Alih-alih menikmati fasilitas orang tuanya Sheeva memilih menepi dan hidup di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas 8 menengah atas. Banyak hal membuatnya memutuskan demikian
lantas apa yang mendorong gadis sekecil itu menjauh dari dekapan hangat keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa masih sesakit ini bun ?
Nindy di langsung menuju halaman belakang sekolah saat dia tidak menemukan Sheeva baik dikelas maupun di ruang osis. Benar saja sahabat baiknya itu sedang duduk di bawah rindangnya pohon rambutan.
Melihat tubuh sahabat baiknya bergetar hebat, Nindy tau kalau Sheeva sedang tidak baik-baik saja. Dia menghela nafas.kedatangan anak baru tadi pasti mengungkit luka lama Sheeva.
" Sheev..!" Sheeva menoleh,air matanya sudah tumpah. Reflek Nindy langsung memeluk erata tubuh sahabatnya itu.
" Nin kenapa sesakit ini ?" Nindy tak menjawab, dia hanya terus memeluk tubuh Sheeva.
" Mau masuk kelas apa pulang ?" Ucap Nindy setelah dia merasa Sheeva sedikit agak tenang.
" Kalau au pulang tidak apa. Barusan ada pengumunan, karena ada rapat yang tidak ada ekstra boleh pulang "
" Pulang saja "
" Ya sudah, kamu tunggu saja di parkiran. Biar tas sama barang kamu aku yang ambil dikelas " Nindy membantu Sheeva berdiri.
" Makasih banyak ya NIn "
" Sama-sama, itulah gunanya sahabat Sheev. Udah hapus dulu air mata kamu.jangan biarkan mereka tau sisi rapuhmu " Sheeva mengangguk, dia meraih tisu yang d sodorkan Nindy lalu secara perlahan menghapus air matanya.
Nindy memaksa mengantar Sheeva pulang. Tidak mungkin dia membiarkan Sheeva pulang seorang diri dalam suasana hatinya yang sedang tidak baik begini.
Dia juga sudah inisiatif menghubungi Misya agar tak terkejut saat melihat Sheeva pulang lebih awal dan dalam kondisi begini. Dan Misya juga tanpa di minta Andi segera menjemput bunda Aya, karena hanya beliau yang bisa menenangkan Sheeva.
" Sudah ya jangan nangis terus, kepala kakak bisa sakit kalau begini " Dengan lembut bunda Aya mencoba menenangkan Sheeva.
" Kenapa masih sesakit ini ya bun ?" Pertanyaan itu lagi yang keluar dari mulut mungil Sheeva. Bunda hanya bisa menghela nafas. Begitu juga dengan Nindy dan Misya yang duduk tidak jauh dari Sheeva dan bunda Aya.
" Karena kakak mengenggamnya terlalu erat " Ucap Bunda Aya sembari menguap lembut surai hitam legam milik Sheeva. salah satu hal yang di turunkan seorang Maharani di tubuh putrinya itu.
" Ihklaskan dan perlahan lepaskan nak, agar jiwamu tidak terus-terusan merasa sakit."
" Ihklas bukan berarti melupakan, hanya berdamailah dengan dirimu sendiri. Yakinkan dalam dirimu, jika apapun itu yang terjadi dalam hidupmu adalah takdir yang maha kuasa."
" Apa aku bisa bun ?" Lagi-lagi bunda Aya menghela nafas. Menghadapi Sheeva dalam kondisi begini hanya perlu bersabar dan mengenggamnya penuh kasih sayang.
"Tentu kak, semua tergantung pada dirimu sendiri."
" Jangan terus kuras energimu buat memikirkan kenapa semua harus begini, kenepa semua harus terjadi pada diriku ?"
" Pergunakan saja waktu kakak untuk mengejar asa yang ada di dalam diri kakak. Dan perlahan lepaskan amarah yang ada dalam dadamu ini " Ucap bunda Aya sembari mengusap lembut dada Sheeva.
" Bunda tidak meminta kamu melupakan, tidak nak, karena semakin keras kita mencoba melupakan maka justru akan semakin menyakiti kamu, karena secara tidak langsung kamu justru mengingatnya kembali "
" Lepaskan pelan-pelan amarah yang kamu pendam selama ini. Belajar ihklas atas segela ketetapan yang maha kuasa. Agar kamu tidak lelah sendiri sayang " Sheeva tertunduk.
" Terus kalau tiba-tiba ketemu mereka begini gimana bun ?"
" Kalau tiba-tiba papa ada di hadapanku gimana bun ?"
Dengan lembut bunda Aya menghapus air mata yang membasahi pipi Sheeva.
" Cukup lakukan wajibmu sebagai seorang anak. Jangan lantas kamu hilang rasa hormat karena papamu sedang terseah dan berbuat salah "
" Biar bagaimana hanya dia orang tuamu yang masih ada di dunia ini. Bunda yakin kok, jauh di dalam lubuk hati papamu ada cinta yang masih tersisa untukmu "
" Apa kakak tidak pernah sekali saja kangen sama papa atau bang jagad ?" Sheeva mengeleng.
" Hanya bayangan mama yang kesakitan dan diam-diam menangis yang muncul di benakku ketika mengingat papa " Jawab Sheeva engan suara dingin.
Bunda Aya, Misya dan Nindy hanya bisa menghela nafas. Mereka tau betapa menumpuknya luka dihati seorang Sheeva. Bahkan luka itulah yang mengubah pribadi seorang Sheeva menjadi lebih dinggi dan tertutup.
" Tidak apa-apa sayang. Pelan-pelan saja. Lebih banyak mendekatkan diri pada yang maha kuasa saja. Mintalah kelapangan hati. Agar hidup yang kamu jalani menjadi lebih ringan ke depannya." Sheeva hanya mengangguk, perlahan dia rebahkan kepalanya di pangkuan wanita yang terus memeluknya selema lima tahun belakangan ini.
Dengan lembut bunda Aya mengusap kepala Sheeva. masih segar dalam ingatannya kala malam-malam Sheeva datang kepantinya dalam kondisi basah kuyub karena kehujanan. Dan berakhir dia deman berhari-hari.
Tatapan kosong Sheeva kala itu terus terbayang di pelupuk matanya. Dan tangis sheeva secara diam-diam di malam hari selalu menemaninya di satu tahun kepindahan Sheeva.
Kehilangan mamanya membuat Sheeva kehilangan pula keceriaannya. Terlebih sikap acuh papanya dan mulut jahat saudara dan ibu tirinya membuat Sheeva kian terpuruk.
Butuh bertahun-tahun dia memulihkan kondisi Sheeva waktu itu. Bahkan Sheeva terpaksa rutin menemui psikiater demi kesehatan jiwanya yang teramat terguncang saat itu. Masih bisa dia tatap hingga saat ini adalah anugrah yang tak terhingga. Jiwa labil anak umur 13 tahun itu sempat membuat Sheeva hampir mengakhiri hidupnya dengan cara memotong nadinya. Beruntung David datang tepat waktu.
" Tidur dia bunda ?" Ucap Nindy yang mendengar dengkuran halus Sheeva. Bunda aya mengangguk.
Dengan pelan beliau memindahkan kepala Sheeva ke banta agar lebih nyaman.
" Benar Nin, Pamungkas pindah ke sekolah Sheeva ?" Ucap Bunda Aya setelah mereka keluar dari kamar Sheeva.
" Iya bunda baru hari ini dan sau kelas dengan kami " Bunda Aya memejamkan matanya.
" Tapi anehnya dia tidak membuat huru-hara bun "
" Maksudnya ?"
" Ya kita kan tau gimana nyebelinnya bocah satu itu mbak ?" Misya mengangguk.
" Dia lho bahkan tertunduk saa nggak sengaja bersitatap dengan Sheeva mbak, kayak merasa bersalah atau apa ya. Pokoknya nggak dia banget mbak "
" Serius kamu ?" Nindy mengangguk.
" dan dari info yang aku dapat dari ayang beb aku kak, dia udah keluar dari rumah Sheeva sejak beberapa bulan yang lalu katanya "
" Entah apa lagi yang dilakukan kak Pandu dan istrinya sampai anak semanja Pamungkas memilih keluar dari rumahnya " Ucap Bunda Aya lirih.
" Biarin aja bun, mau kocar- kacir keluarga mereka juga bodo amat. Karma sedang berlaku sepertinya "
" Huss jangan bilang begitu nak"
" Gemes habisnya bunda, ada keluarga model tuturan Fir'aun semua begitu. Mana hidup lagi " Maysa hanya bisa mengelengkan kepala melihat Nindy terus mengumpat.
" Ya udah biar Sheeva tidur terlebih dahulu. Bunda kan masakan sup favorit dia, siapa tau dengan sup itu dia mau makan setelah dia bangun nanti "
" Aku bantuin ya bun ?" Ucap Nindy. Bunda Aya hanya mengangguk.
" kalau begitu aku turun ya bun. Buat bantuin Mutia dan Andi "
" Iya mbak "
terlalu berat beban hidup sheeva..