"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14.
Keringat dingin membasahi punggungku saat aku memegang pinset dengan tangan yang gemetar hebat. Darah hangat terus merembes, membasahi jemariku. Dengan sisa keberanian yang ada, aku menjepit benda keras yang terasa di dalam otot lengannya.
"Tarik pelan, Lily... jangan ragu," bisik Darrel dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti geraman.
Aku menariknya. KLING! Suara timah panas yang jatuh ke atas nampan perak itu terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi. Darrel mengerang panjang, tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya ia menyandarkan kepalanya ke kursi dengan napas tersengal. Aku menatap butiran logam kecil berlumuran darah itu dengan perasaan mual yang luar biasa.
"Belum selesai," ucap Darrel parau. Ia membuka matanya yang merah dan menunjuk ke arah jarum serta benang bedah. "Jahit lukanya."
"Apa? Darrel, aku... aku tidak bisa. Aku belum pernah menjahit kulit manusia!" pekikku, air mata mulai menggenang karena rasa ngeri yang memuncak.
"Kau bisa. Seperti menjahit kain yang robek, hanya saja ini lebih kenyal. Lakukan, Lily. Aku mulai kehilangan banyak darah," perintahnya tak terbantah.
Aku menatap Leo, berharap pria itu mengambil alih, namun Leo hanya berdiri diam dengan wajah prihatin. "Silakan, Nyonya. Tuan Muda benar. Beliau sudah terbiasa dengan ini. Bahkan dulu, Tuan Darrel pernah menjahit luka di perutnya sendiri di tengah hutan tanpa bantuan siapa pun saat menjalankan misi klan."
Aku menelan ludah. Bagaimana bisa mereka menganggap luka tembak sebagai hal yang "biasa"? Apakah menjadi mafia berarti harus mematikan rasa sakit?
Dengan tangan yang masih gemetar, aku mulai menusukkan jarum ke kulit Darrel. Setiap kali jarum itu menembus daging, aku meringis, seolah-olah akulah yang merasakannya. Namun Darrel? Dia hanya meringis kecil, rahangnya mengeras, namun matanya tetap menatapku dengan tajam, mengawasi setiap gerakanku seolah sedang menguji ketenanganku.
Satu jahitan... dua... tiga. Akhirnya luka itu tertutup.
Setelah selesai, Darrel mengambil sebuah suntikan berisi cairan bening dari kotak medis. Tanpa bantuan Leo, ia menyuntikkan obat itu ke paha kirinya sendiri—mungkin antibiotik atau pereda nyeri dosis tinggi. Setelah itu, ia berdiri dengan perlahan, merapikan kemejanya yang berantakan dan berlumuran darah seolah-olah ia baru saja mengganti pakaian biasa.
"Terima kasih," ucapnya pendek, tanpa emosi. "Leo, bersihkan ruangan ini. Jangan ada satu tetes darah pun yang tersisa."
Darrel berjalan keluar dari ruang kerja dengan langkah yang sedikit kaku namun tetap tegak. Aku terpaku melihat punggungnya. Benar-benar monster, pikirku. Bagaimana mungkin seseorang bisa sekuat itu setelah dagingnya robek oleh peluru?
Rasa khawatir—yang entah datang dari mana—membuatku mengikuti langkahnya. Saat ia hampir sampai di depan pintu kamar pribadinya, aku memberanikan diri memanggilnya.
"Darrel! Tunggu!"
Ia berhenti dan berbalik perlahan. Tatapannya kembali membeku, menciptakan jarak yang sangat jauh di antara kami.
"Tidurlah, Darrel. Kau butuh istirahat. Biar aku membantumu masuk atau—"
"Berhenti di sana, Lily," potongnya dingin. Tangannya yang sehat memegang gagang pintu, sementara lengannya yang baru kujahit ia biarkan menggantung kaku. "Kau sudah melakukan tugasmu malam ini. Sekarang kembali ke kamarmu."
"Tapi lukamu—"
"Jangan melewati batas," desisnya, matanya berkilat memperingatkan. "Hanya karena kau membantuku mengeluarkan peluru, bukan berarti kau punya akses ke ruang pribadiku. Kita tetaplah dua orang asing yang terjebak dalam kontrak sialan ini. Mengerti?"
BLAM!
Pintu itu tertutup tepat di depan wajahku. Aku berdiri mematung di lorong yang dingin itu, merasa sangat bodoh karena telah mengkhawatirkan pria yang bahkan tidak menganggapku manusia. Rasa syukur karena dia selamat tiba-tiba berganti menjadi rasa sesak di dada.
***
Keesokan harinya, Suara tawa berat yang kering memecah keheningan kamarku, membuatku terjaga seketika. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat sosok pria tua berambut putih yang sangat kukenali sedang duduk dengan santai di sofa sudut kamarku. Erlan Grisham.
Ia duduk di sana sambil menyesap kopi, sementara beberapa pengawalnya berdiri mematung di dekat pintu. Bagaimana bisa dia masuk ke kamar pribadiku tanpa ada yang mencegahnya?
"Sudah puas tidurnya, Lily?" tanya Erlan, suaranya parau namun penuh otoritas yang menindas.
Aku segera menarik selimut untuk menutupi tubuhku, terduduk dengan napas memburu. "Tuan Erlan? Bagaimana... bagaimana Anda bisa ada di sini? Di mana Darrel?"
Erlan meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca dengan dentingan yang nyaring. "Jangan menanyakan suamimu! Dia pria yang jauh lebih tangguh darimu. Dia sudah berada di kantor sejak fajar, mengurus bisnis yang hampir kacau karena serangan semalam, meskipun lengannya bolong terkena peluru."
Matanya menatapku tajam, ada kilat kepuasan sekaligus penghinaan di sana. "Ini sudah siang, Lily. Hanya wanita malas yang masih mendekam di balik selimut saat matahari sudah di puncak kepala."
"Aku... aku kelelahan," bisikku, teringat kejadian traumatis semalam saat aku harus menjahit daging putranya sendiri.
"Kelelahan?" Erlan berdiri, langkah kakinya yang berat mendekat ke arah tempat tidurku. "Kau punya waktu tiga puluh hari untuk memberikan apa yang kuminta, dan kau menghabiskan waktu dengan tidur? Darrel mungkin bisa lunak padamu, tapi aku tidak."
Ia mengeluarkan sebuah amplop hitam tebal dengan lambang emas klan Grisham dari balik jasnya dan melemparkannya ke atas kasur, tepat di depan lututku.
"Buka," perintahnya singkat.
Dengan tangan gemetar, aku membuka amplop itu. Sebuah kartu undangan mewah tertulis di sana: The Grand Gala of Alliances. Sebuah pesta kelas atas yang dihadiri oleh keluarga-keluarga paling berpengaruh dan berbahaya di negeri ini.
"Besok malam, kau akan hadir di pesta itu sebagai Nyonya Grisham yang sah," ucap Erlan, suaranya meninggi memenuhi ruangan. "Ini adalah debutmu. Dunia harus tahu bahwa Darrel tidak menikahi pelayan toko bunga yang lemah, melainkan seorang wanita yang pantas menyandang nama besar kami."
"Tapi Tuan, aku tidak tahu cara bersikap di sana... aku bukan bagian dari dunia kalian," protesku pelan.
"Maka belajarlah!" bentak Erlan, kali ini rahangnya mengeras. "Jika kau mempermalukan nama Grisham di depan musuh-musuhku, atau jika kau bersikap seperti pengecut yang ketakutan, reputasi keluarga ini akan dipertaruhkan. Dan kau tahu apa yang terjadi pada orang yang merusak reputasiku, bukan?"
Ia membungkuk, wajahnya yang keriput namun kuat kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aroma cerutu dan kekuasaan yang pekat membuatku mual.
"Ingat Nenekmu, Lily. Dia sedang beristirahat dengan tenang di rumah sakitku. Pastikan dia tetap tenang di sana dengan cara kau bersikap sempurna di pesta itu. Gaun dan pelatih etiket akan datang dalam satu jam. Jangan mengecewakanku."
Tanpa menunggu jawabanku, Erlan berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah gagah, diikuti oleh anjing-anjing penjaganya. Aku terlemas, menatap undangan hitam itu seolah-olah itu adalah surat kematianku yang lain.
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya