Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pagi harinya suasana mendadak berubah. Sarapan hari itu cuma nasi putih dan telur mata sapi. Semuanya melongo, lalu serempak mengeluh.
Saat Desi dan Febi memeriksa dapur, keduanya langsung menjerit panik.
"Dapur kosong! Mie, kornet, sosis, nugget, semuanya gak ada!" teriak Desi. Seketika seluruh peserta saling pandang dengan tatapan pasrah.
Kimi tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangan. "Aku punya mie dari baru datang dulu, "
Semua langsung menoleh.
"Serius?" tanya Juli penuh harap.
Kimi mengangguk. "Itu mie kesukaan aku. Masih nyisa lima biji lagi."
"Minta dong, Kim. Gw gak bisa makan kayak begini doang," kata Okta sambil maju.
Kimi buru-buru berlindung di balik Ruby. "Tapi itu makanan darurat aku sama Uby."
"Daruratnya pagi ini, Kim," celetuk Juni. "Nanti kita cari lagi. Jangan pelit."
Kimi menatap Ruby minta tolong, tapi Ruby cuma mengangguk santai. Dia sendiri tak pernah makan makanan instan, jadi tidak sadar pentingnya stok itu untuk yang lain.
"Yaudah, bayar ya. Harganya naik sepuluh kali lipat," kata Kimi serius.
"Astaga, Ru. Amit-amit pacar lo," Marey mendengus.
Ruby hanya tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala. Entah kenapa, meski mereka harus makan seadanya, pagi ini terasa jauh lebih hangat dari biasanya.
Akhirnya sarapan tetap berlangsung damai dan sedikit rasa kehilangan.
~
Kelas tetap berjalan seperti biasa. Tapi menjelang akhir, Kimi yang masih penasaran mengangkat tangan.
"Pak, tadi pagi sarapan apa?" tanyanya sok santai.
Pak Mahmud tersenyum bijak. "Nasi, kecap, dan telur mata sapi. Kenapa, Kimi?"
"Cuma penasaran, Pak. Emang dapurnya lagi kosong ya? Atau yang ngirim logistik kejebak badai?"
"Oh, iya. Anggaran pelatihan udah habis," jawabnya ringan, "Katanya staf agak boros dari awal, jadi ya begini. Anggap aja latihan hidup hemat."
Kimi mengernyit, tapi akhirnya tersenyum tipis. Ia tahu, jawaban itu tidak bisa dipercaya mentah-mentah. Di tempat ini, semua bisa diskenario. Atau mungkin... mereka semua cuma bagian kecil dari permainan yang lebih besar.
Untungnya menu makan siang sedikit lebih 'baik': sayur pakis liar dan ikan bakar.. setengah ekor per-orang.
Semua tampak tenang di permukaan, tapi di balik tatapan dan obrolan kecil, mereka sudah menyiapkan rencana malam ini. Sesuatu yang mungkin bakal membuka kebenaran, atau malah bikin mereka menyesal sudah kepo.
**
Malam harinya, kamar Kimi jadi pos persiapan paling heboh. Ruby berdiri sambil merapikan jaket hijau keroppi di tubuh pacarnya yang dari tadi manyun tak berkesudahan.
"Kok bisa sih mereka misahin kita, By? Aku gak terima," Kimi mengeluh, suaranya setengah serak karena kesal.
Ruby menahan senyum, lalu menepuk pipi Kimi pelan. "Mereka butuh kamu di kantor, sayang. Semua laporan keuangan ada di sana. Siapa lagi yang ngerti angka selain kamu?"
"Kamu nyindir ya? Kan udah ada yang lain. Mereka tuh pada pinter, aku cuma bisa-"
" Cuma bisa cemberut minimal lima belas menit." Ruby menatap dengan mata lembut. "Udah, lebay banget sih. Kayak gak bakal ketemu lagi aja."
Kimi langsung mendelik. "Serius kamu ngatain aku lebay? Oke, By. Oke. Aku catet ya."
Ruby tertawa kecil dan langsung mencuri satu kecupan cepat di bibirnya. "Catet aja, sayang. Tapi cepet sana, agen spesial Kimi Ariana. Waktunya beraksi."
Kimi akhirnya tersenyum juga, meski pura pura kesal, lalu keluar menuju ruang tengah. Semua anggota tim sudah menunggu di sana, berkumpul melingkar seperti kelompok pencuri profesional.
Janu yang biasanya santai kali ini kelihatan fokus.
"Oke, gw ingetin sekali lagi. gw sama Juli urus sistem kantor. Kita harus matiin keamanan digital dan buka arsip yang dikunci. Anak keuangan semua ke kantor. Selebihnya... urusan lo dah, Ru."
"Bikin pengalihan," jawab Ruby cepat. "Kalau ada staf atau pembimbing lewat, bikin ribut kecil di luar. Jangan sampe mereka masuk ke kantor."
Semua mengangguk, meski wajah-wajah mereka kelihatan tak yakin apakah ini ide brilian atau bunuh diri pelan-pelan.
Sekitar sepuluh menit sebelum tengah malam, tujuh orang sudah bersembunyi di balik bangunan kecil dekat kantor administrasi.
Lampu taman redup. Udara lembap. Jantung mereka berdetak kencang. Tak ada yang berani bersuara keras; semua komunikasi hanya lewat lirikan dan isyarat tangan.
Di kejauhan, Ruby dan Nove berjalan tergesa menghampiri dua staf keamanan yang berjaga di dekat pagar.
"Eh, Pak, kayaknya ada yang aneh di sana, deh. Coba dicek, Pak," ujar Ruby pura-pura panik. Nove hanya mengangguk dengan wajah datar.
Tanpa banyak tanya, dua satpam itu langsung pergi mengikuti arah yang ditunjuk Ruby. Begitu mereka menjauh, tujuh orang yang menunggu di dekat kampus langsung menyelinap masuk ke kantor.
Sekilas kelihatannya mudah, tapi semua tahu, sistem alarm di area pelatihan ini bisa aktif kapan saja.
Janu dan Juli langsung menempati komputer. Napas mereka tertahan, jari di atas keyboard, mata saling menatap. Detik ini bisa jadi penentu berhasil atau ketahuan.
Juli membobol kata sandi, sementara Janu menonaktifkan sistem keamanan. Dengungan komputer jadi musik kemenangan kecil mereka.
Begitu sistem aman, Febi dan Desi segera mengambil alih, menelusuri laporan keuangan sejak awal bulan, mencari kejanggalan sekecil apa pun.
Di sisi lain, Kimi, Anela, dan Marey membongkar rak arsip manual. Siapa tahu ada dokumen yang tidak tersimpan digital. Mereka membuka map satu per satu, membalik halaman dengan cemas tapi teliti.
Sementara itu di dapur, Juni dan Okta sedang beraksi. Benar kata Kimi: hampir semua bahan makanan habis. Hanya tersisa beras, telur, bawang, dan... tumpukan kardus mie instan di pojokan.
"Kita bawa dua kotak aja kali ya," kata Juni cekikikan.
"Gila, gw nemu sosis segunung di kulkas kecil. Ini buat mereka doang apa ya?" Okta mengomel kesal.
"Wah, bangsul. Eh, tapi cara bawanya gimana? Kalau kepergok satpam?" Okta mengernyit. "Satpam di sini banyak banget ya. Peserta dikit, tapi penjaga bisa dua puluh orang. Aneh gak sih?"
"Tapi masih aja bisa kecolongan. Inget pacarnya si Anela? Lagian ini tengah hutan, wajar mereka waspada."
"Halah, kerja mereka ampas."
"Udah, biarin aja. Eh, umpetin dulu, kalau aman baru kita angkut balik," kata Juni cepat.
Okta segera memasukkan sosis ke plastik dan ikut membawa satu kotak lainnya.
Belum sempat mereka menyembunyikan di belakang dapur, suara ribut tiba-tiba terdengar dari arah pos satpam di gerbang. Beberapa penjaga berlari dari arah kampus ke depan kantor.
Okta dan Juni langsung menempel ke bayangan dinding sambil menahan napas. Tatapan mereka bertemu, dan isi kepala mereka sama: ada apaan lagi nih?
Karena tak ada alat komunikasi yang berfungsi, mereka cuma bisa bergerak cepat. kesempatan ini mereka pakai buat menyelundupkan hasil jarahan ke asrama.
Sementara itu di ruang administrasi, Febi dan Desi akhirnya menemukan data keuangan yang mencurigakan. Semua langsung dicetak dan dikumpulkan ke dalam satu kotak besar. Prinsip mereka jelas: cari dulu, bahas nanti.
"Udah semua kan? Gw gak tenang sama suara ribut di luar," kata Marey, menutup kotak dengan panik.
Kimi masih terpaku, menatap satu file yang baru saja ditemukannya. File data peserta tahun ini. Dan tentu saja, fokusnya jatuh ke satu nama.
Profil Peserta:
Nama: Ruby Alistair Charley
Tanggal lahir: l2 Januari z002
Pendidikan: Sz - Lichtenberg Institute of Technology, Jerman.
Mata Kimi membelalak.
APA-APAAN INI?!
Ruby hampir dua tahun lebih tua dari mereka... dan sudah S2? Mereka saja baru jungkir balik supaya lulus SI. Siapa yang bisa lulus secepat itu?
Eh, tunggu. Semua orang tahu pewaris Charley cuma satu, yang baru-baru ini jadi chairman Charley Group. Lalu.. siapa Ruby? kenapa nama keluarganya juga Charley?
Kimi menelan ludah. Satu pikiran absurd muncul di otaknya.
JANGAN-JANGAN... RUBY ANAK HARAM?!
.
Ayo lanjut agi thor jngn lama upnya🙏
Lanjut ya thor
Aku padamu