Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Dengan cepat Mas Bram menarik paksa tanganku.
“Lepaskan, Mas! Alea nanti jatuh!” teriakku panik sambil berusaha melindungi bayi kecil di pelukanku.
“Aaagh! Kau ikut denganku, Rania! Kamu masih istriku!” bentaknya dengan mata merah dipenuhi amarah.
“Dasar gila! Aku gak mau, Mas!” seruku sambil memberontak.
Leon yang melihat itu langsung maju. Dengan cepat ia mendorong tubuh Mas Bram menjauh dariku. Hampir saja aku ikut terjatuh bersamanya jika Leon tidak sigap menahanku.
“Jangan sentuh dia!” tegas Leon sambil berdiri di depanku, seolah menjadi perisai.
Mas Bram terhuyung beberapa langkah ke belakang. Wajahnya semakin gelap menahan emosi.
“Mas, cukup. Aku sudah tidak ingin kembali,” ucapku lirih namun tegas.
Mata Mas Bram menatap Alea lama. Ada sesuatu yang bergejolak di sana—amarah, penasaran… dan mungkin sedikit keraguan.
“Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Rania,” katanya dingin..."aku akan kembali lagi ke sini" serunya sambil pergi
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Mas Bram.
“Dasar gila…” gumamku pelan, lebih kepada diriku sendiri.
Leon yang masih berdiri di dekatku menatap dengan wajah serius, seolah memikirkan sesuatu.
“Lebih baik kamu lebih hati-hati lagi, Rania. Aku takut Bram akan nekat,” ucapnya pelan namun penuh kekhawatiran.
Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sambil mengayun pelan tubuh Alea yang masih berada di pelukanku.
“Iya, Leon. Kamu tenang saja… semua akan baik-baik saja,” jawabku mencoba tersenyum, meskipun di dalam hatiku sebenarnya masih dipenuhi rasa cemas.
Leon menggeleng pelan.
“Kamu selalu bilang begitu,” katanya lirih. “Tapi aku tahu kamu sebenarnya takut.”
Aku terdiam.
Memang benar… ada rasa takut yang bersembunyi di dalam hatiku.
Bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk Alea.
Leon kemudian menatap Alea yang mulai terlelap di pelukanku. Tatapannya tiba-tiba menjadi lebih lembut.
“Kalau terjadi apa-apa… kamu harus langsung hubungi aku, Rania. Jangan mencoba menghadapi Bram sendirian.”
Aku mengangguk pelan.
“Iya.”
“Yaudah, aku berangkat kerja dulu. Hati-hati di rumah ya, cantik,” seru Leon sambil menatapku sekilas.
Aku bengong menatapnya yang sudah bersiap pergi.
“Dia bilang aku cantik?” batinku, sedikit terkejut.
Leon yang melihat ekspresiku langsung tersenyum tipis, seolah tahu apa yang kupikirkan.
“Jangan GR dulu,” katanya santai. “Aku mengucapkan itu untuk Alea, bukan Rania.”
Ia lalu menyentuh lembut rambutku sekilas sebelum berbalik menuju pintu.
Wajahku langsung memanas.
“Dasar dokter menyebalkan,” gumamku pelan, walau entah kenapa sudut bibirku malah ikut terangkat.
Leon berhenti sebentar di ambang pintu, menoleh ke arahku lagi.
“Tapi kalau dipikir-pikir…” katanya santai.
Aku menatapnya bingung.
Leon tersenyum tipis.
“Ibunya juga lumayan.”
“Leon!” seruku kesal.
Dia malah tertawa kecil sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Aku hanya bisa menggeleng sambil memeluk Alea yang masih tertidur di pelukanku.
Drrtt… drrtt… drrtt…
Ponselku bergetar di atas meja. Aku segera meraihnya dan melihat nama yang muncul di layar.
Arumi.
[“Hallo, Rum,” ]ucapku sambil menggendong Alea.
[“Ran, gila! Ini gila!” ]seru Arumi dari seberang telepon dengan napas terengah-engah.
Aku langsung mengernyit bingung.[ “Kenapa?”]
[“Nenek Lampir itu buat ulah!]
Aku semakin tidak mengerti. [“Nenek Lampir siapa, ih?” ]tanyaku heran.
[“Monika! Siapa lagi!”] jawab Arumi kesal.
[“Monika? Dia kenapa lagi?”] jantungku langsung berdebar tidak enak.
Arumi mendengus. [“Dia datang ke toko ayam geprek kamu, Ran.”]
[“Apa?” ]kagetku.
[“Iya! Dia marah-marah di sini, bilang kalau kamu perempuan perebut suami orang. Bahkan dia bilang bayi kamu itu bukan anak Mas Bram!”]
Tubuhku langsung menegang.
[“Apa-apaan sih dia…”] gumamku tidak percaya.
[“Bukan cuma itu,” lanjut Arumi dengan nada semakin kesal. “Dia juga ngomong ke orang-orang kalau kamu pura-pura jadi korban supaya Mas Bram balik lagi ke kamu.”]
Dadaku terasa panas mendengarnya.
[“Aku sumpah ya Ran, kalau dia masih di sini aku bisa jambak tuh rambutnya!”] gerutu Arumi.
Aku menghela napas panjang, mencoba menahan emosi.
[“Rum… kamu jangan berantem sama dia.”]
[“Lah terus aku diem aja? Dia udah jelek-jelekin kamu di depan banyak orang!”]
Aku menatap Alea yang masih tertidur tenang di pelukanku.
[“Biarin saja dulu, Rum,” ]kataku pelan.
[Astaghfirullah… sekarang dia udah pergi?] tanyaku cepat.
[Udah. Aku usir tadi], balas Arumi masih terdengar kesal.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
[Makasih ya, Rum… udah belain aku.]
[Ya iyalah! Masa aku diem aja lihat dia ngomong sembarangan tentang kamu], gerutunya.
Aku menatap Alea yang masih terlelap di pelukanku, wajah kecilnya terlihat begitu tenang.
[Yang penting kamu hati-hati, Ran. Kayaknya perempuan itu lagi cari masalah], lanjut Arumi.
[Iya… aku juga ngerasa gitu.]
[Kalau dia datang lagi ke rumah kamu gimana?]
Aku terdiam sebentar, memikirkan kemungkinan itu.
[Tenang aja, Rum. Leon juga udah bilang aku harus lebih hati-hati.]
Arumi langsung membalas cepat.
[Bagus kalau gitu. Tapi sumpah ya Ran, kalau dia berani macam-macam lagi… aku gak bakal diem.]
Aku tersenyum kecil membaca pesannya.
[Udah… jangan emosi terus. Nanti darah tinggi.]
[Ih kamu malah becanda!]
Aku terkekeh pelan.
Teleponku pun berakhir. Perlahan aku meletakkan ponselku di atas meja.
Rumah kembali sunyi.
Aku menatap Alea yang masih tertidur pulas di pelukanku. Napas kecilnya terdengar lembut, membuat hatiku sedikit lebih tenang.
“Kenapa sih hidupku jadi seribet ini…” gumamku pelan.
Aku bangkit dari kursi lalu berjalan menuju kamar. Dengan hati-hati aku membaringkan Alea di tempat tidurnya.
Tanganku mengelus lembut pipinya.
“Kamu harus jadi anak yang kuat ya, Alea,” bisikku.
Namun belum sempat aku beranjak jauh—
Tok… tok… tok…
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar dari luar.
Aku langsung menoleh ke arah pintu rumah dengan dahi berkerut.
“Siapa lagi?” gumamku pelan.
Perasaanku tiba-tiba tidak enak.
Apakah itu Monika..
atau justru mas bram lagi?
Aku enggan untuk langsung membuka pintu.
Perlahan aku melangkah mendekati jendela. Tanganku meraih sedikit ujung gorden lalu mengintip dari celah kecilnya.
Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
Aku mencoba melihat siapa yang berdiri di depan rumahku.
Dari celah gorden itu… terlihat seorang pria berdiri sambil menunduk menatap ponselnya.
Aku menyipitkan mata, mencoba memastikan.
“Aish, Pak Suseno? Mau apa dia?” gumamku pelan.
Aku pun segera membuka pintu utama.
“Siang, Bu Rania,” sapa Pak Suseno ramah.
“Siang juga, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku sopan.
Pak Suseno terlihat sedikit ragu. Ia menggaruk belakang kepalanya sebentar sebelum akhirnya berbicara.
“Silakan duduk, Pak,” seruku mempersilakan.
Pak Suseno mengangguk lalu duduk di kursi ruang tamu dengan raut wajah sedikit canggung.
Aku ikut duduk di seberangnya.
“Jadi begini, Bu Rania… saya diutus oleh Pak Bram,” ucap Pak Suseno pelan.
Aku langsung mengernyit.
“Mas Bram?” tanyaku heran.
****