Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Apa Noah Jones Paranoid?
Noah Jones beranjak berdiri, ia berjalan menghampiri Emma Taylor yang duduk di lantai rumahnya.
Wajah mereka saling berdekatan, ujung mata Noah tertarik ke atas seperti tersenyum.
"Sekarang asal kau siap maka kita lakukan saat ini." ucap Noah seraya menarik ujung dagu Emma Taylor.
Pandangan keduanya beradu lekat, sorot mata mereka saling bergerak terikat.
"Bagaimana pendapatmu, Emma?" bisik Noah Jones. "Kau siap memulai tugas mulia ini?"
Noah Jones memandang lekat-lekat dua bola mata cantik milik Emma Taylor, bersinar-sinar cerah hingga tak jemu-jemu dia memandangnya.
"Apakah kau takut memulainya, Emma?" bisik lembut Noah. "Bukankah kau yang menawarkannya, jika aku masih bisa bersabar menunggu kau siap."
Emma spontan membuang muka, wajahnya tertunduk karena malu, tubuhnya bergetar gelisah sedangkan keningnya mulai berkeringat dingin.
Rupanya Emma berubah panik, canggung, bingung, dan pikirannya mulai tak karuan. Ia lupa bahwa permintaan ini menyangkut kehormatan mahkotanya.
Bagaimana ia siap menyerahkan mahkota kebanggaan miliknya pada seorang pria asing yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu.
"Kenapa kau diam?" bisik Noah.
Noah Jones menarik kembali ujung dagu Emma Taylor sehingga menghadap kepadanya. Pandangan mereka saling beradu lekat seperti tadi.
Emma serta merta tak menjawab, ia terdiam dengan tatapan hampa.
"Jawablah, Emma..." ucap Noah.
"Kau ingin rahim ini maka kau dapatkan yang kau inginkan, Tuan Noah Jones." jawab Emma.
Noah Jones tertegun, ia sebenarnya tidak ingin mendengar jawaban setuju dari Emma Taylor secepat ini karena ia masih berharap Emma meratap ketakutan. Dan ia menginginkan jawaban penuh kecemasan dari Emma.
"Tanpa pernikahan legal, kau menyetujuinya. Tidakkah kamu pikirkan kembali keputusanmu ini, Emma." lanjut Noah.
"Dan giliran kau yang ketakutan jika terikat denganku, Noah Jones." sahut Emma.
"Apa?!" ucap Noah sembari menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Apa kau takut jika nantinya kau akan memiliki ikatan khusus denganku?" ucap Emma.
Emma Taylor tersenyum, ia balas ejekan Noah Jones dengan tantangan.
Sikap Noah Jones berubah, ia mulai gugup, wajahnya keruh, degup jantungnya naik-turun tak menentu.
"Kau menghindar?" kejar Emma.
"Tidak, aku sama sekali tidak menghindar, untuk apa aku takut." sahut Noah tak mau kalah.
"Tapi kau tampak gelisah. Apakah kau berubah pikiran dan takut?" ucap Emma.
"Aku tidak akan berubah pikiran." sahut Noah.
"Benarkah itu?" kejar Emma.
"Ada apa denganmu. Kenapa sikap dan pikiranmu berubah secepat ini, Emma Taylor?" kata Noah.
Emma tertawa kecil, ia menertawakan sikap pengecut Noah Jones.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Noah terperangah.
"Kupikir orang dewasa sepertimu akan mengerti sesuatu yang penting dalam hidupnya. Membuat keputusan untuk membayar rahim seorang wanita, tidakkah ia sadari bahwa ia dan wanita itu harus terjalin hubungan akrab." sahut Emma.
"Maaksudmu?" tanya Noah tertegun.
"Kau tidak mengerti maksudku atau kau berpura-pura tak paham maksud ucapanku ini." sahut Emma membalas dengan senyuman.
"Berpura-pura?" tanya Noah.
"Yah, kau mulai menjadi seorang pengecut. Berpura-pura tak mengerti padahal kau paham yang aku maksudkan." kejar Emma.
Noah Jones terpojok, ia tak mampu membantah perkataan Emma bahkan ia telan semua sindiran Emma.
Jujur, Noah Jones belum siap menerima keakraban. Selama ini, ia jauh dari wanita lantaran kesibukan Lucent Gem yang menyita waktu dan perhatiannya terhadap hubungan intim.
"Aku bukan pengecut." ucap Noah tegas.
"Oh, iya, kau bukan pengecut. Lantas kenapa kau canggung saat aku menantangmu intim." kejar Emma.
"Intim?!" ucap Noah kebingungan. "Kau bercanda."
"Lihatlah! Kau berpura-pura pengecut. Coba kau sentuh aku sekarang. Dan kita mulai tugas intim itu." kata Emma.
Noah Jones semakin terperangah mendengar kata-kata Emma, kaget serta bercampur tak percaya jika perempuan itu akan bersemangat ketimbang dirinya. Ia berubah panik hingga keringat dingin turun dari keningnya.
Dengan terang-terangan, Emma Taylor menawarkan diri untuk memberikan rahim bayarannya.
"Kalau kau mau sekarang maka aku akan penuhi kemauan mu itu, tapi kau bisa menunda keinginan mu sembari berpikir ulang." kata Emma.
"Aku tak mengerti ucapanmu." sanggah Noah gugup.
"Bagaimana kau bisa tak mengerti ucapanku ini, Tuan Noah Jones. Tentu kau tidak akan menjadi orang yang bodoh. Kau bilang sebelumnya bahwa hubungan ini adalah prospek masa depan." kata Emma.
"Ya, benar. Tapi Aku tidak berubah bodoh." sahut Noah.
"Masih berpura-pura tak mengerti..." kata Emma.
Rupanya Emma Taylor mulai kesal dengan jawaban Noah, bahkan sikap Noah Jones mulai berubah-ubah, seperti orang plin-plan.
Ditariknya tangan kekar itu ke arah dadanya yang membusung indah. Ia letakkan tangan Noah tepat di puncak dadanya lalu ia gerakkan, lambat, kasar tapi berkesan tak biasa.
Noah Jones tercengang, tak mempercayai bahwa Emma akan bertindak senekat itu. Ia telan salivanya, namun tenggorokannya masih terasa kering.
"Sekarang kau mengerti maksudku." kata Emma serak.
"Apa?!" suara Noah serak saat Ia menjawab.
"Mari kita memulainya!" bisik lembut Emma.
Emma menekan telapak tangan Noah Jones didadanya seraya menatap tajam lalu tersenyum menggoda.
"Mari kita berhubungan intim, Noah Jones!" lanjutnya tanpa malu-malu.
Tiba-tiba Noah Jones menarik kasar tangannya, Ia jauhkan tubuh Emma darinya dengan dorongan pelan.
"Kau sudah tidak waras!" ucap Noah.
Suhu badan Noah Jones naik, mendadak saja ia diserang demam akut, keringat dingin mulai bercucuran deras dari tubuhnya sedangkan wajahnya membeku dingin.
Ia tatap Emma Taylor dengan sorot mata tajam, sikapnya berubah waspada.
"Apa yang ada dipikiran mu itu, Emma Taylor?" tanyanya. "Bahkan kau tak peduli dengan harga dirimu sendiri!"
Noah Jones menatap cemas sembari berkata keras. "Aku ini seorang pria!"
Emma tertawa, Ia tersenyum mengejek, Ia balas tatapan Noah Jones dengan tatapan menghina.
"Bukankah ini yang kau inginkan, kita tidak mungkin memiliki anak buat calon pewaris Lucent Gem jika kita tidak berhubungan intim, Noah Jones." ucap Emma datar.
Noah Jones terkesiap kaku, pandangan matanya teralihkan cepat, Ia lirik ke arah sekitarnya. Dan Ia lupa bahwa masih ada banyak orang bersamanya di ruangan utama ini.
"Dasar perempuan bodoh." batinnya.
Noah Jones menoleh ke Emma Taylor lalu terdiam.
"Kenapa kau masih tidak bergerak berbuat sesuatu padaku?" kejar Emma. "Mari kita mulai tugas ini!"
Emma beranjak berdiri, Ia melangkah maju ke arah Noah Jones, sorot matanya berubah tajam, menggoda seperti menantang pria tampan itu. Ia dekati Noah Jones dan berusaha menarik perhatian.
"Noah..." bisiknya mencoba menarik tangan Noah. "Sentuh aku!"
Emma menghampiri Noah Jones, namun Noah menolaknya.
"Jauhkan dirimu dariku!" perintah Noah mendadak panik.
"Ayolah, Noah!" kejar Emma. "Sekarang waktunya yang tepat bagi kita berdua memulainya."
"Emma...!" bentak Noah.
"Kenapa kau berubah takut, Noah?" lagi-lagi Emma mengejar Noah Jones. "Mari kita lakukan sekarang juga!"
Noah Jones mengedarkan pandangan matanya ke sekitar ruang utama. Beberapa anak buahnya masih bersamanya serta masih memperhatikan mereka berdua.
Seseorang berdehem pelan, lalu menundukkan pandangannya dari tatapan Noah Jones. Membuat sang bos Lucent Gem kalut serta merta canggung.
"Tinggalkan kami berdua sekarang!" perintah Noah pada semua anak buahnya.
"Baik, tuan." serentak mereka bergerak pergi dari ruang utama, meninggalkan Emma Taylor bersama Noah Jones berduaan.
Tinggal Emma dan Noah di ruang utama ini, terlihat keduanya berubah diam.
Hening lima detik.
Pandangan mereka kembali beradu satu sama lainnya, tanpa suara ataupun teguran sapa diantara keduanya.
"Bagaimana..." terdengar mereka berbicara bersama-sama. "Kau duluan..."
Mereka mengulang hal yang sama, tanpa sengaja saling berkata secara bersamaan.
Keduanya saling membuang muka, sama-sama berubah canggung meski Emma masih bersemangat.
Noah Jones membuka suara, ia lanjutkan pembicaraan ini.
"Dengarkan baik-baik, kita bisa mengawalinya setelah akrab. Dan itu butuh waktu tidaklah singkat, kita masih harus melakukan riset agar kita saling menguatkan satu dengan lainnya." kata Noah.
"Riset?!" tanya Emma lalu tertawa. Ia lipat kedua tangannya ke depan dada. "Aku pikir kau tidak akan berpikir terlalu naif apalagi kau orang gentleman yang berwawasan luas, Tuan Noah Jones."
Emma menatap tajam Noah Jones sambil mengulum bibir cantiknya.
"Mana ada riset dalam suatu hubungan antara wanita dan pria. Ini bukan penelitian ilmiah yang butuh riset melainkan ini adalah hubungan dua manusia yang intim."