Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah sebuah ungkapan yang tepat untuk seorang Gadis cantik bernama Safira Navia, Beasiswa yang tiba tiba di cabut oleh pihak kampus setelah kepergian Ibunya membuat Safira langsung melemas seketika.
Pekerjaannya yang hanya sebagai pelayan Cafe pun tidak mencukupi biaya kuliah nya, mundur dari bangku perkuliahan nya pun tidak mungkin karena hanya tinggal sedikit menuju gelar Sarjana nya.
yuk ikuti ceritanya, bagaimana Safira menjalani semua kehidupannya, selamat membaca semoga suka dengan ceritanya.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeny chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 kekacauan di mulai
Tiba di tokonya Safira langsung masuk kedalam toko dan menghela nafasnya saat orang kepercayaannya meminta menuju ruangan meeting.
"Kamu pemilik toko ini?? "
tanya nya saat Safira membuka pintu ruangan.
"Terserah Ibu mau anggap saya pemilik atau pegawai, karena di toko ini semua sama. "
jawab Safira tenang yang langsung duduk di hadapan wanita paruh baya yang sedang menatap nya tajam.
"Tarik semua aksesoris yang ada di toko ini, karena semua meniru di toko saya. "
titah wanita paruh baya itu dan Safira terdiam sebentar.
"Meniru dimananya Ibu?? toko ini berdiri sejak tiga tahun lalu. "
jelas Safira dan Ibu itu langsung memperlihatkan berkas.
Safira menerimanya dan langsung syok karena buktinya menyudutkan dia, Safira merasa aneh sekali karena semua telah terbukti kalau dia yang meniru aksesoris ibu yang datang padanya.
"Benar kan apa yang saya katakan, pokonya saya gak mau tahu, bayar denda atau tarik semua produk nya yang sama dengan milik produk saya, hanya ada dua pilihan dan saya gak mau berdamai. "
tekan si Ibu yang melihat Safira hanya diam menatap kertas bukti di tangannya.
Doni datang dan langsung mengurus semuanya karena Safira masih terlihat syok, Safira hanya diam termenung dengan semua nya.
"Ada apa dengan semua ini?? ada siapa di balik semua masalah ini?? "
gumam Safira yang bertanya tanya pada dirinya sendiri karena sangat aneh sekali baginya.
"Fira..... ibu itu hanya minta waktu satu jam untuk kita memutuskannya. "
ucap Doni yang berhasil bernegosiasi dengan Ibu yang mengamuk.
"Tarik saja Doni barangnya dan bawa ke toko pusat untuk di pasarkan. "
ucap Safira dengan nada lemahnya dan Doni mengiyakannya.
"Kamu diam di kantor saja, biar aku yang urus semuanya. "
ucap Doni dan Safira hanya diam sampai Doni meninggalkannya.
Safira membuka sebuah map yang di bawa Doni dan ternyata permintaan bahan baku yang sudah di terima oleh pihak bahan baku.
"Kenapa mesti aku yang harus datang?? "
gumam Safira bertanya tanya karena melihat persyaratan dari pihak bahan baku.
Bukan masalah kalau harus Safira yang datang, tapi ini tempatnya berada di pusat kota, Dimana kota yang telah dua tahun lebih dia tinggalkan, itulah yang membuat Safira pusing sekarang.
"Kemungkinan toko cabang ini tutup Fira, hampir semua jenis sama. "
ucap Doni saat masuk kedalam ruangan yang biasa di pakai jika datang berkunjung.
"Urus saja gimana baiknya, limpahkan barang dan karyawan ke toko pusat. "
ucap Safira yang memang sudah tidak memusingkannya lagi.
"Baiklah akan aku urus hari ini juga. "
ucap Doni dan Safira hanya mengangguk.
"Ini beneran harus aku yang datang?? kenapa?? "
tanya Safira saat Doni duduk di kursi di hadapannya.
"Kan biasanya kalau mencari bahan baku langsung kamu yang nanganin, lagian kalau aku yang datang mewakilkan malah gak bisa kita beli bahan nya, terus kalau aku ngaku sebagai pemilik pasti ketahuan karena di setiap tanda tangan ada catatan kecil AN atau atas nama. "
jelas Doni dan Safira langsung menghela nafasnya.
"Kamu kan tahu sendiri, aku meninggalkan kota dua tahun lalu karena ada masalah, aku gak mau saat aku datang kembali malah terjerat lagi Doni. "
jelas Safira dengan nada lirihnya dan Doni sekarang yang menghela nafas mendengarnya.
"Kita positif saja sekarang, anggap kalau laki laki itu sudah menikah dan memiliki keluarga jadi kamu akan bebas kan, kamu pergi sudah mau tiga tahun dari kota, beranikan diri kamu Fira dan aku yakin kamu bisa, kota itu besar dan gak mungkin ketemu juga kan. "
ucap Doni yang meyakinkan kekhawatiran Safira yang begitu nampak.
"Iya sih aku juga harus berani, aku bukan Safira yang dulu tapi Safira yang terlahir kembali. "
ucap Safira dan membuat Doni tersenyum mengacungkan jempolnya.
"Mau aku temani?? "
tawar Doni dan Safira menggelengkan kepalanya.
"Kamu tetap disini mengurus kekacauan sekarang, aku bisa sendiri kesana. "
tolak Safira karena memang Doni di butuhkan sebagai pengganti kalau Safira sedang tidak ada.
"Aku ketemu Maya di toko di kota, Maya bilang dia sudah meninggalkan rumah kamu sejak lama, tapi rumah kamu tetap terawat katanya, ada yang membersihkan setiap harinya. "
ucap Doni dan Safira langsung terdiam karena rumah itu begitu berharga untuknya.
"Rumah itu sebenarnya sangat berharga Donn, tapi aku gak bisa nempatin lagi, kayanya mau aku jual saja karena aku juga sudah punya rumah disini sekarang. "
ucap Safira dan Doni hanya terdiam karena semua keputusan adalah milik Safira.
"Gimana baiknya saja Fira dan aku hanya bisa mendukung, kalau kamu kesulitan jangan sungkan bicarakan padaku. "
putus Doni dan Safira hanya mengangguk.
"Iya Doni, besok mungkin aku akan ke kota dan Maya memberikan nomer handphone gak ke kamu?? "
ucap Safira dan Doni menganggukkan kepalanya.
"Ada dia memberikannya nanti aku kirim ke nomer kamu, ingat Fira kamu disana untuk mendatangi kantor bahan baku kalau sedah selesai langsung kembali lagi biar meminimalisir bertemu lagi dengan dia. "
peringatan Doni dan Safira hanya berdehem menanggapinya.
Safira memilih kembali ke toko pusat dan membiarkan Doni yang mengurus sisa masalahnya, Safira tidak mempermasalahkan toko cabangnya tutup satu karena baginya semua memang takdir yang harus di jalani.
Safira harus ke pabrik untuk memberikan disain baru dan dengan bahan yang lain, Safira akan mencoba dengan kemampuannya dan dia yakin bisa walaupun hasilnya akan berbeda dari yang sebelumnya.
Safira tiba di sebuah pabrik kecil pembuatan aksesorisnya dan langsung memberikan disain aksesoris pada tim nya, nantinya akan di lakukan pembuatan sekali untuk melihat hasilnya.
.
.
Di tempat Al saat ini......
Al tersenyum senang saat membaca laporan asistennya kalau Safira sendiri yang akan datang untuk menemuinya.
Semua gonjang ganjing di kehidupan usaha Safira adalah akal akalan dari Al yang Bekerja sama dengan orang orang yang bisa membuat Safira keluar dari persembunyiannya.
"Sampai ketemu nanti Safira, saya harap kamu bisa menerima kenyataan nya kalau kamu hanya milik saya. "
gumam Al setelah membaca laporan dari asistennya.
Al memang benar benar sudah sangat buntu untuk menemukan Safira, Safira begitu pandai bersembunyi dan Al akan menuntut semua penantian dia yang menunggu Safira saat nanti di pertemukan kembali.
"Atur tempat nya yang aman agar Safira tidak bisa kabur dan jangan buat curiga. "
titah Al dan Asistennya langsung mengiyakan lalu pamit kembali menuju pekerjaannya.
"Tinggal selangkah lagi kamu akan ada dalam genggaman Saya Safira, kontrak kamu masih ada dengan saya dan kamu wajib menyelesaikannya. "
gumam Al kembali yang memang tidak sabar ingin sekali bertemu dengan Safira.
.
.
.
Bersambung