"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Jam Menuju Badai
Seketika Sisil langsung terdiam. Dari nada suara sang ayah, gadis itu tahu kalau ada kemarahan di dalamnya. Hatinya seketika langsung resah.
Dion bukanlah seorang ayah yang kasar atau pemarah. Dia lebih banyak diam dan memilih menasehati anaknya dengan lemah lembut namun penuh ketegasan.
Tapi baru sekarang Sisil merasakan aura kemarahan sang ayah begitu terasa walau lewat suara. keresahan seketika melandanya. Ada rasa takut juga mulai merayapi.
“I-iya, Pa.”
“Sekarang! Naik whoosh! Papa jemput kamu di stasiun Bandung. Kalau dalam waktu tiga jam kamu belum pulang, Papa sendiri yang jemput kamu!”
Tanpa menunggu jawaban anaknya, Dion langsung mengakhiri panggilan.
Sisil langsung panik, matanya langsung melihat jam di pergelangan tangannya.
Apa yang terjadi pada Sisil tertangkap oleh Alvin.
“Ada apa?”
“P-papa telepon, aku disuruh pulang sekarang.”
“Kenapa? Ada apa sesuatu?” tanya Alvin curiga.
“Nggak tahu juga, Om. Aku mau siap-siap dulu ya. Om bisa kan antar aku ke Halim?”
Sisil langsung merapihkan lembaran usulan penelitiannya. Gadis itu benar-benar takut kalau tidak pulang dalam waktu tiga jam.
“Mau Om temani pulang ke Bandung?” tawar Alvin. Pria itu jadi mengkhawatirkan keadaan Sisil.
“Nggak usah, Om. Antar aja aku ke Halim.”
“Ya sudah, ayo.”
Alvin bangun dari duduknya. Dia juga kembali dulu ke rumah untuk mengambil mobil.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, Alvin dan Sisil sudah berada di dalam mobil.
Sisil tidak membawa semua barangnya. Dia sengaja meninggalkan beberapa barangnya di rumah Alvin. Toh nantinya dia akan segera kembali lagi.
Hatinya masih berusaha meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Ketakutannya hanya perasaannya saja.
“Papa kamu kenapa tiba-tiba nyuruh kamu pulang?” tanya Alvin membuyarkan lamunan Sisil.
“Nggak tahu, Om,” jawab Sisil cepat. “Mungkin Papa kangen sama aku yang imut ini,” lanjutnya berusaha menenangkan Alvin yang sepertinya mulai curiga.
Sepanjang perjalanan, Sisil terus memikirkan kemungkinan yang terjadi, apa yang menyebabkan sang ayah tiba-tiba menyuruhnya pulang.
Entah mengapa pikirannya tertuju pada Rian. Apa mungkin sahabatnya itu yang sudah melaporkan soal dirinya dengan Alvin?
“Kenapa, sayang?” tanya Alvin sambil meraih tangan Sisil kemudian mengusap punggung tangan gadis itu pelan. Apa yang dilakukan pria itu sukses membuat mood Sisil berubah. Dari yang tadinya khawatir jadi baper maksimal.
“Nggak apa-apa. Nanti kalau aku agak lama di Bandung, Om bakalan kangen aku, nggak?”
“Nggak,” jawab Alvin cepat tanpa pikir dua kali. Bibir Sisil langsung mengerucut. Sungguh sebuah jawaban diluar ekspektasi. Alvin tertawa senang melihat gadis di sampingnya mode ngambek.
“Aku nggak mungkin kangen karena aku bakal sering video call sama kamu,” lanjutnya sambil tersenyum manis. Jawaban Alvin pun sukses menarik sudut bibir Sisil ke atas lagi.
“Tapi … pasti ada yang bakal aku kangenin.”
“Apa?”
“Masakan kamu yang rasanya juara. Karena selain rasanya enak, kamu tambahin masakan kamu dengan cinta dan ketulusan.”
“Idiiihhh … Om Alvin sejak kapan jadi Deni Cagur hihihi ….”
Perbincangan dengan Alvin yang diselingi gombalan recehnya berhasil mengalihkan Dion dari pikirannya.
Tak terasa perjalanan mereka berakhir. Alvin membelikan dulu tiket untuk gadis itu, kemudian mengantarkan sampai ke depan pintu keberangkatan. Kereta yang akan membawa gadis itu ke Bandung baru saja tiba.
“Aku pulang dulu ya, Om.”
“Hati-hati. Kalau sudah sampai di Bandung, kabari aku.”
“Iya.”
“Kalau sudah di stasiun Padalarang, telepon Papamu biar langsung dijemput ke stasiun Bandung.”
“Siap,” jawab Sisil sambil menaruh sebelah tangannya di dekat pelipis, seperti orang sedang memberi hormat. “Selama aku nggak ada, Om nggak boleh tebar pesona ya.”
“Hahaha … aku mau tebar pesona sama siapa?”
“Om kan ganteng, apalagi sekarang udah punya gelar baru.”
“Gelar baru?” kening Alvin nampak mengernyit. “Gelar apaan?”
“Calon duda … hihihi ….”
Tak ayal Alvin ikut terkekeh. Tiba-tiba saja hatinya berat melepas gadis di depannya pulang ke Bandung. Dia mengangkat tangannya lalu mengusap lembut puncak kepala Sisil.
“Aku pergi, Om.”
Sisil terkejut ketika Alvin menariknya ke dalam pelukannya. Tangannya yang tadi menjuntai ke bawah, akhirnya balas memeluk pinggang pria itu.
“Aku pasti akan merindukanmu. Kamu baik-baik ya di Bandung,” Alvin mengakhiri kalimatnya dengan sebuah ciuman lembut di puncak kepala Sisil.
Perlahan dia melepas pelukannya, membiarkan gadis kesayangannya beranjak melewati pintu keberangkatan. Tangan Sisil terus melambai sampai dia tiba di depan salah satu gerbong.
Sang petugas langsung mempersilakan Sisil masuk setelah memeriksa tiketnya. Lebih dulu gadis itu melihat pada Alvin, sebelum masuk ke dalam kereta.
Sisil mendudukkan dirinya di kursi dekat jendela. Matanya terus memandang keluar jendela. Melihat pada Alvin yang masih berada di dekat pintu keberangkatan.
Perlahan gadis itu bisa merasakan kereta yang ditumpanginya bergerak. Dapat Sisil rasakan matanya mulai memanas ketika sosok Alvin sudah tidak tertangkap pandangannya lagi. Ada rasa berat meninggalkan pria yang sudah sepenuhnya menguasai hati dan pikirannya.
Sambil mengusap sudut matanya yang berair, Sisil mengambil ponselnya. Dia memilih mendengarkan musik dari ponselnya menggunakan earpiece. Matanya terpejam menikmati alunan lagu lembut di telinganya.
“I’m stronger everyday, even when I say I’ll stay. Baby steps, but I don’t break, I’ve been, I’ve learned, I’ve changed. I’m stronger everyday, you can see it in my face. All the little moves I make. Add up, light up my way.”
***
Dalam waktu tiga puluh menit, kereta yang ditumpangi Sisil sudah tiba di stasiun Padalarang. Gadis itu segera bersiap turun dari kereta cepat tersebut.
Untuk menyambung sampai ke stasiun Bandung, Sisil menggunakan kereta feeder yang sudah disediakan khusus penumpang whoosh.
Kereta pun segera bergerak, tak lama setelah dirinya naik. Ketika kereta mulai berjalan, Sisil segera mengirimkan pesan pada ayahnya.
Dua puluh menit kemudian gadis itu sudah tiba di stasiun Bandung. Begitu keluar, nampak sang ayah sudah menunggunya. Tanpa mengatakan apa pun, Dion segera menuju mobilnya. Sambil berlari kecil, Sisil menyusul ayahnya.
Selama perjalanan pulang, tak ada pembicaraan di dalam mobil. Sesekali Sisil melirik sang ayah yang duduk tepat di sebelahnya. Entah mengapa dia merasakan ketegangan di situasi sekarang.
Begitu mobil berhenti di pekarangan rumah, Dion langsung melepas sabuk pengamannya seraya berkata, “Tunggu Papa di ruang kerja!”
Hanya anggukan kecil yang diberikan Sisil. Gadis itu bergegas masuk ke rumah.
Kepulangan Sisil yang tiba-tiba tentu saja mengejutkan Kirana. Yang lebih membuatnya heran, suaminya berjalan mengikuti Sisil. Wajahnya terlihat seperti menyimpan kemarahan.
“Mas ….”
Kirana tak melanjutkan ucapannya ketika Dion mengangkat tangannya. Pria itu segera menuju ruang kerja pribadinya.
Khawatir dengan keadaan anak sambungnya, Kirana bergegas menyusul.
“Terangkan apa ini?!” tanya Dion pada Sisil sambil melempar foto-foto kiriman Anyelir yang sudah dicetak olehnya ke atas meja kerjanya.
***
Reaksi Dion gimana ya?
Anye,nikmati hari2 terakhir bersama Alvin.setelah keluar hasil tes DNA nya,nasib Anye bakal ditentukan.tapi yang pasti sudah jelas bakal cerai dari Alvin.
Mak bikin penasaran aja🤭
Rian siiip jg nih jd kompor,,😄