NovelToon NovelToon
Terikat Tanpa Pilihan

Terikat Tanpa Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:13.7k
Nilai: 5
Nama Author: ludiantie

Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.

Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.

Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.

Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 35

Mobil hitam milik Nick melaju tenang meninggalkan halaman rumah.

Di dalam mobil, suasananya tidak benar-benar canggung… tapi juga tidak terlalu santai.

Tessa duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela. Kota bergerak cepat di luar sana, gedung-gedung tinggi mulai bermunculan.

Beberapa menit pertama mereka hanya diam.

Namun anehnya, diam itu tidak terasa tidak nyaman.

Nick menyetir dengan satu tangan, tangan lainnya bertumpu santai di setir. Sesekali ia melirik ke arah Tessa.

“Apa kau lapar?” tanyanya tiba-tiba.

Tessa menoleh sedikit. “Lumayan.”

Nick mengangguk kecil. “Bagus.”

Tessa mengernyit lagi. “Kau sering mengatakan bagus hari ini.”

Sudut bibir Nick bergerak tipis.

“Karena aku tidak suka makan sendirian.”

Tessa tidak menjawab.

Namun pipinya sedikit menghangat.

Mobil terus melaju, meninggalkan area pusat kota yang biasa… lalu masuk ke kawasan yang jauh lebih tenang dan eksklusif.

Tessa mulai memperhatikan sekeliling.

Restoran-restoran mahal berjajar di sisi jalan. Kaca besar, taman rapi, mobil-mobil mewah terparkir di depan.

“Nick…” gumam Tessa pelan.

“Hm?”

“Kita mau makan di mana?”

Nick tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian mobil berhenti perlahan di depan sebuah restoran besar dengan arsitektur elegan. Bangunan putih dengan jendela tinggi, taman kecil dengan air mancur, dan seorang valet sudah menunggu di depan pintu.

Nick mematikan mesin mobil.

Tessa menatap bangunan itu dengan mata sedikit membesar.

“Nick… restoran ini bagus sekali.”

Nick menoleh santai. “Ya.”

“Ini terlihat seperti hotel bintang lima.”

Nick mengangkat alis sedikit. “Kurang lebih.”

Valet segera membuka pintu mobil mereka. Nick keluar lebih dulu, lalu berjalan ke sisi penumpang dan membuka pintu untuk Tessa.

Tessa turun perlahan, masih sedikit tertegun.

Seorang manajer restoran langsung menyambut mereka dengan sikap sangat hormat.

“Selamat siang, Mr. dan Mrs. Adhitama."

Nick hanya mengangguk kecil.

“Meja seperti biasa.”

“Sudah kami siapkan, Tuan.”

Tessa melirik Nick. “Seperti biasa?”

Nick mulai berjalan masuk. “Aku sering makan di sini.”

Begitu mereka masuk,

Tessa langsung menyadari kenapa tempat ini terlihat seperti dunia lain.

Lampu kristal besar menggantung di langit-langit tinggi. Meja-meja tertata rapi dengan taplak putih bersih. Musik piano lembut mengalun di udara.

Dan hampir semua tamu di sana berpakaian sangat elegan.

Tessa otomatis merasa sedikit… salah tempat.

Nick seolah langsung menyadari itu.

Ia berhenti berjalan sebentar dan menoleh padanya.

“Kenapa?”

Tessa sedikit menunduk.

“Aku merasa terlalu… biasa untuk tempat seperti ini.”

Nick menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata datar, “Kau istriku.”

Tessa berkedip.

Nick melanjutkan berjalan. “Itu sudah lebih dari cukup.”

Tessa diam beberapa detik.

Lalu perlahan mengikuti langkahnya.

Mereka dibawa ke meja privat dekat jendela besar yang menghadap taman. Seorang pelayan langsung menarik kursi untuk Tessa.

Nick duduk di seberangnya.

Menu diserahkan kepada mereka.

Tessa membuka menu itu…

Lalu matanya langsung membesar. “Hah?”

Nick menatapnya. “Ada apa?”

Tessa menutup menu perlahan.

“Nick…”

“Hm.”

“Harga makanan di sini… bisa untuk belanja dapur satu bulan.”

Nick menatapnya beberapa detik.

Lalu tiba-tiba, Ia tertawa pelan.

Tessa langsung menatapnya kaget.

Itu bukan tawa besar… tapi jelas sekali ia tertawa.

“Apa yang lucu?” tanya Tessa.

Nick menyandarkan punggungnya santai.

“Kau benar-benar jujur.”

Tessa menghela napas. “Aku serius.”

Nick mengambil menu dari tangannya.

“Kalau begitu biar aku yang pesan.”

Tessa menatapnya curiga.

“Kau jangan pesan yang terlalu mahal.”

Nick mengangkat alis. “Aku yang membayar.”

“Justru itu masalahnya.”

Sudut bibir Nick terangkat lagi.

Ia memanggil pelayan.

Dengan tenang ia memesan beberapa hidangan, steak premium, seafood, wine non-alkohol, dan dessert yang bahkan Tessa tidak sempat membaca namanya di menu.

Setelah pelayan pergi, Tessa menatapnya.

“Nick.”

“Hm.”

“Kau baru saja memesan makanan yang harganya mungkin setara motor.”

Nick menatapnya santai.

“Aku tidak suka setengah-setengah kalau makan.”

Tessa menggeleng kecil.

“Kau benar-benar ya…”

Nick sedikit memiringkan kepala. “Menyesal ikut makan siang denganku?”

Tessa menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil. “Tidak.”

Ada jeda sebentar.

“Ini pertama kalinya aku makan siang seperti ini.”

Tatapan Nick sedikit berubah.

Lebih lembut… meski hanya sebentar.

“Kalau begitu,” katanya tenang, “kau harus membiasakan diri.”

Tessa mengangkat alis. “Membiasakan diri untuk hal seperti ini?”

Nick menatapnya lurus.

“Istriku tidak boleh kaget dengan hal seperti ini.”

Tessa menatapnya tanpa sadar.

Ada sesuatu dalam cara Nick mengatakan itu

Bukan pamer.

Bukan sombong.

Tapi seperti… sebuah keputusan.

Dan entah kenapa, jantung Tessa berdetak sedikit lebih cepat.

Pelayan kembali beberapa menit kemudian, membawa hidangan pertama dengan gerakan yang sangat rapi dan hati-hati.

Piring besar diletakkan di depan Tessa. Aroma steak yang hangat langsung menyebar lembut di udara. Dagingnya tampak sempurna, dengan saus cokelat gelap yang mengilap dan sayuran yang ditata seperti karya seni.

Tessa menatap piring itu beberapa detik.

“Ini… terlalu cantik untuk dimakan,” gumamnya pelan.

Di seberang meja, Nick sudah mulai makan dengan tenang.

“Kalau terlalu lama dilihat, nanti dingin,” katanya santai.

Tessa mengambil pisau dan garpu.

Ia mencoba memotong steak itu… tapi dagingnya cukup tebal. Tangannya berhenti sebentar, mencoba menekan sedikit lebih kuat.

Namun potongannya masih agak kaku.

Nick memperhatikan itu tanpa mengatakan apa pun.

Beberapa detik kemudian, tanpa banyak bicara, ia meletakkan pisau dan garpunya, lalu mengulurkan tangan ke arah piring Tessa.

“Sini, biar aku bantu,” katanya singkat.

Tessa berkedip. “Hah?”

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Nick sudah menarik piringnya sedikit mendekat.

Dengan gerakan yang sangat tenang dan terbiasa, ia memotong steak itu menjadi beberapa potongan kecil yang rapi.

Pisau bergerak halus. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak berlebihan.

Setelah selesai, ia mendorong kembali piring itu ke depan Tessa.

“Sekarang lebih mudah, untuk kau makan,"

Tessa menatap piringnya… lalu menatap Nick.

Beberapa detik ia benar-benar tidak berkata apa-apa.

“Apa?” tanya Nick datar ketika melihat tatapan itu.

“Kau…” Tessa berhenti sejenak.

“…baru saja memotong makananku.”

Nick mengangkat bahu kecil.

“Kau terlihat kesulitan.”

“Biasanya orang sepertimu tidak melakukan itu.”

Nick menatapnya sebentar.

“Biasanya istriku juga tidak makan steak seolah sedang memotong kayu.”

Tessa langsung memelototinya.

Nick menunduk lagi ke makanannya, seolah tidak mengatakan sesuatu yang aneh.

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Tessa akhirnya menghela napas kecil, lalu mencoba memakan potongan steak itu.

Matanya langsung sedikit membesar. “Ini enak sekali…”

Nick menatapnya sebentar. “Memang.”

Beberapa meja di restoran mulai memperhatikan mereka.

Awalnya hanya sekilas. Namun lama-kelamaan, bisik-bisik kecil terdengar dari beberapa arah.

Seorang pria di meja dekat jendela berbisik pada temannya.

“Itu dia, kan?”

“Iya… itu benar dia.”

“Nickolas Adhitama.”

Beberapa orang diam-diam melirik ke arah meja mereka.

Tessa yang sedang minum air akhirnya menyadari hal itu.

Ia sedikit menunduk dan berbisik pelan, “Nick…”

Nick tetap tenang memotong makanannya.

“Hm.”

“Kenapa orang-orang melihat ke arah kita?”

Nick bahkan tidak menoleh. “Mereka tidak melihat kita.”

Tessa menatap sekeliling lagi. “Mereka melihatmu.”

Nick akhirnya mengangkat pandangannya.

Beberapa tamu langsung pura-pura kembali ke makanan mereka.

Nick kembali menatap Tessa dengan santai.

“Biasakan saja.”

Tessa menatapnya. “Biasakan?”

Nick menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Orang-orang di tempat seperti ini biasanya tahu siapa aku.”

Tessa berkedip beberapa kali.

“Nick…”

“Hm.”

“Kau sebenarnya seterkenal apa?”

Nick memikirkan itu sebentar.

“Cukup terkenal untuk membuat orang penasaran.”

Tessa menatapnya lama. “Sekarang aku mulai mengerti.”

“Mengerti apa?”

Tessa menunjuk sekeliling restoran dengan kecil.

“Kenapa tempat ini langsung menyambutmu seperti raja.”

Nick sedikit memiringkan kepalanya. “Tidak.”

Tessa mengangkat alis. “Bukan?”

Nick menatapnya lurus.

“Mereka menyambutku karena aku pelanggan tetap.”

Tessa menyipitkan mata. “Kau serius?”

Nick menyesap minumannya dengan tenang.

“Dan karena aku membayar mahal.”

Tessa akhirnya tertawa kecil.

Namun jauh di dalam pikirannya, Ia mulai benar-benar menyadari sesuatu.

Dunia Nick jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Dan sekarang…

Ia berada tepat di tengah dunia itu.

1
Nur Halida
cemburu lagi entar si nick orion deket2 sama tessa
Nia Nara
Kalau belum menyerahkan diri sih masih mending, baru menyerahkan diri terus diginiin, sakitnya tuh berlipat2 rasanya
Nia Nara
Masa Nick gitu aja marah. Semua orang punya masa lalu. Tessa saja bukan wanita pertama Nick kan.
Nia Nara
Tessa definisi putri tidur ya, baru bangun jam 8 malam bisa tidur lagi 🤭
Nia Nara
Kebayang jadi nick selelah apa dalam hidup. Mending duit cukup, makan enak, tidur nyenyak, pikiran tenang 😄
Nur Halida
nick .. kamu buat tessa kecewa lagi dg menjawab tidak ..
Nia Nara
Terlalu banyak aturan. Ngerasa gak bisa napas 🤣
Nur Halida
nick kali ini kamu harus benar2 melindungi tessa dari kejulidan tante livia .. jangan sampe tessa terbojok dan membuatnya sedih cukup kamu saja yg buat tessa sedih dan kecewa
itsmecancer: huhu… tessa emang gak pantas disakitin lagi 😭 tapi nick nya lagi gak bener juga…
total 1 replies
Nur Halida
ada ya manusia macem nick ini..
munafik tau gak kamu nick😡😡😡
itsmecancer: dia sebenernya mau...tapi malu🤫
total 1 replies
Nur Halida
bagus tessa .. diemin aja terus si nick itu lama2 juga dia yg akan ngejar2 kamu
Jelita S
abaikan terus dia Tessa biar mampus sendiri dia
Nur Halida
dasar nick manja kalo gak disuruh tessa gak mau makan .. tapi tessanya di cuekin gak mau dilihat gak mau di dengar.. piye toh kamu nick... nick...🤔
itsmecancer: wkwk iya keliatan banget di part ini 😭
total 1 replies
Jelita S
apa sih maunya si Nick banci ini
Jelita S
malas banget liat Nick
Nur Halida
sumpah kesel banget sama nick ini... udah lah tessa sebaiknya kamu harus benar2 menjauh dari nick atau tinggakin aja sekalian .. darah tinggi aku lama2 dg sikap nick ini😡😡
itsmecancer: sabar.. sabar dulu ya...aku ngerti banget kenapa kalian pengen tessa ninggalin dia 😔🥺kita tunggu kelanjutannya dulu oke 🤫
total 1 replies
Nur Halida
kenapa gak pulang sih nick .. aku yakin walau kecewa tessa pasti tetap akan merawatmu dg lebih baik
itsmecancer: Nick : “kamu pikir semua bisa selesai cuma dengan pulang?" 😌
total 1 replies
Jelita S
GK usah pulang Nick kelaut z sana
itsmecancer: waduuhh.. kasian nanti Tessa nya dong😌
total 1 replies
Nur Halida
dasar nick cemen .. lari dari masalah .. kalo kamu gak pulang2 emang masalahnya bisa terselesaikan??
itsmecancer: bener banget lagi 😑
total 3 replies
Nur Halida
terus kapan kau mulai untuk memperbaikinya nick??
semakin lama semakin tessa kecewa sama kamu
itsmecancer: iya… masalahnya bukan cuma kapan dia mulai, tapi apakah semuanya masih bisa diperbaiki atau tidak😌
total 1 replies
Jelita S
Nikmatilah penyesalanmu Nick 😄😄
itsmecancer: wkwk… sepertinya dia memang harus merasakan menyesal dulu ya 😔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!