Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Cahaya Menjadi Pisau
Tidak ada yang benar-benar siap ketika nama mereka disebut di ruang terbuka.
Pagi itu, berita muncul tanpa pendahuluan—judul ringkas, nada netral yang menyimpan maksud. Bukan tuduhan, bukan pula pembelaan. Hanya rangkaian fakta yang dipilih rapi, disusun agar publik menyimpulkan sendiri. Itulah cara paling efektif untuk melukai tanpa menyentuh.
Carmela membaca berita itu sekali. Lalu dua kali. Ia menutup layar dan meletakkan ponsel dengan hati-hati, seolah benda itu rapuh.
Matteo berdiri di dekat jendela. Ia sudah tahu sebelum Carmela membaca. Ia tahu karena jaringan lama selalu berisik lebih dulu—sebelum dunia bersuara.
“Mereka memulai,” kata Matteo.
Carmela mengangguk. “Mereka menunggu momen kita terlihat rapuh.”
“Dan mereka memilih sekarang,” lanjut Matteo. “Saat kejujuran baru saja kita pegang.”
Carmela menatapnya. “Itu bukan kebetulan.”
Rapat darurat berlangsung cepat.
Penasihat berbicara bergantian—nada profesional, kata-kata tertimbang. Ada yang menyarankan diam. Ada yang mendorong klarifikasi singkat. Ada pula yang mengusulkan narasi tandingan.
“Diam berarti mengakui,” kata satu suara.
“Bicara berarti memberi bahan bakar,” kata yang lain.
Carmela mendengarkan tanpa menyela. Ketika ruangan mulai kehilangan arah, ia mengangkat tangan.
“Kita tidak akan bersembunyi,” katanya.
Semua mata tertuju padanya.
“Kita juga tidak akan menyerang,” lanjut Carmela. “Kita akan hadir.”
Matteo menoleh. Ia tahu arti kata itu dari mulut Carmela: hadir berarti berdiri di tengah cahaya—tanpa payung, tanpa bayangan.
“Apa bentuknya?” tanya seseorang.
“Keterangan terbuka,” jawab Carmela. “Dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Aku yang bicara.”
Ruangan senyap. Matteo menatap Carmela—ada kekhawatiran, ada kebanggaan.
“Itu akan membawamu ke depan,” katanya pelan. “Dan ke depan selalu berbahaya.”
Carmela tersenyum tipis. “Ke belakang juga.”
Siang hari, undangan wawancara datang bertubi-tubi.
Satu media nasional. Satu forum kebijakan. Satu acara diskusi yang terkenal karena pertanyaan tajamnya. Semua ingin potongan yang sama: apakah Carmela berdiri sendiri, atau hanya bayangan Matteo? Dan di sela itu, pertanyaan lama diselipkan kembali—tentang keputusan Matteo di masa lalu, tentang Lucia.
Matteo membaca daftar pertanyaan bocoran. “Mereka akan memintaku bicara.”
“Aku tahu,” jawab Carmela. “Dan kau akan.”
Matteo mengangkat alis. “Kau yakin?”
“Ya,” kata Carmela. “Tapi bukan untuk membela. Untuk mengakui.”
Matteo terdiam. Itu lebih sulit daripada menyangkal.
Acara itu berlangsung di studio dengan cahaya putih dan kursi dingin.
Kamera menyala. Moderator tersenyum profesional—ramah, terlatih. Pertanyaan awal ringan, lalu perlahan mengencang. Carmela menjawab dengan tenang, konsisten. Tidak defensif. Tidak berlebihan.
Hingga akhirnya, pertanyaan itu datang.
“Apakah hubungan Anda memengaruhi keputusan publik yang Anda ambil?”
Carmela menatap kamera. “Setiap manusia dipengaruhi oleh hubungan. Yang penting bukan ada atau tidaknya pengaruh, melainkan bagaimana kita mengelolanya.”
Moderator mengangguk, lalu melanjutkan. “Dan bagaimana Anda mengelolanya?”
“Dengan transparansi dan batas,” jawab Carmela. “Saya tidak menyerahkan keputusan pada siapa pun. Saya juga tidak menutup mata terhadap konsekuensinya.”
Kamera berpindah ke Matteo.
“Pak Matteo,” kata moderator, “ada tudingan bahwa masa lalu Anda kembali relevan dalam konteks ini. Apakah Anda ingin menanggapi?”
Matteo menarik napas. Ini momen yang tidak bisa diulang.
“Ya,” katanya. “Saya ingin mengaku.”
Studio mengeras.
“Saya membuat keputusan yang menyelamatkan saya dan melukai orang lain,” lanjut Matteo. “Saya tidak bangga. Saya tidak menyangkal. Saya bertanggung jawab.”
Moderator berhenti sejenak. “Apakah itu memengaruhi hubungan Anda sekarang?”
Matteo menoleh ke Carmela—sekilas, cukup. “Itu mengajarkan saya untuk tidak bersembunyi lagi.”
Carmela merasakan dadanya menghangat. Bukan karena pembelaan—karena kejujuran yang berdiri sendiri.
Reaksi publik datang cepat dan terbelah.
Ada yang menghormati keterbukaan. Ada yang menuntut konsekuensi lebih jauh. Ada pula yang menyederhanakan segalanya menjadi drama pribadi. Di media sosial, narasi berseliweran—dipotong, ditarik, dipelintir.
Tekanan meningkat. Panggilan masuk tanpa henti.
Sore itu, satu pesan menembus kebisingan.
Dari Lucia.
Jika mereka ingin kesaksian, aku siap bicara. Bukan untuk menyelamatkan. Untuk meluruskan.
Matteo membaca pesan itu dengan tangan gemetar.
“Tidak,” katanya refleks. “Aku tidak akan menyeretnya lagi.”
Carmela menatapnya. “Dia memilih.”
Matteo menggeleng. “Pilihan itu lahir dari lukaku.”
“Tidak,” balas Carmela lembut. “Pilihan itu lahir dari kebenarannya.”
Kesaksian Lucia dijadwalkan cepat.
Bukan konferensi pers. Bukan panggung besar. Sebuah forum hukum yang tenang—dokumen, rekam jejak, dan pernyataan tertulis. Lucia bicara singkat, jelas, tanpa emosi berlebih.
Ia tidak menuntut. Ia tidak membela.
“Ada keputusan yang melukai saya,” tulisnya. “Ada juga keputusan saya sendiri yang membuat saya bertahan. Saya tidak ingin masa lalu dipakai untuk menekan orang lain. Saya ingin ia diakui, lalu ditutup.”
Pernyataan itu tidak meledak. Ia mengendap.
Dan justru karena itu, terlihat dewasa.
Malam hari, Carmela dan Matteo duduk di ruang kerja, lampu redup.
“Ini belum selesai,” kata Matteo.
Carmela mengangguk. “Tidak. Tapi arah anginnya berubah.”
“Ke mana?” tanya Matteo.
“Ke pertanyaan yang lebih sulit,” jawab Carmela. “Bukan tentang siapa salah—melainkan siapa yang pantas dipercaya saat cahaya paling terang.”
Matteo menghela napas. “Aku tidak pernah menyukai cahaya.”
Carmela tersenyum kecil. “Aku juga. Tapi kita di sini.”
Keesokan paginya, undangan resmi datang.
Sebuah sidang dengar pendapat. Terbuka. Disiarkan. Fokusnya bukan hukuman—melainkan kelayakan. Apakah Carmela dapat terus memegang perannya dengan tekanan seperti ini.
Matteo membaca undangan itu perlahan. “Mereka menguji keteguhanmu.”
Carmela berdiri tegak. “Dan mereka akan melihatnya.”
“Bagaimana jika mereka meminta jarak antara kita?” tanya Matteo.
Carmela menatapnya—tenang, jujur. “Aku tidak akan mengorbankan hubungan untuk jabatan. Tapi aku juga tidak akan menjadikan hubungan sebagai tameng.”
Matteo mengangguk. “Itu adil.”
Malam sebelum sidang, vila kembali sunyi.
Tidak ada diskusi panjang. Tidak ada strategi rumit. Hanya dua orang yang memilih untuk tidur lebih awal—karena besok, mereka akan berdiri lama.
Sebelum lampu dimatikan, Matteo berkata pelan, “Terima kasih… karena tidak memintaku menjadi sempurna.”
Carmela menoleh. “Terima kasih… karena memilih tinggal.”
Mereka saling menggenggam tangan confirms, bukan pelarian.
Di luar, kota berpendar. Cahaya menyala di mana-mana—seperti pisau, seperti janji. Dan di antara sorotan itu, Carmela dan Matteo bersiap untuk berdiri tanpa bayangan.