Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 11 +
Julian yang sudah berhasil melewati perizinan dari Pramudita tersenyum sumringah saat ini. Tangan besarnya menggenggam tangan mungil milik Ara. Setelah memesan tiket nonton film horor, keduanya sekarang duduk berdampingan di kursi bioskop.
Adegan demi adegan berputar secara bergantian di depan sana. Ara sesekali berlindung di balik lengan Julian saat hantu nya muncul.
"Tidak usah takut," bisik Julian. Ara mengangguk patah-patah, satu tangannya memegangi lengan Julian sedangkan tangan lainnya di genggam pemuda itu.
"Kak Julian enggak takut?" Ara ikut berbisik yang mana membuat Julian terkekeh kecil. "Enggak dong," jawab nya.
Adegan kali ini tidak seram bagi Ara tapi seram bagi Julian. Dirinya tidak menyangka film horor ini mengandung adegan dewasa. Pemain utama bercumbu dengan rekannya yang sama-sama terjebak di sebuah kamar.
Julian melirik wajah Ara. Tapi ekspresi gadis itu terlihat biasa saja tepatnya terlihat polos seperti biasanya. Namun saat Ara tiba-tiba menoleh ke arahnya, Julian begitu terkejut. Posisi wajah mereka lumayan dekat.
"Kak?"ucap Elara
Pandangan Julian jatuh kepada bibir merah muda alami milik Ara. Dirinya menelan ludah kasar membuat jakun nya turun naik. Ara tersenyum miring dalam hatinya.
Dengan sengaja, Ara menyentuh jakun Julian.
"Kok ini bisa gerak sih?"tanya Elara
Jari telunjuk Ara sengaja ia eluskan secara lembut Julian pun menahan tangan Ara. "Gak boleh sentuh sembarangan Ara." suara serak-serak basah itu membuat Ara merinding.
"Maaf," Ara menundukkan kepalanya. Tapi Julian malah mengangkat dagu Ara dengan jarinya. Membuat netra kedua nya kembali beradu tatap.
Julian kembali menurunkan pandangan nya ke bibir Ara. la mengusap bibir itu menggunakan jempolnya. Sensasi lembut dan agak hangat Julian rasakan. Ara yang di perlakukan seperti itu hanya memasang wajah polosnya. Namun hatinya jedar jedor tak karuan, tidak sabar merasakan ciuman dari Julian.
"Kak Julian," panggil Ara dengan pelan.
"Hm," sahut Julian. Jempol Julian bergerak menerobos masuk ke dalam mulut Ara. Tentu saja Ara pura-pura kaget dengan itu. Apalagi saat jari Julian menekan-nekan lidahnya.
"Emut jari kakak, Ara." pinta Julian dengan suara beratnya.
"Mawsudnyaw?" tanya Ara polos.
"Isap jari kakak," pinta Julian lagi. Ara mengerjapkan matanya beberapa kali, namun segera melakukan apa yang Julian minta. Ara menghisap ibu jari itu seperti ia menghisap dot.
Julian yang merasakan pergerakan itu tiba-tiba memutar jarinya memainkan. lidah Ara. "Tetap hisap," bisik Julian mutlak.
"Hngnhhh.."
Akibat ulah Julian, Ara mengeluarkan suara lenguhannya. Ia merasa geli saat ia menghisap jari itu tapi jari itu malah memainkan lidahnya.
Melihat saliva milik Ara tiba-tiba merembes ke dagu, Julian memajukan wajahnya lalu menjulurkan lidahnya guna menjilat itu. Jarinya juga mendorong rahang atas Ara dari dalam membuat mulut Ara terbuka.
"Emmhhh.."
Ciuman yang di dominasi Julian itu terjadi beberapa menit. Bahkan Ara sendiri sampai berpindah ke pangkuan Julian tanpa Ara sadari.
"Bibir lo manis gue suka." Mendapatkan bisikan seperti itu, pipi Ara memerah. Julian mencium itu dengan gemas.
Dengan sekali gerakan, Julian mengangkat tubuh Ara. Membawa nya keluar dari bioskop. "Film nya belum selesai!" protes Ara. Ara masih ingin menonton lebih tepatnya, supaya Julian semakin mencium nya.
"Kita akan makan, Ara."ucap Julian
Julian masuk ke dalam mobil nya dengan Ara di pangkuannya. "Ara kesel pokok nya!" cemberut Ara sambil bersedekap dada.
Julian tersenyum gemas. la menjalankan mobilnya meninggalkan area itu, dia akan membawa Ara ke restoran bintang lima dengan ruangan pribadi.
Restoran
"Bagaimana enak?"tanya Julian dengan lembut
"Enak banget!"jawab Elara dengan semangat
Julian memesan banyak makanan untuk Ara. Karena melihat Ara bahagia, Julian juga ikut bahagia. "Kak Julian, apa Ara boleh minta yang tadi lagi?"
"Yang tadi apa?" tanya Julian bingung.
"Ara mau bibir Ara di makan sama kak Julian lagi."ucap Elara lantang
"Uhuk!... Uhuk!"
"Aduh kak Julian hati-hati dong makan nya!"ujar Elara
Julian menatap tak percaya ke arah Ara karena permintaan gadis itu. Secara tak langsung Ara meminta ciuman itu lagi kan? Pikir nya.
"Boleh, kalau Ara mau sekarang. Akan kakak lakukan."
Ara tersenyum sumringah. Dengan cepat ia duduk ke pangkuan Julian. Mengalungkan tangannya ke leher pemuda itu. "Ayo makan bibir Ara!"
Netra Julian berkilat tajam. Ia segera meminum anggur merah yang ia pesan. Namun tidak menelan nya langsung. Melihat Julian yang mendekatkan wajahnya, Ara membuka sedikit mulut nya.
Rasa manis minuman langsung menyapa lidahnya, namun ada rasa sedikit menyengat saat Ara meneguknya.
"Hengghh.. ahh.."
Ternyata tangan Julian tidak diam saja. Diam-diam tangan itu rupanya masuk ke dalam kaos Ara. Mencari sesuatu. yang menonjol. Setelah menemukan itu, dia meremas-remas nya dengan gerakan lembut.
"Nhhh.." mata Ara memejam merasakan permainan Julian. Ara tiba-tiba merinding saat tangan Julian yang agak kasar itu menyentuh langsung aset nya yang mungil.
"Ahh kak Junh"
Ciuman itu Julian lepaskan membuat desahan Ara terdengar jelas. Melihat wajah Ara yang memerah, Julian semakin berani memainkan Ara. Julian dengan sengaja mengapit benda kecil itu menggunakan jari nya lalu melakukan gerakan memilin.
"Ahhh kakhhh"
Tenggorokan Ara mendadak kering.
la memang mengharapkan ciuman dengan Julian tapi ini kelewatan. la menahan tangan Julian yang asik memainkan dada mungil nya.
"Kak u-udah.." cicit Ara. Julian yang sadar apa yang ia lakukan berhenti. Mengeluarkan tangannya dari dalam sana tapi ia benarkan dahulu bra milik Ara.
"Maafin kakak Ara," bisik Julian sambil memeluk Ara.
Ara membalas pelukan itu. "Ara sayang sama kak Julian."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambunggggggggggg
semangat buat auto ya 💪💪💪