NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31 Kawung

Eid Mubarak! May Allah’s blessings be with us all today, tomorrow, and always. 🌙✨

Selamat Idulfitri! Semoga berkah Allah menyertai kita semua hari ini, esok, dan selamanya. Aamiin.

--Rama & Hawa--

...🌹🌹🌹...

Happy reading

Hawa berdecak kagum saat mata indahnya menyapu seisi ruang utama.

Meski dikenal religius, nyatanya keluarga Rama masih menjunjung tinggi budaya. Ada prinsip yang selalu mereka pegang: budaya yang mengajarkan budi pekerti dan bernilai luhur harus dilestarikan, sementara yang bertentangan dengan syariat mesti diluruskan.

"Ini motif batik ya, Te?" tanya Hawa sembari mengusap soko guru--tiang kayu yang berdiri kokoh tak jauh dari tempatnya duduk.

"Iya, Sayang. Itu motif Kawung," jawab Almira. Ia kemudian menjelaskan makna filosofis di balik motif tersebut dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti.

"Kawung itu bentuknya menyerupai empat bulatan dengan satu pusat di tengah," tutur Almira lembut, jemarinya ikut menyentuh ukiran di soko tersebut. "Filosofinya adalah pengendalian diri. Mengajarkan kita untuk selalu menjaga hati dan hawa nafsu agar tetap tertuju pada pusat kehidupan, yaitu Allah."

Almira menjeda sejenak, melirik Rama yang terdiam menyimak. "Sama seperti Rama. Meski sempat melenceng jauh dan kehilangan arah, akhirnya dia diingatkan untuk kembali ke pusatnya. Kembali ke fitrah sebagai hamba yang berserah."

Mendengar itu, Rama sedikit menunduk. Ada rasa haru yang menggelitik dadanya. Sementara Hawa menatap ukiran itu dengan pemaknaan yang lebih dalam. Kini ia mengerti, rumah joglo--hunian yang ditinggali keluarga Rama bukan sekadar bangunan kayu, melainkan saksi bisu perjuangan seorang lelaki untuk pulang ke jalan cahaya.

Rama bergeming. Meski wajahnya tampak tenang, benaknya tak henti melafazkan istighfar--sebuah permohonan ampun yang tulus kepada Sang Khalik.

"Setiap manusia punya masa lalu, Ram. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjemput masa depan." Almira mengusap bahu Rama dengan penuh kasih, seolah ia mengerti gejolak batin yang dirasakan oleh putranya.

Hawa meresapi setiap kalimat bijak yang dituturkan oleh Almira. Seketika ia mengalihkan atensinya penuh pada Rama dan menatap lelaki bermata teduh itu dengan binar ketulusan.

"Tante Almira benar, Ram. Karena itu, aku nggak mempermasalahkan masa lalumu," ucap Hawa lembut, seolah ingin menghapus beban di pundak Rama. "Sama sepertimu, aku pun tidak mencari kesempurnaan. Aku hanya ingin bersama seseorang yang bersedia terus berproses dan bertumbuh dalam ketaatan," imbuhnya dengan menekankan kata 'tidak'.

Kelegaan dan rasa bahagia menyentuh relung kalbu Rama, menuntun benaknya melafazkan syukur kepada Zat yang telah mempertemukannya kembali dengan Hawa--gadis yang memiliki ketulusan cinta.

"Kamu harus tahu, Wa... alasan putra Om mengganti nama panggilannya," suara berat Arya menginterupsi. Kemunculannya yang tiba-tiba dari balik pintu penghubung membuat Hawa sedikit terkejut.

"Dzaki Ramadan Bagaskara tidak lagi memakai nama panggilannya di masa kecil hingga SMA. Ia memilih dipanggil 'Rama' karena ingin membuka lembaran baru; membuang jauh-jauh sisa kenangan masa silam yang kelam," lanjut Arya sambil berjalan mendekat.

Ia kemudian duduk di sisi Almira, berbaur dengan mereka dalam suasana yang kian hangat.

"Rama atau Ramadan, sebuah nama yang mengandung filosofi mendalam," ia menjeda sesaat, menatap putra bungsunya dengan sorot mata bijak. "Ramadan bukan sekadar bulan suci, tapi bermakna 'membakar'. Harapan kami, nama itu menjadi pengingat bagi Rama untuk terus membakar dosa-dosa masa lalunya, menghanguskan keburukan yang pernah ada, hingga yang tersisa hanyalah jiwa yang bersih dan bercahaya."

Rama tertegun, baru menyadari bahwa abinya menyimpan doa sedalam itu di balik perubahan nama panggilannya.

"Sedangkan 'Rama' dalam bahasa Jawa berarti bapak atau pelindung. Kami ingin dia tumbuh menjadi lelaki yang bisa melindungi keluarganya, terutama wanita yang kelak akan menjadi makmumnya," tambah Arya sambil tersenyum penuh arti ke arah Hawa.

Hawa menunduk--menyembunyikan semburat merah yang terlukis di pipi, namun hanya sekian detik. Lantas ia mengangkat wajahnya perlahan untuk menanggapi perkataan Arya.

"Terima kasih, Om, sudah berkenan menjelaskan filosofi nama Rama," ucapnya yang dibalas anggukan hangat oleh Arya. "Tadi, putra Om sempat 'menyamar' jadi kuli panggul," imbuhnya--bermaksud menggoda Rama.

Atensi Almira dan Arya seketika terkunci pada putra bungsu mereka, seolah menuntut penjelasan.

"Tadi, aku sudah bilang kan, Wa? Aku nggak menyamar, hanya sedang belajar mengangkat beban," ujar Rama membela diri, membuat suasana kian cair.

Rama lantas bercerita tentang sosok Sultan Hamengkubuwono IX yang teramat merakyat. Beliau sering menyamar menjadi orang biasa demi melihat kondisi rakyatnya yang sebenarnya.

Pernah suatu ketika, sang Sultan dikira sopir dan dimintai tolong oleh seorang wanita paruh baya untuk menggendong bakul beras. Alih-alih marah, beliau justru membantu dengan ikhlas dan menolak upah, yang malah membuat wanita itu sempat bersungut-sungut karena merasa pemberiannya ditolak.

"Menurutku, beliau adalah Umar bin Khattab-nya Yogyakarta," lanjut Rama dengan binar kekaguman. "Ada kesamaan yang sangat nyata antara keduanya. Jika Sayyidina Umar rela memanggul sendiri karung gandum di kegelapan malam demi rakyatnya yang kelaparan, maka Sultan pun tak ragu memanggul bakul beras milik seorang pedagang pasar tanpa pernah mau menunjukkan siapa dirinya."

Rama menjeda, menatap Hawa dan kedua orang tuanya bergantian. "Keduanya sama-sama memegang prinsip bahwa kepemimpinan adalah pengabdian, bukan ajang untuk disanjung. Mereka tidak merasa rendah saat melakukan pekerjaan kasar, karena bagi mereka, kemuliaan itu letaknya pada manfaat yang diberikan, bukan pada jubah atau mahkota yang dikenakan. Seperti semboyan Ngarsa Dalem: Takhta untuk Rakyat, yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak segan membantu rakyatnya meski dalam hal yang dianggap kecil."

"Masya Allah," gumam Almira lembut, merasa bangga dengan cara pandang putranya yang kini kian dewasa.

Arya mengangguk pelan, raut wajahnya tampak teduh namun berwibawa saat menatap sang putra. Ia meletakkan tangan di bahu Rama, memberikan tekanan lembut seraya menyalurkan dukungan seorang ayah.

"Benar, Ram. Meneladani mereka bukan berarti kita harus selalu memanggul beras di pasar," tutur Arya dengan suara baritonnya yang tenang. "Tapi, teladanilah ketulusan dan kerendahan hati mereka. Seorang laki-laki itu dinilai dari seberapa besar manfaatnya bagi orang lain, bukan dari seberapa tinggi ia memandang dirinya sendiri."

Arya beralih menatap Hawa sejenak, lalu kembali ke Rama. "Jadilah seperti mereka yang 'besar' karena pengabdiannya. Teruslah berproses untuk menjadi pelindung yang kuat, namun tetap memiliki hati yang lembut. Karena kelak, tanggung jawabmu bukan lagi sekadar memanggul beban di pundak, tapi memanggul amanah untuk membimbing keluarga menuju rida-Nya."

Kalimat penutup dari Arya seolah mengunci suasana haru di ruang utama joglo itu. Rama hanya terdiam, meresapi setiap kata yang dituturkan oleh abinya sebagai bekal untuk langkah barunya bersama Hawa.

Hawa tertegun. Dadanya berdesir hebat mendengar nasihat bijak dari calon ayah mertuanya. Ia tidak hanya terkesan oleh cara Arya mendidik Rama, tapi juga merasa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan keluarga yang menempatkan adab di atas segalanya.

Ada rasa haru yang membuncah saat ia menyadari bahwa lelaki yang akan menemaninya kelak, dibentuk oleh tangan seorang ayah yang sangat memahami arti pengabdian.

Hawa melirik Rama sekilas; di matanya, sosok 'sang jenderal' masa kecilnya itu kini bermetamorfosis menjadi pria yang jauh lebih matang dan teduh.

"Masya Allah, Om. Nasihat yang sangat indah," bisik Hawa tulus. "Aku jadi merasa kecil, tapi di saat yang sama, aku merasa sangat beruntung bisa belajar banyak hal baru di sini."

Arya mengulas senyum, begitu juga Almira.

Bagi Hawa, rumah joglo yang saat ini disinggahinya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan madrasah pertama yang akan membimbingnya menjadi sosok yang lebih baik.

Segala keraguan yang sempat mampir di hatinya kini benar-benar luruh, digantikan oleh keyakinan bahwa keputusannya untuk melangkah bersama Rama adalah ketetapan terbaik yang Allah gariskan.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Najwa Aini
Aku bacanya telat banget..maaf ya..
aku vote deh..
Najwa Aini
Baarokallaahuu
Najwa Aini
eh pecah banget candaanmu Rama
Najwa Aini
Aku kok turut bahagia ya
Najwa Aini
Nahhh begitu non Hawa...Ambil sisi positifnya ya
Najwa Aini
Rama. aku udah lama pingin alphard..eh kamu udah punya duluan tanpa pamit
muthia
mertua idaman
Ayuwidia: Bener banget, Kak 😊
total 1 replies
muthia
ulat bulu mulai beraksi
Najwa Aini
Nah kann..Rama kalau udah mode kayak gini aku langsung terbayang dia pakai jubah dan surban...ala² ustadz milenial gitu...atau pakai kupluk juga boleh..ala² ustadz tenar
Ayuwidia: Wkkk, dia sukanya pake kemeja atau pake atasan Koko putih, Kak. Kaya' Ustadz Denis Liem 😄
total 1 replies
Najwa Aini
Ini akal²an si autor si Dzaki atau si Rama gak diikutkan. padahal itu momen yg ditunggu
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Mila Mulitasari
lah udah termasuk obsesi ga si tu thor maksa banget heran, namanya ulat dimana aja bisa merayap, moga aja rama cepat membasmi ulat2 gatal, maaf thor esmosi saya kalau masalah ulat🤭
Ayuwidia: hiyaaa, Kak 😆
total 3 replies
Mila Mulitasari
pliss jgn ada orang ke 3 baru aja mereka melangkah bersama masa udah ada ulat nangka
Ayuwidia: Justru untuk menguji kesungguhan cinta dan kesetiaan seorang Dzaki Ramadan Bagaskara, Kak 😉
total 1 replies
muthia
Alhamdulillah🙏
Mila Mulitasari
alhamdulillah otw menuju qobiltu ini😍
Ayuwidia: Insyaallah, semoga ya, Kak 🥰
total 1 replies
Ririn Rira
Nungguin reaksi Damar lagi nih 🤭
Ayuwidia: Hiyaaa 😄
total 1 replies
Ririn Rira
Akhirnya restu sudah di kantongi, Rama dan Hawa kebalikan dari Jehan dan Sebria🥰
Ririn Rira: Iya kak mohon maaf lahir batin juga ya
total 2 replies
Ririn Rira
Ada aja cobaan nya semoga Hawa nggak parah
Ririn Rira
Sedalam itu makna dari nama seorang Rama
Ririn Rira
Nggak sabar pengen tau gimana reaksi mama nya Hawa kalau tau Rama itu siapa
Ririn Rira
Akhirnya Hawa mulai sadar 🤭
Ayuwidia: setelah sekian purnama amnesia 😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!