NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Pebinor

Dahaga Sang Pebinor

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.

Semua orang tahu Kirana sudah menikah.

Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.

Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.

Aiden Pradana.

CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Awalnya Aiden hanya penasaran.

Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.

Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.

Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.

Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Kebohongan

Keesokan harinya, seluruh rombongan kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan urusan dengan klien. Perjalanan berlangsung lancar, tetapi suasana hati Kirana tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Kalimat dari wanita asing kemarin masih sesekali muncul dalam pikirannya, ditambah sikap Rendra yang semakin sulit dihubungi membuat perasaan tidak nyaman itu terus bertahan.

Setibanya di kantor, semua orang kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tumpukan dokumen menunggu untuk diperiksa dan laporan hasil perjalanan dinas harus segera diselesaikan. Kirana langsung tenggelam dalam pekerjaannya begitu duduk di meja.

"Kirana." Aiden berdiri di depan mejanya sambil membawa secangkir kopi.

"Iya, Tuan?"

"Kamu tidak lelah?"

"Tidak."

"Kamu baru saja pulang dari luar kota."

"Saya masih bisa bekerja."

Aiden meletakkan kopi itu di meja.

"Saya tidak minum kopi." Kirana mendorong cangkir itu kembali.

"Ini bukan kopi untukmu."

"Lalu?" Kirana mengangkat alis.

"Untukku. Aku hanya mencari alasan supaya bisa berdiri di sini." ujar

Gavin yang baru keluar dari ruang CEO langsung berhenti melangkah.

"Bos."

"Hm?"

"Kalau mau menggoda seseorang, setidaknya jangan di depan saksi."

Aiden menoleh santai.

"Kamu bukan saksi."

"Lalu apa?"

"Pengganggu."

Gavin mendesah panjang.

 .

Menjelang siang, Kirana akhirnya menyelesaikan laporan perjalanan dinas. Wanita itu berdiri dari kursinya untuk mengantarkan dokumen ke ruang CEO. Begitu pintu terbuka, ia melihat Gavin sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel.

"Laporan sudah selesai." Kirana menyerahkan map kepada Aiden.

"Secepat ini?" Aiden menerima map itu lalu membukanya.

"Saya mengerjakannya di pesawat."

Gavin langsung menatap langit-langit.

"Kadang saya merasa dia bukan manusia."

"Kamu juga?" Aiden mengangguk setuju.

"Saya ada di sini." Kirana menatap keduanya datar.

"Itu yang membuat kami tidak berani bicara lebih keras." Gavin menyimpan ponselnya.

Kirana memilih mengabaikan mereka.

Sore hari, ponsel Kirana akhirnya berdering. Nama Rendra muncul di layar dan untuk pertama kalinya sejak kemarin wajahnya sedikit berubah, ia segera mengangkat panggilan itu lalu berjalan menjauh dari meja kerjanya.

"Halo."

"Maaf baru menelepon." Suara Rendra terdengar lelah.

"Kamu sibuk?"

"Iya."

"Kemarin juga sibuk."

"Hari-hari ini memang banyak pekerjaan."

Kirana terdiam beberapa detik.

"Kamu baik-baik saja?"

"Tentu."

Jawaban itu terdengar terlalu cepat.

"Rendra."

"Hm?"

"Kita sudah lama tidak makan malam bersama."

Di seberang sana suasana mendadak sunyi.

"Nanti kita atur."

"Nanti kapan?"

"Aku sedang rapat, Kirana."

Panggilan itu berakhir beberapa saat kemudian dan Kirana hanya bisa menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya kembali ke meja kerja, namun tanpa ia sadari seseorang memperhatikannya dari balik dinding kaca.

.

.

.

Malam harinya, Kirana pulang lebih lambat dari biasanya karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Saat keluar dari gedung, ia terkejut melihat sebuah mobil hitam masih terparkir di area khusus direksi.

Lampu mobil itu berkedip, beberapa detik kemudian kaca jendela turun.

"Masuk."

"Tuan belum pulang?" Kirana menghela napas.

"Belum."

"Kenapa?"

"Aku lapar."

"Itu bukan alasan untuk menunggu saya."

"Tapi aku menunggu kamu."

Kirana memejamkan mata beberapa saat, kadang ia benar-benar tidak mengerti pria itu.

"Tuan bisa makan sendiri."

"Aku sudah bosan makan sendiri."

"Itu bukan masalah saya."

"Kejam sekali."

Kirana tidak menjawab.

.

Pada akhirnya, Kirana tetap masuk ke dalam mobil. Bukan karena ia ingin menemani Aiden makan malam, melainkan karena pria itu mengatakan ada beberapa dokumen yang harus dibahas sebelum rapat esok hari.

Lima belas menit kemudian, Kirana mulai menyesal karena tidak ada satu pun dokumen di atas meja restoran.

"Tuan."

"Hm?"

"Mana dokumennya?"

"Dokumen apa?" Aiden membuka menu makanan.

"Tuan bilang ada dokumen yang harus dibahas." Kirana menatapnya tanpa ekspresi.

"Oh."

"Oh?"

"Aku berbohong."

"Saya pulang saja." Gavin yang baru tiba langsung membalik badan.

"Kemari." Aiden menunjuk kursi kosong.

"Saya tidak mau ikut kegiatan kriminal."

"Kegiatan apa?"

"Menipu sekretaris sendiri."

"Saya pulang." Kirana mengambil tasnya.

"Tunggu." Aiden buru-buru berdiri.

"Saya sudah selesai bekerja."

"Setidaknya makan dulu."

"Saya bisa makan di rumah."

Aiden membuka mulut untuk membalas, namun ponsel Kirana tiba-tiba berdering. Nama Rendra muncul di layar, untuk pertama kalinya malam itu perhatian Kirana sepenuhnya berpindah dari Aiden. Wanita itu segera mengangkat panggilan.

"Halo."

Entah apa yang dikatakan Rendra di seberang sana, tetapi wajah Kirana perlahan berubah pucat. Tatapan tenangnya menghilang dan jari-jarinya menggenggam ponsel lebih erat dari sebelumnya.

"Kamu serius?" suara Kirana terdengar pelan.

Aiden dan Gavin langsung saling berpandangan, ada sesuatu yang salah. Beberapa detik kemudian panggilan itu berakhir, Kirana berdiri diam di tempatnya dengan wajah yang sulit dibaca.

"Ada apa?" tanya Aiden.

Kirana tidak langsung menjawab, wanita itu menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kepala.

"Rendra mengalami kecelakaan."

Kalimat itu membuat suasana restoran mendadak hening, namun yang tidak diketahui Kirana adalah... pada saat yang sama, Rendra sama sekali tidak berada di rumah sakit. Ia justru sedang duduk di dalam apartemen Selina sambil mematikan ponselnya dan kebohongan yang baru saja ia buat akan menjadi awal dari masalah yang jauh lebih besar.

1
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!