Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 : Kencan Yang Canggung
Keesokan harinya, suasana istana terasa sedikit lebih ringan.
Tidak ada rapat. Tidak ada ketegangan politik.
Hanya… waktu yang perlahan mengalir.
Ferisu berjalan di koridor dengan santai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar memiliki waktu luang.
Dan itu—langsung dimanfaatkan seseorang.
“F-Ferisu!” Sebuah suara memanggil dari belakang.
Ferisu menoleh.
Dan di sana berdiri Erica.
Erica berdiri beberapa langkah darinya. Tangannya saling menggenggam di depan dada. Tatapannya… tidak berani menatap langsung.
“Erica?” Ferisu sedikit memiringkan kepala. “Ada apa?”
Erica terdiam beberapa detik. Seolah mengumpulkan keberanian.
Lalu—
“Ka-kau… hari ini kosong, kan?”
Ferisu mengangguk.
“Iya.”
Erica langsung menoleh ke samping. Wajahnya mulai memerah.
“Baik… bagus…”
Ia menghela napas cepat.
Lalu tiba-tiba—
“Jadi… temani aku keluar!”
Ferisu berkedip.
“Keluar?”
“Iya!” jawab Erica cepat. “Jangan tanya macam-macam!”
Ia menunjuk Ferisu dengan wajah merah.
“Ini cuma… karena kemarin kau janji! Jadi aku cuma… menagih itu saja!”
Nada suaranya tinggi.
Tapi—jelas sekali kalau dia gugup.
“Bukan berarti aku ingin menghabiskan waktu denganmu atau apa!” lanjutnya cepat.
“Ini hanya… ya… hanya kewajibanmu sebagai tunanganku!”
Ferisu menatapnya beberapa detik.
Lalu—tersenyum tipis.
“Baiklah.”
Jawaban itu sederhana. Tapi membuat Erica terdiam.
“...Hah?”
“Bukankah kau yang mengajakku?” jawab Ferisu santai.
Erica berkedip. Lalu langsung membuang muka lagi.
“Ya-ya sudah, cepat!”
Ia berbalik, mulai berjalan lebih dulu.
“Jangan sampai aku menunggu lama!”
Tak lama kemudian, keduanya keluar dari istana. Tanpa pengawal. Tanpa formalitas. Hanya mereka berdua.
...----------------...
Kota Asterism terlihat hidup. Orang-orang berjalan santai. Beberapa pedagang membuka lapak. Anak-anak berlari kecil sambil tertawa.
Dan di tengah semua itu—Ferisu dan Erica berjalan berdampingan.
Namun… suasana di antara mereka—canggung.
Erica berjalan sedikit lebih cepat. Ferisu mengikuti di sampingnya. Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.
“Ada tempat tujuan?” tanya Ferisu akhirnya.
Erica langsung menjawab—
“Tidak!”
Lalu terdiam.
Wajahnya makin merah.
“Aku cuma… ya… ingin jalan saja!”
Ferisu tidak memaksa. Ia hanya menyesuaikan langkahnya. Dan perlahan—suasana mulai berubah.
Erica mulai melirik ke arah toko-toko, perhiasan kecil, makanan manis, kain berwarna cerah
Namun setiap kali Ferisu menyadarinya—ia langsung memalingkan wajah.
“Jangan salah paham! Aku tidak tertarik!”
Ferisu hanya tersenyum kecil.
Saat melewati sebuah stand makanan—aroma manis tercium.
Erica berhenti. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup terlihat.
Ferisu menghentikan langkahnya. “Erica.”
“...Apa?”
“Kalau mau, kita bisa mampir.”
Erica langsung menggeleng cepat.
“Tidak perlu! Aku tidak—”
Perutnya berbunyi pelan.
Keduanya terdiam.
Erica membeku di tempat. Wajahnya… merah total.
Ferisu menahan tawa kecil.
“Ayo.”
Ia berjalan ke arah stand itu.
Erica masih diam beberapa detik.
Lalu—
“Tu-tunggu!”
Ia menyusul dengan langkah cepat.
Hari itu—mereka berjalan bersama. Tanpa tekanan. Tanpa peran sebagai raja dan bawahan.
Hanya—Ferisu dan Erica.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama—Erica benar-benar tersenyum.
Meski—ia tetap berusaha menyembunyikannya.
Aroma manis dari makanan yang baru dimasak memenuhi udara.
Gerobak kecil itu dipenuhi berbagai camilan sederhana—roti hangat dengan lapisan gula, buah yang dilapisi karamel, dan minuman hangat yang mengepul pelan.
Ferisu memesan tanpa banyak bicara.
Sementara itu—Erica berdiri di sampingnya, berusaha terlihat tenang.
Padahal jelas sekali—ia sedang menahan rasa malu.
“Ini.”
Ferisu menyerahkan satu tusuk camilan manis ke arah Erica.
Erica menatapnya sebentar.
“Aku tidak bilang aku mau.”
“Tapi kau berhenti di sini.”
“Cuma kebetulan!”
Ferisu tidak menjawab. Ia hanya tetap mengulurkan tangannya. Beberapa detik berlalu.
Akhirnya—Erica mengambilnya. Pelan.
“Terima kasih.” Suaranya sangat kecil. Hampir tidak terdengar.
Mereka berjalan lagi.
Namun kali ini—tidak se-canggung sebelumnya.
Erica menggigit camilan itu sedikit demi sedikit. Sesekali—tanpa sadar, ekspresinya melembut. Ferisu melihatnya dari samping. Dan tersenyum tipis.
“Enak?” tanya Ferisu.
Erica langsung bereaksi.
“B-biasa saja!”
Ia memalingkan wajah.
“Tapi… ya… tidak buruk.”
Ferisu mengangguk ringan.
“Syukurlah.”
Beberapa langkah kemudian—Erica tiba-tiba membuka suara lagi.
“Ferisu…”
“Hmm?”
“Kau… benar-benar akan pergi ke Elvengarden, ya?”
Nada suaranya berubah. Tidak lagi tinggi. Tidak lagi defensif. Lebih… pelan.
“Iya,” jawab Ferisu singkat.
Ia menatap ke depan.
“Ini penting.”
Erica menunduk sedikit.
“Aku tahu.”
Angin berhembus pelan. Membuat rambut Erica sedikit bergoyang. Ia menggenggam ujung bajunya.
“Cuma…” Ia berhenti sejenak. Seolah ragu untuk melanjutkan. “Aku tidak suka.”
Ferisu menoleh sedikit. “Tidak suka?”
Erica mengangguk pelan. Masih tidak menatapnya. “Bukan soal elf atau apapun…”
Suaranya semakin kecil. “Aku hanya tidak suka kau pergi ke tempat yang berbahaya… tanpa aku.”
Langkah mereka melambat. Ferisu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Erica. Melihat—bagaimana gadis itu berusaha keras menyembunyikan perasaannya.
“Aku akan kembali.” Sederhana. Tapi tegas.
Erica menggigit bibirnya. “Itu bukan jawaban yang aku mau.”
Ferisu menghela napas pelan. “Kalau kau ikut… aku justru akan lebih khawatir.”
Erica langsung menoleh. “Kenapa!?”
“Karena aku harus melindungimu juga.” Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Erica membeku. Wajahnya memerah lagi. “T-ti-tidak perlu dilindungi! Aku kuat!”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, jangan bilang begitu!”
Namun—ia tidak benar-benar marah.
Mereka kembali berjalan.
Lebih pelan.
Lebih dekat.
Tanpa sadar—jarak di antara mereka semakin menyempit.
Mereka sampai di sebuah taman kecil. Air mengalir tenang di sungai kecil. Bangku kayu berada di bawah pohon rindang.
Erica berhenti. “Kita di sini saja sebentar.”
Tanpa menunggu jawaban—ia duduk lebih dulu.
Ferisu ikut duduk di sampingnya.
Tidak terlalu dekat.
Tapi juga tidak jauh.
Beberapa saat—tidak ada yang berbicara.
Hanya suara air.
Dan angin.
Lalu—Erica membuka suara.
“Ferisu…”
“Iya?”
Ia akhirnya menoleh. Menatap langsung. Untuk pertama kalinya hari itu.
“Kau tidak boleh mati.” Sederhana. Langsung. Tanpa basa-basi.
Ferisu sedikit terdiam. Lalu tersenyum tipis.
“Ya, aku tidak akan mati.”
Erica mengalihkan pandangan lagi.
“Bagus.”
Ia menyilangkan tangan.
“Karena… kalau kau mati…”
Ia berhenti.
Lalu berkata pelan—
“Aku akan marah.”
Ferisu tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya—Erica tidak membantah.
Di bawah bayangan pohon itu—waktu berjalan lebih lambat. Dan tanpa mereka sadari—hubungan mereka mulai semakin dekat.