Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Rapat Darurat
Ruang rapat utama perusahaan Mahendra dipenuhi suasana tegang.
Semua yang hadir duduk dengan wajah serius. Tidak ada obrolan ringan. Tidak ada basa-basi seperti biasanya.
Ragendra duduk di kursi utama. Helena di sampingnya. Alvaro berada di sisi lain meja, sementara beberapa direksi dan staf kepercayaan ikut hadir.
Salah satu layar di depan menampilkan berita yang terus berulang.
Kasus penculikan.
Nama keluarga Mahendra.
Foto Alisha.
Semuanya tersebar luas.
Salah satu direksi membuka pembicaraan.
“Kita tidak bisa diam lebih lama.”
Suara pria itu terdengar tegas.
“Media terus membahas ini. Investor mulai gelisah.”
Ragendra menatap lurus ke depan.
“Lanjutkan.”
Direksi itu mengangguk.
“Beberapa mitra sudah mulai mempertanyakan stabilitas perusahaan.”
Ia menekan remote.
Grafik muncul di layar.
“Nilai saham kita turun sejak berita ini muncul.”
Ruangan langsung hening.
Helena menunduk pelan.
Salah satu direksi lain ikut bicara.
“Kita butuh pernyataan resmi. Kalau tidak, spekulasi akan semakin liar.”
Alvaro menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Tatapannya tajam.
“Pernyataan seperti apa?”
Direksi itu menjawab cepat.
“Kita klarifikasi semua. Termasuk soal pewaris keluarga.”
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Helena langsung menoleh.
Ragendra tidak langsung bicara.
Alvaro menatap pria itu.
“Kamu yakin itu langkah yang tepat?”
Direksi itu mengangguk.
“Semakin lama kita diam, semakin buruk dampaknya.”
“Setidaknya publik tahu kebenarannya.”
Helena menggeleng pelan.
“Belum.”
Suaranya pelan, tapi jelas.
“Aku tidak ingin itu diumumkan sekarang.”
Semua mata tertuju padanya.
“Alisha belum siap,” lanjutnya.
Nada suaranya mulai bergetar.
“Aku bahkan belum sempat benar-benar bicara dengannya…”
Ragendra menatap Helena sebentar.
Lalu kembali melihat ke arah meja.
Salah satu direksi lain menyela.
“Dengan segala hormat, Bu Helena… ini bukan hanya soal keluarga.”
“Ini menyangkut perusahaan.”
Helena langsung menatapnya.
“Bagi saya ini tetap soal anak saya.”
Suasana semakin panas.
Alvaro yang sejak tadi diam akhirnya bicara.
“Kita tidak akan membuat pernyataan apa pun sekarang.”
Semua menoleh padanya.
Salah satu direksi terlihat tidak setuju.
“Alvaro, ini bukan keputusan pribadi—”
Alvaro memotong.
“Ini keputusan yang masuk akal.”
Suaranya dingin.
“Kita belum tahu siapa yang bermain di balik ini.”
Ruangan kembali hening.
Ia melanjutkan.
“Penculikan ini bukan kejadian biasa.”
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Ada yang sengaja mengatur semuanya.”
Ragendra memperhatikan dengan serius.
“Apa maksudmu?”
Alvaro tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke arah Damar yang berdiri di dekat pintu.
“Jelaskan.”
Damar melangkah maju.
Ia membuka tablet yang dibawanya.
“Kami menemukan beberapa jejak yang mengarah ke orang lama.”
“Orang yang dulu pernah bekerja untuk Bram.”
Nama itu langsung membuat beberapa orang di ruangan saling berpandangan.
Ragendra menegang.
“Bram…”
Damar mengangguk.
“Kami belum bisa memastikan dia terlibat langsung.”
“Tapi pergerakan ini terlalu rapi untuk kebetulan.”
Salah satu direksi terlihat bingung.
“Siapa Bram?”
Ragendra menjawab pelan.
“Masalah lama.”
Alvaro menambahkan.
“Masalah yang belum selesai.”
Helena terlihat semakin cemas.
“Kalau benar dia kembali…”
Kalimatnya terhenti.
Damar melanjutkan.
“Kalau identitas Alisha diumumkan sekarang, itu justru memberi celah bagi mereka.”
Alvaro mengangguk.
“Mereka akan tahu siapa target sebenarnya.”
Suasana langsung berubah.
Semua mulai memahami arah pembicaraan.
Direksi yang tadi paling vokal kini terlihat ragu.
“Jadi kita diam saja?”
Alvaro menggeleng.
“Kita bergerak. Tapi tidak di depan publik.”
Ragendra akhirnya angkat bicara.
“Kita tunda semua pernyataan resmi.”
Keputusannya tegas.
“Fokus kita sekarang satu.”
“Keamanan.”
Ia menatap semua orang di ruangan.
“Perketat pengamanan di rumah.”
“Batasi akses keluar masuk.”
“Dan pastikan tidak ada kebocoran informasi.”
Semua mengangguk.
Rapat belum benar-benar selesai, tapi arah sudah jelas.
Helena masih terlihat gelisah.
Ia menatap meja tanpa bicara.
Ragendra menoleh padanya.
“Kita akan melewati ini.”
Helena hanya mengangguk pelan.
Sementara itu…
Di rumah Mahendra, Alisha duduk di kamarnya.
Ia memandang keluar jendela.
Sejak kejadian di gudang, suasana rumah terasa berbeda.
Lebih sepi.
Lebih tegang.
Beberapa penjaga terlihat di sekitar rumah.
Ia bisa melihat mereka dari jendela.
“Ada apa sebenarnya…”
Ia bergumam pelan.
Ia tidak tahu tentang rapat yang sedang berlangsung.
Tidak tahu apa yang sedang diputuskan.
Yang ia rasakan hanya satu.
Dirinya menjadi pusat semua masalah.
Ia menunduk.
Tangannya menggenggam buku kecil miliknya.
“Apa aku harus pergi saja…”
Pikiran itu muncul begitu saja.
Di luar rumah…
Sebuah mobil berhenti cukup jauh dari gerbang.
Dua pria duduk di dalamnya.
Mereka memperhatikan rumah itu sejak tadi.
“Pengamanannya makin ketat.”
Salah satu dari mereka bicara pelan.
Yang lain mengangguk.
“Kita tidak bisa sembarangan sekarang.”
“Terlalu banyak mata.”
Pria pertama menyandarkan tubuhnya.
“Berarti kita tunggu?”
Yang kedua tersenyum tipis.
“Tidak.”
“Kita cari cara lain.”
Ia menatap ke arah rumah besar itu.
“Targetnya tidak akan selalu di dalam sana.”
Kembali ke ruang rapat.
Pintu diketuk dari luar.
Semua menoleh.
Seorang staf masuk dengan wajah tegang.
“Pak…”
Ragendra langsung menatapnya.
“Ada apa?”
Staf itu menelan ludah.
“Kami menemukan sesuatu.”
Suasana langsung berubah.
“Di sekitar rumah…”
Ia berhenti sebentar.
“Terlihat ada mobil mencurigakan sejak tadi.”
Alvaro langsung berdiri.
Tatapannya tajam.
“Masih di sana?”
“Sudah pergi beberapa menit lalu.”
Damar langsung bergerak.
“Aku cek.”
Ia keluar ruangan tanpa menunggu perintah.
Ragendra mengepalkan tangannya.
“Berarti mereka sudah mulai.”
Helena terlihat semakin pucat.
Alvaro menatap pintu yang baru saja tertutup.
Pikirannya langsung bekerja cepat.
Kalau mereka sudah berani mendekat…
berarti langkah berikutnya tinggal menunggu waktu.
Ia menoleh ke arah Ragendra.
“Kita tidak punya banyak waktu lagi.”
Ragendra mengangguk pelan.
Semua yang ada di ruangan itu tahu.
Masalah ini tidak akan berhenti di sini.
Di luar sana, seseorang sedang menyusun langkah berikutnya.
apakah mereka masih bisa melindungi Alisha?
Alvaro keluar dari ruang rapat dengan langkah cepat.
Pikirannya tidak bisa tenang.
Setiap potongan informasi yang ia dengar barusan saling terhubung.
Penculikan.
Orang-orang lama Bram.
Mobil mencurigakan di sekitar rumah.
Semua terasa seperti satu pola yang sama.
Damar sudah lebih dulu berjalan di depan sambil menekan ponselnya.
“Aku minta orang cek kamera sekitar rumah,” katanya tanpa menoleh.
Alvaro mempercepat langkahnya.
“Kita harus tahu mereka datang dari mana.”
Damar mengangguk.
“Dan ke mana mereka pergi.”
Mereka berhenti di lorong dekat lift.
Beberapa detik kemudian ponsel Damar berbunyi.
Ia langsung mengangkatnya.
“Iya.”
Alvaro memperhatikan wajahnya.
Ekspresi Damar berubah lebih serius.
“Putar ulang rekamannya.”
Beberapa detik hening.
“Oke, kirim ke saya.”
Telepon ditutup.
“Ada hasil?” tanya Alvaro.
Damar menunjukkan layar ponselnya.
“Mobilnya sempat terekam di dua titik.”
Alvaro menatap layar itu tajam.
“Platnya?”
“Masih sama. Palsu.”
Alvaro menghembuskan napas pendek.
“Minimal kita tahu mereka bukan orang sembarangan.”
Damar mengangguk.
“Mereka tahu cara bergerak tanpa jejak.”
Alvaro menatap lurus ke depan.
“Artinya ini sudah direncanakan.”
Mereka masuk ke dalam lift.
Pintu tertutup perlahan.
Suasana di dalam terasa sunyi.
Alvaro akhirnya bicara lagi.
“Kita tidak bisa menunggu mereka bergerak duluan.”
Damar menoleh.
“Kamu mau apa?”
Alvaro menjawab tanpa ragu.
“Kita cari mereka lebih dulu.”
Lift terbuka.
Mereka langsung keluar menuju parkiran.
Sementara itu…
Di rumah Mahendra, Alisha masih berada di kamarnya.
Ia tidak benar-benar membaca buku yang ada di tangannya.
Pikirannya ke mana-mana.
Suara langkah di luar kamar membuatnya menoleh.
Pintu diketuk pelan.
“Alisha?”
Suara Helena terdengar dari luar.
Alisha ragu beberapa detik.
Lalu ia menjawab pelan.
“Iya…”
Pintu terbuka.
Helena masuk dengan wajah yang masih terlihat lelah.
Ia berdiri beberapa langkah dari pintu.
Seolah tidak tahu harus mendekat atau tidak.
“Kamu belum istirahat?”
Alisha menggeleng kecil.
“Belum ngantuk.”
Helena mengangguk pelan.
Suasana menjadi canggung.
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Helena akhirnya memberanikan diri mendekat.
Ia duduk di kursi yang tidak terlalu jauh dari tempat tidur.
“Apa kamu masih takut?”
Alisha terdiam.
Ia tidak langsung menjawab.
“Aku… tidak tahu,” katanya akhirnya.
Helena menatapnya.
“Kamu aman di sini.”
Kalimat itu terdengar lembut.
Alisha menunduk.
“Semua ini terjadi karena aku.”
Helena langsung menggeleng.
“Bukan.”
Suaranya lebih tegas.
“Jangan pernah berpikir seperti itu.”
Alisha mengangkat kepalanya pelan.
“Tapi sejak aku datang…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Helena menatapnya lama.
Ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Tapi ia menahan diri.
Belum waktunya.
“Apa pun yang terjadi,” katanya pelan, “kamu tidak sendirian.”
Alisha tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk kecil.
Helena berdiri perlahan.
“Aku tidak akan lama.”
Ia melangkah menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
Lalu berkata tanpa menoleh.
“Kalau kamu butuh apa pun… panggil aku.”
Pintu tertutup pelan.
Alisha kembali sendiri.
Ia menatap pintu itu beberapa detik.
Lalu memeluk lututnya pelan.
Perasaan aneh kembali muncul.
Takut.
Bingung.
Dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Di luar rumah…
Jalanan terlihat lebih sepi dari biasanya.
Lampu jalan menyala redup.
Beberapa menit setelah mobil tadi pergi…
sebuah motor berhenti di sudut jalan.
Pengendara itu melepas helmnya.
Ia menatap ke arah rumah Mahendra.
Matanya tajam.
Ia mengambil ponsel dari saku jaketnya.
Mengetik cepat.
Pesan terkirim.
Di tempat lain, seseorang membaca pesan itu.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Pengamanan diperketat…”
Ia bergumam pelan.
“Menarik.”
Ia berdiri dari kursinya.
Langkahnya tenang.
Seolah semua sudah sesuai rencana.
“Kita lihat berapa lama mereka bisa bertahan.”
#bersambung
Alisha tidak akan kalah terus kok… justru mulai dari bab berikutnya dia sudah mulai melawan 😉
makasih banyak masukannya, ditunggu ya kelanjutannya~