NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertolongan Pertama Saat Kedinginan

Malam itu Rini dan Mila terpaksa membatalkan janji yang sudah disepakati sebelumnya untuk datang berkunjung ke rumah Sean karena mereka kemalaman.

Setelah berpisah dengan Rini dan Mila yang mengambil jalan berseberangan, Christaly mulai mengoceh. Dia merasa kesal dengan tingkah sok Sean di depan kedua gadis yang baru dikenalnya itu.

“Seharusnya kita sudah sampai di rumah sekarang dan aku sudah bisa rebahan kalau kamu nggak kelamaan ngobrol sama Rini dan Mila tadi itu,” kata Christaly sambil mendengus. “Gara-gara kamu sok asyik sekarang kita harus jalan buru-buru begini karena mau hujan dan kemalaman. Di mana-mana lelaki memang sama saja, buaya buntung. Kalau udah lihat cewek yang bening sedikit langsung melotot.”

“Kamu ini kenapa sih, marah-marah melulu,” sahut Sean santai. “Kamu cemburu?”

“Siapa juga yang cemburu!” bantah Christaly. “Aku cuma nggak suka saja kalau kamu main-main padahal kita kan lagi menjalankan misi.”

Sean tertawa terbahak-bahak dan kembali meledek. “Oh, ya? Yakin kamu nggak cemburu kalau aku dekat-dekat sama Rini dan Mila?”

“Buat apa aku cemburu?! Kamu kan bukan siapa-siapaku, bukan pacarku! Aku nggak punya hak buat cemburu, tapi aku punya hak buat marah karena kita ke sini untuk kerja bukan untuk main-main. Ngerti nggak sih?!” Christaly setengah berteriak saat dia mengatakan itu karena amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun.

“Hem, oke-oke. Tapi, kamu juga kan tahu kalau apa yang aku lakukan tadi itu juga merupakan bagian dari pekerjaanku,” ujar Sean masih dengan nada santai dan tanpa perasaan bersalah sedikit pun. “Jangan lupa, semua ini adalah idemu. Kamu yang menyuruhku untuk menarik perhatian para gadis dan mencari informasi dari mereka.”

“Ya, aku tahu. Tapi, aku yakin kamu nggak dapat informasi apa-apa kan dari kedua gadis itu?”  potong Christaly dengan sarkastis.

“Siapa bilang? Aku dapat cukup informasi, kok, dari Rini juga Mila,” kata Sean. “Dengar, Christaly. Mencari informasi orang hilang adalah keahlianku. Aku punya metode dan caraku sendiri saat melakukan penyelidikan yang aku yakin pasti kamu nggak bakalan ngerti. Jadi, mendingan kamu diam dan lihat saja. Jangan banyak protes.”

“Bagaimana aku nggak protes kalau kamu terus saja main-main begitu,” sergah Christaly menjadi lebih kesal. “Kamu juga nggak boleh lupa, Sean, kalau waktu kita terbatas. Kita cuma punya waktu kurang dari dua minggu lagi untuk menyelesaikan kasus ini. Kalau kita nggak bisa selesaikan kasus ini dalam dua minggu ....”

“Aku tahu persis apa yang harus aku lakukan, Christaly. Tanpa kamu terus kasih tahu, aku juga tahu kalau waktu kita terbatas. Karena itu, sebaiknya kamu berhenti bersikap kekakanak-kanakan dan membuat ulah,” tukas Sean. Dia sekarang berbicara dengan nada yang lebih serius.

“Sekarang lebih baik kamu berhenti mengoceh dan jalan lebih cepat lagi karena sudah mau hujan.”

Christaly yang sudah membuka mulut untuk menyahut seketika terdiam saat melihat sekilas tatapan tajam Sean. Dia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perdebatan dengan pria itu karena dia teringat dengan ancaman pria itu.

Dari pada meluapkan kekesalannya Christaly pun mempercepat langkah kakinya sesuai yang diperintahkan Sean dan bertekad untuk diam sepanjang sisa perjalanan. Namun, tak lama berselang rintik-rintik hujan mulai turun.

Awalnya tidak terlalu deras, tapi, sesaat kemudian hujan mulai lebat. Secara naluriah Sean dan Christaly langsung berlari di tengah hujan dan kilat-kilat petir sesekali menerangi jalan di depan mereka.

Dengan napas tersengal-sengal, keduanya terus berusaha mencari tempat berteduh agar tidak terlalu basah dan kedinginan. Hingga akhirnya, di tepi sawah yang terhampar luas, mereka melihat sebuah gubuk kecil.

Dalam kondisi terdesak oleh hujan yang semakin deras, mereka berdua berlari menuju gubuk tersebut. Tanpa banyak pertimbangan, mereka masuk ke dalam gubuk kecil tempat biasanya para petani berteduh dan beristirahat saat mereka sedang mengurus sawah.

Gubuk itu tidak memiliki dinding, tapi dibuat panggung untuk duduk. Sesaat setelah Sean dan Christaly berteduh di gubuk itu, hujan semakin menggila, menciptakan suara gemuruh di atap gubuk.

“Astaga, hujannya semakin lebat saja,” kata Christaly cemas. “Kita nggak akan bisa pulang kalau begini.”

“Mau bagaimana lagi, kita nggak punya pilihan selain menunggu hujannya reda.” Sean menyahut.

“Tapi, bagaimana kalau hujannya nggak kunjung reda? Bagaimana kalau hujan lebat sampai pagi, apa iya kita harus terus nunggu di sini sampai pagi sementara kita basah kuyup begini?” ujar Christaly sambil dia menggosok-gosokan kedua belah telapak tangannya karena kedinginan.

Melihat Christaly kedinginan seperti itu Sean langsung mengambil inisiatif untuk menggenggam tangannya erat-erat, mencoba untuk menghangatkan diri satu sama lain.

“Hujannya pasti berhenti, kok. Percaya deh sama aku. Mungkin memang akan agak sedikit lama, tapi pasti mereda. Oke?”

Christaly hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, perhatian yang Sean berikan benar-benar membuat dia kehilangan akal sehatnya hingga dia tidak mampu  berkata-kata. Apalagi tatapan lembut dari detektif tengil itu, seketika membuat hatinya meleleh.

Sean menggenggam tangan Christaly semakin erat. “Tanganmu dingin sekali. Kamu pasti sangat kedinginan.”

Lagi-lagi Christaly hanya bisa mengangguk kecil tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Perhatian yang ditunjukkan Sean atau mungkin lebih tepatnya disebut sebagai kepedulian, membuat amarah dan rasa kesal di dalam hati Christaly hilang seketika. Bahkan perasaan cemas dan takutnya juga.

“Hem, sementara kita menunggu hujannya reda, bagaimana kalau kita saling menghangatkan satu sama lain?” tanya Sean tiba-tiba.

“Eh, apa maksudmu?” Christaly menyahut sambil mengernyit sedikit, pura-pura tidak tahu ke mana arah pembicaraan Sean.

“Kamu tahu persis apa maksudku, Christaly. Jangan berpura-pura seperti itu.”  Sean  mengusap lembut pipi Christaly  dengan punggung tangannya, menghapus tetesan air hujan yang masih melekat di sana. "Kamu begitu cantik saat basah kuyup begini. Dan semakin menggairahkan tentunya.”

Mendengar rayuan manis Sean pipi Christaly bersemu merah. “Dasar tukang gombal!” sahut Christaly sambil tersenyum malu dan memalingkan wajahnya sejenak. Tetapi Sean dengan lembut memutar dagunya dengan jari-jarinya, membuat mata mereka kembali bertemu.

“Aku serius, Christaly. Kamu benar-benar cantik dan menggairahkan,” kata Sean dengan penuh keyakinan. “Ayolah, Sayang. Kita perlu saling menghangatkan disituasi seperti ini. Dan kamu tahu bagaimana caranya.”

Apa yang dikatakan Sean memang ada benarnya. Mustahil mereka berdua bertahan lebih lama lagi dari udara dingin yang menusuk ini. Apalagi mereka basah kuyup.

Tidak hanya itu, gubuk tempat mereka berteduh pun tidak memiliki dinding di mana angin yang berembus terasa seperti mata pisau beku yang mengiris-iris kulit mereka.

“Seorang teman pernah berkata padaku, katanya, kalau kita  mengalami hipotermia, pertolongan pertama yang harus diberikan adalah menelanjanginya untuk mulai bercinta. Gesekan dari dua tubuh yang bertelanjang itu lebih panas dari air mendidih atau api.” Setelah mengatakan kata-kata itu Christaly tersenyum sambil melucuti pakaiannya yang basah satu persatu. “Menurutmu bagaimana, Sean? Apa kamu setuju dengan yang dikatakan oleh temanku itu?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!