NovelToon NovelToon
THE 100 BILLION SECRETARY

THE 100 BILLION SECRETARY

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka dan Strategi Baru

Setelah sepuluh menit yang menyiksa di dalam toilet, Gisella keluar dengan wajah yang sudah dibasuh bersih. Matanya memang masih sedikit sembab, namun kilat amarah kini menggantikan rasa sedihnya. Ia telah mengancingkan kemejanya hingga ke paling atas bahkan terlalu rapat hingga ia merasa sedikit tercekik. Rok span hitamnya ia tarik paksa ke bawah semaksimal mungkin meski tetap saja memperlihatkan kaki jenjangnya yang sulit disembunyikan.

Ia kembali ke ruangan Arsel tanpa mengetuk.

Arsel sedang menempelkan ponsel di telinganya, berbicara dalam bahasa Inggris dengan nada yang sangat tajam dan efisien. Ia hanya melirik Gisel sekilas sebuah lirikan yang penuh dengan penilaian dingin sebelum kembali fokus pada pembicaraannya.

Gisel tidak duduk. Ia berdiri di pojok ruangan, menunggu pria itu selesai. Ia memperhatikan Arsel. Jika saja pria ini tidak memiliki mulut yang berbisa, ia harus mengakui bahwa Arsel adalah mahakarya Tuhan yang paling sempurna secara fisik. Rahangnya yang tegas, jemarinya yang panjang saat memutar-mutar pena, dan bagaimana kemeja mahal itu membungkus bahunya yang bidang.

"Selesai?" tanya Arsel tiba-tiba setelah mematikan ponselnya. Ia menatap kancing kemeja Gisel yang kini tertutup rapat. "Setidaknya sekarang kamu tidak terlihat seperti sedang mencari pelanggan."

Gisel mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Bapak sudah selesai menghina saya? Karena kalau sudah, saya ingin memberikan laporan jadwal kunjungan pabrik di Cikarang besok pagi."

Arsel sedikit terkejut dengan nada bicara Gisel yang kembali ketus dan berani. Ia mengira gadis ini akan mengundurkan diri sambil menangis. "Letakkan di sana. Dan mana kopi saya?"

"Sedang dibuat oleh mesin. Saya bukan pelayan kafe lagi, Pak, meskipun saya pernah jadi pelayan. Saya sekretaris Bapak. Saya akan bawakan kopinya setelah saya selesai menjelaskan jadwal ini," jawab Gisel dengan nada bicara yang cepat dan cerewet, ciri khas aslinya yang mulai keluar karena kesal.

Arsel menaikkan satu alisnya. "Berani sekali kamu mengatur saya."

"Saya tidak mengatur, saya menginformasikan urutan prioritas kerja. Bukankah Bapak gila kerja? Maka efisiensi adalah segalanya, bukan?" Gisel melangkah maju, meletakkan berkas dengan suara *buk* yang cukup keras di atas meja jati itu.

Selama satu jam berikutnya, Gisel membedah jadwal Arsel dengan ketelitian yang luar biasa. Ia adalah mahasiswi ekonomi tingkat atas, dan otaknya bekerja sangat cepat. Arsel yang awalnya ingin mencari celah untuk memecatnya, justru terdiam. Gadis ini tidak hanya punya "body gitar Spanyol", tapi juga otak yang encer.

Sore harinya, saat Arsel sedang rapat di ruang konferensi, ponsel Gisel bergetar. Nama "Nyonya Widya" muncul di layar. Gisel segera mencari tempat sepi di balkon lantai 50.

"Halo, Nyonya?"

"Bagaimana hari pertamamu, Gisel? Apakah ada kemajuan? Apakah Arsel... bereaksi padamu?" suara Nyonya Widya terdengar sangat penasaran.

Gisel menghela napas panjang, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai macet. "Dia bereaksi, Nyonya. Dia mengatai saya pelacur dan menyuruh saya mengancingkan baju."

Hening sejenak di ujung telepon, lalu terdengar tawa kecil dari Nyonya Widya. "Bagus. Itu artinya dia memperhatikanmu. Arsel biasanya bahkan tidak peduli jika sekretarisnya masuk kantor tanpa busana sekalipun. Jika dia marah karena pakaianmu, itu artinya pertahanan esnya mulai terganggu."

"Tapi ini menyakitkan, Nyonya. Saya merasa rendah sekali," curhat Gisel lirih.

"Ingat 100 miliar itu, Gisel. Ingat ibumu. Arsel adalah benteng yang kuat, kau tidak bisa merobohkannya hanya dengan satu godaan murahan. Kau harus masuk ke dalam hidupnya, buat dia terbiasa dengan kehadiranmu yang berisik itu. Buat dia merasa bahwa hanya kaulah satu-satunya wanita yang tidak takut padanya."

Setelah menutup telepon, Gisel kembali ke mejanya. Kata-kata Nyonya Widya ada benarnya. Jika ia terus bersikap menggoda secara terang-terangan, Arsel hanya akan menganggapnya sampah. Ia harus mengubah strategi. Ia akan menjadi "gangguan" yang tak terhindarkan bagi Arsel.

Gisel pulang pukul delapan malam. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Di depan gang rumahnya, ia melihat motor butut Sisil sudah terparkir.

"Gimana?! Gimana?!" Sisil langsung menyerbu Gisel saat ia baru masuk rumah.

Gisel melempar tasnya ke sofa reot. "Gagal total, Sil. Gue dikatain pelacur."

Sisil melongo. "Hah? Serius? Padahal lo udah secantik itu!"

"Dia beda, Sil. Dia kayaknya benci banget sama perempuan. Mantannya bener-bener bikin dia trauma ya?" Gisel memijat pelipisnya.

Lalu Gisel bercerita tentang semuanya. Tentang hinaan Arsel, tentang kancing baju yang harus ditutup rapat, tapi juga tentang bagaimana Arsel sempat terdiam melihat kemampuannya membedah laporan bisnis.

"Nah! Itu kuncinya!" Sisil menjentikkan jarinya. "Cowok gila kerja kayak dia nggak bakal luluh cuma sama paha atau dada. Dia bakal luluh kalau dia ngerasa ada cewek yang bisa ngimbangin otaknya, tapi tetep punya pesona fisik yang bikin dia 'gerah' tanpa sadar."

"Maksud lo?"

"Gini, lo tetep pake baju yang pas di badan, tunjukin lekuk tubuh lo yang emang 'gitar Spanyol' itu, tapi bersikaplah seolah lo nggak sadar kalau lo itu seksi. Jadiin dia penasaran. Pas dia lagi serius kerja, lo kasih perhatian kecil yang ceriwis khas lo. Bikin dia kesel tapi kangen. Paham nggak?"

Gisel terdiam, mulai mencerna strategi Sisil. "Jadi gue harus jadi sekretaris yang pinter, cerewet, tapi diem-diem tetep... mematikan?"

"Tepat!"

Malam itu, Gisel masuk ke kamar ibunya. Ibunya sudah tidur, namun wajahnya terlihat lebih tenang karena pengobatannya sudah mulai tertangani berkat uang muka dari Nyonya Widya. Gisel membelai tangan ibunya yang kurus.

"Gisel bakal lakuin apapun, Bu. Apapun," bisiknya.

Keesokan harinya, Gisel datang dengan gaya berbeda. Ia memakai setelan blazer berwarna nude yang sangat pas di pinggangnya, dipadukan dengan celana kain panjang yang menonjolkan kaki jenjangnya. Rambutnya dibiarkan tergerai indah, aromanya sangat harum. Tidak ada kancing yang terbuka, namun pakaian itu memeluk tubuhnya sedemikian rupa sehingga tetap terlihat sangat menggoda tanpa bisa dikritik sebagai "pakaian pelacur".

Ia masuk ke ruangan Arsel membawa secangkir kopi hitam dan... sepotong sandwich buatannya sendiri.

"Selamat pagi, Pak Arsel yang paling rajin se-Indonesia," sapa Gisel dengan nada ceriwis yang segar.

Arsel mendongak, matanya memindai pakaian Gisel. Kali ini ia tidak menemukan celah untuk menghina. "Kopi saja. Saya tidak minta makan."

"Tapi Bapak belum sarapan kan? Saya tadi lihat jadwal Bapak, jam 10 ada rapat sampai jam 1 siang. Kalau Bapak pingsan karena maag, saya yang repot harus gendong Bapak ke rumah sakit. Badan Bapak kan gede, saya mana kuat," cerocos Gisel sambil meletakkan sandwich itu di samping dokumen.

Arsel menatap sandwich itu, lalu menatap Gisel. "Kamu terlalu banyak bicara."

"Dan Bapak terlalu sedikit bicara. Makanya saya di sini buat menyeimbangkan," Gisel tersenyum manis, sangat manis hingga membuat Arsel sempat tertegun selama satu detik sebelum memalingkan wajahnya kembali ke layar komputer.

"Keluar," perintah Arsel, namun nadanya kali ini tidak sedingin kemarin.

Gisel berbalik untuk keluar, namun sengaja menjatuhkan pulpennya tepat di dekat kursi Arsel. Ia menunduk untuk mengambilnya, menunjukkan lekuk punggung dan pinggulnya yang sempurna di depan mata Arsel.

Dari sudut matanya, Gisel melihat Arsel berdeham dan mengalihkan pandangan dengan gelisah ke arah jendela.

"Kena lo, es batu, "batin Gisel bersorak.

Permainan sesungguhnya baru saja dimulai. Gisel tahu, di balik tembok es itu, ada pria normal yang sedang berusaha keras untuk tidak meledak. Dan Gisel tidak akan berhenti sampai tembok itu runtuh sepenuhnya.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
kok cepet banget bacanya kak😅😅🙏🙏
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
10 jam 🤣🤣🤣
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
yeeeeee tetap semangat kak 💪💪❤️❤️
makacih udah update 🙏
Nessa
hai kak… aku mampir ceritanya seruuu.. di tunggu up brikutnya… semangat 😍👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!