Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Hap!
Rania menangkap tinju preman yang hendak menyerang manager restoran, kemudian menekannya ke atas dan ke bawah dengan sangat kuat hingga terdengar bunyi tulang yang patah. Lalu, memberikan pukulan sangat kuat pada bagian tengah tangan itu hingga patah.
Argh!
"Tanganku!" Dia menjerit, suaranya melengking memenuhi seisi restoran.
Rania menendang perutnya hingga terpental jauh menyusul sang atasan. Ia juga menyingkirkan tubuh manager toko dari jalannya. Memintanya untuk pergi ke tempat aman.
Semua orang terperangah melihat aksi yang dilakukan Rania. Mereka tidak menduga bahwa tubuh sekecil itu mampu mengalahkan para preman yang bertubuh besar. Rania melompat, kedua kakinya menolak pada kursi. Lalu, melakukan tendangan udara. Tendangan yang cukup mematikan menyasar dua kepala preman lainnya.
Dua laki-laki yang hendak menyerang bersama-sama itu pun terpental tidak berdaya. Para pelayan yang geram bergegas membantu Rania. Mereka memukuli preman yang sudah terkapar oleh Rania.
"Kurang ajar!"
Salah satu preman mengeluarkan pisau kecil dari sakunya. Dia berlari menerjang Rania dengan pisau terhunus ke depan. Rania bergerak cepat, tubuhnya menyamping menghindari serangan itu. Lalu, menangkap tangan pereman yang memegang pisau, menekannya ke bawah hingga senjata tajam itu jatuh.
Klentang!
Argh!
Bugh!
Rania menghantam lehernya dengan siku. Mengangkatnya ke atas, untuk kemudian membantingnya ke lantai. Kembali pelayan restoran mengambil alih, mengikat para preman yang sudah tidak berdaya. Bersama manager restoran dan para pengunjung yang ada di sana termasuk Rasya dan ketiga anak lainnya.
Rania berdiri tegak, menatap satu-satunya preman yang tersisa bersama bos mereka yang wajahnya sudah seputih mayat. Mata mereka saling menatap, tajam dan dingin menusuk. Preman yang tersisa menatap semua bawahannya yang terikat dalam keadaan babak belur.
Tangan besarnya mengepal kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Wajahnya berkedut-kedut aneh, menahan gejolak amarah.
"Dasar bocah ingusan! Boleh juga kemampuanmu. Tapi, aku tidak akan membiarkanmu lolos dari tanganku. Belum pernah ada yang bisa melarikan diri dariku," katanya jumawa.
Dia berlari menyerang Rania dengan kepalan tinjunya. Menyerang wajah gadis itu. Rania menghindar, memiringkan tubuhnya ke samping sembari memberi pukulan pada wajah preman terakhir itu.
Bugh!
Rania melompat, berputar di udara. Tendangannya mendarat dengan mulus di wajah preman itu ketika dia berbalik hendak menyerang lagi. Preman itu pun terhuyung ke belakang dan jatuh menabrak meja. Kini, hanya menyisakan satu. Sosok yang paling angkuh, tapi bodoh dan tidak bisa melakukan apapun selain memerintah.
Rania berjalan mendekatinya, wajahnya yang dingin mengirimkan signal bahaya pada hati laki-laki dengan gelar besar itu.
"Berhenti! Jangan mendekat!" Dia turun dari kursi, berjalan mundur. Tangannya meraba-raba mencari pegangan, tapi langkah Rania terus maju memaksanya untuk mundur sampai dia mengatakan apa yang ingin didengar oleh Rania.
"Aku tidak akan membuatmu seperti mereka. Paling pelan, aku hanya akan mengirimmu ke ruang IGD rumah sakit. Paling parah, kau akan gila dan menjadi bahan olokan seluruh negeri. Mati ... itu terlalu mudah untukmu yang sudah dilumuri dengan kejahatan," ancam Rania terus melangkah mengikis jarak antara mereka.
"Ampun! Ampun! Jangan lakukan itu! Aku tidak akan datang lagi menagih ke sini! Aku berjanji!" Dia menjatuhkan diri berlutut di depan Rania dengan kedua tangan menangkup di atas kepalanya yang menunduk.
Bugh!
Rania menghantam kepalanya, hingga berbalik menghantam dinding restoran. Bos Kamsah beringsut mundur. Menahan sakit akibat benturan tadi. Matanya menatap takut pada sosok Rania yang sebenarnya cantik dan manis.
"Tolong, ampuni aku! Kau memang bukan dia. Kau bukan orang yang aku cari. Aku salah mengenali. Tolong, lepaskan aku! Biarkan aku pergi!" katanya lagi memohon.
Rania menghentikan langkah, tersenyum bibirnya meski tipis. Dia puas mendengar ucapan laki-laki bertubuh tambun itu.
"Panggil polisi kota untuk menangkap mereka!" titah Rania yang segera dilakukan oleh manager toko.
Bos Kamsah lunglai, pasrah akan nasibnya di dalam jeruji besi. Rania berbalik, menatap Rasya yang tersenyum lebar di antara para pengunjung restoran. Ia tersenyum, senyum yang menyadarkan semua orang akan sesuatu yang pernah mereka lihat.
"Bukankah itu Nyonya Fattana yang hilang? Aku pernah melihatnya di pengumuman dan televisi. Tuan Hadrian sedang mencarinya," ucap salah satu pengunjung setelah memastikan wajah itu.
Disambut yang lain membenarkan ucapannya, termasuk para pelayan restoran. Siapa yang tidak mengenali Rania. Hadrian menyewa seluruh papan iklan di kota untuk memasang potretnya. Sebuah pengumuman sayembara besar dengan hadiah fantastic bagi mereka yang memberikan informasi tentang keberadaan sang istri.
"Kita harus melaporkannya. Ini kesempatan kita untuk mendapat hadiah besar dari Fattana Grup," ucap salah satu dari mereka membuat Rania tak senang.
Ia tidak suka dimanfaatkan oleh orang lain hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Rania berjalan cepat menghampiri Rasya dan menarik tangannya.
"Kalian salah orang! Aku bukan dia. Usiaku baru sembilan belas tahun," desisnya dingin.
Dia membawa Rasya pergi dari restoran secepatnya. Tak lupa meletakkan beberapa lembar uang kertas di atas meja yang masih berdiri sebagai pembayaran makanan sebelumnya.
"Tidak mungkin salah, bukan?" Mereka mulai bingung sendiri.
"Tapi memang usianya tidak cocok dengan nyonya Fattana. Dia terlalu muda dan energik, sedangkan nyonya Fattana adalah seorang wanita anggun dan lembut," timpal yang lain disetujui semua orang.
Pada akhirnya, tak satu pun dari mereka yang melaporkan keberadaan Rania. Yang mereka tidak tahu, semua aksi Rania tadi direkam oleh orang-orang Riko dan mengirimkannya kepada Hadrian.
"Siapapun dia, nyonya atau bukan, tuan sendiri yang akan memastikan," gumamnya sebelum pergi meninggalkan restoran menyusul Rania.
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄