NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Bab 31: Darah di Tanah Panti

Malam di pinggiran Tanjungbalai tidak pernah sesunyi ini. Biasanya, suara jangkrik bersahutan dengan tawa anak-anak panti yang berebut remote televisi tua. Namun malam ini, udara terasa statis, seolah-olah oksigen telah disedot keluar oleh ketegangan yang merayap di balik pepohonan gelap.

Arka berdiri di gerbang panti, memegang sebatang pipa besi berkarat yang ia temukan di gudang. Jaket kurirnya tersampir di bahu, basah oleh keringat dingin. Ia tidak lagi memiliki pandangan digital yang menghitung jumlah musuh atau memprediksi arah serangan. Di kepalanya hanya ada kesunyian yang mencekam—dan sebuah janji pada Ibu Fatimah bahwa tempat ini tidak akan runtuh.

"Mereka datang," bisik Arka.

Di ujung jalan yang minim penerangan, siluet tiga mobil SUV hitam muncul tanpa lampu utama. Mereka bergerak pelan, seperti pemangsa yang merayap di semak-semak. Arka bisa merasakan detak jantungnya menghantam rongga dada, setiap dentumannya seolah meneriakkan nama-nama yang ia lupakan, namun jiwanya tetap ingat.

Pintu-pintu mobil terbuka serempak. Belasan pria dengan penutup wajah turun, menggenggam pemukul bisbol dan parang yang berkilat terkena cahaya bulan sabit. Di tengah mereka, seorang pria dengan jas rapi yang tampak sangat kontras dengan lingkungan kumal itu melangkah maju. Hendra Wijaya tidak datang sendiri, tapi ia mengirimkan 'tangan kanannya' yang paling haus darah.

"Arka Pramudya," pria berjas itu bersuara, dingin dan meremehkan. "Tuan Hendra memberikan satu kesempatan terakhir. Serahkan chip itu, atau panti ini akan menjadi kuburan massal sebelum fajar."

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan genggamannya pada pipa besi hingga urat-urat di tangannya menonjol. Ia melangkah satu tindak ke depan, memposisikan dirinya tepat di tengah gerbang—satu-satunya penghalang antara para monster itu dan anak-anak yang gemetar di dalam.

"Hajar dia sampai lumpuh. Tapi jangan biarkan mati dulu. Tuan ingin dia menyaksikan panti ini terbakar," perintah pria berjas itu.

Serangan dimulai. Dua pria pertama menerjang dengan pemukul bisbol. Arka, tanpa bantuan kalkulasi Sistem, mengandalkan insting murninya. Ia merunduk, membiarkan pemukul itu menghantam angin, lalu mengayunkan pipa besinya ke arah pergelangan kaki lawan.

Brak!

Satu tumbang, namun lima lainnya langsung mengepung. Arka dikeroyok tanpa ampun. Sebuah hantaman keras mengenai punggungnya, membuatnya tersungkur mencium tanah panti yang berdebu. Rasa amis darah mulai memenuhi mulutnya. Ia merangkak bangun, namun sebuah tendangan di rusuknya kembali menjatuhkannya.

"Arka! Berhenti! Kumohon, berhenti!" teriakan itu datang dari beranda panti.

Sarah berlari keluar, mengabaikan larangan Ibu Fatimah. Ia melihat pria yang dulu ia remehkan, kini bersimbah darah demi melindungi sebuah bangunan tua yang tak berharga bagi dunia elit. Hati Sarah terasa seperti disayat sembilu. Rasa bersalahnya kini berubah menjadi ketakutan yang melumpuhkan.

"Ambil wanitanya!" teriak salah satu preman.

Dua orang pria kasar menyeret Sarah. Arka melihat itu. Sesuatu di dalam dirinya meledak. Bukan sebuah kode biner, bukan juga instruksi AI, tapi sebuah amarah purba dari seorang pria yang melihat wanitanya disakiti.

Arka meraung, bangkit dengan tenaga yang entah datang dari mana. Ia menghantamkan kepalanya ke wajah preman yang memeganginya, lalu menerjang ke arah Sarah. Ia melempar pipa besinya, tepat mengenai punggung pria yang menyeret Sarah.

Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Seorang preman lain menebas lengannya dengan parang. Darah segar menyembur, membasahi tanah panti yang suci.

"ARKA!" Sarah menjerit, berhasil melepaskan diri dan jatuh berlutut di samping Arka yang mulai kehilangan kesadaran.

Di saat maut seolah tinggal sejengkal, raungan mesin motor mulai terdengar dari segala arah. Bukan motor sport mewah, tapi deru motor-motor bebek dan matic milik para kurir Sovereign. Cahaya lampu motor mereka membelah kegelapan malam, membutakan para preman Hendra Wijaya.

Elina Clarissa memimpin di depan, turun dari motor dengan wajah yang tak lagi dingin, melainkan penuh api kemarahan. Di belakangnya, Bang Jago dan ratusan kurir Sovereign turun dengan membawa kunci inggris dan helm sebagai senjata.

"Kalian salah memilih lawan!" teriak Bang Jago. "Menyentuh Arka berarti menantang seluruh jalanan Tanjungbalai!"

Pertempuran pecah. Para kurir yang selama ini hanya dianggap 'tukang antar' menunjukkan taring mereka. Mereka bertarung bukan demi uang, tapi demi pria yang telah memberi mereka harga diri.

Di tengah kekacauan itu, Elina berlari menuju Arka. Ia melihat Sarah sedang mendekap kepala Arka di pangkuannya, mencoba menekan luka di lengan Arka dengan sapu tangan lavender yang kini berubah menjadi merah tua.

Elina berlutut di sisi lain. Ia melihat wajah Arka yang hancur, nafasnya yang pendek-pendek. Kebanggaan Elina sebagai pebisnis paling sukses di kota ini runtuh seketika. Di depan pria yang sekarat ini, ia hanyalah seorang wanita yang takut kehilangan satu-satunya orang yang melihatnya melampaui angka-angka di neraca keuangan.

"Arka... bertahanlah," bisik Elina. Ia menggenggam tangan Arka yang dingin. "Kau belum melihat Sovereign menguasai dunia. Kau belum boleh pergi."

Arka membuka matanya sedikit. Ia melihat dua wanita di sampingnya. Sarah yang menangis karena penyesalan masa lalu, dan Elina yang gemetar karena ketakutan akan masa depan.

"Panti..." gumam Arka lemah.

"Panti aman, Arka. Kami di sini," Sarah mencium kening Arka yang penuh debu. "Maafkan aku... maafkan aku karena baru menyadari betapa berharganya kau saat semuanya sudah terlambat."

Elina menatap Sarah, lalu menatap Arka. Di titik ini, tidak ada lagi persaingan untuk mendapatkan hati sang Arsitek. Yang ada hanyalah solidaritas untuk menjaga nyawa pria yang telah menyelamatkan jiwa mereka masing-masing.

"Aku mencintaimu, Arka," bisik Elina, cukup pelan hingga hanya Arka yang bisa mendengarnya di tengah riuh pertempuran. "Bukan karena kau pintar, bukan karena kau kaya... tapi karena kau adalah satu-satunya pria yang membuatku merasa berharga sebagai manusia."

Polisi akhirnya datang setelah para preman Hendra Wijaya kocar-kacir dipukul mundur oleh massa kurir. Hendra telah meremehkan satu hal: kekuatan rakyat kecil yang memiliki satu simbol untuk diperjuangkan.

Arka diangkat ke ambulans. Sebelum pintu ditutup, ia melihat Ibu Fatimah berdiri di teras panti, memegang bros perak yang sudah hancur. Ibu itu tersenyum, meski air mata membasahi keriput wajahnya. Tanah panti itu mungkin berdarah, tapi tanah itu kini sah miliknya selamanya.

Sarah dan Elina berdiri berdampingan saat ambulans itu menjauh. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun malam ini, mereka disatukan oleh luka yang sama.

"Hendra Wijaya harus membayar ini," ucap Elina, suaranya kembali dingin, namun kali ini ada nada mematikan yang belum pernah terdengar sebelumnya. "Aku akan menggunakan seluruh aset Clarissa Corp untuk meratakan kerajaannya. Tidak ada lagi negosiasi."

Sarah menghapus air matanya, menatap lurus ke arah malam yang mulai memudar menjadi fajar. "Dan aku akan memastikan seluruh dunia tahu betapa busuknya keluarga mereka. Pena saya adalah pedang saya, Elina. Mari kita hancurkan mereka bersama."

Malam itu, di tanah panti asuhan yang berdarah, sebuah aliansi yang mustahil telah terbentuk. Dan di dalam ambulans yang melaju kencang, Arka Pramudya berjuang antara hidup dan mati. Memorinya mungkin masih hilang, tapi jejak keberaniannya telah terukir permanen di aspal Tanjungbalai.

Sang Arsitek telah jatuh, namun pondasi yang ia bangun kini lebih kuat dari sebelumnya. Dan saat ia bangun nanti, ia tidak akan lagi menghadapi dunia sendirian.

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Founna: siap💪
total 1 replies
Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!