NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BANTU BERESKAN BARANG,MALAH DIKIRA MALING

Sehari setelah kejadian tersesat di gang sempit, suasana di kantor dan desa masih terasa santai. Belum ada pekerjaan berat yang harus dikerjakan, jadi semua orang punya banyak waktu luang buat bantu-bantu di sekitar rumah warga kalau ada yang butuh tenaga tambahan.

Pagi itu, Pak Joko datang ke kantor sambil membawa kabar. “Tadi lewat rumah Mbah Karso, dia lagi kesulitan bereskan tumpukan barang lama di halaman belakang. Katanya mau dibersihkan biar nanti tempatnya bisa dipakai jemur padi. Sayang dia sudah tua, nggak sanggup angkat-angkat barang berat sendirian.”

Mendengar itu, Bima dan Ojak langsung angkat tangan. “Kita bantu saja Pak! Lagian nggak ada kerjaan lain, daripada cuma duduk melamun di sini mending gerak badan.”

Sari dan Rara juga ikut menyusul. “Kalau ada yang ringan-ringan, kita juga bisa bantu bereskan atau sapu-sapu debunya.”

Tanpa menunggu lama, mereka berempat langsung jalan ke rumah Mbah Karso. Rumahnya nggak jauh, cuma sekitar lima menit jalan kaki dari kantor. Begitu sampai di halaman belakang, baru kelihatan betapa banyaknya barang yang menumpuk di sana.

Ada tumpukan kayu bekas, karung-karung kosong, kaleng-kaleng besar, genteng pecah, sepeda tua yang sudah nggak terpakai, sampai ada potongan besi dan jaring ikan yang sudah usang. Semuanya sudah tertimbun debu dan daun kering, kelihatan sudah bertahun-tahun nggak disentuh.

“Wah, ini memang butuh tenaga lebih ya,” gumam Ojak sambil mengusap dahi sebelum mulai bekerja.

Mbah Karso keluar dari dapur sambil membawa air minum. “Wah, terima kasih banyak kalian mau bantu. Barang-barang ini kebanyakan sudah nggak terpakai, cuma belum sempat dipilah dan dibawa ke tukang loak. Nanti yang masih bisa dijual kita kumpulkan, yang sudah rusak parah kita buang ke tempat pembuangan.”

“Siap Mbah! Kita kerjakan pelan-pelan saja, nggak usah terburu-buru,” jawab Bima semangat.

Mereka pun mulai bekerja. Tugas dibagi sederhana saja:

* Bima & Ojak: Angkat barang berat, pindahkan kayu dan besi ke satu tempat.

* Sari & Rara: Pilah barang yang masih layak dijual, bersihkan sedikit debunya supaya nanti tukang loak mau beli.

Awalnya berjalan lancar. Barang demi barang dipindahkan, debu beterbangan ke mana-mana sampai mereka semua terlihat agak kelabu dan berdebu. Wajah, tangan, dan baju mereka nggak bersih lagi, semua tertutup lapisan debu tebal.

“Wah, rasanya kayak baru keluar dari dalam tanah saja nih,” kata Rara sambil mengelap wajahnya malah jadi makin kotor.

“Nggak apa-apa, habis ini mandi bersih lagi. Yang penting selesai cepat,” jawab Sari sambil tertawa.

Setelah sekitar satu jam bekerja, mereka sudah mengumpulkan tumpukan barang yang cukup banyak di pinggir jalan, siap nanti dijemput tukang loak. Mereka baru saja duduk sebentar buat istirahat dan minum air, tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang bapak mengendarai sepeda motor melaju mendekat.

Itu Pak RT yang kebetulan lewat jalan itu. Begitu dia melihat pemandangan di depannya, dia langsung mengerem motornya dengan kencang, matanya melotot, dan suaranya agak keras.

“Hei! Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa bawa-bawa barang orang seenaknya?!”

Mereka semua kaget dan langsung berdiri. Bima mencoba menjelaskan, tapi suaranya masih terbatuk-batuk karena debu. “Wah, Pak RT, kami lagi bantu Mbah Karso bereskan barang-barang bekas ini lho…”

Pak RT makin curiga. Dia melihat penampilan mereka yang kotor, berdebu, rambut acak-acakan, dan ada tumpukan barang di pinggir jalan seolah mau dibawa pergi. Di pikirannya, ini persis kelakuan orang yang mau mengambil barang orang lain tanpa izin.

“Jangan cari alasan! Mana ada orang bantu-bantu sampai berantakan begini? Kalau bantu harusnya rapi, bukan malah dipindah ke pinggir jalan mau dibawa kabur!” seru Pak RT sambil tetap berdiri di tempat, nggak mendekat dulu.

Belum sempat mereka menjelaskan lagi, Mbah Karso yang mendengar keributan langsung keluar dari rumah. Dia melihat Pak RT yang marah dan anak-anak muda itu yang bingung, lalu langsung mengerti apa yang terjadi.

“Wah, Pak RT, salah paham ini! Mereka memang saya suruh bantu bereskan barang-barang lama saya. Sudah saya izinkan, nanti barangnya mau dijual ke tukang loak kok, bukan dibawa pergi sembarangan,” terang Mbah Karso sambil tersenyum.

Mendengar penjelasan itu, wajah Pak RT langsung berubah. Dia menggaruk kepalanya sendiri sambil malu.

“Ya ampun, maafkan saya ya. Lihat penampilan mereka yang kotor dan barangnya sudah dipindah, saya kira ada yang berani mengambil barang tanpa izin. Maklum saja, kadang ada juga orang yang lewat terus mengambil barang bekas yang dianggap nggak terpakai.”

Bima dan yang lain hanya bisa tertawa lega sekaligus malu. Ojak langsung angkat bicara sambil mengelap debu di pipinya.

“Iya Pak, kami juga nggak nyangka penampilan jadi begini. Baru bereskan setengahnya saja, sudah kelihatan kayak orang yang baru pulang dari gali tanah.”

“Kalau begitu ceritanya, maaf sekali saya sudah menuduh duluan,” kata Pak RT sambil menyalami mereka satu per satu.

“Nggak apa-apa Pak, wajar saja kalau lihat begini jadi salah sangka. Kalau saya yang lihat, mungkin juga bakal berpikir sama,” jawab Bima santai.

Setelah salah paham beres, suasana kembali tenang. Pak RT malah ikut membantu sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya.

“Kalau butuh bantuan lagi, panggil saja saya. Sekali lagi maaf ya tadi sudah bikin kaget.”

Mereka pun melanjutkan pekerjaan dengan semangat lagi. Kali ini sambil sesekali meledek satu sama lain.

“Wah, jadi dikira maling barang bekas ya? Untung saja ada Mbah Karso yang jadi saksi, kalau nggak bisa-bisa kita dibawa ke balai desa dulu,” kata Rara sambil ketawa.

“Untung barangnya cuma barang bekas, kalau barang berharga, bisa-bisa kita masuk penjara semalam gara-gara salah duga,” tambah Sari sambil menggeleng-geleng kepala.

Ojak malah membanggakan diri sambil bercanda. “Kalau memang jadi maling, saya juga nggak mau bawa barang yang berat-berat dan berdebu begini. Pilih yang ringan dan berharga saja lah!”

Bima hanya bisa tertawa mendengarnya. “Sudah, sudah. Yang penting pekerjaan selesai dan nggak ada masalah. Ini jadi pelajaran juga: kalau mau bantu-bantu bereskan barang berdebu, siap-siap saja dikira apa saja sama orang yang lewat.”

Menjelang siang, semuanya sudah beres. Barang yang mau dijual sudah rapi di pinggir jalan, tempatnya bersih kembali, dan Mbah Karso sangat berterima kasih.

Mereka pulang ke kantor dengan badan lelah tapi hati senang. Meskipun sempat dikira maling, hari itu tetap jadi hari yang penuh tawa dan cerita baru yang nggak terlupakan.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!