[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Lesu
Enam koma empat miliar rupiah. Angka itu terus berputar-putar di dalam kepala Luis sejak ia bangun tidur sampai ia berjalan menuju sekolah.
Rasa kesal yang luar biasa menyelimuti hatinya. Bagaimana tidak? Ia sudah bersusah payah mempertaruhkan nyawanya, bertarung habis-habisan sebagai manusia biasa melawan Aris dan anak buahnya yang bersenjata, namun hasilnya justru berkurang drastis hanya untuk membayar biaya pembersihan sistem.
Tubuh Luis juga terasa sangat pegal. Bahunya kaku dan bekas memar di rusuknya masih terasa nyeri setiap kali ia menarik napas dalam-dalam. Efek bertarung tanpa kekuatan super benar-benar menguras seluruh energinya.
"Sistem sialan," umat Luis pelan saat berjalan melewati koridor sekolah. "Harga fiturnya benar-benar merampok uangku."
Karena suasana hatinya yang sangat buruk dan tubuhnya yang lelah, Luis berjalan dengan lesu. Matanya tampak layu dan tidak ada semangat sama sekali di wajahnya.
Ia mengabaikan sapaan dari Dimas yang bingung melihat penampilannya yang seperti orang kurang tidur. Luis hanya ingin duduk di kelas, menaruh kepalanya di meja, dan tidur sampai jam pelajaran selesai.
Namun, nasib baik tampaknya belum mau berpihak pada ketenangannya pagi ini.
Baru saja Luis menaruh tasnya di atas meja, aroma parfum yang sangat menyengat kembali tercium. Bella sudah berdiri di depan mejanya dengan senyuman lebar, lengkap dengan gaya centilnya yang biasa.
"Hai, Luis! Kok lemas banget sih hari ini?" tanya Bella sambil langsung duduk di kursi kosong di sebelah Luis. Ia memperhatikan wajah Luis yang tampak pucat dan tidak bertenaga. "Kamu sakit ya? Atau kamu lagi kepikiran soal kata-kata aku yang kemarin?"
Luis hanya melirik Bella dengan tatapan malas. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk membentak atau mengusir gadis itu seperti yang ia lakukan kemarin. Kepalanya terlalu penuh dengan urusan saldo miliaran yang hilang.
"Aku tidak apa-apa. Jangan menggangguku, Bella. Aku sedang lelah," kata Luis dengan suara lemas.
Bella justru melihat hal ini sebagai kesempatan emas. Ia mendekatkan tubuhnya, lalu meraih tangan Luis dan menggenggamnya dengan erat. "Kalau kamu lelah, makanya kamu butuh pacar yang bisa urusin kamu. Ayo dong, Luis. Terima aku jadi pacarmu. Aku janji bakal bikin kamu senang setiap hari. Kita bisa jalan-jalan, makan enak, dan aku gak akan cuekin kamu."
Luis menghela napas panjang. Suara Bella yang cempreng mulai membuat telinganya berdengung. Di dalam pikirannya, Luis hanya ingin gadis ini diam dan pergi dari hadapannya sekarang juga.
Ia sudah tidak peduli lagi dengan konsekuensinya. Urusan asmara di sekolah ini terasa sangat sepele dibandingkan dengan nyawa orang yang baru saja ia cabut semalam.
"Terserah kau," gumam Luis pasrah, matanya terpejam.
Bella tertegun sejenak. "Eh? Terserah gimana maksudnya?"
"Iya, terserah. Kalau kau mau kita pacaran, ya sudah, kita pacaran. Sekarang, tolong biarkan aku tidur. Jangan berisik," ucap Luis tanpa membuka matanya. Ia hanya ingin memotong pembicaraan agar bisa beristirahat.
Mendengar jawaban itu, mata Bella langsung berbinar gembira. Ia hampir saja menjerit histeris di dalam kelas. "Serius?! Kamu beneran mau jadi pacarku sekarang?! Wah, asyik! Luis, kamu pacar aku sekarang!"
Bella langsung memeluk lengan Luis dengan sangat erat, memamerkannya kepada siswi-siswi lain yang ada di kelas. Luis tidak menolak, ia terlalu malas untuk bergerak.
Ia membiarkan Bella melakukan apa saja asalkan gadis itu tidak terus-menerus meracau di dekat telinganya.
Sepanjang hari itu, Luis menjalani pelajaran dengan setengah sadar, hanya menjawab seadanya setiap kali Bella mengajaknya bicara atau memberinya perhatian lebih.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Bella sebenarnya mengajak Luis untuk berkencan, namun Luis menolak dengan alasan tubuhnya benar-benar butuh istirahat.
Setelah berpamitan dengan pacar barunya yang masih tampak kegirangan itu, Luis segera berjalan pulang ke rumahnya.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar, Luis langsung mengunci pintu. Ia melemparkan tas sekolahnya ke lantai dan merebahkan tubuhnya yang remuk di atas kasur.
Rasa lesu dan kesal karena kehilangan uang belasan miliar tadi malam kembali melanda pikirannya.
"Enam koma empat miliar... aku harus memikirkan cara lain untuk mencari target besar berikutnya agar saldoku kembali naik," gumam Luis sambil menatap langit-langit kamar dengan lesu.
"Ah tidak! Uangku yang berharga! Aku sangat mencintai uang."
Ia memanggil layar sistemnya dengan malas, hanya sekadar ingin memastikan bahwa angka di saldonya tidak berkurang lagi secara misterius.
DING!
Layar biru transparan muncul di depan matanya. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sebuah kotak notifikasi besar berwarna emas berkedip-kedip dengan suara detak yang sangat nyaring, memenuhi ruangan kamarnya yang sepi.
[Pemberitahuan Sistem: Program Loyalitas Mode Sulit Aktif!]
[Keterangan: Pengguna telah menghabiskan dana dalam jumlah besar (Rp 16.000.000.000) untuk fitur pembersihan tingkat tinggi dalam satu sesi eksekusi.]
[Selamat! Anda mendapatkan Bonus Cashback sebesar Rp 20.000.000.000!]
Luis langsung terduduk tegak di kasurnya. Matanya membelalak lebar, menatap layar sistem seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca. Rasa kantuk dan pegal di tubuhnya hilang seketika, digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa.
"Dua puluh miliar?! Cashback?!" seru Luis dengan suara tertahan agar tidak terdengar sampai luar kamar.
Layar sistem bergeser, memperbarui rincian keuangan miliknya secara otomatis.
[Total Saldo Saat Ini: Rp 26.400.000.000]
Angka di layarnya kini berubah menjadi 26,4 Miliar Rupiah. Jumlahnya sekarang jauh lebih banyak daripada sebelumnya.
Sistem yang tadinya ia maki-maki karena dianggap merampok uangnya, ternyata memberikan pengembalian dana yang jauh lebih besar karena ia berani mengambil risiko di mode sulit.
Luis terdiam selama beberapa detik, lalu tawanya pecah di dalam kamar yang sunyi itu.
"Haha! Sialan! Jadi sistem ini punya sistem cashback juga?" Luis menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum puas.
Rasa kesal yang membuatnya lesu sepanjang hari di sekolah menguap tanpa bekas. "Ternyata, semakin banyak uang yang aku keluarkan untuk pembersihan, semakin besar juga bonus yang akan aku dapatkan kembali."
Dengan dana sebesar 26,4 Miliar di tangannya, Luis kini memiliki kekuatan finansial yang sangat kuat. Ia tidak perlu lagi ragu-ragu untuk menggunakan fitur-fitur mahal dari sistem di misi berikutnya. Langkahnya untuk membersihkan kota ini dari para penjahat kelas kakap kini terbuka semakin lebar.
Luis kembali berbaring di kasurnya, namun kali ini dengan senyuman kemenangan di wajah tampannya.
Rasa lelah di ototnya kini terasa seperti sebuah pencapaian yang manis.
"Uang memang terasa manis.'