NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maaf dalam Sunyi

Malam di Trowulan seolah membeku di sekitar gubuk taman penginapan itu. Angin yang berembus di antara dahan pohon kamboja tidak lagi membawa hawa dingin, melainkan keheningan yang menyesakkan dada.

Di bawah cahaya lampion yang bergoyang pelan, Subosito menatap punggung Larasati yang tampak begitu rapuh di balik pakaian putihnya.

Pengakuan gadis itu tentang kematian keluarga dan hancurnya Padepokan Gagak Hitam telah meruntuhkan dinding perlindungan batin Subosito.

Selama ini, Subosito menganggap dirinya adalah korban tunggal dari takdir yang kejam. Pemuda itu mengira api Garuda Paksi hanya membakar masa depannya sendiri.

Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya: api yang sama telah merenggut satu-satunya tempat bernaung bagi seorang gadis yatim piatu yang buta.

Dengan tangan yang masih gemetar karena gejolak emosi, Subosito memungut sebuah potongan kayu jati yang jatuh di dekat kakinya. Dia menggenggam tangan Larasati, lalu membungkuk, menggoreskan aksara di atas tanah berpasir yang diterangi cahaya kuning temaram.

"Maafkan aku atas api malam itu!"

Goresan itu kasar dan dalam, melambangkan luka yang menganga di dalam jiwa. Subosito tahu Larasati tidak bisa melihat tulisan itu dengan mata jasmaninya. Namun, dirinya juga tahu bahwa bagi seseorang seperti Larasati, penglihatan sejati tidak berasal dari kornea yang bening, melainkan dari getaran prana yang terpancar dari niat seseorang.

Larasati menjawab hanya dengan, kepalanya yang tertunduk, helai rambut yang halus menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Gadis buta itu tidak segera merespons, namun napasnya yang tadi tersengal mulai melambat.

Mata batinnya menangkap setiap guncangan emosi yang keluar dari tubuh Subosito—sebuah gelombang penyesalan yang begitu murni, sedalam samudera dan sepanas inti bumi. Baginya, tulisan di tanah itu bergetar seperti suara yang merintih di dalam kegelapan.

Subosito meletakkan potongan ranting kayu itu perlahan, seolah takut suaranya akan memecah kesunyian yang suci ini. Dirinya merasa begitu kecil di hadapan ketabahan Larasati.

Perlahan, Larasati menggeser duduknya di atas bangku bambu, merapat ke arah Subosito. Gerakannya ragu namun pasti, kehadiran Subosito di sampingnya terasa seperti perapian di tengah badai salju—hangat, semakin hangat, dan entah bagaimana, terasa sangat dikenal.

Subosito merasakan dorongan batin yang tak terbendung untuk melindungi. Dirinya tak lagi memedulikan penyamarannya sebagai Sura sang kuli bisu. Dia hanya ingin menjadi manusia bagi manusia lainnya. Dengan gerakan yang sangat lembut, Subosito melingkarkan lengannya di bahu Larasati, menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Sebuah pelukan yang penuh dengan beban cerita. Di dalamnya tersimpan penyesalan atas kematian kawan-kawan di padepokan, janji perlindungan dari ancaman Kala Dirja, dan rasa syukur yang tak terhingga karena takdir mempertemukan mereka kembali.

Larasati merenung dalam dekapan itu. Tongkat cendana yang selama ini menjadi satu-satunya penopang hidupnya jatuh berdenting ke tanah, terabaikan. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun sejak malam pembantaian keluarganya oleh Organisasi Sayap Hitam, Larasati kembali merasakan perlindungan fisik dari seorang pria.

Pelukan ini berbeda dengan perlindungan Resi Bhaskara yang dingin dan penuh misteri; pelukan Subosito adalah pelukan seorang kesatria yang terluka namun tetap ingin menjaga.

"Hangat!" bisik Larasati sangat lirih, nyaris menyerupai desiran angin. "Apinya tidak lagi membakar, Subosito. Apinya, mendekap!"

Subosito memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh membasahi bahu Larasati. Di bawah cahaya lampion yang temaram, dua jiwa yang hancur oleh masa lalu itu mencoba saling memungut kepingan diri mereka.

Mereka adalah dua pelarian dari tragedi yang sama, dipertemukan di jantung Majapahit untuk sebuah alasan yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Hening kembali meraja, namun kali ini bukan keheningan yang menyakitkan. Ada kekuatan baru yang mulai tumbuh di antara mereka.

Subosito menyadari bahwa tujuannya memenangkan Sayembara Jagat Raya bukan lagi sekadar membersihkan namanya atau membalas dendam pada Mangkubumi. Kini, dia memiliki seseorang yang harus dia pastikan tetap selamat hingga akhir kompetisi.

Beberapa saat kemudian, Larasati melepaskan pelukannya dengan lembut. Dia memungut kembali tongkat cendananya, seolah-olah kembali memungut takdirnya sebagai kesatria buta.

"Malam ini akan segera berganti, Sura," ucap Larasati, kembali memanggilnya dengan nama samaran demi keamanan mereka. "Besok, Majapahit akan menuntut lebih banyak dari kita. Babak 16 besar bukan lagi tentang bertahan hidup di hutan atau menjaga keseimbangan di atas air. Besok adalah tentang bagaimana kita menghadapi ketakutan terdalam kita yang diwujudkan dalam bentuk lawan!"

Subosito mengangguk, kali ini dengan tekad yang lebih tajam. Pemuda itu mengusap sisa air mata di wajahnya dan juga air mata di pipi Larasati.

Namun, matanya kini tidak lagi redup. Ada binar emas yang terkendali, sebuah janji bahwa dirinya tidak akan membiarkan api itu menghancurkan apa yang tersisa.

Larasati berdiri, mengetukkan tongkatnya ke lantai taman. "Beristirahatlah. Kala Dirja tidak akan menyerang malam ini, tapi dia akan menunggumu di arena. Ingat, dia adalah cermin dari apa yang bisa terjadi padamu jika kau membiarkan kekuatan itu menguasai nuranimu!”

Dengan langkah yang tenang, Larasati meninggalkan taman, menghilang di balik kabut tipis yang mulai turun menyelimuti penginapan.

Subosito menatap kepergiannya, lalu melihat kembali ke arah tulisan di tanah. Dengan kakinya, dia menghapus tulisan itu hingga rata dengan pasir, menghilangkan jejak rahasia mereka dari mata dunia.

Malam itu, di dalam kamarnya yang sempit, Subosito tidak langsung tidur. Pemuda itu duduk bersila, melakukan meditasi tingkat tinggi untuk menyelaraskan energi Garuda Paksi dan Gada Sungsang Aji.

Subosito harus mencapai tingkat pengendalian di mana dirinya bisa menggunakan kekuatannya tanpa membongkar penyamarannya. Pemuda itu harus menjadi bayangan yang membawa cahaya.

***

Di luar penginapan, sayup-sayup terdengar suara baris-berbaris prajurit Majapahit yang berpatroli. Kota Trowulan sedang bersolek menyambut babak 16 besar yang akan diadakan di Alun-Alun Utama, di depan singgasana Maharaja.

Tantangannya akan jauh lebih berat, karena para peserta yang tersisa kini adalah para elit yang memiliki kemampuan khusus.

Subosito mengepalkan tangannya. Dia memikirkan Kala Dirja, sang Naga Sisik Perak yang memiliki hubungan misterius dengan gurunya. Dia memikirkan Mangkubumi yang mungkin sedang tersenyum puas di Kadipaten, mengira rencananya berjalan mulus. Dan dia memikirkan Larasati, alasan barunya untuk tetap berdiri tegak.

Misteri esok hari masih menyelimuti, namun untuk pertama kalinya sejak meninggalkan lereng Gunung Lawu, Subosito tidak merasa sendirian.

Pertemuan di taman telah mengubah segalanya. Maaf yang terucap dalam bisikan jiwa menjadi fondasi baru bagi persahabatan Subosito dan Larasati. Namun, waktu terus berjalan, dan sayembara tidak mengenal belas kasihan.

Fajar menyingsing di Trowulan, membawa kabar tentang aturan baru dalam babak 16 besar yang akan menguji tidak hanya fisik, tetapi juga mental para peserta. Siapakah lawan yang akan dihadapi Subosito selanjutnya? Dan mampukah sang kuli bisu menahan intimidasi dari para pembaca pikiran kerajaan yang semakin ketat mengawasi setiap gerak-geriknya?

Simak terus kelanjutan kisahnya dalam 'Subosito'.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!