Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wira Bayu Adipati Baru Galungan
Baru saja para Prajurit Kadipaten Galungan bergerak hendak mengepung Jaka
Wooooooooooong
Woooooooooong
Bunyi terompet perang berbunyi sangat nyaring dari segala penjuru alun-alun. di barengi dengan para prajurit kerajaan yang masuk ke alun alun
" BERHENTI! KAMI DARI KERAJAAN WIJAYA KESUMA! TANGKAP SEMUA PEMBERONTAK!"
Dari lorong-lorong kecil, dari balik tenda, dan dari gerbang utama, pasukan kerajaan yang sejak tadi menyamar sebagai penonton dan pedagang kini mengeluarkan senjata asli mereka. Mereka mengenakan pita biru tua di lengan sebagai tanda pengenal.
Di bawah pimpinan Senopati Wira Pati, Wira Bumi, dan Wira Geni, pasukan elit kerajaan menyerbu masuk dengan gagah berani.
"Serang!! Hancurkan pasukan durhaka!!" teriak Wira Geni sambil menghunus pedangnya.
hiaaaaat
Swiiing
Traaang
Traaaang
Pedang berbenturan dengan pedang, tombak saling menyerang. Suara teriakan perang dan dentingan senjata memecah keheningan. Pasukan Adipati Singo Barong awalnya tampak garang, namun mereka terkejut melihat jumlah pasukan kerajaan begitu banyak dan sangat terlatih.
Wira Pati tampil begitu tangguh, setiap ayunan pedangnya selalu membuahkan hasil, lawan-lawannya tumbang satu persatu. Wira Bumi dengan strategi cerdiknya berhasil membagi konsentrasi musuh. Sedangkan Wira Geni bertarung dengan gaya yang sangat liar dan cepat, membuat musuh kewalahan.
Dari arah luar gerbang, pasukan Kadipaten Bulungan yang dipimpin langsung oleh Putri Anggun juga menyerbu masuk.
"Jangan biarkan satu pun musuh lolos! Serang!!" seru Anggun dengan tegas. Ia sendiri turun tangan menebas prajurit Adipati yang berani menghalangi jalan. Gerakannya cepat, tegas, dan mematikan, layaknya seorang jenderal perang sejati.
Di sisi lain, Putri Rarasati meski berwajah lembut, saat memegang pedang ia berubah menjadi sosok yang tangguh. Ia memimpin pasukan untuk mengamankan rakyat agar tidak menjadi korban, namun jika ada musuh yang mendekat, ia tak segan-segan menotok atau melumpuhkan mereka dengan gerakan indah namun mematikan.
Pasukan Adipati semakin terdesak. Banyak yang mulai lari ketakutan, banyak pula yang menyerah dan melempar senjata karena sadar bahwa mereka melawan kekuatan resmi kerajaan yang sah.
Di atas panggung, Adipati Singo Barong melihat pasukannya semakin kalah banyak. Wajahnya memerah menahan amarah dan kepanikan.
"Dasar tidak berguna! Semuanya pengecut!" umpatnya. Ia melihat ada jalan belakang yang masih kosong, lalu berniat kabur menyelamatkan diri.
"Jangan harap bisa lari!"
Tiba-tiba tiga sosok wanita muda memblokir jalan keluarnya. Rarasati, Ratri, dan Anggun. Ketiga tunangan Jaka itu berdiri gagah memegang senjata masing-masing, menghalangi setiap langkah Adipati.
"Berikan jalan! Atau jangan salahkan aku kalau kalian mati!" teriak Adipati Singo Barong dengan mata melotot penuh amarah. Ternyata Adipati itu juga memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi, tubuhnya kekar dan wajahnya garang layaknya singa.
"Serang!" perintah Anggun.
Hiaaaaat
ciaaaaat
wuuut
Swiiing
Ketiga gadis itu langsung menyerang secara serempak. Rarasati menyerang dari kiri dengan gerakan lembut namun mematikan, Anggun menyerang dari kanan dengan tebasan keras dan kuat, sedangkan Ratri menyerang dari depan dengan kelincahan yang luar biasa.
Wush!
Dang!
Bugh!
Adipati Singo Barong ternyata benar-benar tangguh. Ia mampu menangkis serangan ketiga wanita itu secara bergantian. Ilmu yang ia gunakan adalah ilmu silat Singa Mengamuk yang sangat keras dan kasar.
Aummm!
Tiba tiba Singo Barong mengaum keras, suaranya menggelegar membuat Rarasati, Anggun dan Ratri terhuyung, rupanya Singo Barong mengerahkan jurus Auman Harimau, yang di kerahkan dengan tenaga dalam
Melihat ketiganya terhuyung, Singo Barong dengan cepat menyerang Ratri yang paling dekat dengan pedangnya
" Hati hati!"
Tiba-tiba sebuah suara menggema, dan sesosok tubuh melesat bagaikan elang menyambar turun dan menangkis serangan Singo Barong
Swiiiing
Traaaaang
Bugh!
Jaka menangkis serangan pedang Singo barong, dan memberi pukulan balasan je dada Singo barong
Singo Barong melompat mundur menghindari serangan Jaka
"Kalian mundur, biarkan aku yang menghadapinya!" kata Jaka tenang namun matanya menatap tajam.
Rarasati, Ratri, dan Anggun mengangguk lalu mundur beberapa langkah, tetap waspada.
"Jaka!!" geram Adipati. "Kau yang telah merusak semua rencanaku!"
"Dan kau yang telah durhaka pada Raja dan menindas rakyat! Hari ini adalah akhir dari kekejamanmu!" balas Jaka.
" kurang ajar! Mati kau!" Singo Barong meraung dan menyerang menyerang Jaka dengan ganas, pukulannya berat dan cepat, bagaikan singa yang sedang kelaparan. Namun Jaka tetap tenang, ia menggunakan gaya Elang Hitam yang luwes dan tajam. Setiap serangan musuh selalu berhasil ditangkis atau dielakkan dengan mudah.
Plaaak
Plaaaak
Wush!
Bugh!
Keduanya saling serang, kadang di atas panggung, kadang turun ke tanah. Debu beterbangan, suara bentrokan senjata dan tamparan keras terdengar memekakkan telinga.
Adipati Singo Barong mulai terengah-engah. Ia tak menyangka pemuda di hadapannya memiliki kekuatan dan kecepatan sedemikian rupa. Sementara Jaka masih terlihat santai dan bertenaga.
" Menyerahlah! atau kau mati!" teriak Jaka.
" Lebih baik aku mati daripada menyerah!"
Hiaaaaat
wush
Singo Barong kembali melesat, kali ini ia membuang pedangnya , dan menyerang Jaka dengan tangan yang membentuk cakar
Heaaaaah
Jaka mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Matanya bersinar tajam.
Wuuut
wuuut
Duar!!
Serangan mereka saling beradu di udara. membuat ledakan yang cukup keras, keduanya melompat mundur
" Terima ini!" Singo Barong yang kesal kembali menyerang Jaka. Jaka menghindar dan membaas dengan tendangan melingkar
Wush
Bugh
Aaaaaargh
Singo Barong terpentak dan menjerit, pukulan Jaka seperti palu besar yang menghantam dadanya membuat Singo barong merasa sesak
Tak berhenti di sana saja, melihat Singo Barong akan bangun lagi, Jaka dengan cepat menyerang singo Barong
Wuut
Plaaaak
. Sebuah pukulan telak yang disertai tenaga dalam yang sangat kuat menghantam tepat ke dada Adipati Singo Barong.
Brak!!
Aaaarg
Adipati itu terpental jauh, tubuhnya menghantam tiang panggung dengan keras. Darah segar memuncrat dari mulutnya. Ia mencoba bangun namun tubuhnya tak berdaya.
Jaka melangkah mendekat, lalu dengan gerakan kilat ia mengayunkan pedangnya
ke leher Singo Barong
Wush
Craaash
Aaaaargh
Singo Barong tewas dengan leher terpenggal
" Berhenti!" teriak jaka satelah membunuh Singo Barong
Para prajurit yang sedang bertarung menengok ke arah Jaka
" Pemimpin kalian telah mati! menyerahlah" teriak Jaka
Prajurit Galungan tak percaya namun saat Jaka menneteng kepala Singo Barong , mereka menjatuhkan senjata mereka tanda menyerah
Prajurit kerajaan wijaya Kesuma segera meringkus semua Prajurit Galungan, satu persatu mereka di ringkus dan di kumpulkan di tengah alun alun
" Paman Wira Bayu, naiklah" pinta Jaka pada Wira Bayu ayah Ratri
" rakyat Galungan , dengarkan aku, mulai hari ini , Wira Bayu akan menggantikan Singo barong" Ucap Jaka lantang
" Hidup Adipati Wira Bayu!"
" Hidup Pangeran Jaka"
rakyat bersorak senang, dan menerima Wira Bayu sebagai pemimpin mereka.
Jaka tersenyum senang rencana Pemberontakan Singo Barong dapat di gagalkan, jika tidak pasti akan merugikan rakyat