NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan yang Salah

Lilian menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan tangan yang gemetar. Sentuhan sekecil itu saja sudah cukup membuatnya meringis—perihnya seperti menjalar sampai ke pelipis, menampar harga dirinya lebih keras daripada pukulan tadi. Napasnya memburu, dadanya naik turun tidak teratur, sementara matanya membelalak menatap bayangannya sendiri di permukaan gelas yang masih tersisa di meja.

“Wajahku!” Jeritan itu melengking begitu saja, terlalu keras untuk ruangan yang dipenuhi etika dan kepura-puraan.

“Aveline, dasar kau pelacur sialan!” makinya tanpa berusaha menahan diri lagi.

Beberapa tamu tersentak. Ada yang mundur sedikit, ada yang menutup mulut, ada pula yang justru memiringkan kepala, menikmati bagaimana kehormatan sebuah keluarga runtuh di hadapan mereka. Namun pusat dari semua itu—Aveline—tidak menunjukkan reaksi yang diharapkan.

Ia hanya tersenyum. Senyum yang tidak lebar, tidak mencolok, tetapi cukup untuk memperjelas bahwa ia tidak merasa bersalah.

Dengan gerakan ringan, ia mengibaskan gaun lusuhnya yang sedikit kusut, lalu menarik kursi di belakangnya. Ia duduk tanpa terburu-buru, seperti seseorang yang baru saja selesai melakukan hal biasa. Tangannya meraih segelas whisky dari meja terdekat, mengangkatnya, lalu meneguk perlahan. Cairan pahit itu turun dengan tenang, sementara tatapannya tidak lagi tertuju pada Lilian—seolah gadis itu sudah tidak cukup penting untuk diperhatikan.

“Awas saja.” Suara Lilian kembali terdengar, kali ini lebih tajam karena panik yang mulai merayap.

“Aku akan bilang pada ayah … dan kau akan melihat sendiri bagaimana kau akan menghadapinya nanti!” Ancaman itu dilemparkan seperti kartu terakhir yang ia miliki. Namun Aveline tidak langsung menjawab. Ia hanya memutar gelas di tangannya, memperhatikan pantulan cahaya di permukaannya, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada kata-kata Lilian.

“Tentu saja,” ujarnya akhirnya, nada suaranya tenang, karena hal itu hanyalah ancaman kecil baginya.

“Katakan semuanya. Jangan dikurangi sedikit pun.” Ia meneguk lagi, membiarkan jeda menggantung lebih lama dari seharusnya.

“Katakan aku menamparmu, menjambakmu, menendangmu,” lanjutnya perlahan, seakan sedang membantu Lilian menyusun laporan.

Kemudian matanya sedikit terangkat, menatap lurus ke arah gadis itu. “Dan kalau kau ingin membuatnya terdengar lebih dramatis, tambahkan saja bahwa aku berniat membunuhmu, memotong bagian tubuhmu dan memberikannya kepada anjing penjaga. Kedengarannya akan jauh lebih meyakinkan.”

Gelas itu ia letakkan kembali dengan bunyi pelan.

“Aku akan menunggunya.”

Tidak ada penekanan berlebihan, tidak ada emosi yang diluapkan. Justru karena itulah kata-katanya terasa seperti sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat. Wajah Lilian berubah pucat.

Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Aveline, gadis di hadapannya itu tidak terlihat seperti seseorang yang bisa ia kendalikan.

Beberapa pengawal yang sejak tadi memperhatikan kejadian itu langsung berlari keluar, langkah mereka cepat dan tergesa, seolah sadar bahwa keadaan sudah melewati batas yang bisa mereka tangani sendiri. Aveline menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menghela napas pelan.

“Ternyata lebih cepat dari yang kuduga,” gumamnya.

Tidak lama setelah itu, sebuah bayangan besar jatuh menutupi sebagian tubuhnya. Langkah berat berhenti tepat di depannya, diikuti suara yang dalam dan tidak bersahabat.

“Aveline!”

Baru kali ini ia mengangkat wajahnya.

Marquis Edmund de Grimwald berdiri di sana, dan seperti yang diharapkan—tatapannya langsung tertuju pada Lilian.

“Lilian .…” Suaranya melembut, berubah drastis dari nada yang ia gunakan sebelumnya. Tangannya terangkat, menyentuh pipi gadis itu dengan hati-hati, seolah takut melukai lebih jauh.

“Ayah …,” ujar Lilian dengan suara bergetar, air matanya jatuh tanpa ditahan. “Dia melukaiku … semua orang melihatnya. Lihat wajahku ....” Marquis Edmund menarik napas dalam, seolah menahan sesuatu, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Aveline. Dalam satu detik, kehangatan itu lenyap, digantikan oleh dingin yang tajam.

“Aveline, kau—” Belum sempat sang Marquis menyelesaikan kalimatnya Aveline sudah lebih dulu bergerak. Tangannya meraih gelas whisky di meja, lalu tanpa ragu menyiramkannya langsung ke wajah sang Marquis.

Cairan karamel itu mengalir di wajah pria itu, menetes dari dagu ke lantai marmer. Beberapa orang tersentak, namun hiburan bagi mereka. Marquis Edmund memejamkan mata sesaat. Rahangnya mengeras, otot di pelipisnya menegang, tetapi ia tidak langsung berteriak.

Justru diamnya itulah yang terasa lebih menekan.

Aveline berdiri perlahan, menatapnya lurus. “Marquis Edmund ...,” ucapnya lirih. Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup untuk memotong semua bisikan di sekitarnya.

“Kau tidak perlu berpura-pura,” lanjutnya, sedikit memiringkan kepala, menatap pria itu seolah sedang mengamati sesuatu yang menjijikkan. “Kita berdua tahu, selama ini kau tidak pernah benar-benar peduli padaku. Jadi tidak perlu tiba-tiba terlihat seperti ayah yang tersinggung.”

Ia melangkah mendekat.

“Katakan pada putri kesayanganmu,” sambungnya, matanya sekilas melirik Lilian sebelum kembali ke arah Marquis. “Untuk tidak memperlakukanku sesuka hatinya dan menyentuhku meski satu helai rambutpun.” Senyumnya tipis, tetapi kali ini lebih tajam.

“Karena cepat atau lambat, aku bisa saja membunuhnya.” Kalimat itu diakhiri dengan ancaman eksplisit, dan juga meninggalkan ruang yang lebih mengganggu membuat beberapa orang langsung menahan napas.

Marquis Edmund tersenyum sinis.

“Jangan kau kira,” katanya pelan.

“Karena kau menikah dengan seorang kolonel, kau bisa bertindak seperti ini terhadap kakakmu. Aku menyesal telah membawamu kembali ke keluarga ini.”

Aveline tidak langsung menjawab. Ia menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Menarik,” gumamnya pelan. “Aku kira penyesalan itu datang sedikit lebih awal. Misalnya … saat kau memutuskan menjadikanku pengganti.” Tatapan Marquis mengeras.

“Dan sekarang,” lanjutnya.

“Kau berdiri di sini, berbicara tentang keluarga, kehormatan, dan penyesalan … seolah-olah semua itu bukan sesuatu yang kau tukar dengan sangat murah.”

Hening.

“Kau!” Tangan Marquis terangkat menunjuk dengan geram. Aveline justru melempar gelas di tangannya ke lantai.

Suara pecahnya menggema membuat Marquis Edmund dan tamu perjamuan tersentak kaget.

“Tangkap dia!” teriak Marquis Edmund pada akhirnya, dia benar-benar telah kehilangan kendali. “Jangan biarkan dia pergi!”

Para pengawal langsung bergerak. Langkah mereka cepat, terlatih, mendekat dari berbagai arah.

Aveline sudah mengubah posisi tubuhnya, sedikit merendah, pusat gravitasinya berpindah, siap menghadapi siapa pun yang mendekat.

Namun sebelum mereka mencapai jarak itu—

“Hentikan.”

Suara bariton itu tampak pelan namun terdengar tegas, tetapi cukup untuk menghentikan semuanya. Langkah para pengawal terhenti di tengah. Beberapa bahkan hampir kehilangan keseimbangan karena berhenti terlalu mendadak.

Semua kepala menoleh saat melihat sosok tinggi berjalan masuk dengan langkah tenang, namun penuh kendali. Seragam militernya rapi, epaulet berkilau di bahu, dan tatapan abu-abu yang dingin seolah tidak menyisakan ruang untuk emosi.

William Caldoré

Di belakangnya, tiga orang mengikutinya dengan patuh sebagai kebiasaannya yang selalu disiplin. Ajudannya langsung menyapu ruangan dengan pandangan tajam, ordonansnya bersiap menerima perintah, sementara pengawal yang menyertai mereka berdiri siaga, membaca setiap kemungkinan.

Aveline melirik sekilas, mengenali sosok itu, lalu menyeka rambutnya ke belakang sebelum bersandar santai pada meja. Tatapannya turun ke kukunya, seolah kehadiran pria itu tidak lebih dari gangguan kecil.

William berhenti beberapa langkah dari mereka. Matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak pada Lilian, lalu beralih pada Aveline. Kali ini pandangannya lebih lama.

Raut wajah Marquis Edmund langsung berubah. “Tuan Kolonel,” katanya dengan nada yang dipaksakan tenang. “Akhirnya kau datang. Lihatlah … Aveline membuat kekacauan. Aku sebagai ayah benar-benar gagal mendidiknya.” Lilian menunduk, memainkan perannya sebagai korban dengan sempurna.

Namun William tidak menatap mereka.

Ia hanya mengangkat tangan sedikit.

“Amankan area dan segera kosongkan ruangan.” Perintah itu pendek, tapi cukup jelas. Ajudannya langsung bergerak, memberi isyarat. Para pengawal menyebar tanpa suara, mengarahkan para tamu keluar dengan tegas namun tetap menjaga formalitas. Ordonans mengoordinasikan pergerakan itu, memastikan tidak ada yang tertinggal.

Dalam waktu singkat, aula yang tadi penuh menjadi kosong. Marquis Edmund sempat bertahan beberapa detik lebih lama, tetapi tatapan William cukup untuk membuatnya mundur. Ia menarik Lilian menjauh, meskipun jelas terlihat ia tidak rela meninggalkan situasi itu.

Pintu tertutup.

Keheningan turun. Aveline akhirnya mengangkat pandangannya sepenuhnya.

“Jadi ...,” ucapnya pelan. “Sekarang tidak ada penonton. Benar-benar membosankan.” Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan William.

“Kau datang untuk menyelesaikan masalah ini atau hanya untuk memastikan aku tidak mempermalukanmu lebih jauh?”

William menatapnya tanpa berkedip.

“Ikuti aku,” jawabnya singkat. “Kita pulang.”

Aveline terdiam beberapa detik, lalu tawa pelan keluar dari bibirnya. Tawa itu tidak hangat, tidak ringan—lebih seperti sesuatu yang keluar karena tidak bisa ditahan.

“Kupikir.…” Ia memiringkan kepala, menatapnya dengan sorot yang tajam. “Kau sudah lupa kalau kita pernah menikah.” Ia mendekat satu langkah lagi.

“Menarik sekali melihat seseorang yang bahkan tidak pernah muncul di malam pernikahannya … sekarang berbicara seolah-olah ia berhak menentukan ke mana aku harus pergi.” Senyumnya tipis, tetapi kali ini penuh sindiran yang jelas.

“Kalau aku tidak salah ingat, Tuan Kolonel.” Suaranya turun sedikit. “Status ‘suami’ itu bukan sesuatu yang muncul begitu saja ketika kau membutuhkannya.” Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung.

“Jadi katakan padaku,” lanjutnya pelan.

“Kau menyuruhku pulang sebagai siapa?”

William tidak segera menjawab.

Ia hanya menatap Aveline dalam diam, seolah sedang menimbang apakah sindiran itu memang layak dibalas atau cukup dibiarkan jatuh di antara mereka. Wajahnya tetap tenang, sama sekali tidak memberi reaksi apapun pada aula yang penuh dengan pecahan gelas, darah, dan sisa penghinaan keluargan Grimwald.

Namun ketenangan itu bukan ketenangan yang lunak. Lebih tepat jika disebut kaku, dingin, dan sulit ditembus. Aveline justru menatapnya tanpa berkedip. Ia tidak menunduk ataupun memalingkan wajah. Di bawah cahaya lampu gantung yang kekuningan, noda darah yang sudah mengering di pipinya dan helai rambut yang sedikit berantakan malah membuatnya terlihat semakin tidak patuh pada dunia ini.

William sempat melirik ke sudut bibirnya yang kotor, ke jejak merah tipis di jemari tangannya, lalu kembali menatap matanya.

“Aku tidak datang ke sini untuk berdebat di depan keluargamu,” ucapnya akhirnya. Nada suaranya datar, tetapi tidak terdengar seperti pembelaan. Lebih seperti pernyataan yang sudah selesai dipikirkan sebelum diucapkan.

Aveline tertawa kecil. Bukan karena terhibur, melainkan karena ucapan itu terdengar terlalu rapi di telinganya. “Kau benar,” katanya pelan. “Kau memang tidak pernah datang untuk apapun. Itu sudah sangat jelas sejak tiga bulan lalu.”

Tatapan William berubah sedikit. Bukan pada wajahnya, melainkan pada cara gadis itu mengatakannya. Tidak ada rengekan, tidak ada nada kecewa yang biasa dimiliki perempuan terlantar. Yang ada hanya ejekan dingin, seolah ia sedang membongkar sesuatu yang sangat memalukan tetapi memilih melakukannya dengan sopan.

Aveline memiringkan kepala sedikit, masih memandangnya dengan senyum yang begitu tipis sampai nyaris tidak terlihat.

“Lucu sekali,” lanjutnya. “Tadi kau memerintahkan semua orang keluar hanya untuk mengatakan dua kata yang seharusnya sudah mati bersama malam pernikahan kita.”

William tidak menyahut.

Namun Aveline melangkah lagi, memotong jarak yang sejak tadi masih tersisa di antara mereka.

“Kita pulang?” ulangnya dengan nada yang sangat pelan, seolah tengah menikmati bunyi kalimat itu sendiri. “Ke mana tepatnya?” Ia mengangkat alis tipis.

“Ke rumah yang kau tinggalkan sebelum fajar?”

“Atau ke kamar pengantin yang bahkan tidak pernah kau datangi?”

Keheningan itu mengeras.

Di luar aula, suara langkah kaki samar terdengar menjauh. Para penjaga William jelas masih berjaga di luar, menjaga agar tak seorang pun kembali masuk. Tetapi di dalam ruangan itu sendiri, tidak ada apa pun selain dua orang yang secara hukum adalah suami istri dan pada kenyataannya masih terasa seperti orang asing.

William menarik napas pelan. Sangat tipis. Hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan.

“Sudah selesai?” tanyanya.

Aveline tersenyum lebih lebar kali ini. Ada sesuatu yang nyaris tampak geli di matanya, tetapi bukan kehangatan.

“Belum. Aku baru mulai.”

Ia berbalik setengah langkah, berjalan perlahan melewati meja yang tadi ia jadikan sandaran. Jemarinya menyentuh permukaan kayu yang dingin, lalu berhenti di dekat sebuah kursi yang terbalik. Ia menatap kursi itu sejenak, seolah memikirkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan percakapan mereka.

“Kau tahu apa yang paling menarik dari semua ini?” lanjutnya tanpa menoleh.

“Bukan fakta bahwa kau meninggalkanku. Itu sudah cukup jelas sejak awal. Bukan juga karena semua orang menertawakanku atas nama yang kubawa.” Ia menggeser kursi itu sedikit dengan ujung kakinya, suara gesekannya tipis namun terdengar jelas.

“Yang paling menarik … adalah caramu kembali.” Ia akhirnya menoleh.

“Seolah-olah tidak ada yang berubah.”

William melangkah mendekat.

“Ikuti aku,” katanya singkat. “Kita pulang.”

Aveline menghela napas pelan, kembali terkekeh lirih. “Masih saja memerintah.”

Ia menoleh setengah, menatapnya dari ujung mata.

“Sayangnya aku tidak lagi tertarik untuk patuh.”

William tidak berhenti. Satu langkah lagi. Jarak mereka kini cukup dekat untuk membuat ketegangan itu terasa seperti sesuatu yang bisa disentuh.

“Aku tidak akan mengulanginya lagi,” ucapnya datar.

“Aku juga,” balas Aveline ringan.

Dan dalam satu detik itu, keduanya mulai bergerak. Aveline lebih dulu menyerang. Tubuhnya meluncur cepat, rendah, tangannya mengarah ke pergelangan William dengan teknik yang jelas bukan milik seorang wanita bangsawan. Gerakannya bersih, tanpa ragu, berusaha mengunci dan menjatuhkan dalam satu rangkaian.

William menepis.

Pergelangan tangan Aveline terlempar ke samping, tetapi gadis itu tidak kehilangan ritme. Ia memutar tubuh, siku kirinya melesat ke arah rahang William, diikuti tendangan cepat ke sisi tubuh.

Benturan terjadi. Tidak keras, tetapi cukup untuk menunjukkan tenaga.

William mundur setengah langkah, lalu langsung membalas. Tangannya menangkap bahu Aveline, mencoba menjatuhkan pusat gravitasinya, tetapi Aveline lebih gesit. Ia lolos dengan memutar pinggul, lalu menghantamkan lutut ke arah perut.

William menahan. Keduanya kini benar-benar saling membaca. Gerakan Aveline tajam, agresif, penuh tipu daya—gaya bertarung yang terbiasa mengincar celah kecil dan memanfaatkannya tanpa ampun.

Sementara William … berbeda. Ia tampak lebih rapi dan lebih hemat. Setiap gerakannya tidak terbuang.

Aveline mencoba mengunci lagi, kali ini mengarah ke sendi siku. William membiarkannya masuk sepersekian detik, lalu justru membalik posisi. Tangannya menangkap lengan Aveline, memutar dengan tekanan yang tepat.

Aveline mendesis. Ia membalas dengan menghentakkan tumit ke kaki William, lalu berusaha lepas.

Berhasil.

Ia kemudian mundur satu langkah. Napasnya masih stabil, tapi matanya berubah. “Tidak buruk,” gumamnya.

William tidak menjawab.

Pria itu maju dengan cepat, tangan kanannya menangkap pergelangan Aveline sebelum gadis itu sempat menyerang lagi, sementaea tangan kirinya menyusul, memelintir lengan itu ke belakang. Aveline mencoba berputar, tetapi William sudah menutup jalurnya.

Dalam satu gerakan bersih, kedua tangan Aveline terkunci di belakang.

Tubuhnya dipaksa membungkuk sedikit.

Aveline meronta. Ketika siku, kaki, bahu

Semua bergerak mencoba lepas. Tapi kali ini William tidak memberinya celah.

“Sudah cukup,” ucapnya rendah.

Aveline menggeram. “Lepaskan aku—”

Belum selesai kalimatnya, dunia tiba-tiba berputar.

Dalam satu gerakan tegas, William mengangkat tubuhnya begitu saja dan dilempar ke atas bahunya.

Posisi yang sama sekali tidak memberi ruang untuk melawan dengan efektif.

“William!” Suara Aveline pecah, antara marah dan tidak percaya. Ia menghantam punggung pria itu dengan tangannya, mencoba menendang dan menjatuhkan diri, namun semuanya sia-sia karena cengkeraman William terlalu stabil.

“Dasar bajingan keparat!”

William tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke arah pintu dengan langkah mantap, seolah beban di bahunya hanyalah sesuatu yang sudah ia putuskan untuk bawa pulang.

Aveline masih meronta, rambutnya berantakan, napasnya memburu, suaranya menggema di aula kosong.

“Pria brengsek ini!” William sama sekali tidak berhenti, dan untuk pertama kalinya—ini adalah kekalahan bagi seorang Soren ketika terjebak dalam permainannya sendiri.

.

.

.

Bersambung

William Caldoré👇

1
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!