NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Panglima TNI.

Terjebak Cinta Panglima TNI.

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Isi hati Axel.

Mobil hitam yang dikendarai Axel melaju pelan memasuki halaman rumah orang tuanya. Suasana hati pria itu sama gelapnya dengan langit malam yang mulai menutupi cakrawala. Wajahnya tampak sangat lelah, sorot matanya kosong, dan bahunya terlihat begitu terkulai menahan beban yang tak kasat mata.

Begitu turun dari mobil, langkah kakinya terasa berat seribu ton. Ia berjalan menuju teras rumah, di mana sosok ayahnya, Pak Rama, sudah duduk menunggunya di kursi kayu jati yang kokoh. Seorang ayah selalu bisa merasakan ketika anaknya sedang tidak baik-baik saja, dan kali ini, Pak Rama bisa melihat jelas bahwa putranya sedang hancur lebur.

"Duduklah, Nak," ucap Pak Rama lembut, menepuk kursi di sebelahnya.

Axel menurutinya. Ia duduk dengan posisi tubuh yang sedikit membungkuk, kedua tangannya saling bertaut di antara kedua lututnya, menunduk menatap lantai keramik.

"Axel, bagaimana pertemuanmu dengan Aruna?" tanya Pak Rama memecah keheningan yang mencekam.

"Baik..." jawab Axel pelan, suaranya terdengar datar namun sarat akan keputusasaan. "Hanya saja... aku baru sadar sesuatu, Pah."

"Sadar soal apa?" Pak Rama menoleh, wajahnya penuh tanda tanya.

Axel menghela napas panjang, seolah berjuang mengeluarkan kata-kata yang terasa begitu menyakitkan.

"Aku tidak pantas untuk dia."

Mendengar itu, Pak Rama mengerutkan kening. "Kenapa kamu berkata begitu? Apa terjadi sesuatu di antara kamu dan Aruna? Gadis itu menolakmu atau bagaimana? Katakan lebih jelas."

"Dia terlalu sempurna untuk diriku." ucap Axel dengan suara berat, matanya masih tak berani menatap sang ayah. "Aku takut... aku takut tidak bisa membahagiakan dia. Awalnya aku pikir aku cukup percaya diri menghadapi setiap tingkah anehnya, menghadapi segala situasi. Tapi pada akhirnya... dia berhasil meruntuhkan semua kepercayaan diriku hanya dengan satu pernyataan."

Axel berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit.

"Dia benar, Pah. Pekerjaanku ini... sangat berisiko. Setiap hari adalah taruhan nyawa. Aku tidak ingin... aku tidak ingin melihat dia kecewa, atau bahkan menderita hanya karena memilih hidup bersamaku."

Pak Rama terdiam. Ia menarik napas panjang, mencoba memahami keraguan yang dirasakan putranya. Sebagai ayah, ia tahu betul beratnya tugas yang diemban Axel sebagai seorang Jenderal.

"Axel... Papah mengerti perasaanmu. Papah tahu risiko pekerjaanmu memang besar. Tapi..." Pak Rama menatap putranya tajam, "....apa itu berarti kamu mau menyerah begitu saja?"

Axel mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Mungkin... Iya. Mungkin mundur adalah jalan terbaik."

"C'mon, Axel!" Pak Rama sedikit meninggikan suaranya, tak terima melihat putranya yang selama ini dikenal tangguh dan berani kini tampak begitu rapuh. "Kamu bukan orang yang seperti ini! Kenapa kamu jadi selemah ini sekarang? Ingat kata Pak Hadi? Dia kan sudah mewanti-wanti kalau Aruna itu gadis yang punya banyak siasat, punya pemikiran yang luar biasa. Masa kamu gak tertantang sama cewek kayak dia? Dia itu gadis langka."

Pak Rama, berusaha memancing Axel untuk tetap pada pendiriannya mengejar Aruna. Dia tahu betul, Axel memang suka tantangan. Karena bagaimanapun juga, dia takut jika putranya itu benar-benar tak mau menikah.

"Aku ngerti, Pah! Justru karena dia langka, karena dia berharga... ketakutanku makin menjadi-jadi." seru Axel, suaranya mulai bergetar menahan emosi. "Aku tidak bisa. Lebih baik aku mundur dari sekarang, selagi semuanya belum terlalu dalam. Daripada nanti perasaan ini makin kuat, tapi pada akhirnya aku justru menjadi sumber kesedihan buat dia. Aku takut... aku benar-benar takut kehilangan dia karena kesalahanku sendiri."

Melihat keteguhan hati putranya yang seolah sudah bulat, Pak Rama hanya bisa menghela napas pasrah.

"Baiklah... kalau itu memang keputusanmu. Papah tidak akan memaksa. Silakan saja kalau kamu memang mau mundur." Pak Rama terdiam sejenak, lalu menatap Axel dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. "Tapi ingat, perjodohan ini tetap harus terlaksana demi kepentingan kedua keluarga. Kalau kamu mundur... ya sudah, Papah tidak punya pilihan lain selain menggantikan posisi kamu dengan adikmu."

DEG!

Seolah tersengat listrik, tubuh Axel menegak seketika. Matanya membelalak lebar, memancarkan kilatan syok dan kemarahan yang tak terduga. Darah seketika berdesir cepat ke seluruh tubuhnya.

"Jangan coba-coba!!" bentak Axel, suaranya melengking penuh penekanan. Tangannya yang besar mencengkram kuat permukaan meja kayu di hadapannya hingga buku-buku jarinya memutih. Nadi di lehernya terlihat berdenyut kencang.

Pak Rama hanya menatap putranya dengan tenang, seolah sudah menduga reaksi itu akan muncul.

"Karena perjodohan ini tetap harus dilaksanakan, Axel. Kalau bukan kamu yang mau, ya siapa lagi kalau bukan adikmu sendiri?" ucap Pak Rama santai namun menusuk.

BRUKK!!

Tanpa sadar, Axel memukul meja dengan keras hingga membuat benda-benda di atasnya bergetar hebat. Ia berdiri tegak, napasnya memburu, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak.

"AKU TIDAK MENYERAH!!" teriaknya, matanya menyala penuh determinasi. "Dan aku tidak akan pernah mau menyerahkan Aruna pada siapapun! Apalagi pada dia... pada adikku.. "

Rasa cemburu dan rasa tak bisa menerima mulai menyelimuti hatinya. Ia sangat membenci sikap adiknya yang manja dan tidak bertanggung jawab. Baginya, Aruna adalah miliknya. Tidak ada orang lain, tidak ada satupun yang berhak mendapatkan gadis itu selain dirinya.

"Baiklah kalau begitu," ucap Pak Rama pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum tipis yang berhasil menyulut kembali semangat putranya. "Kalau begitu, buktikan kalau kamu pantas mendapatkannya. Jangan cuma bicara soal ketakutan."

Axel masih berdiri mematung, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, perjuangannya baru saja benar-benar dimulai. Dan ia tidak akan membiarkan siapapun merebut Aruna darinya.

 

Sementara itu, di dalam kamarnya yang nyaman dan tenang, Aruna sudah berendam dengan santai di bak mandi yang penuh dengan air hangat beraroma harum. Ia sedang menikmati momen mandi kembang, membiarkan air yang dicampur kelopak bunga yang cantik dan wangi membasuh seluruh tubuhnya.

Dengan wajah yang ceria dan hati yang merasa lega, ia bergumam pelan kepada dirinya sendiri,

"Ah, akhirnya... aku bisa bernapas juga," ucapnya dengan nada yang penuh kelegaan, seolah-olah beban berat yang selama ini menindih bahunya baru saja terangkat sepenuhnya.

Namun, jika dilihat lebih dalam, sebenarnya tidak semua ucapan yang ia sampaikan kepada Axel tadi adalah kebenaran mutlak. Meskipun apa yang ia katakan mengenai Bibi Lidia adalah hal yang sungguh-sungguh, dan tidak ada sedikitpun kebohongan di dalamnya, namun ketika ia mengungkapkan rasa takutnya akan ditinggal mati, itu sebenarnya bukanlah perasaan yang benar-benar ia rasakan saat itu.

"Axel... Axel... Kamu ini benar-benar seperti batu yang keras dan kokoh, sama sekali tidak mau mengalah dan sama keras kepalanya denganku," gumam Aruna lagi, kali ini dengan senyum yang terlihat sangat puas dan penuh makna terukir di bibirnya.

"Aku sadar betul bahwa aku sendiri tidak memiliki kekuatan, atau wewenang yang cukup untuk memutuskan pertunangan ini sendirian. Tapi... kamu, Axel... Kamu pasti punya kekuatan dan pengaruh yang besar untuk mengambil keputusan itu. Oleh karena itu, aku serahkan semua hal ini sepenuhnya padamu. Aku percaya kamu akan tahu apa yang harus dilakukan," pikirnya dalam hati, merasa yakin bahwa langkah yang ia ambil ini adalah yang terbaik.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!