NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeritan Besi yang Patah

Kenaikan itu tidak dimulai dengan sentakan yang tiba-tiba, melainkan dengan erangan panjang dari dalam perut bumi yang menggetarkan hingga ke sumsum tulang Genevieve. Kisi-kisi baja raksasa dari platform lift itu bergetar hebat di bawah sepatu bot kulitnya yang usang. Kepulan uap geotermal—tebal, menyesakkan, dan berbau belerang yang sangat menyengat—membumbung naik dari kegelapan jurang di bawahnya, membungkus tubuhnya dalam pelukan kabut putih yang membutakan.

Untuk pertama kalinya sejak ia dilemparkan ke dasar Jurang Hitam, Genevieve merasakan panas yang sesungguhnya. Hawa panas dari uap itu menyusup menembus mantel bulu serigala yang berlumuran darah di bahunya, mencairkan ujung-ujung jarinya yang kebas dan memaksa darahnya yang tadinya mengalir lamban untuk kembali berdesir dengan tenaga baru.

Ia berdiri di tengah-tengah platform, satu tangannya beristirahat dengan sangat ringan di atas tuas perunggu yang dingin, sementara tangan lainnya melayang hanya beberapa sentimeter dari gagang *Nightfang*. Ia sengaja sedikit menekuk kedua lututnya, menggunakan posturnya untuk meredam getaran konstan dari mesin kuno yang sedang bekerja keras memecah keheningan berabad-abad.

*Tenang,* perintahnya pada dirinya sendiri, memaksa napasnya masuk dan keluar dalam ritme yang terukur dan disengaja.

Kegelapan poros lift di atasnya sangat pekat, sebuah terowongan vertikal yang dipahat menembus batuan obsidian padat. Satu-satunya suara yang mendominasi adalah dentangan ritmis yang memekakkan telinga dari rantai-rantai besi raksasa yang menarik platform tersebut. Setiap mata rantai itu setebal batang tubuh manusia dewasa, ditempa oleh Ordo Naga yang pada masanya menguasai sihir sekaligus teknik arsitektur yang tak tertandingi.

Namun, hukum alam tidak pernah berpihak pada karya yang ditelantarkan. Ratusan tahun pengabaian telah meninggalkan jejak yang fatal. Serpihan-serpihan karat berguguran terus-menerus layaknya gerimis pasir yang kasar, menodai rambut peraknya dan menggores lembut pipinya yang pucat.

Genevieve memejamkan mata, memutar fokusnya ke dalam tubuhnya sendiri. Di pusat ulu hatinya, benih dari Inti Kegelapan berdenyut dengan kehangatan gelap yang tenang. Ia bisa merasakan *Shadow Stitch*—benang-benang bayangan pekat yang ia ciptakan—menjahit erat tiga tulang rusuknya yang retak, menahan serpihan tulang itu dengan kekakuan yang menentang ilmu medis tabib mana pun di Aethelgard. Rasa sakit itu masih berdiam di sana, sebuah nyeri tumpul yang terus berdenyut, namun penderitaan yang melumpuhkan telah dibungkam. Ia lebam, kelaparan, dan nyaris kehabisan tenaga, namun pikirannya belum pernah terasa setajam ini.

Menit-menit berlalu, merangkai waktu yang terasa elastis di dalam kegelapan. Lift kuno itu merangkak naik dengan pasti, membelah kerak bumi Aethelgard sejauh ratusan kaki.

Pikiran Genevieve mulai merajut langkah selanjutnya. Ketika lift ini mencapai permukaan, ia kemungkinan besar akan muncul di ruang bawah tanah Kastil Ravenscroft yang terbengkalai. Ia harus menyelinap melewati penjaga tingkat rendah, mencari sumber makanan dan air bersih yang tidak diracuni, lalu mengamankan tempat persembunyian di dalam dinding kastil sebelum menunjukkan dirinya. Ia akan menghancurkan mereka satu per satu, perlahan-lahan. Pertama Gideon, kepala pelayan yang angkuh itu. Lalu Tabib Silas. Ia ingin melihat langsung saat kepanikan menyapu bersih raut arogan di wajah mereka ketika menyadari bahwa—

*SKRIIIIIT!*

Suara itu merobek poros lift, sebuah jeritan logam melengking tinggi yang seketika menenggelamkan dengungan stabil dari mesin uap.

Mata Genevieve tersentak buka. Platform baja itu tiba-tiba miring dengan keras ke arah kiri. Kehilangan keseimbangannya, pergelangan kaki kirinya yang terkilir tertekuk paksa. Genevieve terbanting keras ke atas kisi-kisi baja. Udara terlempar keluar dari paru-parunya dalam satu helaan napas yang menyakitkan.

Di atasnya, kegelapan poros terkoyak oleh hujan percikan api berwarna jingga terang. Salah satu dari empat rantai pengangkat utama—yang strukturnya telah keropos dimakan waktu dan korosi uap asam belerang—tersangkut pada roda gigi raksasa yang posisinya sudah melenceng di mekanisme atas.

"Tidak," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar di bawah raungan mesin yang tersiksa.

Mesin uap kuno itu mengerang memprotes, terus memaksakan putarannya, mencoba menarik rantai yang macet tersebut. Ketegangan yang terjadi sangatlah brutal, sebuah pertarungan maut antara tenaga uap hidrolik tanpa henti melawan besi yang sekarat.

Selama tiga detik yang terasa seperti keabadian, lift itu menggantung di udara, bergetar dengan kejang yang mengerikan. Genevieve merangkak putus asa menuju bagian tengah platform, jari-jarinya yang ramping mencengkeram erat celah-celah kisi baja hingga ujung kukunya retak. Jantungnya berpacu gila-gilaan, menghantam jahitan bayangan yang menahan rusuknya dari dalam.

Lalu, hal yang tak terhindarkan itu terjadi.

*TRAK!*

Suaranya meledak menyerupai tembakan meriam di ruang tertutup. Rantai raksasa di sebelah kiri itu putus berkeping-keping.

Hilangnya tegangan di satu sisi secara instan membuat platform baja yang sangat berat itu miring tajam hingga mencapai sudut empat puluh lima derajat. Tiga rantai yang tersisa menjerit melolong, dipaksa menanggung seluruh beban yang tiba-tiba menjadi tidak seimbang.

Genevieve merosot ke bawah. Telapak tangannya tergores kasar saat ia mati-matian berpegangan pada kisi-kisi baja, menahan tubuhnya agar tidak meluncur melewati tepi platform dan jatuh kembali ke dalam jurang beruap di bawah sana.

*TRAK! TRAK!*

Dua rantai lainnya menyerah dalam hitungan detik, mata rantainya pecah berantakan tak mampu menahan gaya kejut yang menghentak.

Gravitasi kembali merebut tawanannya. Platform itu anjlok.

Perut Genevieve seolah melompat ke tenggorokannya saat ia memasuki fase jatuh bebas untuk kedua kalinya dalam dua hari terakhir. Kegelapan berkelebat di sekitarnya. Namun kali ini, ia tidak lumpuh oleh ramuan *Napas Kematian*. Ia sepenuhnya sadar, merasakan setiap detik dari teror kejatuhan yang mematikan ini.

*Aku menolak mati di dalam lubang ini!* raung akal sehatnya.

Ia menggali jauh ke dalam pusat kehangatan gelap di dadanya, menarik setiap tetes sisa energi dari Inti Kegelapan yang bisa ia jangkau. Matanya menyala dengan pendaran ungu yang redup.

*"Shadow Stitch!"* teriaknya.

Tentakel-tentakel energi hitam pekat meledak dari kedua telapak tangannya, melesat keluar layaknya tombak harpun. Benang-benang bayangan itu melilit kuat pada kisi-kisi besi di sekitarnya, lalu mengikat tubuhnya sendiri dengan paksa ke lantai platform, memakukannya layaknya sebuah kargo. Sihir itu tidak akan menghentikan lift yang jatuh, namun sihir itu akan mencegah tubuhnya terlempar, hancur terpental-pental, atau tergelincir keluar saat benturan terjadi.

Lift itu tidak jatuh hingga ke dasar jurang. Kehilangan keseimbangan rantainya, platform baja itu meluncur zig-zag, bergesekan brutal dengan dinding poros hingga memicu hujan api, sebelum akhirnya menabrak bagian poros yang menyempit di sebuah persimpangan tengah.

Benturan yang terjadi benar-benar mendatangkan kiamat kecil.

Percikan api meledak layaknya kembang api raksasa saat sisi platform menghantam paksa dinding obsidian. Kisi-kisi baja melengkung, memuntir, dan berderak dalam paduan suara kehancuran yang memekakkan telinga sebelum akhirnya berhenti dengan paksa yang meremukkan tulang.

Pandangan Genevieve seketika memutih. Kepalanya terhempas ke belakang, nyaris menancap pada paku keling besi yang menonjol dari lantai. Tenaga kinetik murni dari pemberhentian mendadak itu menyapu seluruh tubuhnya, menguji batas maksimal dari ikatan bayangan yang menahannya. Paru-parunya menolak berfungsi, lumpuh oleh syok. Dunia memudar menjadi kabut statis yang berdenging tajam di telinganya.

Ketika visinya perlahan menjernih, diiringi rasa sakit kepala yang membelah tengkorak, ia mendapati dirinya tergantung di kemiringan yang curam, tubuhnya terikat aman pada kisi-kisi baja yang melengkung oleh sisa-sisa sulur sihirnya yang mulai memudar. Udara di sekitarnya terasa sangat pekat, dipenuhi oleh bau besi yang hangus terbakar dan debu tebal.

Sambil mengerang menahan perih di seluruh persendiannya, Genevieve memutus mantra *Shadow Stitch*. Tubuhnya merosot turun beberapa kaki hingga sepatu botnya berpijak pada tepi platform yang terlipat. Dengan gemetar, ia menopang dirinya sendiri, memaksakan tubuhnya untuk berada dalam posisi berjongkok. Seluruh ototnya menjerit memprotes, namun tidak ada tulang baru yang patah.

Ia mengedarkan pandangannya. Lift itu terjepit tanpa harapan di tengah poros. Di atasnya, hanya sisa-sisa rantai putus yang menjuntai di dalam kegelapan. Di bawahnya, jurang tanpa dasar.

Namun, ketika ia menoleh ke sisi kanan—tempat di mana ujung platform telah menjebol sebagian dinding poros tebing—ia melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

Itu bukanlah dinding batu yang dipoles halus milik Kastil Ravenscroft. Melalui lubang menganga di dinding poros itu, berpendar sebuah cahaya kuning kemerahan yang redup dan tidak sehat. Ia bisa mencium aroma yang sangat spesifik dan vulgar: bau asap pembakaran batu bara, keringat manusia yang tengik, dan bau fermentasi dari bir murahan. Dan sayup-sayup, menggema melalui ruang terbuka yang luar biasa luas di balik dinding tersebut, ia mendengar suara dentingan ritmis dari beliung logam yang menghantam batu, diiringi oleh gumaman kasar suara-suara manusia.

Lift itu tidak pernah membawanya ke permukaan. Mesin rusak itu telah memuntahkannya di lapisan tengah dunia bawah tanah Aethelgard. *Stratum Menengah*.

Berdasarkan memori samar yang pernah ia baca dari perpustakaan ibukota, ini adalah labirin dari bekas tambang obsidian raksasa. Sebuah kota buangan tanpa matahari, dikuasai oleh hukum rimba, dan dihuni oleh para kriminal, pembelot, serta mereka yang dibuang hidup-hidup dari masyarakat permukaan.

Genevieve mempererat cengkeramannya pada gagang *Nightfang*. Matanya perlahan menyesuaikan diri dengan cahaya kekuningan yang kotor dari neraka barunya. Rencana cepatnya untuk membalas dendam mungkin telah tergelincir, tetapi naluri predatornya justru semakin menajam.

Ia merangkak mendekati lubang tersebut, menatap ke bawah ke arah lautan gubuk kumuh dari seng berkarat yang menyebar di dasar gua raksasa itu.

"Kau mengira bisa menahanku di bawah sini, Aethelgard?" bisiknya, suaranya sedingin es yang mematikan. "Kalau begitu, aku akan mengumpulkan pasukanku dari tempat sampahmu."

1
Ana Kurniawan
aq jadi bingung terus fungsinya sistem buat apa..?
Ana Kurniawan
kan udah punya sistem ya, ku kira sistem itu yg bakal bantu dia tanpa harus ada esentitas lain...
Murni Dewita
👣
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!