NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Ruang guru di sore hari adalah labirin meja-meja kosong dan tumpukan kertas yang menanti untuk diperiksa. Hanya ada satu atau dua guru senior yang masih bertahan di pojok ruangan, tenggelam dalam laptop mereka. Pak Adwan menggiring Adella menuju mejanya yang terletak di sudut paling belakang, area yang paling privat karena terhalang oleh rak buku besar.

"Letakkan saja di sana," Pak Adwan menunjuk ruang kosong di sebelah vas bunga lily putih yang tampak masih sangat segar. "Kamu tahu, bunga lily ini melambangkan kemurnian. Sama seperti kesan pertama saya saat melihatmu di kelas."

Adella meletakkan buku-buku itu dengan sangat hati-hati. "Terima kasih, Pak. Saya hanya berusaha menjadi siswi yang baik."

Pak Adwan duduk di kursi kerjanya, menyandarkan punggung dengan santai sambil terus menatap Adella. Ia tidak langsung menyuruh Adella pergi. Sebaliknya, ia membuka sebuah laci dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berukir.

"Adella, saya punya sesuatu untukmu. Anggap saja ini apresiasi karena kamu sudah banyak membantu saya belakangan ini."

Ia membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah bros perak berbentuk burung walet yang sedang terbang. Desainnya sangat klasik, terlihat mahal, dan sama sekali bukan sesuatu yang pantas diberikan oleh seorang guru kepada muridnya secara cuma-cuma.

"Ini... terlalu bagus untuk saya, Pak," Adella menolak halus, matanya menatap bros itu dengan binar yang sengaja ia buat tampak kagum namun ragu. "Saya tidak enak menerimanya."

"Pakailah. Burung walet selalu tahu jalan pulang, sejauh apa pun mereka terbang. Saya ingin kamu selalu ingat bahwa di sekolah ini, ada seseorang yang bisa kamu percayai sepenuhnya," Pak Adwan berdiri, mengambil bros itu, dan memberi isyarat agar Adella mendekat.

Adella maju satu langkah. Ia bisa mencium aroma kopi hitam yang kuat bercampur dengan parfum kayu cendana dari tubuh Pak Adwan. Dengan gerakan yang sangat perlahan, Pak Adwan menyematkan bros itu di kerah seragam Adella. Jemarinya yang dingin sesekali bersentuhan dengan kulit leher Adella, membuat gadis itu harus berjuang keras agar tidak bergidik ngeri.

"Sempurna," bisik Pak Adwan. "Sangat cocok denganmu."

"Terima kasih, Pak," suara Adella terdengar kecil, hampir seperti bisikan. Sisi "polos"-nya sedang memainkan peran gadis remaja yang tersipu malu, namun sisi "pandai"-nya sedang menghitung detik demi detik durasi rekaman di ponselnya.

Sambil merapikan kerahnya, Adella secara tidak sengaja menyenggol sebuah map plastik bening yang ada di tepi meja. Map itu jatuh, isinya berhamburan di lantai.

"Oh! Maaf, Pak! Saya ceroboh sekali," Adella segera berjongkok untuk memungut kertas-kertas itu.

"Biarkan saja, Adella. Saya bisa membereskannya nanti," suara Pak Adwan terdengar sedikit lebih tegas dari biasanya. Ada nada urgensi yang tertangkap oleh telinga tajam Adella.

Namun, Adella sudah lebih dulu meraih selembar kertas yang jatuh paling jauh. Itu bukan materi pelajaran. Itu adalah selebaran lama tentang kompetisi menulis tingkat nasional yang sudah lewat dua tahun lalu. Di pojok kertas itu, ada catatan tangan yang sangat kecil: Nadia – 17 tahun – Suka membaca di taman belakang.

Nama Nadia. Inisial "N".

Adella segera teringat artikel berita yang ia baca semalam tentang siswi yang hilang di Kota B. Apakah Nadia adalah gadis dalam foto yang dicoret tinta merah itu?

"Adella."

Panggilan itu membuat Adella mendongak. Pak Adwan sudah berdiri tepat di atasnya, mengulurkan tangan untuk mengambil kertas tersebut. Wajahnya tetap tersenyum, tapi binar matanya menghilang, menyisakan tatapan kosong yang gelap.

"Berikan kertas itu padaku," pintanya lembut, namun kali ini itu bukan sebuah tawaran. Itu adalah perintah.

Adella memberikan kertas itu dengan tangan yang sengaja ia buat sedikit gemetar. "Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud mengintip. Saya hanya ingin membantu."

Pak Adwan menerima kertas itu dan langsung memasukkannya kembali ke dalam laci, lalu menguncinya. Suasana di sudut ruangan itu mendadak terasa lebih dingin dari sebelumnya.

"Sudah hampir jam lima," Pak Adwan kembali ke nada bicaranya yang hangat, seolah ketegangan tadi tidak pernah terjadi. "Kamu harus pulang. Tidak baik bagi gadis sepertimu berada di sekolah sesore ini. Bahaya bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat yang paling tidak kamu duga."

Adella mengangguk cepat. "Iya, Pak. Saya pamit dulu."

Saat Adella berjalan keluar dari ruang guru, ia merasa bros burung walet di kerahnya terasa sangat berat, seolah-olah benda perak itu memiliki mata yang terus mengawasinya. Begitu sampai di koridor yang benar-benar sepi, ia merogoh ponselnya dan mematikan rekaman.

Durasi: 22 menit 14 detik.

Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang menggila. Ia menyentuh bros di kerahnya, lalu teringat catatan kecil tadi. Nadia – Suka membaca di taman belakang.

Adella menyadari satu pola baru. Pak Adwan tidak hanya mengawasi, dia mempelajari mangsanya. Dia mencatat hobi, lokasi favorit, hingga usia. Dan sekarang, Adella adalah "Nadia" yang baru.

Langkah kaki Adella bergema di tangga saat ia turun. Ia harus tetap tenang. Ia harus tetap menjadi Adella yang polos, yang menerima susu cokelat dan memakai bros pemberian gurunya. Karena hanya dengan cara itulah, ia bisa masuk lebih dalam ke dalam sarang labirin yang sedang dibangun oleh Pak Adwan, sebelum labirin itu benar-benar mengurungnya selamanya.

Di gerbang sekolah, ia melihat Pak Satpam lagi. Kali ini, Pak Satpam memberikan senyuman aneh. "Brosnya bagus, Nduk. Tadi Pak Adwan bilang itu hadiah untuk murid teladan ya?"

Adella tersenyum manis. "Iya, Pak. Pak Adwan baik sekali."

Dalam hatinya, Adella berbisik: Terlalu baik sampai rasanya aku ingin muntah.Adella berjalan meninggalkan gerbang sekolah dengan langkah yang sengaja ia buat santai, namun kepalanya berdenyut kencang. Kata-kata Pak Satpam tadi adalah bukti nyata bahwa Pak Adwan telah mengamankan opini publik. Jika sesuatu terjadi padanya, semua orang akan bersaksi bahwa Pak Adwan adalah guru yang dermawan dan Adella adalah murid yang beruntung.

Ia merogoh sakunya, memastikan ponselnya masih aman. Rekaman 22 menit itu adalah senjatanya, meski ia belum tahu apakah isinya cukup kuat untuk menyeret Pak Adwan ke jalur hukum.

Adella berjalan meninggalkan gerbang sekolah dengan langkah yang sengaja ia buat santai, namun kepalanya berdenyut kencang. Kata-kata Pak Satpam tadi adalah bukti nyata bahwa Pak Adwan telah mengamankan opini publik. Jika sesuatu terjadi padanya, semua orang akan bersaksi bahwa Pak Adwan adalah guru yang dermawan dan Adella adalah murid yang beruntung.

Ia merogoh sakunya, memastikan ponselnya masih aman. Rekaman 22 menit itu adalah senjatanya, meski ia belum tahu apakah isinya cukup kuat untuk menyeret Pak Adwan ke jalur hukum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!