Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Ruang rapat itu sudah hampir kosong. Kursi-kursi ditinggalkan sedikit berantakan. Beberapa gelas air masih tersisa di meja panjang yang tadi penuh dengan dua belas investor dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak semuanya ramah. Sekarang hanya ada Elena di ujung meja, berdiri sambil memasukkan dokumen ke dalam map satu per satu dengan cara yang terukur, tidak tergesa-gesa.
Ia mengira semua orang sudah keluar. Ternyata belum.
Leon masih duduk di kursinya dengan jas yang masih rapi, segelas air yang sudah hampir habis di depannya, dan postur yang sama santainya seperti dua jam lalu saat rapat baru dimulai. Seolah rapat panjang yang baru saja selesai tidak menguras energinya sama sekali.
Elena akhirnya menoleh.
"Kamu belum pergi?"
Leon mengangkat matanya. "Belum."
"Rapatnya sudah selesai."
"Aku tahu." Jawabnya tenang.
Elena menatapnya sebentar lalu kembali ke berkasnya. "Kalau begitu kamu menunggu apa?"
Leon mengangkat bahu sedikit. "Tidak ada."
Elena berhenti memasukkan dokumen. "Tidak ada?"
"Ya." Leon menunjuk map di tangan Elena. "Kamu masih di sini."
Elena menghela napas kecil, setengah geli, setengah tidak mengerti. "Jadi kamu menunggu aku selesai beres-beres?"
Leon tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena beberapa detik dengan ekspresi yang tidak bisa langsung dibaca. "Kurang lebih begitu."
Elena menggeleng pelan sambil menutup mapnya. "Kamu aneh."
"Aku sering dengar itu." Leon tidak tersinggung sama sekali.
Ruangan kembali sunyi beberapa detik, sunyi yang tidak canggung, sunyi dua orang yang sudah cukup nyaman untuk tidak mengisinya dengan kata-kata yang tidak perlu.
Lalu Leon bersandar sedikit ke kursinya.
"Analisismu tadi." Ia membuka percakapan.
Elena mendongak. "Kenapa?"
"Lebih rapi dari yang aku kira."
Elena mengangkat alis. "Itu pujian atau sindiran?"
"Observasi."
"Seberapa rendah ekspektasimu sebenarnya?"
Leon menatapnya dengan ekspresi datar. "Tidak terlalu tinggi."
Elena tertawa pendek, tawa yang keluar sebelum ia sempat menahannya. "Karena aku delapan tahun jadi ibu rumah tangga?"
"Bukan." Leon langsung menggeleng.
"Lalu?"
"Aku belum pernah lihat kamu bekerja sebelumnya." Leon menjawab. "Sekarang sudah."
Elena menatapnya beberapa detik. "Dan?"
Leon berpikir sebentar, sebentar yang terasa seperti ia benar-benar mempertimbangkan jawabannya, bukan sekadar mengisi keheningan. "Kamu cepat membaca angka."
"Itu pujian?"
"Kalau kamu mau menganggapnya begitu."
Elena tertawa kecil lagi. Kali ini lebih panjang dari yang pertama. "Kamu tahu tidak cara memberi pujian yang normal?"
"Tidak terlalu." Leon menjawab tanpa ragu.
"Setidaknya kamu jujur." Elena menggeleng sambil merapikan map terakhirnya.
Leon berdiri dari kursinya dan merapihkan jasnya. Elena memperhatikannya sebentar tanpa disengaja, atau mungkin disengaja tapi tidak ia akui.
"Site visit minggu depan." Elena berkata.
Leon menoleh sedikit. "Di mana?"
"Lokasi proyek baru."
"Hari apa?"
"Selasa pagi."
Leon memasukkan satu tangan ke saku celananya, postur yang sangat Leon sekali, sangat tenang, sangat tidak terburu-buru. "Kamu yang memimpin?"
"Sepertinya."
"Kamu yakin?"
Elena menaikkan dagunya sedikit. "Kamu meragukan aku?"
"Bukan." Leon menggeleng. "Aku ingin melihat."
"Melihat apa?"
"Bagaimana kamu bekerja di lapangan." Matanya menatap Elena dengan cara yang berbeda dari cara ia menatapnya sepanjang rapat tadi, bukan cara investor yang mengevaluasi, bukan cara mitra bisnis yang mempertimbangkan. Sesuatu yang lain yang tidak punya nama yang tepat tapi terasa berbeda.
Elena tersenyum tipis. "Datang saja kalau begitu."
"Kirim alamatnya."
Leon berjalan ke pintu.
Elena memperhatikan punggungnya beberapa detik tanpa bersuara.
"Leon."
Ia berhenti dan menoleh.
"Terima kasih." Elena berkata.
Leon mengerutkan keningnya sedikit. "Untuk apa?"
"Rapat tadi, kamu tidak menyulitkan ku."
"Aku memang tidak perlu banyak bertanya karena berkasmu sudah cukup jelas."
"Tetap saja, aku berterima kasih." Elena berkata pelan. "Sampai selesai. Kamu hanya diam memperhatikan."
Leon menatapnya sebentar, menatap dengan cara yang tidak bisa langsung dibaca tapi tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Itu bukan apa-apa."
"Kadang itu membuat menjadi sesuatu." Elena berkata.
Leon terdiam beberapa detik.
"Semoga menjadi sesuatu yang baik." Suaranya pelan, pelan yang berbeda dari cara ia bicara tadi, lebih seperti sesuatu yang keluar dari tempat yang lebih dalam dari sekadar percakapan biasa.
Elena tidak langsung menjawab.
Leon membuka pintu. Melangkah keluar. Lalu sebelum pintu benar-benar tertutup ia tersenyum sekilas.
Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.
Elena berdiri sendirian di tengah ruang rapat yang kosong itu, map masih di tangannya, kursi-kursi berantakan di sekelilingnya, dan senyum Leon yang masih ada di udara seperti tidak mau pergi.
Elena menarik napas pelan. Lalu berjalan ke pintu. Langkahnya terasa lebih mantap dari sebelumnya.