura."
Arlan menarik Kira ke dalam pelukannya, menyandarkan dagunya di kepala istrinya. "Semua drama itu cuma proses pengeringan semen, Ra. Biar hubungan kita makin keras dan nggak mudah retak kalau ada gempa kehidupan."
"Gombalan kamu nggak berubah ya, tetap pakai istilah teknik," Kira tertawa, mencubit lengan Arlan. "Tapi Lan... makasih ya sudah tetap jadi sahabatku, meski sekarang sudah jadi suamiku."
Arlan menggenggam tangan Kira, merasakan cincin emerald dari Pak Gunawan dan cincin kawin mereka yang bersinggungan. "Aku akan selalu jadi sahabat kamu, Ra. Sahabat yang bakal dengerin semua keluhan desain kamu, sahabat yang bakal buatin kopi pahit (tapi sekarang sudah aku kurangi kafeinnya), dan sahabat yang bakal jaga kamu dan Arsa selamanya."
"Janji?"
"Janji. Sebelas tahun sudah terbukti, kan?"
Kira tersenyum, menatap bangunan "Lentera Sebelas" yang bersinar di kegelapan malam. Cahayanya hangat, meneduhkan siapa saja yang memandangnya. Persis seperti cinta mereka yang tumbuh perlahan, namun memiliki pondasi yang sanggup menantang waktu.
Di bawah langit senja Bogor yang perlahan menggelap, Arlan dan Kira menyadari bahwa proyek terbesar mereka bukanlah gedung-gedung pencakar langit yang pernah mereka impikan dulu. Proyek terbesar mereka adalah keluarga kecil ini, dan cinta yang terus mereka bangun, satu batu bata setiap harinya, selamanya.
tamat