Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai, Mi Instan, dan Runtuhnya Tembok Terakhir
Montreal benar-benar sedang tidak bersahabat. Suhu drop sampai minus 20 derajat, dan badai salju yang oleh warga lokal disebut blizzard sedang mengamuk di luar sana. Tapi di dalam studio bunga L’Aube de Sheilla, suasananya justru sedang mengalami pergeseran tektonik yang luar biasa.
Bulan keempat ini bukan lagi soal Ardhito yang sok jadi pahlawan atau Sheilla yang terus-menerus pasang tameng. Ini adalah bulan di mana kemanusiaan mereka benar-benar diuji.
Sore itu, listrik di sebagian wilayah Plateau mulai kedip-kedip. Sheilla sedang sibuk memindahkan stok bunga mawar liar ke ruangan yang lebih hangat supaya tidak membeku. Ardhito, yang sekarang sudah hafal jadwal "minum" setiap jenis bunga, sibuk membantu tanpa banyak bicara.
"Dhito, hati-hati rak yang itu agak goyang," seru Sheilla.
Baru saja kalimat itu selesai, BRAK!
Sebuah pot keramik besar dari rak atas jatuh karena getaran angin badai yang menghantam jendela. Bukannya menghindar, Ardhito refleks pasang badan untuk melindungi mawar-mawar pesanan pelanggan yang ada di bawahnya. Pot itu pecah berkeping-keping di dekat kaki Ardhito, dan pecahan keramiknya menggores lengan bawahnya cukup dalam.
Sheilla melompat kaget. "Dhito! Kamu bodoh ya? Kenapa malah bunganya yang dijagain?"
Ardhito cuma meringis, memegangi lengannya yang mulai mengeluarkan darah segar. "Bunga itu... kamu merangkainya tiga jam, Sheil. Aku nggak mau kamu sedih kalau itu hancur."
Sheilla terdiam. Ada rasa kesal, tapi lebih banyak rasa sesak di dadanya. Dia menarik Ardhito ke kursi kayu di pojokan, mengambil kotak P3K yang sudah kayak barang wajib di antara mereka.
Saat Sheilla sedang membersihkan luka Ardhito dengan alkohol, suasana jadi sunyi banget. Cuma ada suara angin yang melolong di luar jendela. Ardhito menatap Sheilla yang wajahnya cuma berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
"Sakit?" tanya Sheilla pelan, tanpa mendongak.
"Dikit. Lebih sakit pas kamu bilang aku bodoh tadi," canda Ardhito, mencoba mencairkan suasana.
Sheilla nggak tertawa. Dia malah berhenti mengusap luka itu, matanya berkaca-kaca. "Aku takut, Dhito. Aku takut setiap kali ada kejadian kayak gini, aku ngerasa... aku bakal kehilangan lagi. Kamu datang ke sini, pelan-pelan masuk lagi ke hidupku, tapi aku masih sering bangun tengah malam cuma buat mastiin kalau ini bukan mimpi buruk yang bakal berakhir dengan darah lagi."
Ardhito menghela napas panjang. Dengan tangan yang tidak terluka, dia memberanikan diri menyentuh punggung tangan Sheilla. "Sheil, aku tahu aku punya utang banyak sama rasa aman kamu. Bulan keempat ini... aku ngerasa aku bukan lagi Ardhito yang punya segalanya. Aku cuma laki-laki yang pengen dapet maaf dari kamu supaya aku bisa tidur tenang."
Sheilla mendongak, dan untuk pertama kalinya dalam delapan bulan, dia membiarkan setetes air mata jatuh di depan Ardhito. "Aku sudah maafin kamu, Dhito. Tapi... aku belum bisa percaya sepenuhnya sama dunia. Dunia sering banget ambil apa yang aku sayang."
Malam makin larut, dan listrik benar-benar padam total. Suhu di dalam studio mulai turun drastis. Berbahaya kalau mereka tetap di sana. Akhirnya, Sheilla memutuskan untuk membawa Ardhito ke flatnya yang punya perapian kayu manual.
Malam itu, di tengah kegelapan yang cuma diterangi cahaya oranye dari api, Ardhito duduk di lantai beralaskan karpet bulu, sementara Sheilla sibuk merebus air di atas perapian untuk bikin mi instan satu-satunya makanan darurat yang mereka punya.
"Gila ya," Ardhito nyengir sambil melihat mi instan di dalam mangkuk keramik. "Kalau orang kantor di Jakarta lihat CEO-nya lagi kedinginan sambil makan mi instan di depan perapian di Canada, mereka pasti ngira aku sudah gila."
Sheilla ikut duduk di sampingnya, membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. "Emang kamu nggak nyesel? Hidup mewah di Jakarta kamu tinggalin cuma buat jadi asisten toko bunga yang sering aku omelin?"
Ardhito menyeruput kuah mi-nya, wajahnya kelihatan sangat tenang. "Sheil, di Jakarta aku punya kursi empuk, tapi hatiku keras kayak batu. Di sini, aku duduk di lantai, tapi aku ngerasa... lembut. Aku belajar kalau kebahagiaan itu bukan soal seberapa besar gedung yang aku punya, tapi seberapa lega aku bisa napas di samping orang yang beneran aku sayang."
Sheilla baru menyadari kalau Ardhito juga punya trauma. Tengah malam, saat Sheilla terbangun karena kedinginan, dia melihat Ardhito masih duduk di depan perapian yang hampir padam. Bahunya gemetar.
"Dhito? Kenapa belum tidur?"
Ardhito menoleh, matanya merah. "Aku kepikiran soal ayahku, Sheil. Dulu aku pikir aku jadi kayak dia keras, dingin, menang sendiri adalah cara buat bertahan hidup. Tapi pas aku liat luka di punggungku sendiri di cermin tadi... aku baru sadar kalau aku hampir jadi monster yang aku benci. Aku takut kalau aku balik ke Jakarta nanti, aku bakal berubah jadi monster itu lagi."
Sheilla mendekat, lalu duduk di samping Ardhito. Dia memberikan setengah selimutnya untuk menutupi bahu Ardhito. "Kamu nggak akan berubah jadi monster kalau kamu punya alasan buat tetep jadi manusia. Dan alasan itu... ada di sini."
Ardhito menatap Sheilla, lama banget. "Boleh aku peluk kamu? Cuma sebentar. Dingin banget, Sheil."
Sheilla sempat ragu sesaat, tapi kemudian dia mengangguk. Ardhito memeluknya pelukan yang sangat berbeda dari delapan tahun lalu. Tidak ada paksaan, tidak ada nafsu yang menggebu. Cuma dua orang yang sama-sama kedinginan dan butuh sandaran. Ardhito menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sheilla, dan Sheilla bisa merasakan napas Ardhito yang hangat sekaligus lega.
Salju mulai sedikit mencair. Ardhito sudah jauh lebih mahir merangkai bunga dia bahkan sudah bisa bedain mana Eustoma dan mana Lisianthus tanpa harus nanya tiga kali.
Sore itu, sebelum Ardhito pamit balik ke apartemennya sendiri, dia memberikan sebuah amplop kecil ke Sheilla.
"Apa ini?"
"Tiket konser jazz di pusat kota minggu depan. Aku tahu kamu suka banget jazz, dan aku mau kita kencan. Beneran kencan, Sheil. Bukan asisten nemenin bos, atau mantan istri nemenin mantan suami. Cuma Ardhito dan Sheilla."
Sheilla tersenyum, senyum paling lebar yang Ardhito lihat selama empat bulan ini. "Oke. Tapi jangan pakai jas mahal ya? Pakai sweater aja yang aku kasih kemarin."
Ardhito tertawa lepas. "Siap, Bos."
To Be Continue....
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --